Sarah

Sarah
Historical Hotel Berhantu



Angin malam bertiup kencang hingga membuat gorden kamar berterbangan dan membuat kaca jendela menutup dan terbuka secara terus-menerus, namun hal itu tidak membangunkan tidur nyenyak Gavin dan Davika.


Nampak arwah Caroline dan Smith berdiri di depan mereka, menatap tersenyum. Rupanya sebelum Caroline dan Smith meninggal dunia, mereka merupakan sepasang kekasih. Mengetahui kabar jika kekasihnya meninggal dunia karena terjatuh dari lantai 3 membuat dunia Smith sangat kacau balau yang membuatnya mengakhiri hidupnya di kamar nomor 13. Caroline tewas di dorong oleh rekan kerjanya yang ternyata diam-diam menyimpan perasaan kepada Smith kekasihnya.


"Caroline, keep me company for a while" pinta Bella rekan kerjanya.


"Okay" ucap Caroline.


"Caroline, can I ask you something?" tanya Bella.


"What do you want to ask?" tanya Caroline.


"Is it true that Smith is your boyfriend?" tanya Bella.


"That's right, Smith is my boyfriend, what's wrong?" tanya Caroline.


"I've been in love with Smith for a long time, but instead you got his heart, that's not fair!" batin Bella yang tanpa ia sadari tangannya memukul besi pembatas di balkon kamar hotel.


"What is it?" tanya Caroline.


"Hm, It's okay, it's rare to have that many stars" ucap Bella tersenyum menatap langit.


"Yeah, you're right, the moon is really good too" ucap Caroline tersenyum memandang langit.


Ketika Caroline tengah asing menatap bintang yang begitu banyak dan bulan yang sangat indah menyinari langit malam, Bella mendorong Caroline hingga terjatuh. Setelah mendorong Caroline, Bella pergi meninggalkan Caroline yang nampak sesak nafas karena kehilangan banyak darah. Pertolongan tak kunjung datang yang akhirnya membuat Caroline menutup matanya dan meninggal dunia di tempat kejadian.


"Astagfirullahaladzim, ada orang terjatuh" ucap salah satu pengunjung yang sepertinya berasal dari Indonesia.


"Tolong, ada orang jatuh" teriak wanita yang hendak menolong Caroline.


"Oh iya lupa, ini kan di Singapura ya bukan di Indonesia, kenapa aku minta tolong pakai bahasa Indonesia, enggak ada yang ngerti" ucap pengunjung wanita itu menepuk keningnya sendiri.


"Please, someone fell from above" ucap wanita itu.


Tak lama kemudian pengunjung lain datang menghampirinya dan juga pemilik hotel. Mendengar keributan yang terjadi dibawah, Smith turun menghampiri suara keributan dibawah hotelnya. Smith mendorong orang-orang yang menghalanginya dan jatuh tersungkur melihat kekasihnya yang terbaring lemah dengan darah segar yang masih terus mengalir dari belakang kepalanya. Pemilik hotel memeriksa denyut nadi dan detak jantung Caroline.


"She is dead" ucap pemilik hotel.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un" ucap wanita yang menolongnya tadi.


"No, this is impossible, my girlfriend is still alive, she's not dead, you must be wrong right?" tanya kekasih Caroline berlinang air mata tidak percaya.


"Her pulse and heartbeat have stopped, she is dead" ucap pemilik hotel.


Mereka pun membawa jasad Caroline ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi, sedangkan Smith berlari ke dalam kamarnya. Dijalan ia bertabrakan dengan Bella namun Smith menghiraukannya, Bella terlihat tersenyum bahagia atas meninggalnya Caroline, jadi ia bisa mendapatkan hati Smith.


Ketika sampai di kamarnya, Smith mengunci pintu kamarnya dan membuang seluruh perabotan yang ada di dalam kamarnya. Smith memukul tangannya ke dinding, menjambak rambutnya sendiri dan menangis serta berteriak seperti orang gila. Melihat pecahan kaca yang ada di depannya, ia mengambilnya dan mengiris urat nadinya, Smith pun terjatuh tepat di balik pintu kamarnya. Darah ditangannya mengalir keluar hingga membanjiri ruangan luar.


Beberapa hari setelah kejadian meninggalnya Caroline dan Smith, terungkap fakta jika Bella adalah dalang dibalik pembunuhan Caroline dan Smith mati karena bunuh diri.


Di hati Caroline masih menyimpan dendam dan amarah untuk Bella yang membuatnya menjadi arwah gentayangan, sedangkan Smith yang dengan setianya selalu menemani Caroline yang membuat mereka terkenal sebagai arwah jahat yang dipenuhi oleh dendam. Caroline dan Smith awalnya hanya berniat untuk membunuh Bella namun mereka malah menyebabkan banyak pengunjung hotel tewas dan ketakutan yang membuat hotel itu di cap sebagai "hotel berhantu". Hanya sedikit orang yang berani untuk menginap di hotel itu, sejak gemparnya kabar jika hotel itu berhantu.


Gavin dan Davika yang tidak mengetahui historical dari hotel itu pun tetap memilih untuk menginap disana karena tidak punya pilihan lain lagi selain sudah larut malam, hotel itu juga tempat terdekat menuju rumah sakit tempat istrinya akan melakukan kemoterapi.


"Mah, bangun mah udah pagi" ucap Gavin menepuk pundak istrinya.


"Iya pah" ucap istrinya membuka matanya.


"Pah, papah ngerasa gak sih? kalau semalam itu udaranya dingin banget" ucap istrinya.


"Mungkin AC di kamar ini kali mah" ucap suaminya.


"Mungkin pah" ucap istrinya.


"Ya udah, sekarang mamah siap-siap ya, kita berangkat ke rumah sakit" ucap suaminya.


"Iya pah" ucap istrinya.


Setelah keduanya siap, mereka pergi ke rumah sakit. Davika akan menjalankan kemoterapi ketiganya. 1 tahun yang lalu, Davika dinyatakan mengidap kanker otak stadium 3, yang membuatnya harus jauh-jauh dari Jakarta ke Singapura hanya untuk melakukan kemoterapi untuk kesembuhannya.


Fredericka, Shivanya dan Azeer tidak mengetahui, jika Davika mengidap penyakit kanker otak. Gavin dan Davika sengaja tidak memberitahukan hal itu pada anak-anaknya, karena takut anak-anaknya akan ikut drop juga jika mengetahuinya. Gavin dan Davika selalu beralasan akan liburan di Singapura berdua, agar anak-anaknya tidak curiga.


"Pah, nanti malam kita masih menginap di hotel itu lagi?" tanya istrinya.


"Masih mah, memangnya kenapa?" tanya Gavin.


"Mamah takut pah, kan papah tahu sendiri kemarin hotelnya serem begitu" ucap Davika.


"Ya mau gimana lagi mah, mamah juga kan harus istirahat dulu setelah kemoterapi, besoknya kita langsung balik ke Jakarta mah, tapi malam ini kita menginap di hotel itu dulu ya, papah juga kan booking hotel itu untuk 2 malam mah". ucap Gavin.


"Ya udah deh terserah papah aja, tapi papah janji ya, jangan tinggalin mamah" ucap Davika.


"Iya mah" ucap Gavin tersenyum mengelus pucuk kepala Davika.


"Mamah takut soalnya kalau harus sendirian di hotel itu" ucap Davika.


"Iya mah" ucap suaminya.


"Kalau papah mau beli makanan, mamah ikut aja ya pah" ucap istrinya.


"Iya mah" ucap suaminya.