
Keesokan harinya Hasan datang ke rumah Aleta bersama dengan keluarganya dan membawa mahar yang akan ia berikan kepada Aleta. Hasan membunyikan bel rumah Aleta. Penjaga rumah Aleta pun menghampirinya.
"Pak saya mau ketemu sama Aleta" ucap Hasan mengintip dari celah pintu.
Penjaga rumah Aleta mengintip sedikit untuk memastikan siapa yang datang. Penjaga rumah yang mengenal Hasan adalah teman dari Aleta pun membukakan pintu pagar.
"Silakan masuk" ucap penjaga rumah Aleta membuka pintu pagarnya.
"Makasih ya pak" ucap Hasan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya" ucap penjaga rumahnya tersenyum kecil.
Hasan memarkirkan mobilnya dan mengetuk pintu rumah Aleta.
"Tokk... tokkk... assalamualaikum" ucap Hasan mengetuk pintu rumah Aleta.
"Wa'alaikumsalam, eh nak Hasan, ayok masuk" ucap ibu Aleta tersenyum dan mempersilahkan Hasan dan keluarganya masuk ke dalam.
"Bibi, tolong buatkan minuman ya tiga orang" ucap ibu Aleta.
"Baik nyonya" ucap asisten rumah tangganya.
"Hm nak Hasan ada keperluan apa ya kesini?" tanya ibu Aleta menatap Hasan dan keluarganya.
Ayah Aleta dan Aleta pun keluar menghampiri memastikan siapa tamu yang datang.
"Hm om, tante, sebenarnya tujuan Hasan kesini karena Hasan ingin melamar Aleta" ucap Hasan yang langsung menundukkan kepalanya.
"Apa?" tanya orangtua Aleta terkejut dan saling menatap satu sama lain.
Hasan meletakkan uang diatas meja sebagai mahar yang akan diberikan pada Aleta.
"Hm Hasan tau kok tante kalau ini terlalu mendadak, tapi bukankah lebih cepat itu lebih baik?" tanya Hasan menatap orangtua Aleta yang masih kebingungan.
"Iya kamu benar, lebih cepat lebih baik, tapi kamu baru sekali bertemu dengan Aleta bukan?, apa secepat itu rasa suka tumbuh di hati kalian?" tanya ibu Aleta.
"Saya tidak merestui hubungan kalian, karena saya belum pernah bertemu dengan mu, saya baru pertama kalinya bertemu dengan kamu, lantas kamu sudah berani meminang anak saya seperti itu?" tanya ayah Aleta.
"Tapi om.." kata Hasan menghentikan perkataannya sembari menatap Aleta.
"Aku hamil pah" ucap Aleta yang langsung menundukkan kepalanya.
"Jangan bercanda Aleta!, ini bukan saatnya untuk bercanda!" ucap ayahnya menatap Aleta.
"Aleta gak bohong pah, Aleta berkata jujur, Aleta hamil pah, mah, tapi Aleta gak tahu ini anak siapa, karena sebelumnya Aleta tidak pernah berhubungan badan dengan siapapun pah, mah" ucap Aleta menggelengkan kepalanya berlinang air mata dan langsung menundukkan kepalanya.
Ayahnya yang kesal langsung menarik tangan Aleta berdiri.
"Aleta jangan bohong nak!, kamu berhubungan badan dengan laki-laki itu agar papah bisa merestui hubungan kalian bukan?" tanya ayahnya.
"Tidak pah, itu sama sekali tidak benar, waktu Aleta sama Grizelle pergi berdua, itu Aleta terasa sangat perih, badan Aleta terasa sangat lemas, akhirnya kita memutuskan untuk pulang ke rumah, sampai di rumah juga itu Aleta masih sakit pah, ada darah di celana Aleta, Aleta berfikir awalnya jika Aleta sedang menstruasi, jadi Aleta mengabaikannya karena Aleta juga hanya pergi berdua dengan Grizelle, namun setelah beberapa minggu kemudian, tubuh Aleta terasa sangat sakit, kepala Aleta pusing, dan mual-mual, akhirnya Aleta memutuskan untuk pergi ke dokter memeriksakan kondisi Aleta namun dokter umum mengatakan jika Aleta tidak sakit apapun, lalu Aleta diarahkan untuk pergi ke dokter kandungan, dokter itu mengatakan jika Aleta sedang hamil beberapa minggu, Aleta juga tidak mengerti mah, pah, Aleta tidak tahu ini anak siapa, Aleta tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu mah, pah, Aleta mohon percaya pada Aleta mah, pah" ucap Aleta meneteskan air matanya dan berlutut di hadapan kedua orangtuanya.
