
"Karna Kadang cemburu tak butuh alasan" Lady future.
πππππππππππ
"Hei! Bangunlah."Β Panggil orang itu membuat mata Sarah terbuka perlahan.
Dengan wajah datar Sarah menatap Pak Dedi yang
meletakan gelas berisi teh hangat di atas meja dekat ranjang.
"Untuk apa Bapak kesini." Tanya Sarah.
"Apakah kau tidak liat aku berniat baik membawakan teh hangat." Saut Pak Dedi.
"Aku tak butuh sesuatu yang tak ikhlas." Tutur Sarah kembali berbaring di atas ranjang menarik selimut sampai batas dada.
"Dasar Es balok." Gumam Pak Dedi pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh Sarah.
"Pergilah! Bukankah Bapak masih ada kelas." Usir Sarah halus.
"Baiklah, jangan lupa minum tehnya." Ujar Pak Dedi berlalu dari ruangan itu.
"Cih.. Minta maaf pun tidak." Gumam Sarah pelan.
Sarah yang Baru menutup mata kembali mendenga suara pintu kembali terbuka perlahan.
"Ada apalagi sih!." Umpat Sarah kesal.
"Sarah kau kenapa?." Tanya Sean bingung.
"Tidak apa-apa." Ucap Sarah mengambil teh hangat di atas meja meminumnya perlahan.
"Darimana kau mendapat teh itu?." Tanya Sean lagi membuat Sarah mendelik tajam.
"Oke oke." Ujar Sean mengangkat dua jari tanda damai.
"Cowok selalu salah." Gumam Sean dalam hati.
Kemudian meletakan secangkir air hangat yang dia ambil tadi ke atas meja.
"Tolong sampaikan izinku nanti Sean. Mungkin aku masuk kelas saat perutku sudah mendingan" Ucap Sarah meletakan kembali teh itu ketempat semula.
"Baiklah tuan putri." Saut Sean membungkukkan sedikit badanya tanda hormat.
"Sepertinya kau belum merasakan Hangatnya sepatu melayang ya." Saut Sarah menyeringai.
Sean yang mendengar itu meneguk ludah dengan susah payah.
"Anu Sarah sepertinya ada tugas yang belum aku kumpulkan. Aku ke kelas dulu." Sean langsung berlalu dari ruangan itu dengan cepat.
Takut akan ancaman Sarah yang terbilang nekat dan tidak main-main.
Terutama perempuan itu tengah PMS.
Bisa saja bukan hanya sepatu yang di lempar.
Tapi juga meja dan kursi.
(Author mode lebay guyss..)
ππππππππππππ
Langit sore terbentang indah bersama kicau burung menjadi irama.
Bel pulang sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu.
Namun mata gadis itu masih terpejam dengan gelisah.
Nampaknya ia tengah mimpi buruk membuat tidurnya tak nyaman.
"Kak jangan pergi." Gumamnya pelan.
Menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan pelan
"Ma Sarah minta maaf." Ucapnya lagi pelan.
Tak terasa setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya.
Mata itu terbuka perlahan menetralkan pandangan yang mengabur.
Sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing.
Dilihatnya tas di atas kursi di dekat ranjang UKS dengan kertas notes di sampingnya.
"Maaf Sarah aku tak bisa menemanimu. Aku harus pulang cepat hari ini. mama menelvon mengabarkan kalau papa pulang. Semua tugas sudah aku catat di bukumu dan besok ulangan sejarah. Jangan lupa makan dan istirahat biar Lekas membaik "_ Sean.
Sarah tersenyum tipis membaca notes itu.
Sarah sangat bersyukur mempunyai teman sebaik Sean.
Walau sangat menyebalkan dan jahil. Sean selalu apa adanya dan tidak pernah memandang rendah dirinya.
Walau bagi orang lain Sean orang yang cuek dan seolah tak perduli.
Sarah berjalan menyusuri koridor sekolah yang nampak sepi.
Saat melewati ruang guru dia tak sengaja melihat Kania yang nampak sibuk di meja salah satu guru.
"Apa yang kau lakukan di sini?." Tanya Sarah menepuk bahu Kania terkejut.
"Sarah kau belum pulang?." Ucap Kania dengan gugup.
"Iya." Saut Sarah menatap Kania yang meremas tangannya sendiri.
"Emm. Aku duluan Sarah." Seru Kania menunduk berlalu dari sana tanpa menoleh sedikitpun.
