
Keesokan harinya, Sinta pergi ke rumah Alderts bersama putra dan putrinya. Anak buah Alderts yang tidak tahu apa-apa membiarkan Sinta masuk. Sinta memberi putra dan putri Kinara kue dan minuman.
''Sayang" kata Sinta kepada putra dan putri Kinara.
''Bibi'' kata Dimas dan Love mencium punggung tangan Sinta.
"Bibi membawa kue dan minuman untuk kalian" ucap Sinta tersenyum mengelus pucuk kepala Love dan Dimas.
"Terima kasih bibi" ucap Sinta tersenyum dan mengelus pucuk kepala mereka.
"Bibi sajikan dulu ke piring ya sayang" ucap Sinta tersenyum dan mengelus pucuk kepala mereka.
"Ya bibi" ucap Dimas dan Love kompak.
Sinta meletakkan kue yang dibawanya ke piring dan menuangkan minuman itu ke dalam gelas dan memberi racun.
Jiwa Kinara yang sedang berada disana melihat semuanya.
"Kurang ajar kamu Sinta, berani sekali kamu mencoba untuk membunuh kedua anak ku" ucap jiwa Kinara kesal.
Sinta yang sudah menyiapkan segalanya untuk menyakiti putra dan putri Kinara itu, langsung merasakan keinginan untuk buang air besar. Dia pergi ke kamar mandi untuk buang air besar.
Putra dan putri Sinta yang merasa sangat halus pergi ke dapur untuk minum. Mereka melihat es yang lezat di atas meja dan meminumnya. Sinta ingin menyakiti Dimas dan Love, namun malah anaknya sendiri yang terkena dampaknya. Kedua anak Sinta langsung jatuh ke tanah dengan busa di mulutnya. Sinta yang keluar dari kamar mandi tiba-tiba terkejut melihat putra dan putrinya meminum air yang seharusnya untuk Dimas dan Cinta. Sinta segera menelepon Alderts.
"Sayang, aku di rumahmu sekarang, anak kita, anak kita keracunan" kata Sinta terisak tangis.
"Kenapa bisa keracunan?" tanya Alderts.
Sinta tiba-tiba terdiam. Alderts segera menutup telepon dan pulang.
Sesampainya di rumah, Alderts langsung berlari membawa putra dan putrinya ke rumah sakit.
''Dokter, suster, tolong putra dan putri saya" teriak Alderts.
Dokter membawa anak Alderts ke UGD tapi saat diperiksa tidak ada denyut nadi.
“Maaf pak, bu, anak anda sudah tidak bernafas lagi, anak anda sudah meninggal” kata dokter.
''Tidak, tidak mungkin, dokter pasti berbohong kan?' tanya Sinta sambil terisak.
Alderts pun memeluk Sinta mencoba menenangkan hatinya.
Sinta pun berlari memeluknya dan pulang ke rumah membawa anak mereka yang sudah tidak bernyawa.
Sinta yang tiba di rumah Alderts langsung mendorong dan menyalahkan Dimas dan Love atas kematian putra dan putrinya. Alderts menggendong putranya sementara Sinta menggendong putrinya.
"Ini semua gara-gara kalian" ucap Sinta mendorong Dimas dan Love.
Dimas dan Love yang terjatuh pun menangis, Alderts segera menghampirinya dan memeluknya.
"Sinta, kenapa kamu menyalahkan Dimas dan Love? apa yang mereka lakukan? tidak ada sangkut pautnya Dimas dan Love dengan kematian putra-putri kita'' kata Alderts.
''Ada, minuman yang diminum putra putri kita seharusnya untuk mereka, bukan untuk putra dan putri kita" kata Sinta sambil menangis menunjuk Dimas dan Love.
Dimas dan Love yang tidak tahu apa-apa pun tidak hentinya menangis. Alderts yang melihat mereka menangis segera memeluknya dan mengelus pucuk kepala mereka mencoba untuk menenangkan mereka.
''Apa? jadi kamu berniat untuk membunuh Dimas dan Love?'' tanya Alderts.
''Sinta, minta maaf pada Dimas and Love sekarang" ucap Alderts.
"Tapi pah aku gak salah" ucap Sinta mengelak.
''Sinta'' ucap Alderts membentaknya.
''Maafkan tante, Dimas, Love" ucap Sinta.
''Ya bibi" jawab mereka kompak menghapus air yang keluar dari hidungnya.
Mereka pun memandikan dia dan dia, membawanya ke masjid untuk sholat, dan menguburkan dia dan dia.
Rafly Abercio Altezza dan Dinda Felicia anak Alderts dan Sinta dimakamkan sejajar dengan makam Sarah, Kinara dan Rangga.
Sinta yang melihat putra-putrinya dimakamkan di samping makam Sarah, Rangga, Kinara, langsung menyesali semua yang telah dilakukannya terhadap Kinara. Dia menyadari semua tindakannya yang telah mengambil Alderts dan memisahkan Sarah dari ayahnya sendiri. Dia menyadari bahwa selama ini dia sangat jahat pada keluarga kecil yang bahagia itu. Dia membuat keluarga kecil yang bahagia berantakan dan berantakan. Ia pun berteriak dan memegang dadanya yang terasa sangat sakit dan berlari ke kuburan Sarah, Kinara, dan Rangga untuk mendoakan mereka juga dan meminta maaf kepada Kinara dan Sarah.
