Sarah

Sarah
Rumah Kosong Perkebunan



''Aku ngantuk mau tidur, mas Amir gak boleh berisik, OKE" ucap Shivanya.


"Hm oke" ucap mas Amir.


''Akh, bar-bar banget nih anak ya tidurnya, jangan disitu tangannya, astagfirullah, sakit, woyyy, diteken lagi" ucap mas Amir sambil menahan rasa sakitnya karena tangan Shivanya menekan adik kecilnya.


'Sid, Sid tolong ambilkan bantal sebentar'' ucap mas Amir meminta bantuan adik laki-lakinya.


“Iya mas, ini bantalnya mas” kata Siddiq adik kandung mas Amir.


''Terima kasih Sid" ucap mas Amir.


"Iya mas sama-sama" ucap Siddiq yang langsung pergi dari sana.


''Ayok sini, tidur disini aja pakai bantal'' ucap mas Amir sambil menggerakkan kepala Shivanya perlahan agar tidak membangunkannya.


''Tapi aku juga merasa kasihan padanya hm, oke, aku akan memindahkannya ke kamar saja, meskipun dia sangat menyebalkan tetapi dia tetap adikku, dek, mas janji, mas akan menjadi kakak yang baik untukmu, menemani kamu, menjaga kamu sampai nanti kamu dewasa dan menikah kelak dan pada saat itulah tugasku untuk menjagamu telah berpindah tangan kepada suamimu kelak'' ucap mas Amir sambil mengelus puncak kepala Shivanya dan meneteskan air mata.


''Kenapa kamu menangis?'' tanya Shivanya yang terbangun dari tidurnya dan melihat mas Amir meneteskan air matanya.


''Mengapa kamu terbangun? apa aku mengganggu tidurmu ya?'' tanya mas Amir sambil menyeka air matanya.


''Saya kebelet ingin ke kamar mandi" ucap Shivanya.


''Oh gitu, ya udah sana" ucap mas Amir.


"Iya" ucap Shivanya lari terbirit-birit.


Tak lama kemudian Shivanya kembali menghampiri mas Amir.


'Kak mau tidur tapi gak bisa tidur lagi, nyanyi dong bang, suara kamu kan bagus" pintanya.


''Lagu apa yang kamu inginkan?'' tanya mas Amir.


''Apa saja mas" ucap Shivanya.


Mas Amir pun menyanyikan lagu "WALI - DOAKU UNTUKMU SAYANG".


"Kok berhenti?" tanya Shivanya saat mas Amir berhenti bernyanyi.


"HAUS TAHU!!!" ucap mas Amir.


"Hm, satu lagi deh" ucap Shivanya.


"Oke" ucap mas Amir yang kembali menyanyikan sebuah lagu untuk Shivanya.


''Zzz... Zzz... Zz" terdengarlah suara dengkuran tidur Shivanya.


“Selamat tidur dek, semoga mimpi indah” ucap mas Amir sambil mengelus pucuk kepala Shivanya.


Setelah memastikan Shivanya tertidur pulas ia pun pergi meninggalkannya dan kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan menonton acara kesukaannya itu.


"Assalamualaikum" ucap ibu Shivanya yang kembali ke rumah setelah kepergiannya.


"Wa'alaikumsalam buk lek" ucap mas Amir.


"Eh ada Amir, udah lama disini Mir?" tanya ibu Shivanya.


"Lumayan sih buk lek" ucap mas Amir tersenyum.


''Khomir, di mana Shivanya?'' tanya ibu Shivanya.


Ibu Shivanya memang terbiasa memanggil Amir dengan nama Khomir.


"Tidur buk lek" ucap mas Amir tersenyum.


''Tolong bangunkan Mir, sudah larut, suruh dia makan dulu, nanti maag-nya kambuh" ucap ibu Shivanya.


'Shiv bangun Shiv makan dulu sudah larut nanti maag kamu kambuh aja'' ucap mas Amir bahu menepuk pundak Shivanya.


''Hm, aku ngantuk mas, nanti saja akh makannya" ucap Shivanya dengan mata yang masih terpejam.


''Nanti maag kamu kambuh, hai bangun, makan dulu'' ucap mas Amir sambil menepuk pundak Shivanya.


''Hm iya'' ucap Shivanya bangun dari tidurnya.


''Mandi dulu sana udah sore nanti kedinginan lagi, habis mandi langsung makan" ucap mas Amir.


"Iya bawel" ucap Shivanya terbangun dari tempat tidurnya dan bergegas untuk mandi.


Mas Amir pun kembali menghampiri ibu Shivanya yang tengah duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Shivanya datang menghampiri mas Amir dan ibunya.


''Rissa, duduk sini sayang" ucap ibunya.


"Iya mah" ucap Shivanya duduk di antara mas Amir dan ibunya.


''Amir, makan di sini saja ya" ucap ibu Shivanya.


"Gak usah buk lek terima kasih tapi Amir makan dirumah saja, deket juga kan rumah Amir dari sini, cuma lima langkah dari sini langsung sampai ke pintu rumah Amir" ucap mas Amir.


"Ya, tapi buk lek sudah membelikan mu makanan juga, kenapa kamu tega sih sama buk lek" ucap ibu Shivanya sedih.


''Hm, iya udah deh buk lek" ucap mas Amir.


''Mari makan" ucap ibu Shivanya tersenyum.


''Shiv, habis makan keluar yuk" ajak mas Amir.


"Mau kemana mas?" tanya Shivanya.


"Jalan-jalan saja, kan enak tuh jalan-jalan di sore hari" ucap mas Amir.


"Pak lek, buk lek, Amir minta izin ya setelah makan, Amir ingin mengajak Shivanya jalan-jalan" ucap mas Amir.


'Iya Amir, tapi jangan pulang larut malam" ucap ayah Shivanya.


"Siap" ucap mas Amir.


''Rumah siapa itu mas?'' tanya Shivanya sambil menunjuk salah satu rumah yang berada di tengah perkebunan.


"Entahlah, rumah itu sudah lama terbengkalai, kata orang pemiliknya sudah lama pindah ke Jakarta" ucap mas Amir.


"Menakutkan sekali ya mas rumahnya kayak rumah hantu" ucap Shivanya.


"Iya dek, katanya sih di situ pernah ditemukan mayat korban perkaosan dek" ucap mas Amir.


'Benarkah? kapan kejadiannya mas?" tanya Shivanya.


"Kata ibuku 15 tahun yang lalu dek" ucap mas Amir.


"Oh gitu'' ucap Shivanya.


"Hei, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya mas Amir mengejar kepergian Shivanya yang mengejar satu kupu-kupu yang mendekati rumah terbengkalai itu.


"Tangkap kupu-kupunya mas, warnanya cantik" ucap Shivanya yang masih terus mengikuti arah terbangnya kupu-kupu.


"Jangan pergi ke sana, itu berbahaya" ucap mas Amir yang terus mengejarnya.


"Aku kan tidak mengganggu mas, aku hanya ingin menangkap kupu-kupu, yeaayyy akhirnya aku mendapatkannya" ucap Shivanya gembira karena berhasil menangkap kupu-kupu yang ia ikuti.


"Kamu kan sudah mendapatkannya, sekarang kita pulang yuk" ucap mas Amir.


"Iya mas" ucap Shivanya.