Sarah

Sarah
Pertemuan Keluarga Beda Dunia



"MUMMY" panggil Azeer.


"PUPPY?, Puppy dimana?, Puppy ada disini kan?, Puppy, Mummy kangen sama Puppy, kenapa Puppy ninggalin Mummy?" tanya Shivanya meneteskan air matanya.


"Shivanya sayang kamu ngomong sama siapa nak?" tanya ibunya.


"Mah, disini ada mas Azeer, mas Azeer pulang mah" ucap Shivanya tersenyum dengan berlinang air mata.


"Gak mungkin disini ada suami kamu nak, suami kamu udah gak ada, Azeer udah lama meninggal dunia nak, kamu harus mengikhlaskan kepergiannya, mamah tahu itu berat untuk kamu, tapi kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Azeer, agar ia bisa tenang di alam sana" ucap ibunya berlinang air mata menatap keatas.


"Mah Shivanya gak bohong mah!, disini ad mas Azeer tolong percaya sama Shivanya mah, mas kamu dimana mas?, mas tunjukkan ke mamah, kalau kamu memang ada disini mas, mas aku mohon, aku tidak peduli alam kita sekarang berbeda, asalkan kita bisa selalu bersama mas, mas kamu dimana mas?" tanya Shivanya sesenggukan menatap sekelilingnya.


Seketika angin tertiup kencang, barang-barang dikamar itu berterbangan.


"Mas itu kamu kan mas?, kamu dimana mas?" tanya Shivanya menatap sekelilingnya.


"Shivanya ayok kita pergi dari sini nak, nanti kita bisa celaka jika berada didalam kamar ini" ucap ibunya menarik tangan Shivanya.


"Mah, jangan takut, mas Azeer gak akan melukai kita" ucap Shivanya memegang tangan ibunya.


"Tapi nak... !" ucap ibunya.


"Mah Shiva mohon, untuk kali ini aja, mamah percaya sama Shivanya, kalau mas Azeer itu ada disini, dan mas Azeer tidak akan melukai kita mah, Shivanya mohon untuk kali ini aja, mas kamu dimana mas?" tanya Shivanya sesenggukan menatap sekelilingnya.


Nampak cahaya yang sangat terang ada di depan mereka muncul secara tiba-tiba. Shivanya, ayah, ibunya dan anak-anaknya pun menutupi mata dengan kedua tangannya. Mereka menurunkan tangannya perlahan ketika cahaya itu tidak terlalu menyilaukan mata.


"Mummy, mah, pah, aku Azeer" ucap Azeer.


"Azeer?" tanya ayah dan ibunya kebingungan.


"Puppy?" tanya Shivanya yang langsung berlari memeluknya.


Shivanya kebingungan kenapa Azeer tidak bisa ia peluk seperti dahulu lagi.


"Kamu sekarang hanya bisa melihat ku, tidak bisa menyentuh ku, tidak bisa jahil lagi kayak dulu" ucap Azeer tertawa tetapi dengan ekspresi wajah sedih.


Shivanya yang mendengar sontak terkejut dan meneteskan air matanya.


"Kamu benar, aku selalu ada disini, aku selalu ada disamping kalian, tapi kalian tidak pernah bisa melihat ku, karena aku tidak ingin kalian bisa melihat ku, aku tahu, jika kalian melihat ku pasti kalian akan menangis melihat ku yang seperti ini sekarang, itu sebabnya aku hanya memperhatikan kalian dari kejauhan, aku rindu, jika waktu bisa diulang kembali, aku ingin kembali bersama kalian dan menghentikan waktu itu, supaya tidak ada perpisahan diantara kita, aku mencintaimu Shivanya" ucap Azeer tersenyum dan berusaha memegang Shivanya namun tangannya menembus tubuh Shivanya.


Shivanya yang melihat sontak terkejut dan diam mematung.


"Aku kangen mas sama kamu, aku kangen sifat kekanak-kanakan kamu bayi besar ku, HAHA!, apa kamu ingat akan hal itu?" tanya Shivanya tertawa tetapi dengan ekspresi wajah sedih.


"Iya aku ingat, sekarang bayi besar kamu kesepian, sendirian, kedinginan, ketakutan gak ada yang bisa meluk aku lagi, gak ada yang bisa menenangkan aku lagi, hampa banget rasanya tanpa kamu, kalau memang akhirnya harus ada perpisahan, mengapa harus ada sebuah pertemuan?, mengapa kita harus bertemu?, jika akhirnya kita harus terpisah" ucap Azeer menunduk sedih.


"Apa kamu menyesal telah bertemu dengan ku?" tanya Shivanya.


"Tidak sama sekali, aku tidak menyesal bertemu dengan mu, hanya yang aku sesali, mengapa selalu ada perpisahan setelah pertemuan?, mengapa kita harus bersama jika akhirnya kita harus terpisah kayak gini?, mengapa takdir cinta kita begitu menyakitkan?" tanya Azeer menunduk sedih.