''Kinara, aku minta maaf banget sama kamu, karena aku telah merusak kebahagiaan keluarga kecilmu. Aku minta maaf banget sama kamu karena aku sudah menjadi orang ketiga di antara pernikahanmu dan Alderts sekarang aku merasakan sedikit rasa sakit yang kamu rasakan selama ini Kinara, sekali lagi aku benar-benar meminta maaf padamu, aku harap kamu mau untuk memaafkan aku, semoga kamu tenang di alam sana, semoga surga menjadi tempat peristirahatan mu, Sarah, dan juga Rangga, aamiin' kata Sinta memeluk makam Kinara dan meneteskan air matanya.
"Bagus deh, kalau kamu sudah menyadari segala kesalahan kamu" ucap jiwa Kinara tersenyum.
''Sarah, tante minta maaf banget sama kamu karena bibi kamu jadi seperti ini sayang, maafkan bibi karena telah menghancurkan kebahagiaan mu dulu, kamu adalah anak yang sangat baik, cantik dan manis, semoga kamu beristirahat dengan tenang di alam sana sayang , maafkan tante'' kata Sinta memeluk makam Sarah dan menitikkan air mata.
"Paling juga air mata palsu aja" ucap Sarah dengan nada tidak sukanya.
"Sarah, gak boleh gitu sayang, kamu harus maafin tante Sinta, kan dia sudah menyesali semua perbuatannya'' ucap Kinara.
''Iya mah" ucap Sarah mengangguk patuh.
''Rangga, terima kasih telah menjadi matahari yang menyinari kehidupan Kinara dan Sarah selama ini. Terima kasih karena selalu mencintai mereka. Aku minta maaf, semoga kamu beristirahat dengan tenang di alam sana'' kata Sinta sambil meneteskan air mata di makam Rangga.
"Iya, sama-sama" ucap Rangga tersenyum.
Alderts mendekati Sinta dan memeluknya. Dimas dan Love berlari memeluk makam Kinara, Rangga, dan Sarah secara bergantian. Sinta pun menghampiri anak-anak Kinara dan Rangga dan memeluk mereka bergantian serta mengusap pucuk kepala mereka. Alderts, Sinta, Dimas dan Love pulang meninggalkan makam Sarah, Kinara, Rangga, Rafly dan Dinda namun Dimas dan Love menolak dan terus memeluk batu nisan Kinara dan Rangga.
''Kita mau disini saja om" ucap Dimas memeluk makam Rangga.
"Iya om kita disini saja, aku mau disini sama mamah, sama papah, sama kak Sarah juga" timpal Love memeluk makam Kinara.
"Kita pulang ya sayang, nanti kita kesini lagi" ucap Alderts mencoba melepaskan pelukan Dimas dari makam Rangga begitupun dengan Sinta yang berusaha melepaskan pelukan Love dari makam Kinara.
Dimas dan Love pun melepaskan pelukannya dan pergi dengan mata yang terus menatap ke makam mereka dengan tatapan mata sendu hingga pergi jauh dari makam mereka.
Alderts merasakan banyak kesedihan yang membendung hatinya. Baru saja kemarin dia kehilangan Kinara sekarang dia harus kehilangan putra dan putri kandungnya bersama dengan Sinta. Semuanya terasa begitu cepat, ia kehilangan orang yang paling ia cintai, Sarah, Kinara, Rafly dan Dinda. Kini tinggal dia, Sinta, Dimas, dan Love.
Alderts pun memeluk Dimas dan Love secara bergantian, berjanji di dalam hatinya untuk selalu menjaga dan menyayangi mereka sampai mereka dewasa. Dia tidak ingin kehilangan putra dan putrinya lagi. Namun, saat ini, dia dan Sinta adalah keluarga baru bagi Dimas dan Cinta setelah kematian Kinara dan Rangga.
'Dimas, Cinta, ayah berjanji, ayah akan menjagamu, mengirimmu ke sekolah, membuatmu bahagia, ayah berjanji bahwa apa yang terjadi pada adikmu Sarah tidak akan terjadi padamu' pikir Alderts sambil terisak.
Alderts dan Sinta kini menyadari semua kesalahan mereka pada Kinara dan Sarah saat Rafly dan Dinda pergi. Penyesalan selalu ada di akhir. Penyesalan yang sudah terlambat untuk diperbaiki. Penyesalan setelah kematian adalah penyesalan terbesar yang tidak bisa diperbaiki.
Mereka pulang dengan kesedihan di hati mereka. Sore harinya, mereka menggelar pengajian kematian Sarah, Kinara, Rangga, Rafly dan Dinda di rumah mereka. Ia mengajak tetangga di sekitarnya dan mengajak tetangga di sekitar rumah Kinara dan Rangga untuk datang ke acara pengajian yang diadakan di rumahnya.
Wajah Sarah, Kinara, Rangga, Rafly dan Dinda ditampilkan dalam buku yasin. Mereka juga mengadakan pengajian dengan hati yang sangat sedih. Air mata sudah tidak bisa dibendung lagi. Setelah pengajian mereka tidur bersama dan berpelukan untuk menghilangkan semua rasa sakit di hati mereka.