Sarah

Sarah
Alderts Kecelakaan



"Kak foto siapa ini?" tanya Sarah sambil mengambil salah satu bingkai foto.


"Oh, itu foto adik kakak, namanya Shivanya Ayuningtyas dan itu suaminya, namanya Azeer Alvarendra" ucap Fredericka.


"Oh gitu" ucap Sarah.


"Berapa selisih umur antara kak Ika dan kak Shivanya?" tanya Sarah.


"Cuma beda 2 tahun" ucap Fredericka tersenyum.


"Oh gitu" ucap Sarah.


"Sial kemana perginya mereka?" tanya David kesal.


"Rizal cepat telpon tuan Alderts" ucap Dimas.


"Oke" ucap Rizal.


"Bagaimana Rizal?" tanya Dimas.


"Tidak diangkat" ucap Rizal.


"Coba telepon lagi" ucap David.


''Halo tuan, non Sarah keluar rumah sama Fredericka" ucap Rizal.


"Tuan, Sarah kabur dari rumah sama Fredericka" timpal Dimas.


"Bagaimana bisa kabur? jaga anak kecil saja kalian tidak bisa... !" ucap Alderts kesal.


Alderts melihat Kinara dan suami barunya berada di tempat yang sama dengannya.


"Nanti saya telepon lagi, saya ada urusan mendadak" ucap Alderts mematikan panggilan telpon Rizal.


"Tapi tuan, bagaimana dengan Sarah? yah mati" ucap Rizal melihat layar panggilan telponnya yang terputus.


"Mengapa? dimatikan?" tanya Dimas.


"Iya" ucap Rizal.


"Ya sudah, kita balik saja ke rumah tuan Alderts" ucap Dimas.


"Oke" ucap Rizal.


"Hai Alderts" ucap Kinara menyapa Alderts.


Alderts memalingkan muka dan pergi menjauhi Kinara dan suami barunya.


Alderts mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan dengan pikiran yang kacau.


"Aku benar-benar bodoh, kenapa aku masih mencintainya? aku sudah berpisah sama dia selama 6 tahun lamanya, mengapa rasa cinta ini masih ada untuknya? bahkan setelah kehadiran Sinta, rasa ini tidak pernah berkurang untuk Kinara Kim" ucap Alderts berlinang air mata.


Alderts yang tidak fokus akhirnya menabrak pembatas jalan.


"Lihat, ada kecelakaan mobil di sana" ucap seorang warga setempat.


"Iya, ayok kita bantu dia" ucap seorang warga.


"Apakah orang itu masih bernafas?" tanya salah satu warga.


"Iya, dia masih bernafas" ucap seorang warga.


"Ayo, kita bawa dia ke rumah sakit" ucap seorang warga.


"Dokter, suster, tolong, kami menemukan dia di jalan mengalami kecelakaan karena menabrak pembatas jalan" ucap seorang warga pada suster di depan UGD.


Suster membawa Alderts ke ruang penanganan dan menelpon keluarga Alderts.


"Permisi selamat malam, apakah ini benar anak dari pemilik nomor ini?" tanya suster.


"Bukan, saya Fredericka, guru les Sarah, anak pemilik nomor ini, siapa anda? mengapa ponsel om Alderts bisa bersama anda?" tanya Fredericka.


"Saya Annisa, perawat dari rumah sakit Stay Memories, saya ingin memberi tahu anda, bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di jalan, dan dibawa oleh penduduk setempat ke rumah sakit ini" ucap suster rumah sakit tempat Alderts dirawat.


''Oke terima kasih suster" ucap Fredericka.


"Iya, sama-sama mbak" ucap suster.


"Kakak, kakak kenapa kamu sedih? siapa yang menelepon kakak tadi?" tanya Sarah datang menghampirinya.


"Sarah kita ke rumah sakit sekarang ya sayang, papa mu mengalami kecelakaan di jalan" ucap Fredericka berlinang air mata.


"Aaaa... ! apaaaa? papaahh?" ucap Sarah jatuh dan meneteskan air matanya.


"Ayok Sarah bangun sayang, kita ke rumah sakit sekarang kasihan papah mu" ucap Fredericka membantu Sarah berdiri.


"Kakak, cepatlah, papah kasian disana sendirian, aku ingin bertemu papah" ucap Sarah menarik tangan Fredericka meneteskan air mata.


