Sarah

Sarah
Sarah Meninggal



Keesokan harinya, Julian kembali ke rumah ia mengajak Sarah untuk kembali ke Jakarta, Julian juga sudah membelikan 2 tiket untuk penerbangan mereka.


'Assalamualaikum mas' ucap Sarah yang ingin bersalaman dengan suaminya.


Wa'alaikumsalam, siap-siap kamu, sebentar lagi pesawat kita berangkat.


Kita mau balik ke Jakarta mas?


'Iya' jawabnya sinis.


Iya mas, aku siap-siap dulu ya.


Hm, jangan pakai lama, aku tunggu dibawah, sekalian baju-baju aku ya beresin.


Iya mas.


Oke.


'Ternyata mas Julian baik juga ya, walaupun dingin kayak kulkas' ucap Sarah tersenyum.


Setelah selesai memasukkan seluruh pakaiannya dan Julian, ia menghampiri suaminya yang sudah lama menunggu di dalam mobil.


'Maaf ya mas lama' ucap Sarah menengok ke kaca.


Cepat masuk.


Iya mas.


Setelah beberapa jam perjalanan udara, mereka tiba di rumah Julian. Julian membawa kopernya dan Sarah. Julian meletakkan koper miliknya di dalam kamar dan terus mendorong koper Sarah ke ruangan lain.


Mas, koper ku mau dibawa kemana? tanya Sarah.


Julian hanya menengok ke belakang dan terus mendorong koper Sarah.


'Mulai sekarang kamu tidur disini' ucap Julian meletakkan koper Sarah di dalam gudang tempat Sarah tidur di hari pertama mereka menikah.


Julian memanggil anak buahnya untuk membawa kasur yang berada disana.


Mas, kasurnya mau dibawa kemana? tanya Sarah.


Julian menghiraukan pertanyaan Sarah dan pergi meninggalkannya dengan membawa kasur Sarah.


Dengan terpaksa Sarah tidur hanya dengan beralaskan baju-baju miliknya.


Satu minggu berlalu, pencarian jasad Fredericka dihentikan dan pihak keluarga sudah mengikhlaskannya serta melakukan sholat di sekitar sana untuk mendoakan Fredericka.


Semenjak kepergian waktu itu, Julian kembali lagi ke rumah dengan perilaku yang sama seperti awal mereka menikah.


Hari demi hari, minggu demi minggu perlakuan suaminya semakin kasar. Dia selalu menampar Sarah, mencambuknya dengan gesper, sapu, dan dia bahkan meletakkan setrika panas di tangannya karena kesalahan kecilnya.


Sarah juga tidak pernah diberi makan dan minum. Dia tidak menyimpan apa pun di lemari es, dia tidak memberi Sarah uang belanja. Uang pribadi Sarah pun telah habis untuk membeli makanan disana. Julian selalu meninggalkan Sarah dengan perasaan lapar dan haus.


Sarah hanya mengandalkan air hujan untuk bertahan hidup dan menghindari dehidrasi meski perutnya terasa sangat lapar. Sarah yang sudah 3 bulan tidak makan apapun akhirnya jatuh sakit. Namun suaminya tetap mengabaikannya.


Sarah ditinggalkan dengan kondisinya yang sangat lemah, karena 3 bulan sudah Sarah tidur dilantai, dia merasa tubuhnya sangat dingin, bibirnya menggigil, wajahnya pucat. Dia terus memanggil nama "Pieter" sampai akhirnya matanya tertutup.


Keesokan harinya, sebuah bendera kuning dipasang di depan rumah mereka. Itu adalah terakhir kalinya Sarah hidup di dunia. Sarah yang telah meninggal memandangi tubuhnya dan tersenyum. Ada juga Kinara, Rangga, dan yg teman-temannya yang meneteskan air mata. Sarah yang melihatnya tersenyum karena akhirnya penderitaan ia berakhir tetapi ia juga sedih karena hari itu adalah hari terakhir Sarah bersama dengan mereka.


Tetapi ketika dia melihat Alderts, hatinya terasa sangat sakit. Alderts bahkan sibuk dengan layar ponselnya dan bahkan ia masih bisa tersenyum bahagia serta bercanda dengan Sinta dan putranya bersama Sinta. Dia tampak baik-baik saja tanpa Sarah. Dia tampak sangat bahagia di depan mayat putrinya sendiri.


Papah, emang udah lama punya keluarga baru, tapi apa papah sudah benar-benar tidak menyayangi ku lagi? hingga ia terlihat biasa saja dan sangat bahagia, bahkan papah tidak mau melihat tubuh ku yang terbujur kaku disana. Papah sangat jauh berbeda dengan papah Rangga suami baru mamah, papah Rangga sangat menyayangi ku, dia menangis saat membacakan surat yasin untuk ku tetapi mengapa papah tidak? papah tidak membacakan surat yasin untuk ku begitu juga dengan mamah Sinta, kalau mamah Sinta sih aku gak peduli ya, dia kan pelakor, tapi papah? tanya Sarah.


