
''Shivanya'' panggil bu Kinara menepuk pundaknya.
''Ibu, bikin kaget aja deh" ucap memegang dadanya.
''Maaf jika ibu mengagetkan kamu, habis ibu panggil kamu diam saja" ucap bu Kinara.
"Maaf bu, Shivanya tidak mendengar" ucap Shivanya tersipu malu.
"Oke tidak masalah, kenapa kamu bengong Shivanya?" tanya bu Kinara.
''Siapa orang yang ada di bingkai foto di atas makam itu bu?" tanya Shivanya menunjuk bingkai foto yang ada disandarkan batu nisan.
Kinara terdiam sejenak mengingat seluruh kebersamaannya dengan putrinya Love.
Love adalah anak yang sangat ceria, aktif, Love juga anak yang kuat. Kinara tidak menyangka putrinya yang sangat aktif dan selalu terlihat sehat dan bugar itu mengidap penyakit paru-paru. Love sangat pandai bergaul dengan anak-anak di lingkungannya. Tidak ada yang mengira bahwa seseorang seperti Love mengidap penyakit mematikan itu bahkan hingga merenggut nyawanya.
''Ibu kenapa diam?" tanya Shivanya.
''Tidak apa-apa Shivanya, dia anak ibu yang meninggal 5 tahun lalu karena penyakit paru-paru. Dia meninggal pada usia 9 tahun" ucap bu Kinara meneteskan air matanya tersenyum menatap ke makam putrinya Love.
''Astagfirullahaladzim maaf bu, Shivanya tidak tahu" ucap Shivanya.
“Iya sayang, tidak apa-apa” ucap bu Kinara menghapus air matanya.
"Maaf bu tadi Shivanya ditarik oleh seorang gadis kecil bu, tetapi ketika Shivanya sedang berbicara dengannya, dia menghilang bu, dan wajahnya persis seperti yang ada di foto itu" ucap Shivanya menunjuk ke bingkai foto di atas makam putri bu Kinara yang sudah meninggal.
''Apa kamu serius Shivanya?" tanya bu Kinara.
"Iya bu serius" ucap Shivanya.
'Akh Love kamu di sini sayang? dimana kamu sayang?'' tanya bu Kinara menitikkan air mata dan mencari anaknya celingukan.
''Nama anak ibu "LOVE"?" tanya Shivanya.
"Iya Shivanya" ucap bu Kinara menganggukkan kepalanya meneteskan air mata.
''Ibu, dia ada di sana'' ucap shivanya menunjuk ke taman belakang.
''Di manakah dia berada Shivanya? ibu tidak bisa melihatnya" ucap bu Kinara.
''Di sana bu" ucap Shivanya kembali menunjuknya.
''Love? meninggal pada usia 9 tahun? wajahnya sangat mirip dengan Love putri tante Kinara, ibu kandung Sarah. Apa yang terjadi sebenarnya? mengapa begitu membingungkan? apakah tebakan saya benar? Jika Shivanya adalah hasil dari circle ku yaitu Fredericka Nerissa di masa lalu, apa benar jika Fredericka Nerissa terlahir kembali sebagai gadis kecil yang bernama Shivanya Nerissa?'' tanya Lia bingung saat melihat semuanya.
“Dear Love’s, kamu dimana nak?, aku sangat merindukanmu nak” kata ucap bu Kinara meneteskan air matanya.
''Love juga sayang banget sama mamah, Love sangat rindu dipeluk mamah tapi mamah malah nggak bisa lihat Love padahal Love selalu berada disamping mamah, selalu menemani mamah tidur, menemani mamah kemana pun mamah pergi" ucap Love sedih.
'Hei kamu, kamu bisa melihatku kan? tolong beri tahu ibuku bahwa aku sangat mencintainya, aku rindu dipeluk olehnya, aku rindu bermain bersamanya, tolong beri tahu ibuku, JANGAN SEDIH LAGI, JANGAN MENANGIS LAGI karena jika mamah sedih, aku juga sedih'' ucap Love pada Shivanya.
''Maaf bu Kinara" ucap Shivanya.
''Iya Shivanya ada apa?" tanya bu Kinara.
