Sarah

Sarah
Debat Reinkarnasi



"Itu foto siapa ya?" tanya Rissa menatap bingkai foto yang tergantung di dinding kamarnya.


Rissa menatap kebingungan foto itu dan memegang wajahnya.


"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan wajah ku? siapa dia? apa dia itu aku? tapi untuk apa tante Shivanya menaruh foto ku di kamar ini?" tanya Rissa yang berusaha mengambil bingkai foto yang tergantung di dinding itu.


"Mas Amir" teriak Rissa saat tangannya tidak sampai untuk mengambil bingkai foto itu.


"Ada apa sih dek? jangan teriak-teriak gitu gak enak sama tante Shivanya dan yang lain" ucap mas Amir menghampirinya Rissa.


"Ambilkan bingkai foto itu, tangan ku tidak sampai mengambilnya" ucap Rissa menunjuk salah satu bingkai foto.


"Lho ini kan kamu dek? kenapa foto kamu ada di dalam kamar ini?"


"Mana aku tahu, makanya ambilkan bingkai foto itu, nanti kita tanyakan kepada tante Shivanya"


Mas Amir mengambilkan bingkai foto itu dan memberikannya kepada Rissa.


"Ayok kita tanya tante Shivanya" ajak Rissa menarik tangan mas Amir.


"Iya"


"Tante" panggil Rissa mencari di sekelilingnya.


"Tante Shivanya" panggil Rissa mencari di sekelilingnya.


"ARgh!" ucap seorang anak perempuan yang tidak sengaja tertabrak oleh Rissa.


"Lu? lu ngapain disini?" tanya anak perempuan itu menunjuk Rissa.


"Kamu siapa?" tanya Rissa menunjuk anak perempuan itu.


"Ditanya bukan dijawab malah balik nanya!"


"Dek udah! kamu tahu sendiri kan kalau Rissa itu lupa ingatan" ucap anak laki-laki berusaha menenangkannya.


"Tapi dia ngapain disini sih bang?"


"Aku juga gak tahu, kita tanya mama aja yuk"


"Mama" panggil anak perempuan itu.


"Ada apa Lisa?" tanya ibunya datang menghampiri.


"Mama dia ngapain sih disini?" tanya Lisa menunjuk Rissa.


"Tante Shivanya, dia siapa?" tanya Rissa menunjuk anak perempuan yang tadi bertengkar dengannya.


"Gw anaknya, lu yang siapa? lu bukan siapapun terus ngapain lu kesini hah? ini bukan rumah lu tahu! balik sana lu!"


"Tante Shivanya yang membawa ku kesini" jawab Rissa.


"Mah, mama ngapain sih bawa Rissa kesini? dan siapa laki-laki itu?" tanya Lisa menunjuk mas Amir.


"Gw abangnya Rissa, hm maksudnya abang sepupunya Rissa" jawab mas Amir.


"Oh, gak penting!" ucap Lisa ketus.


"Lisa jangan gitu nak, biar gimanapun juga nak Amir lebih tua dari kamu"


"Tapi dia bukan siapa-siapa aku mah, aku gak peduli"


Eza memegang dan menekan tangan Lisa.


"Apa sih bang?" tanya Lisa berbisik menatap Eza.


"Hm!"


"Mama sengaja mengajak Amir dan Rissa ke rumah kita, karena mama sudah mendaftarkan Amir dan Rissa di sekolah yang sama dengan kalian, maksud mama nanti kamu satu sekolah dengan Rissa dan Amir di SMP yang ada di sebelah sekolah kalian"


"What? aku harus satu sekolah sama dia?"


"Iya Rissa"


"Aku gak mau mah"


"Mau gak mau kamu harus mau Lisa, apa kamu lupa? jika Rissa yang telah menyelamatkan nyawa kamu"


"Tapi kan mama udah membayar biaya rumah sakit dia, mama udah nungguin dia juga di rumah sakit, kenapa mama harus memasukkan dia di sekolah yang sama kayak aku sih? dan apa itu?" tanya Lisa yang langsung mengambil bingkai foto yang Rissa pegang.


"Aku menemukan foto ini tergantung di kamar yang aku tempati" jawab Rissa.


"Mama kenapa masang foto Rissa di kamar itu?" tanya Lisa.