Sarah, kenapa kamu pergi secepat ini sih? tanya Sasha meneteskan air mata.


Kenapa semua orang yang aku sayangi pergi? tanya Shivanya berteriak dan menangis sesenggukan.


'Sabar ya mbak' ucap Sasha mengelus bahu Shivanya.


'Iya mbak, sabar, mbak masih punya aku, Sasha, kak Kinan, kak Aleta dan buah hati kakak yang masih berada di dalam kandungan kakak, kakak harus kuat demi anak kakak' ucap Aji.


Setelah kematian mas Azeer, lalu kak Ika, sekarang Sarah, nanti siapa lagi? anak ku? atau bahkan aku yang akan dipanggil selanjutnya? tanya Shiva dengan tatapan kosong menatap tubuh Sarah yang tertutup kain.


'Shiva, jangan ngomong kayak gitu, omongan adalah doa' ucap Aleta.


'Kita harus membicarakan sesuatu yang baik agar yang terjadi adalah kebaikan bukan keburukan' ucap Kinan.


'Iya mbak, benar kata kak Kinan, sabar ya mbak, aku tahu, hati mbak saat ini sangat terluka karena kehilangan 3 orang yang mbak sayangi dalam waktu berdekatan, tapi mbak pasti bisa melewati semua ini, sabar ya mbak' ucap Sasha menghapus air mata Shiva.


Shiva memeluk Sasha dan jiwa Sarah menghampirinya dan memeluknya sedih.


'Maafin Sarah ya kak, Sarah harus pergi, terimakasih selama ini kakak selalu baik sama Sarah, Sarah akan selalu menyayangi kakak, Sarah pergi ya kak Shiva, Sasha, Aji, kak Kinan, kak Aleta, mamah, papah, papah Rangga, Sarah pamit, Sarah tunggu kalian disana' ucap Sarah tersenyum dengan tatapan mata sedih lalu pergi dari sana.


Jasad Sarah telah terkubur namun jiwanya masih mencari keberadaan kekasihnya. Jiwanya masih mencari Pieter, pria yang sangat dia cintai dan satu orang yang tidak pernah menyakiti hatinya.


Selama bertahun-tahun jiwa Sarah mencari jiwa Pieter tetapi tidak dapat menemukannya. Sarah berniat untuk kembali ke alamnya tetapi dia tetap ingin mencari keberadaan Pieter. Dia ingin pergi dengan Pieter dan hidup bahagia di atas sana. 'Cinta kita tidak bisa disatukan di dunia tapi aku ingin kita bahagia bersama di atas sana' kata Sarah menatap langit dan meneteskan air mata.


'Dimana kamu sayang? Kamu berjanji untuk selalu bersama ku dan bersatu kembali di dimensi yang berbeda sekarang kita berada di dunia yang sama tapi dimana kamu berada? aku sangat merindukanmu, pulanglah sayang' kata Sarah berlinang air mata.


'Saya harus kuat, saya harus terus mencari Pieter. Aku yakin Pieter pasti sudah menungguku, ya, aku harus terus mencarinya. Aku akan memastikan kita akan bahagia dan tidak ada orang lain yang akan mencoba memisahkan cinta kita. Tidak ada lagi penghalang di antara kita. Aku tulus mencintaimu dan aku tahu kau tulus mencintaiku juga. Sabar ya sayang, kita akan bersama lagi, sebentar lagi aku pasti akan menemukan keberadaan mu" ucap Sarah sambil bangkit untuk menyeka air matanya.


Ia yang hampir putus asa mencari keberadaan kekasihnya juga beristirahat sejenak untuk menenangkan perasaannya. Bahkan ketika dia sedang beristirahat, dia selalu teringat Pieter lalu dia bangun lagi untuk mencari Pieter.


Terlintas di benaknya bahwa Pieter telah melupakan semua janji yang dia buat, tetapi dia menepis semua pikiran buruk tentang Pieter. Dia yakin suatu hari nanti, dia akan dipertemukan kembali dengan kekasihnya.


Kekuatan cinta yang luar biasa. Sarah tetap memilih Pieter meski ia sudah menikah dengan pria lain tapi hatinya terus menyebut nama Pieter. Kisah cinta yang sedih tapi sangat berkesan.


Sarah juga berpikir bahwa Pieter membencinya karena mungkin Pieter tahu bahwa dia menikah dengan pria lain setelah kematiannya. Dia selalu berharap Pieter akan memahami posisinya saat itu. Dia sudah menikah tetapi dia tidak pernah merasa bahwa dia sudah menikah. Tidak pernah ada cinta yang tumbuh di hatinya untuk suaminya. Dia terus mencintai kekasihnya lebih dari kekasih halalnya.