
"Assalamualaikum" ucap Shivanya dan Amir dari depan pintu rumah Kanya.
''Kenapa sepi? dimana mamah dan papah aku?'' tanya Shivanya mencari ayah dan ibunya.
''Udah mandi dulu sana" ucap mas Amir.
''Hm, iya pangeran kodok yang cerewet" ucap Shivanya beranjak pergi meninggalkannya.
''Sudah? cepat banget udah selesai aja, gak pakai sabun kah?'' tanya mas Amir saat melihat Shivanya selesai mandi.
"Enggak pakai sabun mas tapi pakai debu" ucap Shivanya.
''Hm, dia ngelawak lagi" ucap mas Amir.
"Ya lagian ngeselin kalau aku udah disini ya berarti udah selesai mandinya dan yang namanya mandi ya pasti pakai sabun lah pakai nanya lagi" ucap Shivanya kesal.
''Hehe, sensitif banget sih dek jadi orang" ucap mas Amir.
''Ngeselin'' ucap Shivanya membelakangi mas Amir
"Assalamualaikum" ucap ayah dan ibu Shivanya dari depan pintu rumah.
''Wa'alaikumsalam'' ucap Shivanya dan mas Amir mencium punggung tangan orang tua Shivanya
'''Mamah sama papah darimana?'' tanya Shivanya.
''Kita habis beli makanan dari luar, ini buat kamu'' ucap ayahnya sambil memberikan kantong plastik berisi makanan.
''Apa ini pah?" tanya Shivanya.
''Mie ayam" ucap ayahnya.
"Wah enak banget nih pasti" ucap Shivanya membuka kantung plastiknya.
''Mamah sama papah gak makan?'' tanya Shivanya.
"Mamah sama papah tadi udah makan langsung disana" ucap ayahnya.
''Makan bareng sama mas Amir ya sayang, kasian mas Amir kalau gak dibagi, kita nggak tahu kalau ada mas Amir di rumah" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya.
''Amir makan bareng Shivanya ya" ucap ibu Shivanya tersenyum pada mas Amir.
"Iya buk lek" ucap mas Amir mengangguk dan tersenyum.
Ayah Shivanya mendapat pesan di WhatsApp dari asisten pribadinya yang berisi informasi buruk.
''Assalamualaikum pak, saya ingin menginformasikan bahwa hutang perusahaan sudah jatuh tempo dan harus segera dilunasi, jika tidak maka perusahaan akan disita oleh pihak bank pak" notifikasi whatsapp dari sekretaris ayah Shivanya.
''Wa'alaikumsalam, bagaimana dengan pendapatan kita bulan ini?" tanya ayah Shivanya pada sekretaris-nya di aplikasi WhatsApp.
''Sampai saat ini perusahaan masih belum ada pelanggan pak, kami sudah mencoba berbagai cara tapi tetap saja hasilnya nihil" notifikasi whatsapp dari sekretaris-nya.
"Kamu katakan pada bank, saya akan bertemu dengannya dalam 2 hari karena saat ini saya sedang berada di kampung halaman istri saya" ucap ayah Shivanya.
''Ok pak, nanti saya infokan ke pihak bank" ucap sekretaris.
''Oke" ucap ayah Shivanya.
''Siapa yang ngechat pah? kenapa wajah papah terlihat seperti orang stres seperti itu, kenapa sih pah? ada apa?'' tanya istrinya.
"Mah, kita harus pulang ke Jakarta sekarang" ucap suaminya.
"Kenapa pah?" tanya istrinya.
''Hutang perusahaan di bank sudah jatuh tempo, dan jika papah tidak segera melunasinya, bank akan menyita perusahaan kita mah" ucap suaminya.
''Astagfirullahaladzim, kok bisa pah?" tanya istrinya.
''Selama beberapa bulan terakhir, perusahaan tidak memiliki pendapatan sama sekali, jadi papah meminjam uang dari bank untuk membayar gaji karyawan setiap bulannya mah" ucap suaminya.
''Astagfirullahaladzim, sabar ya pah, ya sudah kalah begitu mama masukkan baju kita ke dalam koper dulu ya pah" ucap istrinya.
"Iya mah" ucap suaminya.
''Shivanya, kita balik ke Jakarta sekarang ya sayang " ucap ibunya membawa koper berisi baju-baju mereka.
''Kenapa begitu cepat, ada apa mah, pah?" tanya Shivanya.
''Ayok pulang sekarang Shivanya nanti mamah ceritakan dirumah saja, ayok sayang" ucap ibunya menarik tangan Shivanya.
''Ya mah" ucap Shivanya.
"Mas aku pulang dulu ya, assalamualaikum" ucap Shivanya mencium punggung tangan mas Amir dan meneteskan air mata.
"Iya wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan ya dek" ucap mas Amir mengelus pucuk kepala Shivanya dan menahan air matanya agar tidak jatuh menetes.
"Amir, kita pulang ya tolong sampaikan salam kami pada orang tuamu, terima kasih telah banyak membantu kami, maaf, kami sedang terburu-buru, assalamualaikum" ucap ibu Shivanya.
''Wa'alaikumsalam buk lek, tidak apa-apa buk lek, nanti Amir sampaikan pada bapak dan ibu" ucap mas Amir tersenyum.
''Dek, dek tunggu" ucap mas Amir memanggil Shivanya.
"Iya mas kenapa?" tanya mas Amir.
''Ini jambu-nya, kamu bawa saja semuanya" ucap mas Amir memberikan seluruh jambu yang mereka petik tadi.
''Apakah kamu tidak mau jambu ini?" tanya Shivanya.