"Itu bukan Rissa, tapi tante mu Fredericka"


"What? ini tante Ika? kenapa wajahnya sangat mirip dengan Rissa? mama pasti bohong kan? pasti mama diam-diam mengambil foto Rissa dan meletakkannya di dalam kamar itu, iya kan mah?"


"Tidak Lisa, mama berkata jujur, dia adalah tante mu ketika kecil dan bukanlah Rissa"


"Enggak! itu gak mungkin mah!"


"Ibu mu berkata benar Lisa" ucap nenek Lisa datang dari belakang.


Shivanya, Lisa, Eza, mas Amir dan Rissa menatap kedatangannya.


"Apa maksud oma?"


"Ibu mu berkata benar Lisa, dia adalah Fredericka Nerissa ketika masih kecil, oma tidak pernah membuang foto-foto Fredericka, oma selalu menggantung bingkai fotonya dari kecil hingga ia dewasa di dalam kamarnya, oma dan ibu mu sengaja menempatkan Rissa di dalam kamar Fredericka, agar Rissa bisa melihat kemiripan wajahnya dengan Fredericka Nerissa"


"What? lu siapa sih sebenarnya?" tanya Lisa mendorong Rissa.


"Aku tidak tahu siapa aku, mereka memanggil ku "Rissa" aku hanya tahu hal itu, aku tidak mengingat apapun"


"Mama sudah menunjukkan foto tante mu di rumah sakit bukan? mengapa kamu masih mempertanyakan akan hal ini Lisa?"


"Hm, tapi ini gak mungkin mah! gak mungkin ada orang yang bisa semirip itu dengan seseorang yang telah meninggal dunia, lu pasti manusia jadi-jadian kan? lu pasti punya ilmu hitam kan? makanya wajah lu bisa semirip itu dengan dia, ngaku lu!" bentak Lisa mendorong Rissa.


"Tidak! jadi-jadian apa maksud mu? aku tidak mengerti maksud dari perkataan mu itu, aku tidak menggunakan ilmu apapun"


"Lisa! jangan asal bicara kamu! tidak boleh berkata buruk padanya!"


"Mama kenapa sih selalu belain dia? apa mama pikir jika dia adalah tante Ika kakak mama itu? mah, dia bukan kakak mama! dia bukan tante Ika mah! tante Ika kan sudah lama meninggal dunia, mama sendiri yang bilang jika tante Ika di dorong oleh kekasihnya ke tengah laut, gak mungkin ad orang yang selamat jika sudah jatuh di tengah-tengah lautan mah! dan jika tante Ika selamat dari maut, dia tidak mungkin menjadi anak kecil lagi mah! dia pasti sekarang sudah seperti mama jika dia bisa selamat dari mautnya mah"


"Jika kak Ika tidak selamat, lantas kemana raganya? jika dia telah tiada, seharusnya lautan mengembalikan tubuhnya ke daratan bukan menahan tubuhnya di dalam air, ombak pantai sangat besar bukan? sebesar derasnya ombak itu masa tidak cukup mampu untuk membawa tubuh kak Ika ke daratan, mama yakin jika sebenarnya kak Ika masih hidup, dan Rissa adalah kak Ika"


"Mah sadar! tidak mungkin jika Rissa adalah kak Ika! kak Ika sudah lama mati mah!"


"Kak Ika belum mati! dia masih hidup, jangan berkata seperti itu di depannya!"


"Mah, dia Rissa bukan tante Fredericka!"


"Shivanya Nerissa adalah Fredericka Nerissa, mama yakin akan hal itu!"


"Maksud mama reinkarnasi gitu? mama percaya kalau reinkarnasi itu benar adanya? apa buktinya jika dia adalah tante Ika?"


"Iya! mama percaya jika reinkarnasi itu benar adanya, dan Shivanya Nerissa adalah Fredericka Nerissa! mama memang belum mendapatkan buktinya, tapi mama sangat yakin jika Shivanya Nerissa adalah Fredericka Nerissa"


Lisa menatap ibunya, Rissa, mas Amir, neneknya, dan Eza kebingungan lalu langsung pergi meninggalkan mereka. Eza kembarannya pergi mengejar kepergian Lisa.