Sarah

Sarah
Nadia Meninggal



2 tahun setelah kepergiannya bersama Rizal, kini Nadia mulai merasakan perbedaan sikap Rizal. Rizal menjadi orang yang sangat kasar dan pemarah.


Nadia mencoba menanyakan hal itu kepada Rizal tapi Rizal selalu memukulnya. Pukulan demi pukulan dia terima. Bahkan sejak mereka menikah, Rizal tidak pernah menyentuhnya. Rizal tidur di kamar utama, sedangkan Nadia tidur di kamar pembantu. Semua pelayan yang biasa membantunya membersihkan rumah kini telah dipecat. Hanya Nadia yang membersihkan rumah, dan melakukan semua pekerjaan rumah. Hal yang bahkan tidak pernah ia lakukan saat menikah dengan Iqbal.


Nadia diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri. Perlakuan Rizal sama seperti yang dilakukan Nadia kepada Iqbal. Bahkan Rizal pun memperlakukan Nadia dengan sangat kasar. Nadia membenturkan kepalanya ke dinding dan meletakkan setrika panas di tangan Nadia sehingga dia menandatangani surat penggantian nama semua aset untuknya. Setelah Nadia menandatangani surat itu, Rizal mengusirnya dari rumah tanpa mengobati luka di kepala dan tangannya. Nadia pergi dengan darah mengalir dari kepalanya dan rasa sakit di tangannya.


Nadia menangis mengingat semua masa lalunya. Iqbal memilih dia dan meninggalkan Lia tapi dia malah meninggalkan Iqbal untuk Rizal yang baru dia kenal.


"Penyesalan selalu datang di akhir" agar kita tidak menyesal di akhir, sebaiknya pikirkan matang-matang sebelum bertindak. Jangan biarkan ego menjerumuskan kita ke dalam jurang penyesalan.


Nadia yang menyadari semua kesalahannya pun berniat mencari keberadaan Iqbal. Nadia bertemu dengan tetangga tempat tinggal Iqbal sekarang dan dia juga mengenal Nadia. Nadia bertanya kepada warga yang ditemuinya tentang keberadaan Iqbal sekarang tetapi dia malah dibawa ke kuburan. Dia yang tidak tahu apa-apa sangat bingung, mengapa dia dibawa ke kuburan? apakah Iqbal sudah meninggal dunia? warga juga menceritakan kepada Nadia bahwa Iqbal sudah lama meninggal dunia, dia dimakamkan di sebelah makam Lia dan sejajar dengan makam keluarga besar Pak Alderts, orang terkaya dan paling dermawan di desa ini.


"Bu, untuk apa kita ke TPU?" tanya Nadia heran.


"Lihatlah nama yang ada di batu nisan itu" ucap warga melihat ke makam yang ada di depannya.


Nadia pun menatap makam itu dan terkejut membaca batu nisan bertuliskan "Iqbal Arzikri" yaitu nama lengkap mantan suaminya.


Lia yang mendengar dan melihat nama yang tertulis di batu nisan itu langsung berlari ke makam Iqbal dan memeluknya. Warga yang mengantar Nadia langsung meninggalkannya setelah mendapat telepon bahwa anaknya demam.


15 menit berlalu, kini darah di kepalanya terus mengalir dan tangannya sakit. Nadia yang mulai lemas akhirnya memejamkan mata dengan memeluk makam Iqbal.


Penggali kubur yang lewat melihat Nadia berbaring memeluk kuburan dan kemudian dia mendekatinya.


"Itu si neng ngapain? saya samperin kali ya kesana? ya udah deh" ucap penggali kubur.


"Neng, neng teh ngapain?" tanya penggali kubur menepuk pundak Nadia.


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Nadia, ia pun menarik perlahan tubuh Nadia, Nadia yang kaku pun lunglai begitu saja, saat disentuh tangan Nadia, terasa sangat dingin seperti es. Setelah jasadnya dibalik, penggali kubur terkejut melihat darah yang masih mengalir di kepala Nadia, menyebabkan kuburan Iqbal dibanjiri darah. Ia juga melihat tangan Nadia terbakar. Dia memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya tetapi tidak ada suara. Nadia telah meninggal dunia.


