
Mas Amir datang dengan membawa dokter dan suster ke taman belakang rumah sakit sesuai dengan permintaan Rissa.
"Dokter ini adik saya, apakah dia bisa pulang hari ini juga?" tanya mas Amir menunjuk Rissa.
Dokter memeriksa kondisi kesehatan Rissa.
"Kondisinya sudah membaik untuk rawat jalan di rumah, jika ingin pulang silahkan saja, ini resep obatnya, ambil obatnya dulu ya di apotek dan urus kepulangannya dulu" ucap dokter tersenyum.
"Baik dokter" jawab mas Amir tersenyum menganggukkan kepala.
"Tapi sebelum itu bawa pasien ke kamarnya, untuk melepaskan selang infusan di tangannya itu" ucap dokter.
"Akh tidak! aku tidak ingin kembali lagi ke ruangan itu" ucap Rissa menggelengkan kepala menatap mereka.
Mas Amir berlutut di hadapan Rissa membelai pipinya dan sesekali membelai rambutnya.
"Dek, dengerin mas ya, kita harus ke kamar itu dulu sebentar, untuk melepaskan selang infusan di tangan mu itu" ucap mas Amir tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.
"Apa tidak bisa dilepas disini saja mas?"
"Tidak bisa sayang, kita ke kamar mu dulu ya, kamu mau pulang kan hm?"
"Iya, aku mau pulang dari rumah sakit ini tapi itu bukan kamar ku, itu kamar wanita itu ya, jangan bilang itu kamar ku, nanti kalau dia marah bagaimana? jangan membuatnya marah ya"
"Iya sayang, tapi sekarang kita harus ke kamar itu dulu ya, sebentar saja kok, tidak akan lama kan dokter?" tanya mas Amir menatap dokter dan memberikan isyarat dengan menganggukkan kepalanya.
"Iya dek, prosesnya tidak akan memakan waktu yang lama kok, hanya melepaskan infusan di tangan mu itu dulu, lalu kamu bisa pulang deh dari rumah sakit ini" ucap dokter tersenyum menepuk pundak Rissa.
"Hm ya sudahlah kalau tidak lama tidak apa ya, tapi nanti kita harus izin dulu ke wanita itu ya, biar wanita itu tidak marah pada kita"
"Iya dek, ya sudah sekarang kita masuk ya" ucap mas Amir tersenyum membelai pipi Rissa.
"Iya" jawab Rissa menganggukkan kepala dan langsung berdiri menarik tangan mas Amir.
"Mas Amir, mas Aji, lihatlah disana, wanita itu tengah berbaring di atas ranjang itu ya, lalu bagaimana? apa bisa di bangku itu saja?" tanya Rissa menunjuk bangku yang ada di sudut ruangannya.
"Tidak, kamu harus berbaring dek, agar tidak terjadi pendarahan yang berlebih, agar kamu lebih rileks juga" ucap dokter.
"Tapi dokter, wanita itu tengah tertidur pulas di atas ranjang itu, lalu dimana aku harus berbaring? ranjang itu penuh dengannya ya, tidak ada tempat" ucap Rissa menunjuk ranjang di depannya.
"Tidak ada siapapun disana dek, itu hanya ranjang kosong, tidak ada yang sedang berbaring di atas ranjang itu, coba lihat lagi baik-baik"
"Ikh! mengapa dokter tidak bisa melihat wanita itu? jangan berisik ya, nanti wanita itu bisa terbangun dari tidurnya, kata suster tadi, ini kamar wanita itu, jadi jangan mengganggunya tidur ya"
Dokter dan suster saling menatap kebingungan mendengar perkataan Rissa.
"Apa benturan di kepalanya itu yang menyebabkan dia jadi seperti itu dokter?" bisik suster.
"Hasil pemeriksaannya semuanya baik kok suster" jawab dokter berbisik pada suster.
"Lalu mengapa dia berbicara seperti itu dokter, padahal disana kan tidak ada orang sama sekali, dan suster mana yang dimaksud olehnya itu?"
