
"Semua terulang kembali."_Sarah
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
.
Keesokan paginya, Kelas Sarah terdengar sangat tenang. Hanya terdengar suara goresan pena di atas Kertas putih di depan meja masing-masing.
Hari ini ujian Sejarah. Waktu mengerjakan tinggal 20 menit lagi membuat sebagian kalang kabut dengan soal yang cukup rumit.
Namun tidak dengan Sarah yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja.
Sudah 10 menit yang lalu ia menyelesaikan tugas dari gurunya itu.
Suara bisik-bisik kecil mulai terdengar.
Namun tak di hiraukan oleh Sarah yang tengah damai.
"Yang sudah selesai boleh di kumpulkan." Suara Bu guru menginrupsi.
Sarah yang tadi diam berjalan ke meja guru menyerahkan kertas di tangan.
"Bu bolehkah saya ke perpustakaan." Tanya Sarah
"Silahkan tapi selesai pelajaran saya kamu harus kembali ke kelas." Tuturnya di sanggupi Sarah.
Ia kembali ke mejanya mengambil ponsel berjalan ke arah perpustakaan yang tak jauh dari kelasnya.
Sesampainya di perpustakaan Sarah langsung mengisi buku tamu dan bergegas ke deretan buku desain.
Dulu saat kecil Sarah pernah bercita-cita menjadi desainer dan merancang perhiasan cantik walau ia berjiwa tomboi.
Namun karna keterbatasan biaya ia mengurungkan niatnya tersebut dan menjadikannya hanya sekedar hobi.
Saat menemukan buku yang ia cari Sarah membacanya di meja pojok perpustakaan.
Tempat biasa ia tempati saat di ruangan itu.
5 menit berlalu semua perhatian Sarah pada buku teralihkan.
Ia malah melamun dengan pikiran kosong.
Di lihatnya ponsel di atas meja.
Kemudian mencari sesuatu di kontak ponselnya itu dengan sedikit keraguan.
Di tatapnya Nomer itu lama lalu menekan tombol icon panggil.
Terdengar nada sambung berbunyi.
"Hallo Sarah ada apa?." Tanya orang di sebrang sana.
"Aku menera tawaran kau kemarin. Nanti sore tentukan dimana kita bertemu." Seru Sarah datar.
"Kau Serius." Balas orang itu seakan tak percaya.
"Sudah tidak jadi." Saut Sarah jengkel.
"Okok nanti aku kirim alamatnya." Seru orang seberang sana
"Hm." Gumam Sarah mengakhiri perbincangan mereka.
Sarah berjalan ke meja penjaga saat bel tanda pergantian KBM untuk meminjam buku di tangannya.
Saat Sarah masuki kelas. Suara yang tadinya bising langsung hening semua orang terdiam menatap Sarah seakan Sarah ingin menelan Sarah hidup-hidup.
"Itu murid sok pintar sudah datang." Seru seorang lelaki di pojok kanan bernama Roy diiringi seruan dari teman kelas lainya.
"Pintar modal nyontek kok bangga." Saut Bianca sengaja menabrak bahu Sarah.
"Maksud kalian apa?." Ujar Sarah tak mengerti.
"Jangan pura-pura **** deh kau pikir kami bisa di bodohi." Bianca menunjuk-nunjuk bahu Sarah meremehkan.
"Membodohi apa maksud kau Bianca." Tepis Sarah datar.
"Murid sok suci, Kau tak perlu pura-pura polos Sarah. Kami disini sudah tau akal busukmu. Semua nilai yang kau peroleh selama ini hasil menjual diri dan mencontek bukan." Tutur Bianca memainkan rambutnya.
"Jangan asal bicara. Semua nilai yang ku dapat murni kau pikir aku ******* sepertimu yang menjajakan diri di berbagai tempat." Balas Sarah membuat Bianca terpancing.
"Hei ****** kau pikir aku asal bicara hah. fely kirim buktinya ke grub chat kelas." Seringai Bianca menatap Sarah.
Suara notifikasi terdengar Semua yang penasaran mengecek ponselnya masing-masing termasuk Sarah.
Mata Sarah membulat saat melihat beberapa foto dirinya di ruang guru dari wajahnya terlihat jelas sampai dari foto saat mengambil kertas di laci waktu itu.
