
''Paman, bibi yang tadi siapa?" tanya Dimas.
"Oh bibi yang tadi itu istri paman, yang anak kecil sama bibi tadi itu anak paman" ucap Alderts.
"Bibi tadi sama anak itu mau kemana paman?" tanya Love.
"Mereka mau menginap di rumah teman bibi itu sayang, katanya temannya sakit" ucap Alderts.
"Oh gitu" ucap Love.
''Iya sayang, ayo masuk'' kata Alderts kepada anak-anak Kinara.
"Iya paman" ucap mereka dengan nada menggemaskan.
''Oh ya siapa namamu sayang?'' tanya Alderts kepada putra dan putri Kinara.
"Saya Dimas'' ucap anak laki-laki Kinara.
''Siapa nama kamu cantik?'' Alderts bertanya pada putri Kinara.
"Aku Love" ucap anak perempuan Kinara.
"Nama yang sangat indah" kata Alderts sambil tersenyum bergantian dan membelai pucuk kepala mereka.
''Terima kasih" jawab mereka serempak.
"Apakah kalian berani tidur sendiri? atau mau tidur bareng?" tanya Alderts.
"Aku berani om, tapi Love penakut" kata Dimas.
''Love penakut? apa yang kamu takutkan sayang?'' tanya Alderts menunduk agar sejajar dengan Love.
"Takut setan" jawabnya dengan manis.
''Takut setan? iya sudah kamu tidur sama Dimas ya sayang" ucap Alderts sambil mengelus puncak kepala Love.
"Ya, paman. Ayo, paman antar ke kamar kalian" ucap Alderts tersenyum memegang tangan mereka untuk mengikutinya.
"Ya, paman'' kata Dimas dan Cinta serempak.
"Sayang, ini kamarmu, bagaimana? apa kalian menyukainya?'' tanya Alderts.
"Saya suka, kamarnya sangat luas, bagus sekali" kata Dimas sambil melihat sekeliling.
Alderts memberikan kamar untuk Dimas and Love, kamar yang dulu ditempati putrinya Saartje Kim Jacob. Masih ada bingkai foto Saartje disana.
''Paman, ini kamar kak Sarah, bukan?'' tanya Dimas saat melihat foto Saartje.
''Ya sayang, ini kamar kakak mu Sarah" kata Alderts sambil menahan air mata agar tidak jatuh.
Dimas dan Love berlari ke bingkai foto Sarah.
''Kak, Dimas sangat merindukan kakak, Love juga sangat merindukan kakak' kata Dimas dan Love meneteskan air mata.
Alderts segera memeluk mereka dan menyeka air mata mereka.
"Nanti paman singkirkan bingkai foto Sarah agar kalian tidak sedih lagi" kata Alderts mengelus pucuk kepala mereka.
"Jangan paman, biarkan saja ada bingkai foto kak Sarah di kamar ini, ini kan kamar kakak" ucap Dimas.
"Oke, jika itu permintaan kalian, sekarang kalian istirahat saja" ucap Alderts menunduk agar sejajar dengan mereka.
''Ya, paman'' kata Dimas dan Love.
"Apakah kalian sudah makan?" tanya Alderts.
"Belum" kata Dimas dan Love serempak.
''Ya sudah kalian mandi dulu saja biar nanti paman bawakan makanan untuk kalian, kalian mau makan apa?" tanya Alderts.
"Apa saja paman" ucap Dimas.
"Panggil papah saja ya sayang" ucap Alderts menatap Dimas dan Love bergantian tersenyum mengelus pucuk kepala mereka.
''Ya paman, eh maksudnya papah'' kata Dimas menutup mulutnya malu.
"Ya sudah paman keluar dulu ya mengambilkan makanan untuk kalian" ucap Alderts.
"Iya paman" ucap Dimas.
"Oke" ucap Alderts pergi meninggalkan mereka.
Dimas dan Love duduk diatas kasur dan terus menatap foto Sarah dengan ekspresi wajah sendu. Lama kelamaan menatap foto Sarah, mereka mengantuk dan tertidur.
Alderts pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan dan minuman untuk mereka.
"Dimas, Love bangun sayang, makan dulu ya" ucap Alderts menepuk-nepuk pundak mereka perlahan.
Dimas terbangun tetapi Love masih tertidur.
"Love bangun" ucap Dimas menggoyangkan tubuh Love yang sedang tertidur pulas.
Love pun terbangun mengucek-ngucek matanya dan Alderts menyuapi mereka secara bergantian.
Setelah makanan mereka habis, Alderts memandikan mereka, memakaikan mereka baju, mengoleskan minyak kayu putih ke badan mereka dan memberikan mereka selimut. Alderts menyalakan televisi yang menayangkan kartun Spongebob Squarepants.
