Sarah

Sarah
2. TAKUT KEHILANGAN



"Sudah lama kupendam ternyata semakin lama semakin sakit."_Sarah


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sarah tengah duduk di meja belajarnya menatap kertas putih bertinta hitam di tangannya.


Itu adalah surat tagihan kontrakan yang sudah menunggak 2 bulan serta tagihan listrik yang memberi peringatan jika lusa belum di bayar maka lampu kontakan sedang itu akan di padamkan.


Tak mau terlarut dalam lamunan Sarah pun membuka ponsel bututnya mencari lowongan pekerjaan part time.


Sebenarnya Sarah sudah ada pekerjaan sampingan di hari Minggu sebagai guru les di dekat sekolah.


Mengajari anak-anak junior high school yang sebentar lagi akan ujian.


Uang hasil les hanya cukup membayar kebutuhan sekolahnya saja.


Sebenarnya ayah Sarah sudah memberikan uang bulanan untuk kebutuhan Sarah sekolah tapi uang itu ia tabung untuk jaga-jaga jika ada kebutuhan mendesak seperti tagihan listrik dan kontrakan sekarang ini.


Sarah sudah terbiasa mandiri dari kecil.


Ia tak mau membebani ayahnya dengan rengekan manja ala anak jaman sekarang.


Ayah Sarah pun jarang pulang ke rumah.


Setiap pulang ia sering dalam keadaan lelah atau mabuk.


Sarah sudah sering memperingatkan ayahnya untuk tidak sering minum.


Karna ginjal ayahnya yang sudah tidak sehat lagi karna pernah mengalami gagal ginjal saat dia masih di kelas 10 membuat ayahnya tidak boleh terlalu lelah maupun minum minuman beralkohol.


Tapi ayahnya selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja padahal dari raut wajah yang sudah mulai menua itu terlihat jelas kalau dia sedang berbohong.


Suara ponsel berbunyi mengalihkan fokus Sarah ke layar pipih itu sejenak.


Nama yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.


Sekitar satu setengah tahun semenjak laki-laki itu menjadi perwakilan pertukaran siswa di Amerika.


Tempat yang jauh berpuluh juta kilometer dari daratan yang dia pijaki.


Dia Kevin, Sahabat Sarah dari junior high school.


Orang yang tak pernah menilai rendah Sarah yang sering di bully semasa itu.


"Hallo." Ucap Sarah pelan.


"Hallo.. Miss tomboyku apa kabar? Kenapa Telvonku kemarin tidak kau angkat." Suara Kevin di seberang sana terdengar.


"Aku lupa membawa ponsel." Jawab Sarah jujur karna kemarin dia kesiangan sehingga melupakan barang yang bagaikan nyawa kedua menurut orang lain tapi tidak dengan Sarah.


"Kebiasaan pelupamu semakin Parah ya, dasar Nenek pikun." Ejeknya sambil tertawa.


"Bagaimana? Gebetan yang kau ceritakan itu sudah ada kemajuan belum?." Ucap Sarah mengalihkan pembicaraan.


"Hei.. Dia cuman temanku Bukan Gebetan, Bagiku Kau Gebetan abadiku Sarah." Mendengar itu Sarah hanya membola matanya malas.


Candaan yang sering Kevin lontarkan sudah jadi makanan ia setiap hari dari dulu sampai sekarang.


"Btw Sarah mama menanyakan kenapa sudah jarang main ke rumah. Padahal mama hari Minggu kemarin sudah menyiapkan sup kesukaanmu." Pertanyaan itu membuat Sarah terdiam.


Dia memang sudah lama mengenal Kevin.


Dulu saat pulang sekolah mereka selalu bersama menaiki motor Dan mampir ke rumahnya dulu untuk main PS atau mengerjakan PR.


Tapi sekarang Suasana terasa Berbeda semenjak Kevin pergi.


Semua memang sama tapi ada rasa yang membuat Sarah tak nyaman namun ia tidak bisa menjelaskannya.


"Hallo. Sarah apakah kau masih di sana?." Panggilan itu menyadarkan lamunannya.


"Iya.." jawab Sarah singkat tidak tau mau menjawab apa.


"Kau sedang ada masalah?." Suara Kevin khawatir.


"Aku tidak apa-apa hanya di sekolah banyak sekali tugas?." Jawab Sarah.


