Sarah

Sarah
Sarah Demam



Keesokan harinya Sarah mengalami panas tinggi.


"Sarah bangun sayang ayo sarapan dulu" ucap Fredericka menepuk-nepuk pundaknya dari belakang.


"Sarah, bangun sayang kamu tidak pergi ke sekolah?" tanya Fredericka.


Fredericka membalikkan tubuh Sarah.


"Ya Allah, tubuhmu panas banget sayang" ucap Fredericka memegang kening Sarah yang masih menutup matanya.


Fredericka pergi mengambil kain di dapur dan air untuk mengompres Sarah.


"Ada apa kak?" tanya Shivanya.


"Tubuh Sarah panas banget dek" ucap Fredericka panik.


"Bawa saja dia ke rumah sakit, nanti kita kompres dia di jalan aja" ucap Shivanya.


"Iya kamu benar juga" ucap Fredericka.


"Mas Azeer tolong bawa Sarah ke mobil" ucap Shivanya.


"Oke" ucap Azeer.


"Sarah bangun sayang" ucap Fredericka yang masih terus mengompres Sarah.


"Kita udah sampai di rumah sakit nih" ucap Azeer.


"Suster, dokter, tolong adik saya" ucap Fredericka panik menggendong Sarah.


Suster segera menghampiri mereka dan membawa Sarah untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.


"Dokter bagaimana kondisi adik saya?" tanya Fredericka panik.


"Adik anda tidak apa-apa, hanya demam biasa, kami sudah memberinya obat, sebentar lagi dia pasti akan tersadar" ucap dokter.


"Oke, terima kasih dok" ucap Fredericka tersenyum dengan ekspresi wajah panik yang tidak dapat ia tutupi.


"Iya sama-sama, saya tinggal sebentar" ucap dokter.


"Iya dok silahkan" ucap Fredericka.


"Kakak" ucap Sarah dengan suara lemah.


"Iya sayang" ucap Fredericka mengelus pucuk kepala Sarah.


"Kakak, aku mau pulang, aku tidak ingin berada di sini, aku mau ketemu papah" ucap Sarah melepaskan infus yang ada di tangannya.


"Tapi sayang... !, Sarah tunggu Sarah... !" panggil Fredericka menghentikan Sarah yang pergi dari kamarnya.


"Ayok kak" ucap Sarah melihat ke belakang dengan kaki yang terus melangkah.


"Papah mu juga ada di rumah sakit ini sayang" ucap Fredericka.


"Apa kakak benar? gak bohong kan kak?" tanya Sarah.


Iya sayang, kakak gak bohong sama kamu" ucap Fredericka.


"Ya sudah ayok pergi ke papah kak, ini ke arah mana kak?" tanya Sarah melihat ke belakang.


"Kiri sayang" ucap Fredericka.


"Oke kak" ucap Sarah.


"Papah, Sarah datang, Sarah sangat merindukan papah" ucap Sarah berlinang air mata dan langsung memeluk papanya yang masih terbaring kaku.


"Ayok pulang sayang, kan kamu lagi sakit" ucap Fredericka mengelus pucuk kepala Sarah.


"Aku enggak mau pulang kak, aku ingin bersama papah" ucap Sarah.


"Ayok sayang, ayok kita pulang, besok kita kesini lagi" ucap Fredericka mengelus pucuk kepala Sarah.


"Kak Ika benar Sarah, kamu harus istirahat sekarang, kalau kamu gak mau istirahat, nanti papah kamu pasti sedih kalau tahu kamu sakit tapi kamu ngeyel gak mau istirahat" ucap Azeer.


"Iya sayang, kita pulang ya, anak cantik, baik" ucap Shivanya tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.


"Oke kak" ucap Sarah.


"Suster, saya titip pasien bernama Alderts Jacob ya, tolong jaga dia" ucap Fredericka.


"Baik mbak" ucap suster tersenyum.


"Terima kasih suster" ucap Fredericka tersenyum.


"Iya sama-sama mbak" ucap Fredericka tersenyum.


"Papah mu aman ada yang menjaganya, sekarang kita pulang ya sayang, kakak urus obat kamu dulu ya, kamu pulang duluan aja sama kak Shiv dan kak Azeer ya sayang" ucap Fredericka tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.


"Iya kak" ucap Sarah mengangguk patuh.


"Ayok kita pulang" ucap Azeer tersenyum dan langsung menggendong Sarah.


Shivanya dan Fredericka yang melihat tingkah kekanak-kanakan Azeer pun tersenyum dan menggunakan kepala.


"Pada kenapa deh?" tanya Azeer.


"Ada apa sih? kasih tahu dong" rengek Azeer.


