Sarah

Sarah
Aleta Mencuri Nomor Telepon



"Makasih ya pak" kata Aleta tersenyum dan turun perlahan dari mobil ketika sampai di depan rumahnya.


Taksi online itu pun pergi dari rumah Aleta dan Aleta masuk ke dalam rumahnya. Aleta berjalan perlahan ke kamarnya.


"Mengapa saat bertemu dengannya tadi aku merasa jika aku sudah bertemu dengan orang yang selama ini aku cari ya? tapi siapa dia? apa dia itu Fredericka yang aku cari? apakah dia Fredericka salah satu kekasih mas Hasan? jika benar dialah orang yang aku cari, maka aku segera menyelamatkan dia sebelum terlambat, tapi bagaimana aku mencari tahu nama lengkap Fredericka kekasih mas Hasan?" tanya Fredericka.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan Hasan pun masuk ke dalam kamar Aleta.


"Kamu mau ngapain lagi kesini mas?" tanya Aleta.


"Aku kesini hanya untuk mengambil baju-baju milik ku dan menikah dengan Putri" kata Hasan tersenyum menatap Aleta.


"Setelah menikahi Icha, apa kamu masih belum puas untuk berselingkuh dariku mas? apa kamu masih belum puas telah menduakan ku?"


"Aku tidak akan pernah puas hanya dengan dua wanita, jadi diamlah aku ingin pergi dan menikah dengan Putri, kamu ingin menggugat cerai aku bukan? maka lakukanlah, agar kita bisa secepatnya berpisah" kata Hasan tersenyum menatap Aleta.


"Aku hamil mas"


"What? apa kamu bilang tadi hah? hamil? bagaimana bisa kamu hamil? anak siapa lagi itu hah?"


"Ini anak kamu mas"


"Apa? anak aku? benarkah itu anak aku? aku saja selama ini berada diluar rumah, lalu mengapa kamu bisa hamil hah? siapa lagi pria yang berhubungan badan dengan mu itu Aleta?"


"Mas jaga ya omongan kamu!" kata Aleta membentak Hasan dan menunjuknya geram.


"Kamu berani membentak ku?" tanya Hasan tersenyum kecil mendekatkan wajahnya pada Aleta.


"Ini anak kamu mas, apa kamu lupa jika kita pernah melakukannya saat kepulangan mu selama enam tahun itu hah? kamu lupa mas?"


"Hanya dengan sekali berhubungan kamu bisa langsung hamil? itu berarti benih yang aku semburkan itu bagus sehingga membuat mu hamil" kata Hasan tersenyum.


"Aku mohon jangan pergi mas, aku mohon tinggallah di rumah, paling tidak sampai aku melahirkan anak ini, aku mohon mas" kata Aleta memegang tangan Hasan.


"Hm oke baiklah, aku tidak akan pergi dari rumah ini, tapi kamu harus memenuhi semua kebutuhan ku, tidak boleh melarang ku, jika kamu berani sekali saja untuk melarang ku pergi, maka aku akan menggugat cerai kamu, bagaimana?"


"Oke baiklah"


Hasan pun meletakkan kembali barang-barangnya ke dalam lemari. Hasan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Aleta melihat handphone Hasan tergeletak di atas meja.


"Ini kan handphone mas Hasan" kata Aleta mengambil handphone Hasan.


Aleta menyalakan handphone Hasan, saat itu Hasan tidak memakai kata sandi sama sekali.


"Mas Hasan pasti punya nomor Fredericka deh, aku harus mendapatkan nomor Fredericka agar aku tahu Fredericka siapa yang dimaksud olehnya" kata Aleta melihat setiap nama di kontak Hasan.


"Kenapa gak ada nomor Fredericka ya? apa mas Hasan tidak memiliki nomornya? tapi tidak mungkin jika mas Hasan tidak mempunyai nomor Fredericka, tapi nomor Fredericka ia simpan dengan nama apa ya? coba deh aku cari nama "sayang" hm dasar laki-laki buaya! banyak sekali kontak yang ia simpan dengan nama "sayang" dari semua kontak bernama sayang ini, yang mana nomor Fredericka ya? aku catat semua aja deh" kata Aleta mencatat semua nomor yang tertera dengan nama sayang di ponsel Hasan.


