
"Akhirnya Kami berkenalan walau dengan sedikit paksaan."_ Yogi
πππππππππππππππ
"Sarah disini." Merasa di panggil Sarah menoleh ke sumber suara.
Safa dan Melia duduk di dekat kaca KFC itu dengan makanan yang penuh di meja membuat perut Sarah berdemo Ria.
"Ini kami sudah pesankan burger isi jumbo untukmu." Kata Melia membuat mata Sarah berbinar binar.
Dengan lahap Tanpa menunggu waktu lama Sarah memakan burger itu dengan hikmat tidak luput dari pandangan Safa dan Melia.
"Kau Kelaparan Baby." Canda Safa melihat Sarah seperti orang tidak makan satu Minggu.
"Biasa, Sarah walau badannya kecil tenaga makannya setara buldozer." Balas Melia mereka pun tertawa lepas menertawakan Sarah yang masih konsen dengan makanan nya.
Merekapun bercanda gurau melepas penat sejenak.
"Sarah kau sedang berantem dengan Kevin?." Pertanyaan Safa itu mengalihkan tatapan Sarah dari burger tercinta yang tinggal sedikit.
Dia meminum jus alpukat di atas meja kemudian terdiam menatap temannya yang juga diam.
"Kau tau sendiri Kevin sangat peduli padamu, dia sampai minta bantuan ibu untuk membujukmu, aku yang adik kandungnyanya pun tak pernah di perhatikan sepesial itu." Ucapan Safa menatap Mata Sarah dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Hmm.. Begini Sarah tadi Sean menelpon Kevin, Sean bilang nilaimu turun dan itu membuat Kevin sangat Khawatir karna saat kau sakitpun nilaimu tak pernah turun sampai seperti ini." Ucap Melia menggenggam tangan Sarah.
"Kami disini peduli Sarah, Kami tidak mau terjadi apa-apa padamu." Lanjutnya.
Sarah hanya diam tak bisa menjawab.
"Sudahlah Melia dia memang egois selalu menyimpan masalah sendiri dengan tampang sok tegar." Safa berjalan ke kasir membayar tagihan.
kemudian berlalu meninggalkan tanpa sepatah katapun dengan sedikit menghentakkan kakinya.
"Jangan di ambil hati, kau tau sendiri sifatnya tak berniat menyakitimu. Safa sungguh peduli padamu dia membuatkan sup kesukaanmu karna kau sudah lama tidak main ke rumahnya." Melia mengeluarkan tempat makan berbentuk kotak yang sudah di dalam pelastik putih.
"Hari ini Safa yang traktir." Melia pun berdiri.
"Jaga kesehatan baik-baik
Kalau ada apa-apa kami disini untukmu Sarah, see you." Melia memeluk Sarah dan menepuk punggungnya pelan.
Meninggalkan Sarah yang masih terdiam di tempat.
Tanpa ada yang tau apa yang sedang dia pikirkan.
"Hallo Nona." Sapa lelaki berseragam sekolah yang cukup Sarah kenal.
Sekolah elit di dekat sekolahnya yang rata-rata semua orang kaya.
"Hallo." Balas Sarah seadanya.
"Perkenalkan Namaku Yogi teman Alex siswa satu kelas denganmu." Sarah hanya diam tanpa membalas jabatan tangan Yogi.
Alex adalah cowok pertama yang mengungkapkan perasaannya pada Sarah Minggu lalu namun Sarah tolak.
Bagi Sarah, Alex terlalu baik untuknya.
Alex juga anak seorang jendral angkatan udara Australia sifatnya juga ramah dan baik hati serta cowok incaran di sekolah.
Bagi Sarah Alex terlalu tinggi untuk dia Gapai.
"Sarah, Ada perlu apa?." Jawab Sarah dengan wajah cuek.
"Ternyata benar Kata Alex kau memang berbeda dari yang lain." Yogi terkekeh membuat Sarah terheran padahal tidak ada yang lucu.
Sarah melanjutkan makanya tanpa mempedulikan Yogi yang memperhatikan nya dari tadi.
"Maukah kau berteman denganku." Pernyataan itu membuat Sarah menatapnya Aneh.
"Jangan menatapku seperti itu. Niatku baik aku dengar Kau murid yang cukup pintar. Aku mau kau mengajari kami." Kata Yogi menunjuk Alex dan Boby yang tengah mengintip di kursi sebrang dengan matanya diikuti Sarah.
Merasa di tatap mereka berdua pun kembali duduk diam seolah tak terjadi apapun.
"Tenang saja bayarannya dihitung perjam, Satu jam 300 ribu untuk kami bertiga bagaimana?." Tawaran itu sangat mengiurkan bukan.
