
"Sarah, kamu berangkat sama papa aja ya" ucap Alderts.
"Iya pah"
Alderts pergi ke ruang kepala sekolah untuk menanyakan hasil ujian dan raport Sarah.
"Bagaimana hasil ujian Sarah? apa nilainya memuaskan? dan apa raport Sarah bisa saya ambil hari ini?"
"Maaf pak, untuk raport Sarah belum bisa diambil hari ini"
"Ada apa? apa uang yang saya berikan ke kamu itu tidak cukup banyak hm?"
"Bukan seperti itu pak"
"Lantas?"
"Masih dalam proses pencetakan"
"Kira-kira berapa lama lagi hm?"
"Dua minggu pak"
"What? dua minggu? apa tidak bisa lebih cepat lagi?"
"Saya sudah membantu mempercepat semester Sarah, dan jika saya membantu Sarah lulus dengan cepat juga nanti murid lain bisa curiga"
"Hm oke baiklah! atur saja baiknya gimana, yang terpenting putri saya bisa lulus"
"Baik pak"
"Ya sudah saya permisi" ucap Alderts merapihkan jas yang ia kenakan dan jam tangannya.
"Oke pak"
Alderts pun meninggalkan sekolah Sarah dengan mobil mewahnya.
...****************...
"Sasha" panggil ayahnya mengetuk pintu kamar Sasha.
"Ada apa sih pah?"
"Apa semua pakaian mu sudah siap?"
"Iya"
"Ya sudah ayok kita berangkat sekarang juga ke pesantren"
"Tapi Sasha gak mau di pesantren pah, Sasha pasti gak akan betah di sana, apa tidak ada sekolah lain selain pesantren pah?"
"Tidak Sasha! papa ingin kamu tumbuh menjadi anak yang baik dan tidak nakal lagi seperti apa yang kamu lakukan pada Sarah"
"Tapi itu bukan salah Sasha pah, Sasha hanya mengatakan sesuai fakta yang ada, Sasha tidak berbohong! Sarah memang jauh lebih tua dari Sasha pah"
"Itu tetap salah kamu Sasha, karena kamu tidak menyadari jika apa yang kamu lakukan itu salah, kemarin kamu juga pulang larut malam, tidak menghubungi papa sama sekali, kamu bolos sekolah juga padahal kamu ada ujian, Sasha mengertilah, papa cuma ingin yang terbaik untuk kamu"
"Apa yang terbaik menurut papa, belum tentu itu juga yang terbaik untuk Sasha pah! papa tidak bisa menentukan semuanya pah, Sasha juga berhak untuk menentukan jalan Sasha sendiri pah!"
"Sasha!" bentak ayahnya ingin menampar Sasha namun menghentikannya.
"Kenapa pah? kenapa berhenti pah? ayok tampar Sasha pah! tampar! papa mengirim Sasha ke pesantren agar papa bisa leluasa kan bertemu dengan jalaang itu?"
"Dia bukan jalaangg! dia calon ibu kamu"
"Mama udah gak ada pah, mama sudah lama meninggal dunia, dan jalaangg itu tidak pantas untuk menggantikan mama! sampai kapanpun tidak akan ada wanita yang bisa menggantikan posisi mama di hati Sasha, jadi jangan harap Sasha mau menerima wanita itu sebagai ibu Sasha!"
"Sasha! bentak ayahnya menarik tangan Sasha membawanya ke mobil.
Dengan emosi yang berkecamuk, ayah Sasha membawa paksa Sasha ke pesantren yang ada di luar kota Jakarta.
"Papa egois! Sasha benci sama papa!" teriak Sasha meneteskan air matanya.
"Diam Sasha!"
"Mama, papa jahat sama Sasha mah, papa mau menggantikan posisi mama dengan wanita lain"
"Berhentilah mengeluh! mama mu telah lama mati! papa juga butuh seseorang untuk menemani papa"
"Raganya memang sudah lama mati tapi bagi Sasha yang mati bukanlah mama tapi papa! hati papa udah lama mati karena papa menduakan mama, apa papa lupa hm? mama meninggal dunia karena memergoki papa dengan wanita itu! secara tidak langsung, papa yang telah membunuh mama, mama syok dan mengalami serangan jantung, dan papa malah menyalahkan Sasha? mengapa seorang anak harus yang selalu disalahkan? lantas orangtua tidak berhak untuk disalahkan atas dosanya?"