''Mas udah sering makannya kok buat kamu aja semuanya, buat maka dijalan kalau lapar" ucap mas Amir.
''Terima kasih mas" ucap Shivanya tersenyum.
"Iya sama sama dek" ucap mas Amir tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.
''Ayo Shivanya'' ucap ibunya menarik tangannya.
1 hari berlalu, Shivanya dan keluarga kini telah tiba di Jakarta.
''Papah rumah kita disita'' ucap istrinya meneteskan air mata.
''Sabar ya mah" ucap suaminya memeluknya dan mengelus pucuk kepala istrinya untuk menenangkannya.
"Mah, pah, dimana kita akan tinggal?, jika rumah kita disita" ucap Shivanya.
“Maaf pak, saya izin mengundurkan diri” ucap pak Joddy, supir pribadi mereka.
''Iya pak Joddy, maaf untuk saat ini saya tidak bisa memberikan uang pesangon untuk bapak tapi saya berjanji akan memberikan uang pesangonnya nanti ke bapak" ucap ayah Shivanya.
''Tidak apa-apa pak, saya minta maaf kalau selama ini saya ada salah sama bapak sekeluarga, saya pamit assalamualaikum" ucap pak Joddy.
"Iya wa'alaikumsalam" ucap keluarga Shivanya kompak.
"Mah, Shivanya, ayok kita pergi dari sini, kita cari rumah kontrakan untuk tempat baru kita tinggal" ucap ayah Shivanya.
"Iya pah" ucap istri dan anaknya kompak.
''Permisi'' ucap seorang pria yang memanggil mereka.
''Iya pak, ada apa?" tanya ayah Shivanya.
''Apa benar anda yang bernama ADRIAN PRATAMA?" tanya pria tak dikenal itu.
"Iya benar, saya Adrian Pratama, bapak siapa ya?" tanya ayah Shivanya.
"Saya Muhammad Aziz, salah satu bankir tempat anda berhutang, ini kartu nama saya" ucapnya memberikan kartu nama.
''Saya ke sini untuk menagih hutangmu" ucap bankir.
''Maaf pak, saat ini saya tidak bisa melunasi hutang saya" ucap ayah Shivanya.
"Oke kalau begitu, serahkan kunci mobil dan semua dokumen yang tertera pada surat jaminan ini" ucap bankir.
''Oke pak ini kunci mobilnya" ucap ayah Shivanya.
"Ayok mah, Shivanya, kita pergi dari sini" ucap ayah Shivanya meminta mereka untuk meninggalkan rumah dan mobil mereka yang disita oleh bank.
"Iya pah" ucap istri dan anaknya kompak.
''Papah, kita mau kemana? Shivanya lelah, istirahat dulu pah" ucap Shivanya sambil memegangi lututnya.
"Papah juga gak tahu kita mau kemana sayang, kita istirahat dulu ya sayang kalau kamu lelah" ucap ayahnya.
"Iy pah" ucap Shivanya.
'Papah itu ada rumah kontrakan, ayok kita ke sana pah" ucap istrinya sambil menunjuk brosur rumah kontrakan yang tertempel di tiang listrik.
"Iya mah ayok" ucap suaminya.
''Tapi papah, Shivanya lelah" ucap Shivanya.
''Ya sudah, kita duduk di sini dulu ya sayang" ucap ayahnya.
"Iya papah" ucap Shivanya.
''Papah, mamah ambil brosur itu dulu ya" ucap istrinya.
"Iya mah" ucap suaminya.
''Ini brosur-nya pah'' ucap istrinya menyerahkan brosur yang diambilnya dari tiang.
"Mah, ini alamatnya dekat dari sini, ayo kita kesana, kita istirahat saja disana langsung, ayok Shivanya" ucap ayah Shivanya.
''Iya Shivanya, ayok sayang'' ucap istrinya sambil membawa Shivanya ke dalam pelukannya.
"Iya mah" ucap y.
"Permisi bu, assalamualaikum" ucap ayah Shivanya.
''Wa'alaikumsalam, ada apa?" tanya seorang wanita paruh baya.
''Kami ingin mencari pemilik kontrakan yang tertera di brosur ini karena kami ingin menyewanya" ucap ayah Shivanya.
"Kebetulan saya pemiliknya, mari sya antarkan ke dalam rumahnya" ucap pemilik kontrakan.
''Iya bu terima kasih" ucap ayah Shivanya tersenyum.
''Nah ini dia kamarnya, satu bulannya itu 800.000 bagaimana?" tanya pemilik kontrakan.
"WC di dalam atau di luar ya bu?" tanya ibu Shivanya.
"Di dalam bu " ucap pemilik kontrakan.
"Untuk PDAM dan listrik sendiri, jadi 1 pintu beda listrik dan PDAM-nya" ucap pemilik kontrakan.
'''Oh oke bu, ini uangnya'' ucap ayah Shivanya sambil memberikan sejumlah uang dari sakunya.
''Ini kuncinya semoga betah ya, saya permisi assalamualaikum'' ucap ibu kontrakan memberikan kunci kamar.
''Iya bu wa'alaikumsalam" ucap keluarga Shivanya kompak.
Hm.
"Ayok mah, Shivanya, kita masuk" ucap ayah Shivanya.
Hm.
''Mah, pah, Shivanya mau pergi ke rumah Aji dulu, untuk memberi tahu Aji bahwa sekarang Shivanya pindah rumah" ucap Shivanya.
''Iya sayang, hati-hati dijalan ya nak" ucap ibunya.
"Iya mah, assalamualaikum" ucap Shivanya sambil mencium punggung tangan orang tuanya.
''Wa'alaikumsalam" jawab orang tuanya kompak.