Sarah

Sarah
Istri Ketiga Hasan



"Pah, kita balik aja yuk ke Indonesia, perasaan mamah gak enak soalnya" kata ibu Aleta.


"Ya udah papah pesan tiketnya dulu ya mah"


"Iya pah, mamah ikut pah, kita pesan yang langsung berangkat hari itu juga aja pah"


"Ya udah ayok mah kita ke bandara"


"Iya pah"


Orangtua Aleta pergi ke bandara untuk memesan tiket yang melakukan penerbangan pada hari itu juga, agar mereka secepatnya tiba di Indonesia. Ibu Aleta menelepon Aleta untuk memberitahukan jika mereka akan kembali ke Indonesia.


"Assalamualaikum Al" kata ibunya.


"Wa'alaikumsalam mah"


"Al, ini mama sama papa lagi di bandara, hari ini kita rencananya mau balik ke Indonesia, tapi kalau dapat tiket yang berangkat langsung ke Indonesia kalau gak nanti mama kabarin lagi sama kamu"


"Iya mah"


"Ya udah kak assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam mah"


Panggilan telepon diantara mereka pun berakhir.


 


Aleta yang tengah menjemput Altezza bertemu dengan Hasan yang sedang berpacaran dengan seorang wanita yang entah siapa.


Aleta segera membawa pergi Altezza dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Nak, kamu tunggu di dalam mobil dulu ya sebentar, mamah ada urusan sebentar, ini kamu main handphone aja ya nak" kata Aleta mengelus pucuk kepala Altezza memberikan ponselnya.


"Iya mah"


Altezza pun asik dengan ponsel Aleta, sementara Aleta pergi menghampiri Hasan yang tengah berpacaran dengan seorang wanita yang ia yakini itu bukanlah Icha sang perusak rumah tangganya.


Aleta mengambil foto kemesraan suaminya dengan wanita itu lalu melabraknya.


"Mas" panggil Aleta.


"Aleta?" tanya Hasan terkejut melihat kedatangan Aleta di hadapannya.


"Mas dia siapa?" tanya wanita yang tadi berpelukan dengan Hasan.


"Kenalin, gw Aleta, istri sah mas Hasan" kata Aleta mengulurkan tangannya menyeringai menatap wanita itu sinis.


"Wow! calon istri? hebat sekali ya kamu mas, kamu sudah memiliki dua istri sekarang kamu mau tambah lagi menjadi tiga, apa kamu sanggup memberikan nafkah untuk kita semua mas? kamu saja numpang di rumah aku, dan kamu juga bekerja sebagai karyawan di perusahaan papah aku, tapi kamu seenaknya menikahi banyak wanita tanpa sadar status kamu hanya sebagai karyawan papah aku yang bisa kapanpun aku pecat, karena aku juga ada hak atas perusahaan itu, sebagai anak tunggal aku berhak atas segala aset orangtua ku tapi tidak denganmu mas, apa kamu pikir kamu berhak atas semua aset kekayaan keluarga ku? tentunya tidak mas! sadarlah mas! tanpa aku itu kamu gak akan pernah ada di posisi seperti ini sekarang, jadi jangan banyak gaya mas! tanpa aku itu kamu bukan siapa-siapa mas, kamu aja numpang di rumah aku kok" kata Aleta menyeringai yang langsung memalingkan wajahnya.


"Berani ya kamu sama aku!" bentak Hasan menunjuk Aleta.


"Berani lah, ngapain aku harus takut sama suami tukang selingkuh kayak kamu itu! dan buat mbak nya, tolong ya sadar, mbak kurang cantik atau gimana sih mbak? kok mau sama laki orang? gatel digaruk mbak bukan ngerebut suami orang! punya tangan sendiri kan? tinggal garuk pakai tangan sendiri gak usah manja sama laki orang!"


"Status anda hanya sebagai istri di pengadilan, apa anda pikir saya tidak tahu tentang anda? saya tahu semua tentang anda, mas Hasan sudah menceritakan semua tentang anda"


"Jika anda tahu semua tentang saya, lantas mengapa anda memilih suami saya hm? karena kaya raya gitu? enggak mbak! hei dengar ya mbak! yang kaya raya itu keluarga saya bukan mas Hasan ataupun keluarganya, mas Hasan dan keluarganya hanya orang sederhana, saya kira seseorang yang sederhana jauh lebih memiliki hati nurani tapi ternyata tidak!, saya salah menilai mas Hasan, ternyata dia hanya benalu di kehidupan saya"


"Kamu tahu, kamu sadar dia hanya sekedar benalu di kehidupan kamu, lantas mengapa kamu masih tetap ingin menjadi istrinya hm?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Aleta seketika terdiam karena ia sendiri tidak mengerti apa alasannya untuk mempertahankan mas Hasan sebagai suaminya.