"Tapi aku tak punya banyak waktu?." Tolak Sarah halus karna ia ada jadwal interview besok tak bisa menentukan jam kerja.
"Kalau cuman itu kendalanya, kami bisa menyesuaikan jadwalmu kapanpun kau bisa." Rayu Yogi lagi membuat Sarah sedikit nimbang.
"Baiklah." Ucap Sarah pun menyetujui.
"Oke sebaiknya kita bertukar nomer ponsel jadi jika kau ada waktu kau bisa menghubungiku."ucap Yogi tersenyum.
Merekapun bertukar nomor ponsel.
"Aku duluan." Ujar Sarah meninggalkan Yogi yang menatap punggung kecil itu sampai hilang di balik pintu.
πππππππππππππππ
Di ruang keluarga dengan nuansa modern klasik suara cukup hening hingga perdebatan memecahkan suasana.
"Ma sudah aku bilang aku tidak mau di jodohkan." Ucap lelaki kesal bangkit dari duduknya.
"Kau sudah dewasa Reyhan sudah waktunya menikah, apa kamu mau di langkahi adikmu?." Ucap sang ibu enteng.
"Astaga ma.. umur Reyhan baru masuk 21 tahun masih sangat muda untuk menikah. Lagi pula Reyhan masih mau fokus bekerja ma." Ucap Reyhan mengurut pelipisnya pelan.
"Tapi mama mau cepet-cepet gendong cucu." Pernyataan itu semakin membuat Reyhan pusing.
Jika harus di suruh memilih lebih baik lembur satu bulan atau berdebat dengan ibunya maka Reyhan lebih baik lembur.
Menghadapi ibunya memang hal paling menyulitkan baginya.
"Ma Reyhan pasti akan menikah tapi Reyhan gak mau di jodoh-jodohkan, Reyhan bisa cari pasangan sendiri." Ucap reyhan berjalan ke arah tangga berniat menuju kamarnya.
"Mama kasih waktu satu Minggu kalau kau belum juga mendapatkan pendamping maka mama yang akan mengatur perjodohanmu." Teriak mamanya pelan.
"Dikira mama nyari jodoh itu mudah apa!. Kalau cari baju iya!, Tinggal tunjuk kasih uang selesai." Ucap Reyhan kesal mengacak-acak rambutnya.
Reyhan pun Menganti pakaiannya santainya dengan kantor karna adaΒ pertemuan bisnis hari ini.
Diapun mengambil kunci mobilnya berjalan menuruni tangga.
Tanpa menghiraukan sapaan para pelayan-pelayan yang ia temui.
Sampainya di depan rumah ia masuk kedalam mobil yang terparkir dan mengendarai dengan kecepatan sedang.
Saat sampai di tempat tujuan Reyhan keluar dari mobil dengan elegan.
Banyak yang perempuan curi-curi pandang padanya.
Namun tak ia hiraukan.
Dari tatapan mereka itu sudah membuat Reyhan merinding jijik.
Mata Rayhan terpaku melihat perempuan yang sedang mengendong kucing yang terluka tanpa mempedulikan luka cakaran di tanganya.
Kucing itu dalam keadaan hamil membuatnya lebih agresif.
Tanpa sadar Reyhan mengikuti Gadis itu sampai ke kelinik hewan terdekat dari luar Reyhan melihat wajah panik gadis ituΒ kemudian gadis itu menyerahkan seluruh uang di dompetnya pada petugas ke Kelinik.
Reyhan tidak tau apa yang gadis dan petugas itu bicarakan yang pasti setelah menunggu beberapa saat gadis itu keluar dari kelinik.
Gadis itu meringis pelan berjalan menuju minimarket membeli sesuatu.
Getaran ponsel di saku celana Reyhan tanda seorang menelvon.
"Hallo pak Rey Mr.Xander akan sampai 10 menit lagi." Suara di sebrang telvon menyadarkan Reyhan akan tujuan sebenarnya.
"Baiklah." Jawab Rayhan singkat
Memasukan ponsel itu ke tempat semula.
Saat menoleh lagi gadis itu usah tidak ada lagi.
πππππππππππππππ
Hallo ***guys...π
APa kabar alam semesta?
Masih pada semangat kan.
Kalo semangat votenya jangan lupa ya.
Harus dong ya.. kan ada Sarah yang menanti para pembaca setia buat memporak porandakan dengan kehadiran kalian.
Ayokkk atuhh jangan buat author macam orang gila ngomong sendiri jawab sendiri. π€£
Cukup keadaan aja yang sedang kacau jangan authornya juga ikutΒ² merancau.. π
Jangan lupa klik jempol sama komennya juga jangan lupa.
Satu jempol kalian bagaikan hamparan cinta dari author.
Eakz azek uyy π€£π€£
See you cinta π***