"Semua ini sudah tercatat di lauhul mahfudz kalian, sebelum kalian terlahir ke dunia, semua sudah tertuliskan, jodoh dan kematian itu adalah takdir dari Allah SWT, kita sebagai hamba-Nya, harus bisa menerimanya dengan lapang dada" ucap ibunya.


"Apa yang mamah katakan benar Shivanya, Azeer, kita tidak bisa menyalahkan takdir" timpal Fredericka.


"Kak Ika?" tanya Shivanya berlari menghampiri Fredericka.


"Kak Ika kemana aja?, kita udah lama mencari keberadaan kak Ika" ucap Shivanya sesenggukan.


"Bukankah pernah ku katakan padamu, jika tubuhku ada di dalam dasar lautan, tapi, kamu tenang saja, jika kamu merindukan ku, cukup tatap wajah gadis kecil bernama Shivanya Nerissa, karena dia adalah aku" ucap Fredericka tersenyum dengan ekspresi sedih.


"Jadi Shivanya Nerissa benar-benar hasil reinkarnasi dari kak Ika?" tanya Shivanya Ayuningtyas.


"Iya sayang" ucap Fredericka tersenyum.


"Tapi saat ini Shivanya tengah terbaring lemah di rumah sakit kak, Shivanya sudah lama mengalami koma" ucap Shivanya Ayuningtyas.


"Untuk hal itu, kamu tidak perlu cemas, biar Shivanya menjadi tanggung jawab ku, kamu urus saja anak-anak mu, agar mereka tidak berperilaku buruk lagi pada Shivanya" ucap Fredericka.


Shivanya Ayuningtyas yang mendengarnya pun sontak menoleh ke Callista dan Altezza yang nampak ketakutan saat melihat Fredericka.


"Callista, Altezza, kalian dengar sendiri kan perkataan kak Ika?, mamah harap kalian tidak mengganggu Shivanya lagi" ucap ibunya.


"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak dengan suara bergetar.


"Apa yang akan kak Ika lakukan pada Shivanya?" tanya Shivanya Ayuningtyas.


"Kau tidak perlu tahu tentang itu, Shivanya akan segera tersadar, ia tidak boleh meninggal dahulu sebelum ia bertemu dengan ku, aku akan membantunya untuk tetap hidup" ucap Fredericka.


"Oke kak" ucap Shivanya Ayuningtyas.


"Azeer, ayok kita pergi" ucap Fredericka.


"JANGAN PERGI!" teriak Shivanya.


"Dek, kita tidak sepenuhnya pergi, karena kita akan selalu ada di dekatmu" ucap Fredericka tersenyum.


"Di dekat ku?, kak Ika dan Azeer selama ini menghilang, kalian selama ini ninggalin aku sendirian" ucap Shivanya.


"Tidak!, kita akan selalu ada di dekat mu, jika kita tidak lagi di dekat mu, tanyakan pada hati mu sendiri, sudahkah ia melupakan kehadiran kami?, kita akan selalu ada di hati kamu, dan kita berjanji, kita akan selalu menjaga kamu, mamah, papah, dan juga anak-anak kamu dari seseorang yang berusaha menyakiti kalian, kami hanya pergi bukan meninggalkan, kita akan selalu bersama Shivanya Ayuningtyas, berjanjilah pada kami, untuk selalu tersenyum jika kamu merindukan kami, karena sejatinya kami selalu ada disamping kamu, hanya saja kamu yang tidak bisa melihat kehadiran kami di samping kamu, sekali keluarga tetaplah keluarga, tersenyumlah untuk kami, untuk mamah, papah, dan untuk anak-anak kamu, kamu harus kuat untuk mereka, mbak tahu itu berat, tapi mbak yakin, "kamu pasti bisa melewati semuanya seiring dengan berjalannya waktu, jangan pernah kamu memaksa untuk kuat, karena itu akan semakin membuat hati kamu terluka, ikuti saja arusnya, jangan dilawan, waktu pasti akan membawa kamu menuju pintu gerbang kebahagiaan dan keluar dari pintu gerbang penderitaan", ingat pesan mbak ya dek" ucap Fredericka tersenyum mengelus pucuk kepala adiknya.


"Iya mbak" ucap Shivanya menganggukkan kepala dan meneteskan air matanya.


"Selamat tinggal, sampai bertemu di titik terindah menurut takdir" ucap Fredericka tersenyum melambaikan tangannya kepada keluarganya.


"Iya mbak" ucap Shivanya tersenyum menghapus air matanya.


"Selamat tinggal Mummy, I love you so much, aku akan tetap mencintai mu walaupun dunia kita telah berbeda saat ini, aku akan selalu menjaga mu dan anak-anak kita, kamu tidak pernah sendiri, karena aku akan selalu ada di samping kamu, menemani kamu dan anak-anak kita, walaupun di dimensi yang berbeda" ucap Azeer tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.


"Mah, pah, aku dan Azeer pamit, assalamualaikum" ucap Fredericka dan Azeer tersenyum dengan tatapan mata sendu berbalik arah dan menghilang seketika.


Shivanya, ayah, ibunya dan anak-anaknya pun saling berpelukan.