Sarah

Sarah
Wanita Malam



"Mah, hari ini kita traveling aja yuk ke Jerman katanya sih disana lagi musim salju mah, biar pikiran mamah juga bisa jauh lebih tenang dari sebelumnya, untuk Aleta biarkan saja yang terpenting saat ini Hasan sudah menyadari semua kesalahannya pada Aleta dan kalau papah lihat juga Hasan sudah banyak mengalami perubahan" kata ayah Aleta.


"Tapi pah, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Aleta saat kita pergi nanti?" tanya ibu Aleta resah.


"Mah, kita harus membiarkan Aleta dan Hasan membina rumah tangganya berdua dulu, biar mereka bisa berduaan di rumah, kan hubungan mereka bisa jauh lebih romantis lagi dari sebelumnya"


"Hm iya pah"


"Aleta, mamah sama papah mau pergi ke Jerman ya, kamu hati-hati di rumah ya nak" kata ibunya mengelus pucuk kepala Aleta.


"Anak kita ini sudah besar mah, biarkan saja dia berduaan dengan suaminya" kata ayah Aleta tersenyum merangkul pundak Aleta.


"Iya mah, mamah sama papah hati-hati ya disana" kata Aleta tersenyum.


"Iya sayang" kata ibu Aleta tersenyum.


"Nak Hasan, titip Aleta ya sayang, jaga dia baik-baik" kata ibu Aleta tersenyum menepuk pundak Hasan.


"Iya mah" kata Hasan menganggukkan kepala tersenyum dan merangkul pundak Aleta.


"Ya udah mamah sama papah berangkat ya sayang, assalamualaikum" kata ibu Aleta tersenyum.


"Iya mah pah wa'alaikumsalam" jawab Aleta tersenyum.


Ayah dan ibu Aleta pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan mereka ke Jerman untuk berlibur.


"Sayang aku minta uang dong buat beli minuman" kata Hasan.


"Minuman apa mas? kan dirumah ada minuman"


"Bosen aku pengen beli anggur merah"


"Astagfirullahaladzim mas, mas pemabuk?"


"Memangnya kenapa kalau aku pemabuk? apa masalahnya dengan mu hm? sudah cepat berikan saja uangnya"


Aleta pergi mengambil dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang dengan tangannya gemetaran dengan cepat Hasan merampas dompet Aleta dan mengambil seluruh yang yang ada di dalam dompetnya beserta kartu ATM Aleta.


"Mas jangan diambil semua" kata Aleta berusaha menghentikan Hasan.


"Berisik banget sih kamu, cuma uang segini aja juga gak akan membuat kamu jatuh miskin, udah lah gak usah banyak ba cot kamu!" kata Hasan menunjuk Aleta.


"Tapi mas..." kata Aleta menghentikan perkataannya dan memegang tangan Hasan.


Hasan memegang tangan Aleta dengan tangan kanannya lalu memelintir tangan Aleta dan langsung mendorongnya hingga terjatuh. Hasan pergi dari sana setelah merampas semua uang Aleta.


Hasan pergi ke bar membeli beberapa botol anggur merah. Hasan telah menghabiskan empat botol anggur merah yang membuatnya kini tengah melayang, dan hanya terduduk melihat pengunjung lain tengah berjoget ria. Seorang wanita malam datang menghampirinya.


"Hai om, boleh aku duduk di sini?" tanya wanita malam menghampirinya.


Hasan hanya memberikan isyarat pada wanita itu.


Wanita itu duduk di samping Hasan dan masih terus memandanginya dari atas hingga matanya terkunci pada satu titik.


"Mas kenapa kesini?"


"Apakah aku salah jika pergi ke bar ini?"


"Tidak mas, apa mas belum mempunyai istri sampai harus datang ke bar ini?"


"Aku sudah menikah namun hubungan ku dengannya tidak jelas"


"Secara hukum Aleta masih istriku, tapi secara agama kita telah lama berpisah semenjak enam tahun yang lalu aku pergi meninggalkannya tepat di malam setelah pernikahan kami, aku pergi ke bar dan bersenang-senang disana"


"Jadi nama istri mas itu Aleta?"


"Iya, nama istriku itu Aleta"


"Apa mas tidak mencintainya?"


