Sarah

Sarah
Pertemuan



"Bu, Shivanya mau mi kari, hujan juga sudah reda, Shivanya mau ke toko untuk beli mi" kata Shivanya.


''Ya sudah ini uangnya'' kata ibunya sambil memberikan uang itu.


''Hai'' sapa Aji.


"Iya hai juga" ucap Shivanya.


''Aji, ini pesananmu' kata penjaga toko.


"Iya bu terima kasih" ucap Aji.


''Shivanya kamu mau beli apa?' tanya penjaga toko.


''Beli indomie kari bu 1'' kata Shivanya.


"Ini mi-nya" kata penjaga toko sambil memberikan mi karinya.


''Ini uangnya bu, terima kasih" ucap Shiva memberikan sejumlah uang.


"Ya'' kata penjaga toko.


"Jadi namamu Shivanya'' kata Aji.


"Ya" kata Shivanya sambil tersenyum malu-malu.


''Namaku Aji, senang bertemu dengan mu' kata Aji sambil memberikan tangannya untuk menjabat tangan Shivanya.


''Aji? Saartje sahabat Aji? mengapa ini benar-benar sangat aneh? kenapa semuanya jadi membingungkan seperti ini, siapa mereka sebenarnya? apakah mereka hasil dari reinkarnasi?'' tanya Lia yang masih mengikuti Shivanya bingung.


"Iya Aji" kata Shivanya sambil berjabat tangan dengan Aji.


''Ngomong-ngomong, di mana rumah kamu? saya akan mengantarkan mu'' kata Aji.


''Tidak perlu Aji, rumah aku dekat dari sini" ucap Shivanya.


''Tidak apa-apa, biar saya tau dimana rumah kamu, jika saya tahu, saya bisa bermain ke rumah kamu kan?'' tanya Aji tersenyum.


"Ya" kata Shivanya.


''Ayo'' kata Aji sambil memegang tangan Shivanya.


''Hm, Ji'' kata Shivanya.


''Maaf maaf, aku tidak sengaja'' kata Aji malu.


"Iya gak apa-apa kok" kata Shivanya gugup.


"Ini kita kemana? Kanan kiri atau lurus?'' tanya Aji.


“Kalau lurus masuk ke selokan dong Aji'' kata Shivanya sambil tertawa kecil.


Lia yang masih mengikutinya mulai terbawa suasana. Shivanya masih tidak menyadari Lia ada di sana sedang mengikutinya dan Aji.


“Ya bisa saja kan rumah mu disana" kata Aji sambil tertawa mengejek.


''Kamu kira aku Jerry apa?'' kata Shivanya kesal.


''Jerry? Tom & Jerry? ya, mungkin anda lapar, anda ingin menangkap tikus untuk dimakan bersama mi kari itu, bukankah mi kari dan tikus itu enak? tidak ada salahnya mencoba sensasi makanan yang berbeda bukan? tidak harus selalu mi+telor+nasi bisa saja kamu ingin mencoba menu baru yaitu mi+tikus+nasi, tidak ada yang tahu bukan? sekali-kali berani tampil beda jangan yang mainstream terus haha'' ucap Aji tertawa.


"Kamu saja yang memakan itu terlebih dahulu, itung-itung mencontohkan bukan?" tanya Shivanya.


"Oh tidak bisa!! saya sudah pernah mencobanya jauh sebelum kita bertemu" ucap Aji.


"Kapan? aku tidak melihatnya, bisa kamu lakukan sekali lagi di depan mataku? agar aku bisa melihat secara langsung" ucap Shivanya.


"Tidak bisa honey!!'' ucap Aji tersenyum mengangkat alisnya.


''Apa sih Aji?'' tanya Shivanya mencubit lengan Aji dengan pipinya yang memerah. Shivanya sudah mulai terbawa perasaan pada Aji.


''Ciee, bajunya samaan, kalian pacaran? masih kecil sudah berpacaran saja, sekolah dulu dek yang pinter baru pacaran, ingat!! cinta tak selamanya indah dek!!'' goda tetangga mereka saat melihat Shivanya dan Aji mengenakan pakaian yang sama.


''Tidak bu, kami tidak berpacaran, kami baru akan memprosesnya hari ini'' kata Aji.


''Proses? proses apa?'' tanya Shivanya.


''Proses mendapatkan hatimu'' kata Aji sambil mengangkat alis sambil menyeringai.


''Apakah kalian benar-benar berpacaran?" tanya tetangga mereka.