"Love baru saja meninggalkan pesan untukku bu, dia bilang dia sangat mencintai ibu, rindu bermain bersama ibu, rindu dipeluk oleh ibu, lalu dia bilang ibu tidak boleh sedih lagi, jangan menangis lagi jika ibu menangis, jika ibu sedih, dia bilang Love sedih juga" ucap Shivanya.
''Maafkan mamah sayang, mamah berjanji tidak akan sedih lagi, mamah akan mengikhlaskan kepergian kamu sayang, mamah harap kamu tenang di alam sana, mamah sangat mencintaimu, semoga kita bisa bertemu lagi nanti di surga aamiin" ucap bu Kinara menganggukkan kepalanya tersenyum dan menghapus air matanya.
''Ya sudah Shivanya, sekarang kamu istirahat sana" ucap bu Kinara.
"Iya bu" ucap Shivanya menganggukkan kepalanya.
''Kamu siap-siap jam 2 ya sayang" ucap bu Kinara tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.
"Iya bu" ucap Shivanya.
Kinara duduk tersenyum, mengelus batu nisan putrinya, membacakan doa untuk putrinya dan mencium batu nisan putrinya. Love yang melihat pun merasa sangat sedih dan memeluk ibunya walaupun ibunya tidak bisa melihatnya.
"Love sayang itu kamu ya?" tanya Kinara saat merasakan tubuhnya sangat berat seperti ada seseorang yang memeluknya.
"Iya mah" ucap Love tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu memeluk ibunya kembali.
Kinara pun memeluk dirinya sendiri seolah ada seseorang yang ia peluk. Love melepaskan pelukannya dan pergi dari sana. Merasakan tubuhnya kembali ringan Kinara kembali ke dalam rumahnya.
''Shivanya bangun sayang, ayok siap-siap" ucap bu Kinara membangunkannya.
"Iya bu" ucap Shivanya terbangun dari tidurnya.
"Kamu mandi dulu ya sayang nanti ibu yang dandanin" ucap bu Kinara.
"Iya bu" ucap Shivanya bangkit dari tempat tidurnya.
Beberapa saat kemudian Shivanya keluar dari dalam kamar mandi.
"Sini duduk sayang" ucap bu Kinara menarik bangku di depannya.
"Iya bu" ucap Shivanya duduk.
''Kamu sangat cantik sayang'' ucap bu Kinara memandang Shivanya dari kaca.
''Terima kasih ibu'' ucap Shivanya tersipu.
''Ayo sayang, kita berangkat sekarang butuh waktu lama untuk mendaftar dan mengambil nomor urut untuk kamu tampil" ucap bu Kinara.
"Iya bu" ucap Shivanya.
Kinara dan Shivanya pergi ke acara perlombaan menggunakan mobil milik Kinara.
Di lain tempat Callista dan Sinta juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan yang akan diadakan oleh teman ayah Sinta. Lomba yang sama seperti yang ingin di ikuti oleh Shivanya Nerissa musuh bebuyutannya.
"Aduh cepetan dong Sinta, lama banget sih lo keburu ketinggalan acara nih" ucap Callista kesal.
"Sabar dong, sedikit lagi nih, gak sabaran banget sih lu" ucap Sinta mengenakan lipstik di bibirnya.
"Haduh lama banget sih" ucap Callista melihat ke arah jam tangan yang ia gunakan.
"Dek udah selesai belum?" tanya Altezza yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Gw sih udah, tuh liat si Sinta dandan aja seabad" ucap Callista menunjuk Sinta yang tengah sibuk berdandan.
"Sinta cepetan dandannya keburu acaranya selesai, kita kan belum daftar" ucap Altezza.
"Telat juga gak ngaruh kali, itu kan acara temen bokap gw" ucap Sinta.
"Hm terserah lah" ucap Altezza.
"Cepetan kek Sin, lama banget lu, panas nih gw, gerah akh, dandan seabad mending cakep masih cantikan juga gw" ucap Callista mengibaskan rambutnya.
"Idih, sok kecakepan lu" ucap sinta.
"Cepetan" ucap Sinta dan Altezza kompak.
"Iya, bawel banget sih lu pada, udah selesai nih, udah yuk kita berangkat" ucap Sinta menggandeng tangan Callista dan Altezza.
Mereka bertiga pun pergi ke acara perlombaan menggunakan mobil Sinta.