"Kenapa diam hm? kamu tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ku itu? itu karena kamu masih mencintai mas Hasan, secara tidak sadar, cinta itu masih bertahta di hati kamu yang membuat kamu masih tetap ingin mempertahankan rumah tangga kalian yang telah lama hancur, tinggalkan saja mas Hasan, ceraikan dia, biar aku bisa menikah dengannya"


"Oke baiklah, saya akan menceraikan mas Hasan tapi itu berdasarkan kemauan ku, berdasarkan keputusan ku, bukan berdasarkan saran dari mu itu!"


"Oke baiklah, terserah kamu mau bilang apa yang penting kamu tinggalkan saja mas Hasan, biar aku menjadi wanita satu-satunya yang ada di kehidupan mas Hasan"


"Wanita satu-satunya kamu bilang? apa kamu tidak mendengar perkataan ku tadi? mas Hasan telah memiliki dua istri sebelum kehadiran kamu, istri keduanya bernama Icha, aku tidak tahu dimana Icha tinggal, coba kamu tanyakan saja pada kekasih mu itu agar kamu bisa menendang posisi Icha untuk berhenti menjadi istrinya, kamu tahu dia pemain, lantas mengapa kamu ingin menjadi bahan permainannya? apakah kamu seorang wanita bayaran? yang tidak mempedulikan akan status keluarga seorang pria, wanita yang hanya ingin bersenang-senang dengan seorang pria, wanita yang bisa kapanpun dicari dan dibuang kapanpun pria itu mau hm? wanita yang digilir oleh banyak pria, digilir dari satu tempat ke tempat lainnya begitu Widya? dibayar berapa kamu sama mas Hasan hm? sampai-sampai kamu ingin menjadi ratu di hatinya, ingatlah satu hal, seorang wanita bayaran pria tidak akan pernah menjadi ratu, orang kedua akan tetap menjadi orang kedua, oh tidak, orang ketiga maksudnya, karena kamu datang kurang cepat, sudah lebih dahulu ada Icha sebagai orang keduanya, selamat menikmati hari-hari mu sebagai wanita ketiga Widya" kata Aleta menyeringai dan langsung pergi meninggalkan mereka.


"Kurang ajar ya kamu" kata Widya menjambak rambut Aleta dari belakang.


"Widya lepaskan dia!" bentak Hasan.


Mendengar perkataan Hasan membuat Widya sontak terkejut dan melepaskan tangannya dari rambut Aleta. Aleta pun menoleh ke belakang menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu membela dia mas? apa kamu mencintainya? kamu tidak mencintai ku?"


"Aku mencintai mu Widya, tapi biarkan saja dia pergi, kamu tidak perlu menarik rambutnya seperti itu, itu hanya akan menahan langkahnya untuk pergi"


"Apa maksud mu mas?"


"Dasar wanita bodoh! pantas saja kamu dijadikan sebagai wanita ketiga, ya itu karena kamu terlalu bodoh, untuk hal sekecil itupun kamu tidak mengetahui apa maksud dari perkataannya bagaimana kamu bisa mengerti mana yang baik dan buruknya!" kata Aleta menyeringai menggelengkan kepalanya.


"Bisa diam gak lu hah?!" bentak Widya menunjuk Aleta.


"Kalau enggak kenapa hm?"


Widya langsung menjambak rambut Aleta dan Aleta pun menjambak balik rambut Widya. Melihat Aleta dan Widya jambak-jambakan, Hasan berusaha untuk melerainya.


"Stop!" teriak Hasan.


Aleta dan Widya pun menghentikannya, ketika Widya tengah terkejut dan menatap Hasan, seketika Aleta mendorong Widya hingga terjatuh. Widya yang saat itu menggunakan dres pendek pun membuat kakinya terluka akibat dorongan kencang dari Aleta. Widya meluruskan kakinya perlahan, nampak darah segar mengalir dari kakinya. Melihat darah segar mengalir dari kaki Widya membuat Aleta tertawa puas dan meninggalkan mereka begitu saja. Aleta kembali ke mobilnya dan pergi bersama Dylan putranya.