"Iya bu " ucap Aji.


"Tidak bu" kata Shivanya.


"Jadi yang benar yang mana? iya atau tidak?" tanya tetangga mereka.


"Tidak ibu, jangan pernah mempercayai dia, dia itu sesat" ucap Shiva menatap Aji kesal.


"Sesat? kau kira saja pemuja setan?" tanya Aji mengangkat alisnya kesal.


"Maybe!!" ucap Shiva.


''Tidak ibu" kata Aji.


"Ya sudah kalau begitu, ibu duluan ya, jangan berantem terus nanti gedenya jodoh aja" ucap tetangga meledek mereka tersenyum.


"Jodoh sama dia?" tanya Shiva.


"Iya" jawab tetangga.


"Itu tidak akan pernah terjadi!!" ucap Shiva.


"Jangan terlalu membenci lawan jenis neng, ingat benci bisa berubah menjadi cinta kapan pun itu!!" ucap tetangga mereka.


Shivanya menatap Aji dengan ekspresi wajah tidak sukanya.


"Ngapa lu liatin gw kayak gitu? naksir lu ya sama gw, wajar sih ya, secara gw kan ganteng" ucap Aji mengibaskan rambutnya menyeringai.


"Ya sudah saya duluan, assalamualaikum" ucap warga itu pergi dari sana meninggalkan Shivanya dan Aji.


"Iya bu wa'alaikumsalam" jawab Shiva.


"Eh Shiv" panggil Aji.


''Apa?" tanya Shivanya jutek.


"Aku baru sadar deh kalau baju kita warnanya sama" kata Aji sambil melihat baju yang dipakainya dan baju yang dipakai Shivanya.


''Ya, aku juga baru sadar, kok warna bajunya bisa sama sih?'' tanya Shivanya.


"Jodoh mungkin" kata Aji.


Saat itu, Aji dan Shivanya mengenakan kaos dan celana pendek berwarna biru tua.


''Apa sih Aji, kita sudah bicara tentang perjodohan saja, kita masih kecil tau" kata Shivanya kesal.


Aji hanya tertawa.


''Ketawa lagi lu" kata Shivanya kesal.


"Kenapa? kamu tidak suka?" tanya Aji.


"Tidak" jawabnya berpaling dari Aji.


"Ya sudah, aku diam" ucap Aji.


"Begitu lebih baik" ucap Shiva.


''Aji, ini rumah ku" kata Shivanya.


“Itu artinya rumah mu ada di depan rumah ku" kata Aji.


''Di mana rumah mu?'' tanya Shivanya.


"Ayo, ikut aku" kata Aji menarik tangan Kanya.


''Itu rumah aku yang cat hijau" kata Aji.


''Sangat dekat, apakah itu berarti kita bisa bermain bersama nantinya?'' tanya Shivanya.


"Boleh, besok aku akan ke rumahmu lagi" kata Aji.


"Oke" ucap Shivanya.


Aji pun berbalik dan akan pergi namun Shivanya memanggilnya.


''Aji'' kata Shivanya.


''Mengapa?'' tanya Aji berbalik untuk melihat Shivanya.


''Hati-hati'' kata Shivanya gugup.


''Ya'' kata Aji tersenyum sambil mengelus puncak kepala Shivanya.


Lia yang melihatnya pun menggigit bibirnya sendiri untuk menahan perasaannya yang hanyut terbawa oleh kemesraan mereka.


"Ya Allah masih kecil padahal udah ngebaperin aja, apa gw yang kebaperan jadi orang ya? sepertinya tidak" ucap Lia pada dirinya sendiri.


"Assalamualaikum mah" ucap Shiva memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, kamu kenapa Rissa kok kayak kesal begitu sih mukanya? tanya ibunya.


"Gak apa-apa kok mah, aku ke dapur dulu ya mah, mau masak mi kari ini" ucap Shivanya.


"Iya Rissa" ucap ibunya.


"Rissa siapa lagi? tadi dia bilang kalau namanya itu Shivanya Nerissa berarti di rumah dia dipanggil Rissa dong?" tanya Lia pada dirinya sendiri.


"Hebat juga tuh anak, masih kecil udah bisa masak mi sendiri kayaknya dulu seingat aku waktu aku masih kecil gosong deh pancinya pas masak air" ucap Lia pada dirinya sendiri menatap langit-langit rumah Shiva.


"Udah lah mending gw cabut aja" ucap Lia seketika menghilang dari rumah Shiva.