Sarah

Sarah
Julian Balikan Dengan Nadia



'Sarah, aku mau keluar sebentar' ucap Julian.


Iya mas, hati-hati.


Hm.


Ketika sedang berjalan mengelilingi jalan sendiri, Julian bertemu dengan Nadia, mantan kekasihnya.


'Mas Julian' panggil Nadia.


Nadia Fawnia?


Iya, aku Nadia Fawnia, apa kabar kamu mas? udah lama banget ya kita gak ketemu.


'Iya' ucap Julian tersipu malu.


Gimana kabarnya mas?


Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana kabarnya?


Baik mas.


Kamu sendirian? Tomy suami kamu itu kemana?


Aku udah lama berpisah sama mas Tomy.


Cerai?


Iya mas.


Karena?


'Mas Tomy selingkuh' ucap Nadia menunduk menutupi kesedihannya.


'Yang sabar ya' ucap Julian memegang bahu Nadia.


'Iya mas' ucap Nadia mengelus tangan Julian yang ada di bahunya.


Julian merasakan gejolak di hatinya lagi karena sentuhan tangan Nadia. Julian yang masih belum bisa mencintai Sarah dan masih mencintai Nadia pun berniat untuk kembali lagi bersama mantan kekasihnya itu.


'Aku berjanji, akan selalu ada untuk kamu' ucap Julian mengelus pucuk kepala Nadia.


Bukannya mas udah nikah ya?


Kamu tahu darimana?


Tahu dari seseorang mas.


'Aku memang sudah menikah saat ini tetapi hatiku masih untukmu Nadia, aku tida pernah mencintai Sarah, aku hanya mencintai mu Nadia Fawnia, aku mohon kembalilah padaku' ucap Julian memegang kedua tangan Nadia.


Jika aku kembali bersamamu, lalu bagaimana dengan istrimu?


Aku akan menceraikan dia untuk kamu Nadia Fawnia.


Maaf mas, tapi aku tidak ingin menjadi orang ketiga yang merusak rumah tangga seseorang.


Bukan kamu orang ketiga di dalam hubungan ini Nadia, tetapi dia, aku lebih dahulu mengenal mu bukan?


Bukan tentang siapa yang datang terlebih dahulu tapi tentang siapa yang ada untuk kamu saat ini dan yang ada untuk kamu saat ini adalah istri mu bukan aku lagi mas, jika aku masuk ke dalam kehidupan kamu lagi, itu berarti aku lah orang ketiga itu bukan istri mu mas, kamu sudah mengucapkan janji di depan semua orang, kamu harus menepati janji itu.


'Tapi aku masih mencintai kamu hingga detik ini Nadia, aku mohon, aku mohon kembalilah padaku' ucap Julian memegang kedua tangan Nadia meneteskan air matanya.


Maaf mas tidak bisa, kamu harus belajar untuk mencintainya, aku yakin, cepat atau lambat kamu pasti bisa untuk mencintainya.


Aku sudah berusaha untuk mencintainya, bahkan setelah kamu pun aku berusaha mencintai wanita lain, tapi aku tetap bisa melakukan hal itu Nadia, aku mohon, aku mohon kembalilah.


Nadia terdiam sejenak meneteskan air matanya menatap Julian yang tengah menangis sesenggukan.


Maaf mas, aku tidak bisa kembali lagi bersama mu, karena aku juga seorang wanita, aku tidak ingin ada hati wanita lain yang terluka karena kedatangan ku kembali.


Tapi dia juga mencintai pria lain, dia tidak mencintai ku juga Nadia.


Apa maksudmu mas?


Ayahnya menikahkan kita hanya karena harta dan persamaan kasta antara aku dan keluarganya, Sarah masih mencintai Pieter tetapi Alderts ayah Sarah malah membunuhnya karena Pieter melamar Sarah. Alderts sangat tidak ingin Sarah mempunyai suami yang berbeda kasta dengannya karena Pieter hanya sebagai asisten pribadinya.


Jadi kalian menikah tidak dengan rasa saling mencintai satu sama lain?


Iya Nadia, aku mohon kembalilah, aku akan menceraikannya.


Baiklah jika memang begitu, aku bersedia menerima mu kembali.


Benarkah?


'Iya' ucap Nadia mengangguk tersenyum.


Julian pun memeluknya dan mencium keningnya.


Kamu mau kemana tadi?


Mau keliling doang sih tapi malah ketemu angel.


Siapa angel?


Kamu.


Ini rumah ku mas, mau masuk dulu atau langsung pulang? tanya Nadia berhenti di depan rumahnya.


Masuk dulu deh.


Ya udah yuk.


Iya.


Julian pun masuk ke dalam rumah Nadia dan Nadia mengunci pintu rumahnya dan segera menyalakan lampu ruang tamunya. Julian mendekatkan wajahnya ke Nadia dan malam itu Julian menginap di rumah Nadia.


Mas Julian kemana ya? kok udah malam begini gak pulang juga sih? batin Sarah bertanya-tanya.