"Lalu kemana perginya Grizelle?" tanya ayah Aleta.
"Terakhir Grizelle bilang dia mau ke Thailand untuk melanjutkan pendidikannya di universitas terkemuka disana" ucap Aleta.
"Ya sudah kalau begitu, papah tidak ada pilihan lain lagi selain menikahkan kalian berdua" ucap ayahnya.
"Makasih ya pah, mah" ucap Aleta tersenyum berdiri dan memeluk orangtuanya.
"Iya" ucap ayahnya.
Kedua keluarga itu mulai mempersiapkan semuanya untuk hari pernikahan Hasan dan Aleta. Pernikahan Hasan dan Aleta dilakukan dengan sangat mewah, dan lebih banyak menggunakan uang keluarga Aleta dibandingkan uang keluarga Hasan. Ayah Aleta yang awalnya tidak suka karena budget yang ia keluarkan jauh lebih besar akhirnya hanya bisa pasrah karena ia tidak ingin menanggung malu jika Aleta melahirkan tanpa adanya seorang suami.
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu pun berlangsung semua terlihat sangat bahagia begitupun dengan Aleta dan Hasan.
"Jika saja Aleta tidak sedang mengandung, aku pasti tidak akan pernah menyetujui pernikahan ini terjadi, tapi ya sudahlah, jika mencari pria lain yang sederajat dengan keluarga kita akan membutuhkan waktu yang lama, semakin ditunda pernikahannya, pasti perut Aleta akan semakin membesar, mau jawab apa aku nanti kalau ada yang bertanya kenapa perut Aleta besar?, apa dia sedang hamil?, bisa rusak nanti reputasi ku kalau aku terlambat menikahkan Aleta, setidaknya mereka tahu jika Aleta memiliki suami sebelum perutnya membesar, ya walaupun dia udah hamil duluan" batin ayahnya menatap Aleta yang terlihat sangat bahagia.
"Papah tahu sebenarnya kamu tidak bahagia, kamu hanya bahagia karena ada laki-laki yang mau menikahi mu disaat kamu mengandung anak orang lain, siapa laki-laki yang tega menanamkan benih di rahim putri ku dan langsung pergi meninggalkannya bahkan tanpa identitas sedikitpun?, aku yakin sebenarnya pria itu telah mengenal Aleta, kemungkinan Aleta menolak cintanya dan menyusun rencana untuk memperkosa Aleta dan meninggalkannya begitu saja setelah puas mengagahinya, dasar pria kurang ajar, semoga seumur hidupnya ia tidak akan pernah dikaruniai seorang anak, agar dia merasakan penderitaan yang kami rasakan" batin ayah Aleta.
Acara resepsi telah selesai dilakukan, kini para tamu satu persatu meninggalkan tempat resepsi. Hasan meminta izin untuk pergi ke kamar mandi sejenak sebelum menyusul Aleta ke dalam kamar. Hasan menelpon Andre dan memberitahukan bahwa benih yang ia tanam pada Aleta kini telah tumbuh menjadi jabang bayi dan kini ia telah menikah dengan Aleta.
"Gimana?, apa semua rencana?" tanya Andre.
"Iya, semuanya berjalan sesuai dengan rencana, mantap juga benih lu langsung tumbuh menjadi jabang bayi" ucap Hasan.
"Iya dong, siapa dulu?, Andre gitu lho, ya sudah selamat menikmati malam pertama kalian, dan selamat menikmati semua harta kelas dan fasilitas Aleta" ucap Andre.
"Pasti, sedang apa lu?, mengapa terdengar suara seperti wanita berkuda?" tanya Hasan.
"Iya lu benar, gw lagi berkuda sama Grizelle teman Aleta, sekarang Grizelle menjadi kekasih gw" ucap Andre.
"Ya sudah matikan teleponnya takut ada yang mendengarnya, dan semangat berkudanya" ucap Hasan.
"Tentu saja" ucap Andre.
Hasan langsung mematikan panggilan teleponnya dan menghampiri Aleta di dalam kamarnya.