
Keesokan harinya Sinta terbangun, ia segera merapihkan kembali tempat tidurnya dan mengenakan pakaiannya. Sinta bergegas menuju ke dapur dan memasak agar Alderts tidak mencurigainya.
"Mas Alderts masih tidur syukur deh" ucap Sinta saat mengintip Alderts yang masih tertidur pulas di dalam kamarnya.
Sarah masih terus mengikuti langkah kaki Sinta. Ketika Sinta melewati jiwa Sarah tubuhnya seperti merasakan jika tadi ia baru saja menabrak sesuatu namun di depannya tidak ada apapun.
''Kok tadi aku kayak ngerasa nabrak sesuatu ya? padahal kan gak ada apapun" ucap Sinta ketakutan dan berlari menuju dapur.
Ketika sedang menumis kangkung, Dimas salah satu asisten pribadi Alderts sekaligus kekasih gelap Sinta datang menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
''Mas Dimas, kirain siapa ngagetin aja deh" ucap Sinta membalikkan tubuhnya menghadap Dimas dan memukul lengannya dengan ekspresi malu-malu.
''Itu kan om Dimas, salah satu asistennya papah, jadi dia pacaran sama tante Sinta? hebat sekali mereka, menjalin hubungan di dalam satu atap tanpa diketahui oleh papah" ucap Sarah.
''Memangnya kamu punya berapa pria dirumah ini? hanya aku dan suami mu Alderts itu saja kan sayang?" tanya Dimas.
"Iya honey" ucap Sinta berbisik pada Dimas dengan nada seksi.
''Kamu udah mandi sayang?" tanya Dimas.
''Pantesan aja cantik kayak bidadari turun dari langit" ucap Dimas tersenyum mengangkat alisnya.
''Akh mas bisa aja deh" ucap Sinta tersipu malu.
''Hehe, apa sih yang mas gak bisa untuk kamu sayang" ucap Dimas mencubit gemas pipi Sinta.
''Mas akh sakit tahu pipi aku" ucap Sinta memegang pipinya.
"Iya iya maaf honey" ucap Dimas mengelus pipi Sinta dan mencium pipinya.
Sinta mematikan kompor dan menaruh masakannya ke atas piring serta membawanya ke meja makan.
Setelah menutup makanan di atas meja makan, Dimas menarik tangan Sinta hingga keduanya saling menatap satu sama lain, Dimas pun memeluk Sinta.
Sarah pun bergegas pergi dari sana menuju kamar Alderts. Sarah ingin membangunkan Alderts namun Alderts telah terbangun dan berjalan menuju dapur untuk mencari makanan karena perutnya sangat lapar.
"Sinta, Dimas" panggil Alderts bernada tinggi.
Sinta dan Dimas terkaget dan menatap Alderts begitupun Sarah.
''Papah, bagus deh papah kesini tepat waktu" ucap Sarah.
Sedang apa kalian? kalian menjalin hubungan dibelakang ku?" tanya Alderts tidak percaya.
''Kita" ucap Sinta terbata-bata.
''Kita apa Sinta? kamu mau bilang kalau kita sedang berpacaran, begitu bukan?'' tanya Alderts pada Sinta.
Sinta hanya tertunduk, tidak menjawab pertanyaan Alderts begitu pula dengan Dimas.
''Dimas, kamu saya pecat, mulai sekarang tinggalkan rumah saya" ucap Alderts.
''Tapi tuan, tuan saya mohon, maafkan saya,. saya tidak bermaksud untuk mengkhianati kepercayaan tuan, tapi nyonya Sinta terus menggoda saya tuan hingga akhirnya saya tergoda dan kami pun menjalin hubungan, tuan saya mohon jangan pecat saya" ucap Dimas.
Alderts mengabaikan perasaan Dimas dan menepis tangannya.
''Apa tadi kamu bilang mas? aku yang menggoda mu? apa aku tidak salah dengar? jelas-jelas kamu yang menggoda ku, kamu yang merayu ku, dan kamu yang mengajak ku untuk menjalin hubungan secara diam-diam selama bertahun-tahun ini di belakang suami ku, kenapa sekarang kamu jadi memfitnah ku?" tanya Sinta kesal.
