
Mas Amir membawa Rissa ke rumah lamanya, karena tidak tahu jika Rissa dan keluarga sudah pindah dari rumah itu.
"Mas tunggu"
"Ada apa Ji?"
"Hm mas, rumah itu bukan rumah Rissa lagi, Rissa udah lama pindah dari rumah itu"
"Kenapa?"
"Ayah Rissa dipecat dan rumah itu disita, perusahaan ayahnya juga failed mas"
"Astagfirullahaladzim, terus sekarang kita bawa Rissa kemana? kamu tahu rumahnya?"
"Tahu mas, ayok ikut aku"
"Oke"
"Ini rumah Rissa mas" ucap Aji saat tiba di depan rumah Rissa.
"Assalamualaikum om, tante" ucap mas Amir mengetuk pintu rumah Rissa.
"Sepi banget di dalam mas"
"Cari siapa ya?" tanya ibu-ibu melintas.
"Cari ayah dan ibunya Rissa tante" jawab mas Amir.
"Eh Rissa kamu kemana saja? ayah dan ibu mu udah lama pergi dari rumah itu"
"Pergi? pergi kemana tante? sudah berapa lama?"
"Saya juga gak tahu mereka pergi kemana, mereka gak bilang mau pergi kemana, perginya malam-malam gitu berdua, dari pas Rissa gak kelihatan, emangnya Rissa darimana saja?"
"Hm Rissa di rawat di rumah sakit tante, Rissa kecelakaan dan koma selama beberapa hari, orangtua Rissa juga tidak pernah datang ke rumah sakit, Rissa selama ini dijaga oleh tante Shivanya"
"Astagfirullahaladzim, berarti mereka meninggalkan Rissa dalam keadaan koma?"
"Iya tante"
"Apa orangtua Rissa menitipkan kunci rumahnya ke tante?"
"Tidak, mereka tidak menitipkan apapun pada saya"
"Oh gitu"
"Ya sudah saya permisi ya, assalamualaikum" ucap ibu itu tersenyum menganggukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam tante" jawab mas Amir.
Ibu itu pergi meninggalkan mereka yang tidak tahu harus membawa Rissa kemana.
"Terus sekarang gimana mas? bagaimana dengan Rissa?" tanya Aji.
"Mas coba buka pintunya ya, biar kita bisa masuk ke dalam"
"Iya mas"
Mas Amir mencari sesuatu untuk membobol pintu rumah Rissa yang terkunci. Setelah mencoba berbagai macam cara, akhirnya pintu itu terbuka.
"Ayok masuk" ajak mas Amir.
Aji membawa Rissa ke dalam rumahnya.
"Aji jaga Rissa sebentar ya, mas mau cari tukang kunci dulu buat benerin pintu ini sama bikin kuncinya biar aman, sekalian mas mau beli makanan untuk kalian, kalian mau makan apa?"
"Oke mas"
"Aku mau burger" ucap Rissa.
"Nanti mas belikan burger ya, kamu mau juga Ji?"
"Hm iya mas"
"Ya udah kamu jaga dia ya"
"Iya mas"
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Mas Amir pergi meninggalkan Aji dan Rissa.
"Dek mending kamu mandi dulu ya, kan baru pulang dari rumah sakit" ucap Aji.
"Mas Aji juga pulang dari rumah sakit kan? mas Aji saja yang mandi, aku malas mandi tahu, aku mau tidur saja"
"Mandi dulu baru tidur"
"Tidak mau!"
"Oh gak mau mandi nih?"
"Iya"
"Ya udah kalau gitu mas tinggal, biarin aja sendirian di rumah, entar diculik terus dijual, hayo lu!"
"Akh jangan gitu, ya sudah aku mandi, tapi kamu jangan kemana-mana ya, tunggu disini saja, biar kamu yang diculik duluan ya"
"Iya, udah sana mandi"
"Oke" ucap Rissa meninggalkan Aji.
"Kenapa balik lagi?" tanya Aji saat melihat Rissa kembali menghampirinya.
"Kamar ku yang mana ya?" tanya Rissa menatap Aji kebingungan.
Aji bangun dari kursi dan menarik tangan Rissa.
"Biar tahu kamar kamu yang mana, kita buka satu-satu aja"
"Oke"
"Nah ini kamar kamu" ucap Aji.
"Darimana kamu tahu kalau ini kamar aku?"