"Enggak ada tahu disini Zir, kalau mau nyari tahu dipasar sana bukan di rumah sakit" ucap Fredericka.


"Apaan sih mbak" ucap Azeer kesal dan langsung pergi dari sana menggendong Sarah.


"Kejar suami mu sana dek, nanti ngambek rumah goyang lagi, gempa bumi gara-gara dia ngambek" ucap Fredericka tertawa kecil.


"Iya mbak" ucap Shivanya tertawa kecil mengejar kepergian suaminya.


Fredericka pun pergi untuk mengurus biaya kepulangan Sarah dan menebus obat Sarah.


"Sayang tungguin ikh... !" ucap Shivanya bernada manja mengejar kepergian suaminya.


Azeer hanya menatap sekilas istrinya sambil terus berjalan menggendong Sarah.


Azeer menurunkan Sarah perlahan agar kepalanya tidak terkena atas mobilnya.


Sepanjang perjalanan sepasang sejoli itu tidak berbincang sama sekali dan Azeer memasang muka kesalnya ala anak kecil ngambek tidak dikasih uang jajan oleh ibunya. Sarah yang menyaksikan hanya tersenyum melihat dua sejoli itu.


Sesampainya dirumah, Sarah langsung berlari ke kamarnya dan memeluk boneka sapi kecilnya yang ia beri nama "WARIA".


"Sarah, makan dulu ya sayang" ucap Shivanya memasuki kamar Sarah membawakan nampan berisi makanan dan susu hangat serta air putih untuk Sarah.


"Enggak mau kak" ucap Sarah menolak suapan dari Shivanya.


"Kamu belum makan dari pagi, makan dulu ya sayang" ucap Shivanya.


"Aku gak mau makan kak" ucap Sarah menolak suapan dari Shivanya.


"Nanti kamu sakit lagi sayang" ucap Shivanya.


"Makan dulu, ayok buka mulutmu" ucap Shivanya menyuapi Sarah.


"Aku tidak mau kak Shiva" ucap Sarah.


"Ayolah sayang" ucap Shivanya.


"Enggak mau" ucap Sarah.


"Sini dek biar mbak aja" ucap Fredericka mengambil makanan Sarah.


"Iya mbak" ucap Shivanya menyerahkan piring makanan Sarah.


"Sarah, makan ya sayang, Waria liat deh kakak kamu Sarah, dia gak mau makan, jangan ditemenin, dia nakal" ucap Fredericka pada boneka sapi Sarah yang berada di sampingnya.


Shivanya dan Azeer yang melihat saling menatap satu sama lain kebingungan mendengar kakak mereka menyebut "Waria".


"Akh kak Ika... ! jangan gitu sama Waria aku" ucap Sarah merengek dan langsung memeluk boneka sapinya.


"Wait a minute... !" ucap Azeer.


"Why?" tanya Fredericka.


"Waria itu boneka sapi?" tanya Azeer menunjuk boneka sapi yang Sarah peluk.


"Iya" ucap Fredericka.


"Wow, amazing... !" ucap Azeer menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya sekaligus bingung.


Shivanya hanya menatap suaminya bergiliran dengan menatap Sarah dan Fredericka dengan ekspresi kebingungan dengan bibirnya yang sedikit terbuka.


"Iya udah makanya kamu makan ya, aaaa... ayok buka mulutnya... !" ucap Fredericka.


"Anak pintar, gitu dong makan, jangan gak makan nanti gak ditemenin lagi sama Waria" ucap Fredericka.


"Hm.. aku kenyang kak" ucap Sarah.


"Satu suap lagi ya sayang, biar bisa minum obat" ucap Fredericka.


"Hm, udah kan? udah satu suap, udah akh,. kenyang kak" ucap Sarah.


"Iya sayang" ucap Fredericka.


"Sekarang, kamu minum obat dulu ya Sarah" iya kak" ucap Sarah.


Fredericka mempersiapkan obat apa saja yang akan Sarah minum dan memberikannya kepada Sarah.


"Ini sayang obatnya diminum dulu ya" ucap Fredericka.


"Iya kak" ucap Sarah mengangguk patuh dan meminum obat yang diberikan oleh Fredericka.


"Sekarang kamu istirahat ya sayang" ucap Fredericka tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.


"Iya kak" ucap Sarah.


"Shivanya, Azeer, ayok kita keluar dari kamar Sarah, biar dia bisa istirahat" ucap Fredericka.


"Iya mbak" ucap Shivanya dan Azeer kompak dan langsung keluar dari kamar Shivanya dan menutup pintu kamarnya.


Sarah memejamkan matanya dan tertidur pulas.