Sarah

Sarah
Penyesalan Fredericka



"Oh iya, aku lupa ngasih tahu ke mereka kalau besok masuk, nanti mereka kesiangan lagi" ucap Shivanya yang langsung keluar dari dalam kamarnya.


"Shivanya tunggu!" panggil ibunya.


"Ada apa mah?" tanya Shivanya berhenti dan menoleh ke belakang.


"Hm, mama mau nanya sesuatu tentang Rissa"


"Ada apa mah?"


"Sebenarnya dia tinggal dimana? hm maksud mama itu kamu tahu rumahnya dia dimana gak?"


"Tahu mah, emangnya kenapa mah?"


"Hm, mama mau kesana, kali aja di rumahnya ada petunjuk tentang siapa dia dan petunjuk dari kakakmu Fredericka"


"Hm, aku gak kepikiran kesana sih mah, kalau mama mau kesana ayok aku antar"


"Iya nak"


Shivanya mengantarkan ibunya ke rumah Rissa untuk mencari adakah petunjuk yang akan membuat mereka percaya jika Rissa adalah Fredericka.


"Mah, kayaknya Rissa baru tinggal deh di tempat itu" ucap Shivanya.


"Benarkah?"


"Hm, gak tahu juga sih mah, tapi hati ku bilang kalau Rissa baru pindah ke rumah itu"


"Jika itu benar rumah barunya, lantas dimana rumah lamanya?"


"Aku gak tahu mah"


"Apa kamu mengenal sahabatnya Rissa dan tahu rumah sahabat Rissa dimana? pasti dia tahu deh dimana rumah lama Rissa"


"Aji"


"Aji siapa nak?"


"Aji itu sahabatnya Rissa, tapi untuk rumahnya dimana, aku gak tahu mah, aku gak tahu rumah dia dimana, Rissa juga masih lupa ingatan, kalau kita tanya ke dia dimana rumah Aji, pasti dia gak ingat deh"


"Gimana kalau kita tanya ke Amir aja?"


"Tapi Amir kan baru datang ke Jakarta mah, aku ragu deh kalau Amir tahu dimana rumah Aji"


"Amir itu kan kakak dia, masa iya sih seorang kakak gak tahu dimana aja rumah sahabat adiknya sendiri"


"Amir bukan abang kandungnya Rissa mah, Amir hanya sebatas abang sepupu yang Rissa anggap abang kandungnya sendiri, mereka bukan kakak adik kandung mah, Amir sendiri yang bilang ke aku kalau hubungan asli mereka adalah sebatas sepupu, tapi Amir berjanji akan menjadi abang yang baik buat Rissa seperti layaknya abang kandung sendiri, dan Amir juga tinggal di kampung selama ini mah, jadi aku rasa dia gak tahu dimana rumah Aji, mungkin mengenal namanya dari cerita Rissa, dan pernah bertemu dengannya di rumah sakit, tapi untuk tahu rumahnya dimana, kayaknya enggak deh mah"


"Gini aja, gimana kalau kita tanya ke tetangga sekitar rumah barunya Rissa, apa ada yang tahu dimana rumah lama Rissa"


"Hm, oke juga sih mah, tapi kalau gak ada satupun yang tahu gimana?"


"Kita coba saja dulu, kalau belum dicoba ya mana tahu, gak ada salahnya kan untuk mencoba? mama sangat ingin tahu siapa Rissa sebenarnya, apa kamu tidak ingin mengetahui identitas asli Rissa? kenapa wajahnya bisa semirip itu dengan Fredericka? kita harus mencari tahu tentang ini"


"Tapi jika Rissa benar reinkarnasi dari kak Ika, bukti apa yang akan kita temukan mah? apa reinkarnasi dapat dibenarkan oleh satu bukti fisik? mungkin secara takdir iya, tapi apa ada bukti fisiknya mah?"


"Entahlah, mama hanya ingin tahu, jika memang dia adalah kakak mu, mengapa kakak mu lebih memilih hidup kembali di raga orang lain daripada hidup di raganya sendiri? masalah apa yang membuat Fredericka kita akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pergi, dan apa alasan Fredericka hidup kembali di raga gadis itu? semuanya seperti mimpi yang hanya akan menjadi misteri tanpa adanya bukti, apa yang harus kita cari untuk membuktikan siapa Rissa sebenarnya?"


"Aku tahu mah"


"Gimana caranya?"


Shivanya menghentikan mobilnya di pantai terakhir Fredericka menghilang.


"Pantai? apa yang akan kita lakukan disini?" tanya ibu Shivanya.


"Kita harus ke tengah-tengah lautan mah, kita berpura-pura untuk terjun ke bawah air, dan mau tidak mau kak Ika pasti akan datang, kita akan tanyakan langsung kepadanya tentang siapa Rissa sebenarnya, mengapa wajahnya sangat mirip dengannya" ucap Shivanya berlinang air mata.


"Ya sudah ayok kita ke sana"


"Iya mah"


Shivanya dan ibunya menyewa sebuah perahu untuk pergi ke tengah lautan.


"Pak, saya sewa perahu ini ya" ucap Shivanya memberikan selembar uang seratus ribu.


"Silakan naik"


"Oke pak"


"Pak, ke tengah-tengah lautan ya"


"Tengah laut? kalian mau apa?"