Ia tidak sepenuhnya berbohong Memang tugas Akhir-akhir ini banyak karna sudah memasuki pertengahan semester.


"Alihkan ke video call Sarah." Dari nada bicaranya menyiratkan ketegasan.


Kalau sudah begini Sarah tidak bisa menolak lagi.


Ia pun merapikan rambutnya kemudian mengalihkan ke mode video call.


Terlihatlah Wajah yang selama ini menemani harinya yang berat tanpa memaksa Sarah bercerita.


Orang yang membuat Sarah kuat dan tidak terlalu takut pada dunia yang kejam.


Wajah yang selama ini sangat ia rindukan.


"Are you oke?." Tanya Kevin lagi.


Matanya menatap lekat wajah Sarah.


Yang di tanya hanya diam tersenyum meletakan wajahnya di atas meja sebagai penopang.


"Aku tau kau sedang tidak baik-baik saja, lihat kantung matamu itu Astaga.. semakin dalam dan apa itu.. wajahmu semakin tirus." Kevin menutup wajahnya sejenak hal itu tak luput dari pandangan Sarah.


Ia masih diam hanya diam.


"Kenapa? Apa kau tidak percaya padaku lagi? Aku tau kita jauh Sarah tapi ketahuilah kau seperti ini membuatku khawatir.. aku tidak mau kau sakit apalagi sebentar lagi kau akan ujian, cobalah dengar kan nasehatku ini kau tidak hanya sendiri Sarah, Masih Ada AKU." Ucap kevin khawatir dengan menekankan kata aku di ujung ucapannya.


"Aku baik-baik saja Kevin, kau tidak perlu Khawatir aku hanya kelelahan karena banyak tugas." Sarah memejamkan mata sejenak ia tidak mau membuat Sahabat nya khawatir tapi mau bagaimana lagi.


Kevin bagaikan cenayang yang tau segalanya tanpa ia cerita.


Sarah pun sangat bingung sekarang.


"Sudahlah sekarang istirahat sudah malam, Selamat malam." Panggilan itu pun di tutup tanpa menunggu balasan dari Sarah.


Sarah tau sahabatnya itu tengah marah.


"Maaf." Ucapnya pelan sambil menunduk.


Sudah hampir bertahun-tahun lalu Sarah tidak pernah menangis.


Terakhir menangis saat ibu dan kakak nya pergi.


Dari sana diapun bertekat tidak mau menangis lagi.


Sesakit apapun ia tak pernah menangis.


Karna bagi Sarah menangis itu terlihat lemah.


Maka dari itu dia tidak boleh menangis.


Karna dunia ini sangat kejam, butuh mental yang kuat agar tetap bertahan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jam sudah menunjukan pukul 12 malam.


Sarah masih berkutat dengan ponselnya.


Mengirim lamaran sana sini lebih dari 7 loker baik itu pelayan, office girl, layanan pesan antar dll.


Dia berdoa semoga ia bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat.


Walaupun harus mengurangi waktu istirahat nya.


Brakk..


Suara benda jatuh mengagetkan Sarah.


Dengan langkah pelan dia menghampiri pintu kamar nya dengan memegang sapu yang ada di kamarnya.


Pintu kamar terbuka perlahan.


Sarah mengintip kemudian terkejut melihat ayahnya terkapar di lantai dengan posisi terlentang.


Sapu di tangannya pun di buang sembarangan dan berlari menuju ayahnya.


"Papa bangun pa.. Papa.." teriak Sarah.


tubuh itu di goyangkan perlahan namun tak ada respon sama sekali.


Tak terasa setetes Cristal bening jatuh dari mata Sarah tanpa ia sadari.


Ia sedang lemah sekarang.


Lemah sampai kakinya pun tak bisa ia gerakan dan nafaspun serasa sempit masuk ke paru-paru.


Pikirannya kacau dan bercampur aduk.


Ia takut


Sangat takut


Takut kehilangan orang yang berarti baginya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


******Apa kabar manteman??


Semoga sehat selalu ya


Satu lagi


Jangan terlalu fokus sama si dia yang gak perna nganggap kita ada.


Azekkk.. Authornya mode baper 🤣


Btw..


Gimana pendapat kalian? 😁


Jangan lupa jemol,shere,dan Komen ya kalo ada salah kata atau keritikan juga gapapa buat pembelajaran kan.


See you love.💕******