"Jangan percaya sama dia tuan, dia berbohong, dia yang selalu menggoda saya, saya tidak pernah menggodanya, sebagai lelaki normal saya tergoda olehnya karena godaan yang terus ia berikan untuk saya" ucap Dimas.
"Kalian berdua tidak ada bedanya, sama saja, pergi kamu" ucap Alderts pada Dimas.
''Tapi tuan" ucap Dimas.
"Pergi" ucap Alderts.
"Baik tuan" ucap Dimas pergi dari sana.
"Pah, dengerin penjelasan ku dulu" ucap Sinta .
Alderts mengabaikan perkataan Sinta dan pergi dari sana.
''Rasakan kau tante Sinta" ucap Sarah tertawa.
Sinta pun tertunduk lemas, perselingkuhannya terbongkar oleh suaminya.
Beralih ke kediaman Kinara. Ketika sedang memasak di dapur tiba-tiba perut Kinara merasakan sangat sakit, kakinya sangat lemas, ia pun duduk di kursi meja makannya dan meminta pertolongan.
"Bibi" ucap Kinara memanggil asisten pribadinya.
"Iya nyonya" ucap ART menghampirinya.
"Bi, tolong antarkan saya ke rumah sakit" ucap Kinara memegang perutnya kesakitan.
"Bibi bisa bawa mobil kan?" tanya Kinara.
"Bisa nyonya, kebetulan dulu saya sering mengantarkan barang dagangan pakai mobil truk, insha Allah bisa nyonya" ucap ART.
"Oh ya udah, bibi saja yang mengemudi" ucap Kinara.
"Baik nyonya" ucap ART.
Kinara segera dilarikan ke ruang persalinan.
"Aku harus telepon tuan Rangga nih, kasian nyonya Kinara" ucap ART.
"Assalamualaikum tuan" ucap bi Mina ART Kinara.
"Wa'alaikumsalam, ada apa bi?" tanya Rangga.
"Nyonya Kinara masuk rumah sakit tuan" ucap bi Mina.
"Kinara sakit apa bi?" tanya Rangga panik.
"Kata dokter tadi nyonya Kinara akan segera melahirkan" ucap bi Mina.
"Melahirkan? di rumah sakit apa bi?" tanya Rangga.
"Rumah Sakit Harum Mewangi tuan" ucap bi Mina.
"Ya udah bi saya kesana sekarang, assalamualaikum" ucap Rangga.
"Wa'alaikumsalam tuan" ucap bi Mina.
Rangga segera merapihkan meja kantornya dan pergi ke rumah sakit.
2 jam berlalu, dokter yang menangani Kinara keluar dari ruang persalinan.
"Keluarga ibu Kinara Kim" panggil dokter.
"Saya suaminya dok" ucap Rangga.
''Bayinya lahir dengan selamat, suster kasih bayi itu ke ayahnya biar di kumandangkan adzan dulu" ucap dokter.
"Ini pak bayinya" ucap suster memberikan anak mereka.
"Bayinya laki-laki atau perempuan suster?" tanya Rangga.
"Yang bapak gendong itu bayi laki-laki yang bersama suster Anna itu bayi perempuannya" ucap suster Nita.
"Anak saya kembar sus?" tanya Rangga.
"Iya pak" ucap suster Nita tersenyum.
Rangga pun mulai mengumandangkan adzan untuk kedua malaikat kecilnya.
"Anaknya diberi nama siapa pak?" tanya suster Nita.
"Dimas Aldebaran dan Love Aneisha suster" ucap Rangga.
"Baik pak, saya bawa bayinya ke perina ya" ucap suster Nita.
"Iya sus, sus istri saya gimana? apa dia baik-baik saja?" tanya Rangga.
''Ibu Kinara Kim baik-baik saja" ucap suster Nita tersenyum.
"Apa saya boleh bertemu dengan istri saya suster?" tanya Rangga.
"Silakan pak, saya permisi" ucap suster Nita.
"Iya suster" ucap Rangga.
"Mas, anak kita kembar" ucap Kinara berlinang air mata kebahagiaan.
"Iya sayang, cantik dan tampan sekali mereka" ucap Rangga tersenyum, mengelus pucuk kepala Kinara.
"Iya mas" ucap Kinara tersenyum.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat saja" ucap Rangga.
''Iya mas" ucap Kinara.
Kinara pun tertidur dan Rangga masih terus mengelus pucuk kepala Kinara.