"Iya Sarah, sabar sayang" ucap Fredericka.


"Di kamar mana papah dirawat kak?" tanya Sarah.


"Sebentar Sarah, kakak tanyakan pada perawat terlebih dahulu, kmu tunggu disini sebentar, jangan kemana-mana" ucap Fredericka.


"Iya kak" ucap Sarah mengangguk patuh.


"Permisi suster" ucap Fredericka.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya suster.


"Di ruangan mana pasien yang baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Fredericka.


"Di ICU mbak" ucap suster.


"Ayo Sarah" ucap Fredericka.


"Ya kak" ucap Sarah.


"Papah... !" ucap Sarah berlinang air mata.


"Suster, Sarah mau masuk ke dalam, nemenin papah" ucap Sarah.


"Maaf dek, tapi adik tidak bisa masuk sekarang" ucap suster mengelus pucuk kepala Sarah.


"Tapi suster, saya ingin masuk" ucap Sarah memaksa masuk ke dalam kamar perawatan Alderts.


"Maaf, tetapi pasien tidak dapat dikunjungi saat ini, karena kondisinya masih sangat lemah, biarkan pasien beristirahat dulu ya dek" ucap suster.


"Iya suster" ucap Sarah mengangguk patuh.


"Papah... !" ucap Sarah melihat dari kaca depan.


"Dok, bagaimana kabar papah saya?" tanya Sarah saat dokter keluar dari dalam kamar Alderts.


"Ayahmu dalam keadaan koma" ucap dokter.


"Dok, bolehkah saya melihat papah saya? sebentar saja dokter, saya mohon" ucap Sarah berlinang air mata.


"Iya dek, boleh, tapi sebentar saja ya dek" ucap dokter.


"Iya dok" ucap Sarah mengangguk patuh.


"Ayok kak kita masuk, lihat papah dari dekat" ucap Sarah menarik tangan Fredericka.


"Iya sayang" ucap Fredericka.


"Assalamualaikum" ucap Fredericka memasuki kamar perawatan Alderts yang masih terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di tubuhnya dan infus.


"Wa'alaikumsalam" ucap Sarah.


"Papah bangun pah... !, papah... !" ucap Sarah meneteskan air mata menepuk-nepuk pundak ayahnya yang tak sadarkan diri.


"Ini Sarah pah bangun... !" ucap Sarah meneteskan air mata menepuk-nepuk pundak ayahnya yang tak sadarkan diri.


"Papah, mengapa papah tidur seperti ini terus? papah bangun jangan tinggalkan Sarah papah... ! Papah bangun... !" ucap Sarah meneteskan air mata menepuk-nepuk pundak ayahnya yang tak sadarkan diri.


"Sarah, ayo pulang sayang, ini sudah larut malam, saatnya kamu istirahat dan biarkan ayahmu istirahat juga" ucap Fredericka.


"Tapi kak, aku ingin di sini sama papah" ucap Sarah berlinang air mata menatap kak Ika.


"Besok pagi kita kesini lagi ya sayang, sekarang kita pulang dulu" ucap Fredericka mengelus pucuk kepala Sarah.


"Iya kak" ucap Sarah menghapus air yang keluar dari hidungnya.


"Papah, Sarah dan kak Ika pulang dulu ya, assalamualaikum" ucap Sarah kepada ayahnya yang tidak sadarkan diri.


"Wa'alaikumsalam, ayo Sarah" ucap Fredericka.


"Iya kak" ucap Sarah berjalan dengan mata yang masih menatap ke belakang.


Fredericka membawa Sarah pulang ke rumahnya.


"Sarah sudah ya sayang, jangan sedih lagi, papah mu pasti secepatnya sadar kok sayang, tenang ya, yang terpenting sekarang kita berdoa yang terbaik untuk papah kamu, kakak yakin, papah kamu pasti bisa melewati masa kritisnya, yang sabar ya sayang, kan ada kakak, atau mau kakak antar ke rumah mamah kamu?" tanya Fredericka.


"Iya kak" ucap Sarah mengangguk.


"Besok pagi kakak antarkan ke rumah mamah kamu ya sayang, sekarang kamu tidur dirumah kakak dulu, ini udah larut malam, kamu harus istirahat, nanti yang ada kamu sakit lagi, kalau kamu sakit gak ada yang temenin papah kamu dong" ucap Fredericka.


"Iya kak" ucap Sarah mengangguk.