"Tidak"


"Lalu untuk apa mas menikahi dia jika mas tidak mencintainya?"


"Aku menginginkan harta kekayaannya, karena keluarganya itu orang terkaya kedua dan ketiga di dunia, dan aku juga telah membuat perjanjian dengan orang terkaya di dunia, dia menginginkan Aleta, namun Aleta menolaknya dan meninggalkan dia begitu saja, makanya dia dendam pada Aleta, dia membayar Grizelle teman dekat Aleta untuk membantunya melancarkan rencananya, Aleta diberikan obat bius oleh Grizelle ketika mereka sedang camping, Andre memperkaos Aleta saat sedang tidur dan akhirnya dia hamil, aku menikahinya ketika dia hamil dua minggu, namun bukan karena cinta, melainkan karena aku menginginkan seluruh aset pribadinya"


"Jadi secara tidak langsung dia ini orang kaya" batin wanita malam menatap Hasan dari atas hingga ke bawah.


Wanita malam itu mendekati Hasan yang tengah meneguk botol kelimanya. Wanita itu menggerayangi setiap inci tubuh Hasan yang membuatnya berdiri.


"Jangan disini mas, bagaimana kalau kita lanjutkan saja di rumah kamu, sekalian biar nanti aku tahu dimana rumah kamu, ya biar kalau kamu pengen main lagi sama aku nanti aku bisa langsung datang kesana untuk memuaskan kamu"


"Baiklah ayok" kata Hasan mengambil satu botol lagi dan meletakkan sejumlah uang.


Wanita itu mengambil satu botol lagi dan meletakkan uang untuk membayar satu botol yang ia ambil.


Tangan kirinya memeluk pinggang wanita itu sedangkan tangan kanannya memegang botol minuman.


Hasan mengajak wanita itu pulang ke rumah Aleta.


"Aleta, Aleta cepat buka pintunya" teriak Hasan dari luar pagar.


Satpam rumah Aleta yang mendengar langsung membukakan pintunya dan terkejut melihat Hasan membawa satu botol anggur dan wanita lain ke dala rumah Aleta.


"Tu-tuan"


"Akh berisik kamu" Kat Hasan mendorong satpam itu menjauh darinya.


"Aleta cepat buka pintunya" teriak Hasan menggedor-gedor pintu rumah Aleta.


"Iya mas sebentar" kata Aleta yang langsung membukakan pintu.


Aleta sontak terkejut melihat Hasan yang tengah membawa anggur dan membawa wanita lain masuk ke dalam rumahnya.


"Mas" kata Aleta berlinang air mata dan menunjuk wanita malam yang Hasan bawa.


"Minggir" kata Hasan yang langsung mendorong Aleta hingga terjatuh.


Hasan tersenyum menatap wanita malam yang ia bawa dan langsung pergi ke dalam kamarnya serta mengunci pintu kamarnya.


Aleta perlahan bangkit dan menghampiri Hasan dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit karena terbentur oleh pinggir pintu.


Aleta berusaha membuka gagang pintu itu namun tidak bisa.


"Mas" panggil Aleta berusaha membuka gagang pintu itu dan mengetuk-ngetuk pintunya.


Namun ekspresi Aleta seketika berubah karena ia mendengar suara suaminya yang nampak seksi seperti saat mereka melakukan malam pertamanya. Terdengar juga suara seksi seorang wanita di dalam kamarnya dan suara gesekan yang cukup keras hingga terdengar keluar kamar. Aleta terus mendengarkan dari balik pintu dan pada akhirnya ia mendengar suara lolongan suaminya dan wanita itu secara bersamaan.


Aleta sontak meneteskan air matanya dan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, kakinya lemas hingga perlahan terjatuh. Aleta duduk menangis di balik pintu mendengarkan suaminya yang tengah asik memadu kasih bersama dengan wanita lain.


Air matanya tak dapat terbendung lagi mendengar semua perbuatan suaminya di dalam sana. Ketika suara suaminya dan wanita itu berhenti Aleta berusaha menenangkan dirinya. Aleta akhirnya tertidur dengan bersandar di depan pintu dan menggunakan ujung pintu sebagai penopang tubuh dan kepalanya.