"Sasha!" bentak ayahnya yang langsung menampar Sasha.
Sasha memegangi pipinya dan menatap perlahan ayahnya dengan berlinang air mata.
Setelah percakapan itu, Sasha dan ayahnya tidak berbicara sedikitpun, hanya ada keheningan yang menemani perjalanan mereka.
...****************...
Kini ayah Nadia tengah mencari sekolah baru untuk Nadia melanjutkan pendidikannya setelah dikeluarkan dari sekolah lamanya. Ayah Nadia menuju ke salah satu sekolah untuk menanyakan apakah Nadia bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah itu atau tidak.
"Permisi bu, apa saya boleh bertemu dengan kepala sekolah?" tanya ayah Nadia menghampiri salah satu guru.
"Ada keperluan apa ya pak?"
"Hm begini bu, anak saya ingin masuk di sekolah ini karena di sekolah lamanya dia dikeluarkan oleh kepala sekolah"
"Dikeluarkan? kalau boleh saya tahu, dikeluarkan karena apa ya pak?"
"Hm, anak saya mem-bully teman sekolahnya, maksud saya ingin bertemu dengan kepala sekolah itu anak saya boleh atau tidak melanjutkan pendidikannya di sekolah ini"
"Kalau untuk itu saya tidak tahu pak, bisa ditanyakan langsung saja ke kepala sekolah"
"Bisa tolong antarkan saya ke ruang kepala sekolah bu?"
"Oh iya pak boleh"
Ayah Nadia diantarkan oleh salah satu guru untuk menemui kepala sekolah.
"Bapak tunggu disini dulu ya, biar saya bilang dulu ke pak kepala sekolah kalau ada yang ingin bertemu dengannya" ucap guru yang mengantarkannya.
"Iya bu"
"Permisi pak, diluar ada seorang pria yang ingin bertemu dengan bapak" ucap guru yang mengantarkan ayah Nadia.
"Suruh masuk aja bu"
"Baik pak"
Guru itu keluar untuk memanggil ayah Nadia.
"Permisi pak"
"Iya bu, bagaimana? apa saya bisa menemui kepala sekolah?"
"Bisa pak, kata kepala sekolah masuk aja pak"
"Oke bu terima kasih banyak"
"Sama-sama pak"
Ayah Nadia pun menemui kepala sekolah, sedangkan guru yang mengantarkannya pergi ke kelas.
"Permisi pak" ucap ayah Nadia mengetuk pintu.
"Masuk pak"
"Terima kasih"
"Silakan duduk pak"
"Iya pak"
"Bapak siapa ya? ada keperluan apa ingin bertemu dengan saya?"
"Hm begini pak, anak saya baru dikeluarkan dari sekolah karena kasus bullying, apakah boleh jika anak saya melanjutkan pendidikannya di sekolah ini?"
"Bullying?"
"Iya pak"
"Hm, gimana ya pak, jika pihak sekolah menerima putri bapak nanti putri bapak akan mem-bully siswa lain bagaimana?"
"Hm, saya pastikan hal itu tidak akan terjadi pak, jika hal itu terjadi bapak berhak untuk mengeluarkan putri saya dari sekolah, saya akan menerima segala keputusan bapak"
"Hm begini saja, saya minta nomor WhatsApp bapak, nanti saya hubungi lagi, karena saya juga harus membicarakan hal ini pada guru-guru yang lain sebagai bahan pertimbangan keputusan"
"Baik pak"
Ayah Nadia memberikan nomor WhatsApp miliknya kepada kepala sekolah.
"Ya sudah bapak boleh pulang dulu, nanti saya kabarin lagi ya"
"Baik pak, saya permisi"
"Silakan"