"Itu ada banyak boneka di kasurnya, dan boneka ini kan dari aku" ucap Aji mengambil salah satu boneka yang ada di kamar Rissa.
"Jadi ini boneka dari kamu?"
"Iya"
"Kapan kamu memberikan boneka ini pada ku? aku tidak mengingatnya"
"Nanti kamu juga akan mengingatnya kok, udah sana mandi"
"Iya, kamu tunggu diluar sana, nanti tv aku diambil maling"
Mendengar perkataan Rissa membuat Aji tertawa dan menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan Rissa.
Aji menyalakan televisi yang ada di ruang tamu.
"Ini anak mandi lama banget ya" ucap Aji melihat jam dinding.
"Assalamualaikum" ucap mas Amir yang datang dengan seorang pria.
"Wa'alaikumsalam mas" ucap Aji menghampirinya dan salim.
"Rissa mana?"
"Rissa mandi mas, daritadi gak selesai-selesai"
"Dia emang lama mandinya, udah biarin aja, oh iya, ini mas bawa makanan sama burger buat kalian"
"Makasih mas"
"Iya"
"Ayok kita makan mas"
"Sebentar Ji"
"Pak tolong di benerin ya" pinta mas Amir menatap pria yang sedang memperbaiki pintu rumah Rissa.
"Ayok Ji, kita makan" ucap mas Amir merangkul pundak Aji.
"Iya mas"
Aji pergi ke dapur untuk mengambil beberapa piring dan sendok.
"Makasih ya" ucap mas Amir tersenyum mengambil piring yang Aji bawa.
"Iya mas" jawab Aji tersenyum.
"Dek ayok makan, Rissa sini makan" panggil mas Amir menyajikan makanan di atas piring.
"Rissa ayok makan, nanti aku habiskan makanan ini berdua sama mas Amir ya" ucap Aji.
"Akh jangan! aku lapar juga tahu!" ucap Rissa keluar dari dalam kamarnya.
"Tuh kan! giliran makanan aja dia cepat banget hm" ucap Aji.
"Ikh kayak kamu enggak aja!" ucap Rissa mendorong Aji.
Mas Amir tersenyum menggelengkan kepala.
"Ya udah ayok makan, baca doa dulu" pinta mas Amir.
"Iya mas" jawab Aji dan Rissa kompak.
Makanan mas Amir dan Aji terlihat masih banyak sedangkan makanan Rissa sudah habis. Mas Amir dan Aji yang melihat pun saling menatap kebingungan.
"Eh dek" panggil Aji.
"Ada apa?" tanya Rissa.
"Habis gali sumur lu hah? cepat banget makan, malah habis lagi, kan ini nasi banyak banget sebungkus, gak sakit tuh perut?"
"Tidak, aku lapar, ada apa? apa ada yang salah?" tanya Rissa kebingungan menatap Aji dan mas Amir.
"Engg-enggak kok, masih kurang gak? kalau masih kurang nih tambah pakai nasi punya gw" ucap Aji memberikan makanannya.
"Akh tidak! aku sudah sangat kenyang ya, kamu habiskan saja nasi mu itu, aku ingin tidur" ucap Rissa yang langsung berdiri membawa piringnya.
Mas Amir memegang tangan Rissa yang membuat langkahnya terhenti.
"Ada apa mas?" tanya Rissa.
"Habis makan jangan langsung tidur, duduk dulu sini" ucap mas Amir menarik tangan Rissa.
Rissa kembali duduk di samping mas Amir dan di samping Aji. Rissa melihat mas Amir dan Aji yang masih makan.
"Mengapa kalian lama sekali makannya?" tanya Rissa.
"Bukan kita yang makannya kelamaan, lu aja yang makanannya kecepetan!" jawab Aji.
"Apa iya?"
"Iya, udah kayak habis gali sumur lu makan, gw rasa tukang juga kalah cepat makannya sama lu tadi" ucap Aji tertawa kecil di sela makan.
"Apa yang kamu katakan?"
"Untung gak dengar" ucap Aji pelan.
Mas Amir yang mendengar perkataan Aji pun tertawa kecil menggelengkan kepalanya.
"Mengapa kalian tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Rissa menatap mereka kebingungan menggaruk-garuk kepala.
"Tidak ada" ucap Aji menggelengkan kepala.
Mas Amir menyingkirkan piring bekas makan mereka dan kembali ke depan. Mereka bertiga menghabiskan waktu dengan menonton televisi.