"Pak ada sesuatu yang ingin kita lakukan di tengah laut sana"


"Saya tidak akan mengantarkan kalian ke tengah laut"


"Kalau begitu turunlah dari perahu ini, biar kami saja yang pergi berdua ke tengah laut sana" ucap Shivanya mendorong orang yang punya perahu itu.


Shivanya menyalakan mesin di perahu itu dan perahu itu mulai melaju.


Sesampainya di tengah laut, Shivanya dan ibunya berdiri di pinggir perahu dengan kedua tangan yang dilebarkan ke samping.


"Kak Ika datanglah! aku tahu kak Ika mendengar suara ku, aku mohon datanglah kak Ika, jika kak Ika tidak datang menemui kami sekarang juga, maka kami akan meloncat dari perahu ini, kak Ika kami ingin menanyakan sesuatu sama kak Ika, sesuatu yang membuat kami bertanya-tanya ketika melihatnya, jika kak Ika menyayangi kami, maka datanglah kak Ika, aku mohon!" ucap Shivanya meneteskan air mata dan memejamkan matanya.


"Fredericka Nerissa, mama tahu kamu anak yang baik nak, kamu putri sulung mama, mama mohon datang sayang, ada sesuatu yang ingin mama tanyakan ke kamu, mama mohon Fredericka" ucap ibunya meneteskan air mata dan memejamkan matanya.


Fredericka yang berada di istana bawah laut melihat dan mendengar suara ibunya dan juga adiknya. Fredericka ingin menemui mereka, namun ratu penguasa bawah laut menahan tangannya untuk tidak pergi menemui keluarganya.


"Mau kemana kamu? kamu tidak boleh pergi, saat ini keluarga mu adalah aku, semua penghuni istana ini, dan juga Rissa, hanya itu keluarga mu, mereka bukan keluarga mu lagi Fredericka, kamu ingin hidup kembali dan aku memberikannya melalui Rissa, jadi mereka bukanlah keluarga mu lagi, keluarga mu saat ini adalah keluarganya Rissa dan aku, bukan mereka"


"Aku menyesal meminta hidup kembali ke dunia, jika aku tahu aku tidak akan bisa lagi bertemu dengan keluarga ku, aku mohon sebentar saja, apa kamu tidak melihatnya? mereka akan lompat ke bawah laut, aku tidak ingin mereka terluka, aku mohon"


"Tugas mu adalah menjaga Rissa, bukan menjaga mereka"


"Kalau begitu kembalikan tubuh ku ke daratan"


"Tidak bisa Fredericka, jika tubuh mu kembali ke daratan, maka Rissa akan mati, jika tubuh mu tetap ada di dalam istana ku, Rissa akan tetap hidup, karena Rissa adalah kamu, tidak mungkin dua raga di daratan sana, jika kamu ingin tubuh mu kembali ke daratan, itu sama saja jika kamu membunuh Rissa dan membunuh diri mu sendiri, apa kau tidak merasa kasian dengan Rissa? dia masih kecil, apa kamu ingin membunuhnya?"


"Aku tidak ingin membunuh siapapun, apalagi Rissa masih sangat muda, masa depannya masih panjang"


"Rissa yang akan membantu mu untuk mewujudkan semua mimpi mu yang gagal kamu raih karena kekasih tidak berguna mu itu"


"Apa maksud mu?"


"Rissa akan tumbuh dewasa menjadi wanita yang sangat bijak, mementingkan hati orang lain daripada hatinya sendiri sama seperti mu, tapi logika Rissa jauh lebih berguna daripada logika mu, Rissa akan tumbuh besar dan lebih sering menggunakan logikanya daripada hatinya, tapi jika hatinya berkuasa, maka Rissa akan sering jatuh sakit, karena jika hatinya yang memegang kendali atas dirinya, mentalnya akan rusak, dia akan memikirkan semua hal buruk, tugas mu adalah membuat logikanya yang selalu memegang kendali atas dirinya, jika kamu ingin merubah kehidupan mu, maka perkecil hatinya memegang kendali atas kehidupannya, hati Rissa jauh lebih lembut dari kamu, karena Rissa adalah hasil kedua dari kamu setelah Sandra, tapi bedanya tubuh Sandra dimakamkan di daratan, tepatnya di rumah lama Rissa, karena Sandra tidak ingin terlahir kembali sama seperti mu, makanya tubuhnya bisa dimakamkan di daratan, sedangkan kamu tidak, karena kamu memilih untuk terlahir kembali dan mengejar mimpi mu, seharusnya kamu pikirkan dulu keinginan mu itu, kasian hasil reinkarnasi mu, dia harus merasakan lukanya sendiri, dan juga luka yang pernah kamu rasakan, kamu mati di tangan kekasih mu, jaga Rissa, jangan sampai dia mati juga di tangan kekasihnya, kehidupannya akan sangat menyakitkan baginya nanti, ini baru permulaan, akan ada banyak air mata yang akan Rissa keluarkan nantinya ketika dia dewasa, kamu harus selalu menjaga Rissa, prioritas mu saat ini adalah Rissa, bukan mereka Fredericka"


Mendengar perkataan ratu penguasa bawah laut membuat Fredericka menangis sesenggukan menatap keluarganya yang ada di atas perahu. Fredericka terjatuh dan menyesali semua perbuatannya.