Aleta mengembalikan lagi ponsel Hasan ke atas meja dan menyembunyikan selembar kertas yang berisi nomor kontaknya.


"Minta uang dong aku mau pergi" kata Hasan ketus.


"Kamu mau kemana mas? kamu baru saja tiba, masa udah pergi lagi aja sih?"


"Apa tadi yang aku bilang hm? jangan ikut campur urusan ku atau aku akan menceraikan mu"


"Jangan mas aku mohon, paling tidak sampai anak ini lahir dulu"


"Ya sudah kalau begitu berikan saja uangnya kepadaku, dan setelah itu aku akan membebaskan mu, cepatlah! aku ada janji temu dengan seorang wanita"


"Ini mas" kata Aleta memberikan sejumlah uang kepada Hasan.


Hasan mengambil uang itu dan pergi meninggalkan Aleta.


Aleta menyuruh anak buahnya untuk menghubungi nomor-nomor yang telah ia tulis tadi.


"Pak Panji boleh saya minta tolong?" tanya Aleta menghampiri anak buahnya.


"Ada apa nyonya?"


"Tolong hubungi nomor-nomor yang tertera disini, tanyakan apakah dia bernama "Fredericka" atau bukan, pakai speaker ya pak biar saya bisa dengar"


"Baik nyonya"


Pak Panji mulai menghubungi nomor yang tertera di kertas yang Aleta berikan.


"Assalamualaikum" kata pak Panji.


"Wa'alaikumsalam, ini siapa ya? dapet nomor gw darimana?"


"Saya mendapatkan nomor mu dari..." kata pak Panji menghentikan perkataannya menatap Aleta.


"Bilang aja dari teman pak" kata Aleta pelan.


"Hallo, apa ada orang disana? mengapa pertanyaan ku tidak dijawab?" tanya wanita itu.


"Dari teman saya, jadi saya tadi tuh minta nomor Fredericka ke teman saya dan dikasih nomor ini, apa benar ini yang bernama Fredericka?"


"Fredericka siapa? saya Naomi bukan Fredericka, maaf salah sambung" kata wanita itu ketus dan langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Dasar cowok gak jelas, bisa-bisanya dia salah sambung ke gw!" gerutu Naomi.


"Coba nomor yang lain pak" pinta Aleta.


"Baik nyonya"


Pak Panji menghubungi nomor kedua, namun pemilik nomor itu langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Dimatikan non" kata pak Panji menatap Aleta.


"Coba telepon lagi pak" pinta Aleta.


"Baik nyonya"


"Ada apa sih? ganggu aja deh! lu siapa sih? dapet nomor gw darimana hah?" kata wanita itu dengan nada tinggi hingga membuat Aleta dan pak Panji terkejut.


"Maaf apa benar ini yang bernama Fredericka?" kata pak Panji.


"Siapa lagi Fredericka? maaf salah sambung gw Icha!" ketus wanita itu yang langsung menutup panggilan teleponnya.


"Oh jadi itu nomor Icha, ada pulpen gak pak?" tanya Aleta.


"Ini non" kata pak Panji memberikan pulpen yang ia bawa di kantungnya.


Aleta memberikan nama Icha pada nomor kedua.


"Icha siapa non? apa non mengenalnya?" tanya pak Panji menatap Aleta.


"Hm... Icha itu... tidak penting pak, telepon saja nomor yang lainnya, jika ada seorang wanita yang mengatakan jika dia adalah Fredericka beritahu saya, dan jangan lupa tulis nama mereka semua di setiap nomornya pak" kata Aleta.


"Baik non"


Aleta pun kembali ke dalam dan pak Panji melanjutkan menelepon semua nomor yang Aleta berikan.