Love terlihat sangat bahagia saat menonton adegan Patrick Star hingga memukul-mukul Dimas kembarannya.
Alderts yang melihat Love memukul-mukul Dimas pun mencoba untuk menghentikannya.
"Sayang, kak Dimas jangan dipukul-pukul gitu ya" ucap Alderts memegang tangan Love.
Love terdiam dan menatap sebentar Alderts dan kembali menonton televisi.
Anak kembar Kinara terlihat sangat menggemaskan.
"Kasian mereka, mereka masih sangat kecil tetapi harus menopang beratnya masalah seperti ini, kuat sekali bahu mereka hingga Tuhan memilih mereka untuk memikul beban ini sendirian, mereka harus tumbuh besar tanpa kedua orangtuanya, tanpa siapapun yang mereka punya" batin Alderts hingga tanpa sadar air matanya terjatuh.
Alderts menyeka air matanya sendiri dan mengelus pucuk kepala mereka dan memeluk mereka yang tengah asik menonton kartun kesukaan mereka.
Love yang tengah asik menonton televisi tiba-tiba mengantuk dan memejamkan matanya tertidur di bahu Alderts.
"Love liat deh lucu ya" ucap Dimas memukul-mukul tangan Love yang tengah tertidur pulas.
"Love kok diam aja sih? aku kayak orang gila aja deh ngomong sendiri, Love" ucap Dimas memukul-mukul tangan Love yang tengah tertidur pulas.
Dimas yang tak kunjung mendapat jawaban dari Love pun meliriknya.
''Pantas saja aku berbicara dia diam saja tidak tahunya sedang asik tertidur hm" ucap Dimas kesal.
"Biarkan saja dia tidur" ucap Alderts merebahkan tubuh Love perlahan agar ia tidak terbangun.
"Dasar tukang tidur" gerutu Dimas.
"Tidak boleh seperti itu Dimas sama adik kamu" ucap Alderts mengelus pucuk kepala Dimas.
"Adik beda menit saja om" ucap Dimas.
"Walaupun hanya berbeda menit saja, dia tetap adik kamu Dimas, jangan gitu lagi ya, biarkan dia tertidur, jika kamu mengantuk tidur saja" ucap Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Dimas.
"Aku tidak mengantuk om, aku masih ingin menonton kartun itu" ucap Dimas menunjuk televisi.
"Ya sudah om temani ya" ucap Alderts tersenyum.
"Iya om" ucap Dimas yang kembali menonton televisi.
Dimas yang pegal karena kelamaan duduk pun tiduran disamping Love dan tetap menonton televisi, Alderts yang merasakan pegal juga akhirnya tiduran di tengah-tengah Love dan Dimas. Love berbalik badan memeluk Alderts dengan matanya yang masih terpejam, Alderts pun membawa kepala Love ke bahunya dan mengelus pucuk kepala Love tersenyum dengan tatapan sendu. Dimas dan Love memang saudara kembar tetapi wajah Love sangat mirip dengan Kinara sedangkan wajah Dimas sangat mirip dengan Rangga. Alderts yang menatap Love yang tengah tertidur pulas menjadi teringat saat-saat kebersamaannya dengan Kinara. Saat-saat Kinara tertidur pulas di dadanya ketika semuanya masih baik-baik saja, saat hubungan mereka masih sangat harmonis belum terpecah belah menjadi 2 hati yang berpisah yang sama-sama sudah memiliki rumah baru, tetapi bedanya Kinara berhasil menemukan rumah baru yang jauh lebih hangat daripada rumah lamanya sedangkan aku gagal mendapatkan rumah baru yang jauh lebih hangat dari rumah lamanya. Rumah baruku sangat dingin dan terasa hambar.
"Bodohnya aku memberikan celah untuk Sinta masuk ke dalam rumah tangga kami hingga akhirnya aku kehilangan wanita baik seperti Kinara dan juga kehilangan putri ku Sarah" batin Alderts yang tanpa ia sadari air matanya jatuh menetes.
"Paman kenapa? kok ngeliat Love nangis begitu sih? ada apa paman?" tanya Dimas yang melihat Alderts menangis.
"Tidak apa Dimas, paman tidak menangis hanya kemasukan debu saja" ucap Alderts mengucek matanya.
"Oh gitu, paman aku ngantuk, tv-nya matikan saja" ucap Dimas.
"Iya sayang" ucap Alderts tersenyum dan mematikan tv.
Alderts mengelus pucuk kepala Dimas perlahan Dimas menutup matanya dan tertidur, Alderts mencium keningnya dan juga Love lalu pergi dari sana ketika Love melepaskan pelukannya.