Sarah tak ambil pusing ikut berlalu dari sana dengan langkah bergema.
"Duluan pak." Sapa Sarah pada satpam yang sedang berjaga.
ππππππππππππ
Jam sudah menunjukkan pukul 16:35Β saat Sarah melihat jam di ponselnya.
15 menit lagi ia akan bekerja di restoran ayam.
Setelah bertemu dengan Yogi. Keesokan harinya saat ia interview di restoran itu langsung di terima karna kekurangan pegawai.
Karna sudah mulai bekerja, Sarah sudah menyiapkan baju ganti agar menghemat ongkos.
Selesai interview pun dia sudah mengenal sebagian pegawai lain.
Sarah pun bergegas ke ruang ganti Menganti pakaiannya sekolahnya.
"Sarah bisa tolong bantu aku sebentar." Panggil Nila.
"Iya Kak." Saut Sarah.
"Tolong antar ini ke meja No.8" Ujar Nila menyerakan nampan berisi jus buah naga di tanganya.
"Baiklah kak." Restoran hari ini sangat ramai. Sarah berjalan dengan hati-hati.
Prangg..
Nampan di tangan Sarah tertumpah ke arah samping.
Saat tak sengaja seorang anak kecil menyenggol Sarah.
"Maaf Tuan." Ucap Sarah berniat membersihkan namun malah di tepis kuat oleh tangan kokoh itu
"Kau tak punya mata." Teriak
orang itu.
"Sudahlah Rey dia tak sengaja." Seru teman Reyhan yang ada di sampingnya.
Sarah hanya menunduk tanpa berani menatap.
"Sarah sudah kubilang hati-hati kan." Ucap Nila yang baru saja sampai.
"Maafkan teman saya pak dia pegawai baru disini." Imbuhnya.
"Pantas saja kerjanya tidak benar, Mecari pegawai asal-asalan." Seru Bella teman satu meja dengan Reyhan.
"Ada apa ini." Tanya Pak Gunawan selaku general manager Restoran yang melihat ada keributan.
"Pegawai anda menumpahkan jus ke pacar saya." Ujar Bella menunjuk Sarah.
"Siapa yang pacarmu." Saut Reyhan tajam. Bella yang di tegur pun terdiam kesal merasa di permalukan.
"Maaf akan ketidaknyamanannya lebih baik kita selesaikan di ruangan saya saja,Mari!." Pak Gunawan meminta maaf kepada seluruh pelanggan disana.
"Sarah kau ikut keruangan saya." Tegur pak Gunawan.
"Rey aku ikut." Seru Bella manja.
Reyhan hanya melirik dengan tatapan datar mengikuti Pak Gunawan keruanganya bersama Sarah yang masih menunduk.
"Maafkan saya Tuan." Sarah yang sendari tadi menunduk menatap Reyhan membuatnya terkejut.
"Gadis ini." Gumam Reyhan dalam hati.
Merekapun menyelesaikan secara damai namun Sarah terpaksa di pecat di hari pertamanya.
"Bolehkah saya pinjam ruangannya sebentar pak Gunawan. Saya mau berbicara dengan gadis ini sebentar." Seru Reyhan dan di setujui oleh pak Gunawan.
"Kau harus Menganti rugi." Ucap Reyhan melipat tangan di atas dada.
"Bukankah kita sudah damai. Saya juga tidak sengaja menumpahkan minuman itu." Seru Sarah heran.
"Kau tau harga jasku bisa mencapai gajih 1 tahun kau di restoran ini." Sarah melotot mendengarnya.
"Jangan bercanda Tuan ini tidak lucu." Saut Sarah datar.
"Apakah wajahku Sekarang sedang melucu." Balas Reyhan meremehkan.
"Terus mau Taun apa, saya tak punya uang sebanyak itu dan tuan tau sendiri aku baru saja di pecat." Tutur Sarah pelan dengan pikiran kemana-mana.
"Jadilah.."
.
.
ππππππππππππ
.
***Hello guys..
Apa kabar? Masih semangat kan.
Gimana ceritanya?
Ngebosenin gak?
Atau kurang komplik?
Atau bumbu-bumbu cinta? π
Kasih saran ya karna Author bukan pawangnya mesra dan cinta-cintaan π€£π
Jangan lupa ya follow akun ini ya dan dukung terus dengan vote, like, komen,shere dan saranΒ² dari kalian bisa bantu author ya.
Terima kasih sudah membaca.
See you next time. π***