"Saya juga tidak tahu suster mana yang dimaksud olehnya itu, tapi yang pasti tidak ada masalah di kepalanya"
"Hei! kalian membicarakan ku kan? jangan bisik-bisik seperti itu, aku mendengarnya tahu!" ucap Rissa.
"Hm dokter, suster, adik saya ini memang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh banyak orang, dia bisa melihat yang tak terlihat, jadi wajar saja jika dia mengatakan disana ada wanita namun kita tidak melihatnya" ucap mas Amir.
"Tapi disana ada orang mas Amir, apa kamu tidak percaya padaku juga karena dokter itu hah?" tanya Rissa menatap mas Amir.
Mas Amir menunduk dan membelai pipi Rissa.
"Dek, tenang ya, mas percaya kok sama kamu" ucap mas Amir tersenyum membelai pipi dan rambut Rissa.
"Tapi dokter dan suster itu tidak percaya padaku, cepat jelaskan pada mereka" ucap Rissa menunjuk dokter dan suster yang berdiri di depannya.
"Saya percaya kok sama kamu, kita bangunkan saja dulu wanita itu ya, agar kamu bisa secepatnya keluar dari kamar dia" ucap dokter tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.
"Tapi bagaimana jika dia marah nanti?"
"Bangunkan dia secara perlahan ya, agar ketika dia bangun nanti, dia tidak marah kepada mu" ucap dokter tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.
"Hm, oke baiklah, aku akan mencoba untuk membangunkannya ya" ucap Rissa menganggukkan kepala dan menghampiri wanita itu.
"Mbak bangun, aku pinjam kasur mu dulu sebentar, dokter dan suster ingin melepaskan selang ini, bangunlah, sebentar saja ya, nanti kamu bisa tidur lagi" ucap Rissa menepuk-nepuk pundak wanita itu.
Wanita itu perlahan membuka matanya dan menatap Rissa.
"Apa kamu bisa melihat ku?" tanya wanita itu.
"Iya, mengapa aku tidak bisa melihat mu? aku mohon bangunlah sebentar saja, agar aku bisa secepatnya pulang ke rumah, nanti kamu bisa tidur lagi sepuas mu di dalam kamar ini ya, tapi aku mohon bangunlah sebentar" pinta Rissa.
Melihat keluguan Rissa membuat hantu wanita itu berdiri dan menjauhi ranjangnya.
"Makasih ya" ucap Rissa tersenyum menganggukkan kepala.
"Iya" jawab wanita itu tersenyum menganggukkan kepala.
"Dokter, suster, sini cepatlah! lepaskan ini" pinta Rissa yang sudah berbaring di ranjang.
Dokter dan suster menghampiri Rissa untuk melepaskan selang infusnya itu, sedangkan sang wanita masih terus menatapnya tersenyum.
"Sudah selesai ya, kalau kamu mau tunggu di luar gak apa-apa kok" ucap dokter tersenyum menepuk pundak Rissa.
"Iya" ucap Rissa menganggukkan kepala.
"Mbak sini" ajak Rissa menarik tangan wanita itu dan mendudukkan wanita itu kembali ke ranjangnya.
"Aku sudah selesai, sekarang mbak bisa bobo lagi ya, maafin Rissa kalau Rissa udah ganggu Bobi mbak tadi ya, mbak gak marah kan sama Rissa?" tanya Rissa.
"Enggak kok" jawab wanita itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Rissa.
"Akh makasih ya mbak" ucap Rissa yang langsung memeluk wanita itu.
Wanita itu pun membalas pelukan Rissa. Selang beberapa detik mereka melepaskan pelukannya.
"Ya sudah kalau begitu Rissa pamit pulang ya mbak, assalamualaikum" ucap Rissa tersenyum menganggukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam" jawab wanita itu tersenyum menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kami pamit ya, untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien lain" ucap dokter tersenyum menganggukkan kepala.
"Iya" ucap Rissa, mas Amir, dan Aji kompak.
Dokter itu tersenyum dan pergi meninggalkan mereka.
Mas Amir menghampiri Rissa dan mengajaknya pergi. Rissa melambaikan tangannya ke wanita yang ada dibelakangnya dan tersenyum, wanita itu melambaikan tangannya dan tersenyum menganggukkan kepala.