'Apa mungkin mas Julian nginep kali ya dirumah temannya? ya udah deh, mending aku tidur aja' ucap Sarah mengunci pintu apartemennya.


Roh Fredericka yang merasa sangat lelah karena tidak ada satu orang pun keluarganya yang dapat melihat dia pun memutuskan untuk pergi jauh dari sana dan menenangkan diri ke sebuah hutan yang konon angker dan banyak dipenuhi oleh makhluk tak kasat mata.


'Sebenarnya aku sangat takut pada hantu namun saat ini aku sudah menjadi bagian dari mereka jadi untuk apalagi aku takut pada hantu? jika aku takut pada hantu berarti itu sama saja bahwa aku takut melihat diriku sendiri yang kini telah berubah menjadi hantu' ucap Fredericka.


Ketika menelusuri hutan ia bertemu dengan sosok hitam bertubuh hitam, besar dan bertaring panjang serta bermata merah. Fredericka menghampirinya untuk mengajaknya berkomunikasi.


'Kamu om Wowo ya? eh maaf maksud aku genderuwo, aku memang biasa memakai nama samaran itu karena dulu aku sangat takut padamu, namun sekarang sudah tidak lagi karena kita sama-sama hantu' ucap Fredericka pada genderuwo penguasa hutan itu.


Genderuwo itu tertawa terbahak-bahak dengan suara gemanya dan mengatakan "kita berbeda, kamu tidak sma dengan ku"


Berbeda bagaimana? aku hantu lho dan kamu juga hantu, kita sama-sama hantu, lantas apa perbedaan diantara kita?


'Sudahlah, tidak ada gunanya berbicara dengan orang seperti mu' ucap genderuwo itu pergi meninggalkan Fredericka.


'Hm.. dasar setan aneh' gerutu Fredericka.


Ternyata hutan kalau malam gelap juga ya? tanya Fredericka pada dirinya sendiri menatap sekelilingnya.


'Kok aku takut ya? pulang aja kali ya? kenapa setan hawanya gak enak? tapi kan aku setan juga, oh iya, aku gak akan bisa ngerasain hawa ku sendiri ya? bodoh sekali aku, udah lah balik aja' ucap Fredericka tertawa lalu menghilang dari sana dan kembali ke rumah orangtuanya.


Keesokan harinya Julian terbangun dan segera membersihkan tubuhnya lalu kembali ke apartemennya.


'Sayang, aku pulang dulu ya' ucap Julian mengelus pucuk kepala Nadia.


Iya sayang.


Julian mengecup kening Nadia dan tersenyum lalu pergi dari sana.


Pencarian jasad Fredericka dilanjutkan. Pihak keluarga ikut membantu untuk mencari keberadaan jasad Fredericka.


Shivanya menelepon Sarah untuk memberitahukan padanya jika Fredericka menghilang di tengah laut.


'Assalamualaikum Sarah' ucap Shivanya di panggilan telepon.


Wa'alaikumsalam kak Shiva, ada apa telepon?


Sarah, aku mau kasih kabar duka buat kamu.


Ada apa kak Shiva?


Kak Ika menghilang di tengah laut.


Innalilahi wa innailaihi raji'un, kok bisa kak?


Kejadiannya udah satu minggu yang lalu tapi kita baru tahu kemarin karena tante Kinara ibu kamu bilang kalau dia habis dari rumah kak Ika tapi ada tulisan rumah ini dijual di depan pintu pagar kak Ika akhirnya kita cari tahu dan ternyata mas Hasan ngedorong kak Ika ke tengah laut. Kita masih mencari keberadaan jasad kak Ika tapi masih belum ketemu Sarah, kemungkinan kak Ika telah tiada saat ini karena sudah satu minggu lebih ia berada di tengah-tengah lautan, tapi kami masih ingin mencari keberadaan kak Ika untuk menguburkannya secara layak jika memang kak Ika telah tiada.


Ya udah kak, aku otw Jakarta ya, soalnya sekarang aku sama suami aku lagi di Swiss.


Gak usah dek, nanti ngerepotin.


Gak kok kak, ya udah kak aku mau beli tiketnya dulu ya assalamualaikum.


Iya dek wa'alaikumsalam.


'Mas, kita balik ke Jakarta yuk' ucap Sarah pada Julian.


Ada apa?


Kak Ika menghilang di tengah laut mas.


Kok bisa? kak Ika siapa Sarah?


Sahabat aku mas.


Lantas apa hubungannya dengan aku?


Mas, aku ingin pulang ke Jakarta.


Tidak, sekali tidak ya tetap tidak, mengerti?


Sarah menghiraukan perkataan suaminya dan pergi dari sana. Julian menarik tangan Sarah dan menampar pipinya lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur.


Kok mas kasar lagi sih sama aku? tanya Sarah berlinang air mata.


Kenapa? gak suka? kamu kan tahu, kalau aku gak pernah suka sama kamu.


Tapi mas...


'Husssttt, aku tidak ingin mendengar perkataan mu lagi, sudahlah satu atap dengan mu hanya bikin naik darah saja' ucap Julian pergi meninggalkannya.