"Bagaimana Sarah mau mengelak lagi." Seru Bianca tersenyum menang.
"Ini editan." Tutur Sarah membela diri.
"Sudah jelas Sarah itu fotomu. Kemarin kau juga seharian tidak masuk kelas bukan. Dasar pencuri." Seru Bianca tertawa pelan.
"Aku kemaren seharian di UKS dan aku sempat ke ruang ruang guru tapi aku tidak sendiri aku melihat Kania di sana." Jelas Sarah membuat semua Menatap Kania mencari kebenaran.
"Ak,. Aku tidak ke ruang guru Kemarin. Kau kau jangan melimpahkan masalahmu padaku Sarah." Seru Kania menatap Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Tatapan Sarah tertuju pada Sean yang menatapnya Datar.
"Sean kau percaya padaku bukan." Tanya Sarah namun tak di jawab oleh Sean.
Sean hanya diam di tempat tanpa suara dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sarah menatap nanar temanya itu.
Benar apa kata hatinya semua yang dekat pun tak bisa jadi tempat menaruh kepercayaan.
Mereka hanya sebatas teman dan Sarah maklum karena bukti di depan mata.
Tetapi apa makna hubungan pertemanannya selama ini.
Apakah akan runtuh hanya karna satu kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
"Ada apa ini ribut-ribut." Suara Bu Ani yang baru masuk kelas semua yang berkumpul kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Sarah Bu ketauan mencuri soal ujian." Kata Bianca memprovokasi dan di bantu dengan sautan dari teman sekelasnya.
"Jangan menuduh tanpa bukti. Sarah murid yang berprestasi tidak mungkin melakukan hal semacam itu." Tutur Bu Ani membuat mereka terdiam.
"Kami punya bukti, Ibu bisa liat sendiri." Seru Bianca memberikan ponselnya.
Bu Ani menatap layar itu dengan seksama sambil membenturkan letak kaca matanya.
"Sarah bisa keruangan Ibu sebentar." Ujar Bu Ani menatap Sarah yang sendari tadi diam.
"Iya Bu." Saut Sarah meninggalkan kursinya.
"Anak-anak ibu tinggal sebentar. Kerjakan soal easy halaman 57 harus selesai saat bel berbunyi. Mengerti." Tutur Bu Ani
"Mengerti Bu." Jawab mereka serempak.
Bua Ani dan Sarah berlalu dari sana.
.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
.
Saat Sarah kembali ke kelas,Bel tanda istirahat berbunyi.
Dilihatnya bangku dan meja tempat duduknya penuh dengan coretan serta umpatan kasar.
Tasnya pun sudah basah di seperti tersiram bekam kuah makanan yang berbau.
Sarah hanya menatap itu datar di tolehnya semua orang yang menatapnya remeh dan ada juga yang menatapnya kasian.
Sungguh tatapan yang paling Sarah benci.
Di bukanya tas itu perlahan.
Buku yang ia pinjam di perpus juga ikut basa dan terlihat sobek di beberapa sisi.
Ejekan-ejekan kembali terdengar memekakkan telinga.
"Sean lihatlah sainganmu seperti tikus Curut tidak bisa bertingkah." Seru joshua mengait leher Sean dengan lengannya.
"Bisakah kau diam aku sedang tidak ingin bercanda." Saut Sean datar dengan tatapan tertuju ke Sarah.
"Kau seperti gadis yang PMS. Mudah sekali marah." Ujar Joshua melepaskan Capitan tangannya.
"Coba ulangi lagi." Serunya dengan tatapan datar.
"Okok aku hanya bercanda jangan di bawah baper." Ucap Joshua damai.
"Ayo kita ke kantin aku sudah lapar." Imbuhnya menarik tangan Sean berlalu dari ruangan itu.
.
.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
**Hallo apa kabar manteman
Ketemu lagi ni hari yang sama dengan tanggal yang berbeda. 😊
Jangan lupa vote,like,comen dan shere buat dukung cerita ini ya 😊
Oh iya jangan lupa follow akun ini biar tau lebih banyak tentang author nanti di follback kok 😁
Terima kasih semua yang udah baca dan dukung author.
See you love**