Penggali kubur, yang tidak mengenal keluarga wanita itu, menghubungi kepala unit lingkungan untuk mengatakan bahwa dia telah menemukan mayat di atas sebuah makam. Mereka mengambil tubuh Nadia dan membersihkan genangan darah Nadia di kuburan. Nadia dimakamkan di sebelah Iqbal dan Rizal kini mendapatkan keadilan.


Kali ini Nadia bertemu dengan Lia. Mengetahui Nadia dimakamkan di samping Iqbal membuat Lia cemburu dan khawatir Iqbal akan meninggalkannya lagi. Namun, Nadia berlutut di depan Lia untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan padanya di masa lalu.


Lia mendorong Nadia hingga terjatuh ke belakang. Lia pun menjauhkan wajahnya dari Nadia dan menahan air matanya. Akhirnya Lia menghampiri Nadia dan membangunkannya. Nadia hanya mengikuti Lia.


"Aku sudah memaafkanmu dan aku mohon padamu, jangan rusak hubunganku dengan Iqbal karena sekarang kita bersama lagi" kata Lia kepada Nadia.


''Terima kasih'' Nadia langsung memeluk Lia dengan tatapan mata sendu seolah ingin menangis tetapi tidak mengeluarkan air mata.


Nadia yang terus mencari keberadaan putra dan putrinya, akhirnya menemukannya. Anak-anak mereka dibesarkan oleh seorang pria dewasa. Nadia terus mencari tahu siapa pria itu hingga akhirnya dia tahu bahwa yang merawatnya adalah ketua RT di sana.


Nadia yang melihat putra dan putrinya sangat bahagia dengan orang tua barunya, tiba-tiba tersenyum dan menatap dengan tatapan mata sendu. Meskipun dia telah berbuat jahat kepada Lia, Tuhan tetap memperlakukan anaknya dengan sangat baik. Tuhan memberi mereka orang tua baru yang sangat baik dan mencintai mereka seperti anak mereka sendiri. Nadia mengikuti putra dan putrinya keluar untuk bermain. Mereka sangat senang. putra dan putrinya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik kepadanya dan dia.


''Kakak, tubuhku, mengapa begitu berat?'' tanya Devina anak kedua Nadia.


"Kenapa kamu?" tanya Rasya anak pertama Nadia.


"Saya tidak tahu kak" ucap Devina.


"Coba gerakkan lagi" pinta Rasya.


"Tetap tidak bisa, seperti ada yang memegang tubuhku" ucap Devina.


"Tapi tidak ada yang memegang tubuh mu dek" ucap Rasya.


"Saya tidak tahu kak, rasanya sulit sekali untuk digerakkan" ucap Devina.


"Baca doa saja, ayah pernah bilang harus baca doa kalau ada sesuatu yang aneh" ucap Rasya.


"Ya kak" ucap Devina.


Putri Nadia pun membacakan doa di dalam hatinya. Nadia yang merasa tubuhnya sangat panas, melepaskan pelukannya dan langsung pergi dari sana.


Setelah kepergian Nadia, tubuhnya bisa digerakkan lagi.


Nadia mendekati mereka dan memeluk mereka secara bergantian. Anak laki-laki dan perempuannya yang tidak bisa melihat kehadiran Nadia pun hanya bisa merasakan tubuh mereka sangat kaku, tidak bisa bergerak sama sekali, seperti ada yang memegangi tubuh mereka.


Nadia kembali ke tempatnya dan memberi tahu Iqbal bahwa dia telah menemukan anak-anaknya. Mereka sangat bahagia dengan keluarga baru mereka.


''Ya Tuhan, terima kasih Tuhan, engkau telah memberikan anak-anak ku orangtua sambung yang baik'' kata Iqbal sambil tersenyum menatap langit.


Nadia juga melihat ke langit dan tersenyum.


Lia yang melihat sempat merasa iri namun ia menepisnya dan menghampiri Nadia dan memeluknya.


Kini Lia dan Nadia berteman dan tak ada lagi dendam di hati masing-masing. Masa lalu telah berhasil mengubah Nadia menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi sekarang. Nadia menepati janjinya pada Lia. Lia dan Iqbal sangat bahagia karena tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka.