Sarah

Sarah
Hasan Menikah Lagi



Siang harinya sang wanita malam dan Hasan keluar dari dalam kamar. Mereka pergi ke dapur untuk mengisi kekosongan perut.


Aleta yang berada di ruang tamu melihat mereka berdua melewatinya. Aleta menatap wanita malam itu kesal dengan berlinang air mata. Aleta berdiri dan menarik tangan wanita itu.


"Ikut aku" kata Aleta menarik tangan wanita itu keluar rumah.


"Pergi kamu!" usir Aleta.


"Aleta" bentak Hasan yang langsung menampar pipi Aleta.


Aleta memegangi pipinya dan menatap Hasan berlinang air mata.


"Kenapa mas bela wanita murahan ini?"


"Berani-beraninya ya kamu mengusir dia dari rumah ini"


"Hei! sadarlah mas! ini rumah ku, rumah orangtua ku, bukan rumah mu, aku berhak untuk mengusir siapapun dari dalam rumah ku ini, aku berhak untuk mengusir wanita rendahan ini untuk keluar dari dalam rumah ku!"


Hasan hanya terdiam menatap Aleta dan membantu wanita itu berdiri.


"Ayok kita pergi dari sini" kata Hasan menuntun wanita itu untuk pergi.


"Mas kamu mau kemana?"


"Jika dia tidak ada disini, maka aku juga tidak akan pernah mau untuk berada di disini"


"Jadi kamu lebih memilih jalaangg ini daripada aku mas?"


"Apa kamu berfikir jika aku akan lebih memilih mu dibandingkan dengan dia? tentu saja tidak Aleta, aku mencintai Icha"


Aleta yang mendengar perkataan Hasan sontak memejamkan mata dan menangis sembari menutup mulutnya. Aleta perlahan membuka matanya menatap Hasan.


"Mbak, kamu memang istrinya tapi aku lah pasangan hidupnya, dia tidak pernah mencintai mu mbak, dia terpaksa menikah dengan mu, agar kamu tidak malu karena tengah mengandung anak laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya siapa, kamu dan aku tidak jauh berbeda mbak, buktinya saja kamu bisa hamil tanpa suami, apa kamu tahu siapa pria yang sudah menghamili mu itu? tentu tidak bukan? aku jauh lebih baik dari mu mbak, ya memang aku ini jalaangg, tapi setidaknya aku tidak hamil diluar nikah seperti mbak karena aku selalu mengkonsumsi obat penggugur kandungan setelah berhubungan inntim dengan para lelaki, jadi aku tidak akan hamil anak mereka, jika ingin enak-enak seperti ku, maka jadilah seperti ku mbak, mbak hanya mau enaknya saja tapi tidak tahu harus melakukan apa sehingga mbak bisa hamil anak laki-laki itu, sesama wanita murahan seharusnya mbak tidak menghinaku, karena mbak juga murah, buktinya saja mbak bisa hamil diluar nikah, gak jelas pula itu anak siapa, so berfikir lah sebelum bicara mbak, bercermin sebelum menjudge seseorang ya mbak, dan satu lagi, aku dan mas Hasan akan secepatnya menikah, iya kan mas?" tanya Icha tersenyum merangkul pundak Hasan bersandar di pundaknya.


"Iya sayang, kita akan secepatnya menikah" kata Hasan tersenyum mengelus pucuk kepala Icha.


"Aleta, aku hanya suami mu, bukan ayah dari Dylan ingatlah akan hal itu, dan apa yang Icha katakan itu benar adanya, sadarlah Aleta, kamu dan Icha itu tidak jauh berbeda, Icha memang menjual tubuhnya pada banyak pria, mengkonsumsi obat penggugur kandungan, sedangkan kamu? kamu hamil tapi tidak tahu itu anak siapa, apakah mungkin itu anak iblis? tapi Dylan terlahir menjadi seorang anak manusia bukan anak iblis, berarti ayahnya itu adalah seorang manusia bukan? tapi dimana ayahnya? siapa ayah kandung Dylan sebenarnya? kamu tidak tahu bukan, jadi diamlah Aleta, tidak usah ikut campur dalam urusan ku dan Icha, dan satu lagi, ya benar kata Icha, aku dan Icha akan secepatnya menikah, tapi kamu tenang saja Aleta, aku akan selalu mengunjungi mu disini, karena dimata keluarga dan tetangga sekitar sini kita masih sah sebagai sepasang suami istri, walaupun aku tidak mau mengakui mu sebagai istri ku, ya karena aku tidak pernah mencintai mu"


"Lantas untuk apa kamu menikahi ku mas?"


"Oke biar aku jelaskan secara lebih rinci lagi jika ucapan ku dulu masih belum bisa membuat mu mengerti, yang pertama adalah karena aku kasian pada mu yang dihamili tanpa dinikahi, yang kedua tentu saja karena harta kekayaan mu itu, harta mu itulah yang membuat ku ingin menikahi mu, aku menikahi mu bukanlah berlandaskan cinta melainkan berlandaskan harta dan kasta yang kamu miliki itu, tapi bodohnya kamu malah mencintai ku padahal aku tidak pernah mencintai mu, secepat itu ternyata cinta tumbuh di hatimu itu" kata Hasan menyeringai dan langsung memalingkan wajahnya dari Aleta.


"Dan secepat itu juga kamu ingin menikahi wanita jalaang ini!" kata Aleta menyeringai menatap Hasan.


"Icha dengarlah, mas Hasan tidak mencintai mu, dia hanya akan menjadikan mu sebagai pelaacur pribadinya saja!"


Mendengar perkataan Aleta sontak membuat Icha terkejut dan menatap Hasan.


"Jangan dengarkan dia sayang, aku mencintaimu" kata Hasan tersenyum mengelus pucuk kepala Icha yang masih nampak tidak percaya setelah mendengar perkataan Aleta.


"Tidak ada sejarahnya cinta tumbuh setelah bersettubuh!, cinta tidak akan bisa tumbuh hanya dalam waktu beberapa jam saja, mas Hasan hanya menginginkan tubuh mu itu sebagai pemuas hasrat pribadinya semata tidak untuk membina rumah tangga dengan mu, kamu seorang jalaangg bukan? seharusnya kamu sudah bisa membedakan mana pria yang tulus mencintai mu mana pria yang hanya ingin bersenang-senang dengan mu, tak apa jika kamu ingin menikah dengannya, tapi ingatlah satu hal Icha, setelah pernikahan mu itu, kamu akan merasakan rasa sakit sama seperti yang aku rasakan, ingatlah satu hal Icha, jika karma akan datang kepada wanita yang telah merusak rumah tangga seseorang, cepat atau lambat kamu pasti akan menyadari jika keputusan mu untuk menikah dengan mas Hasan itu salah, lebih baik kamu menjadi jalaangg daripada kamu ingin menikah dengan suami ku"


"Suami mu? mas Hasan bilang jika ia sudah meninggalkan mu begitu saja semenjak hari pernikahan kalian, dan itu terjadi sudah enam tahun yang lalu, itu berarti mas Hasan sudah bukan lagi menjadi suami mu, karena secara agama kamu dan mas Hasan sudah bukan suami istri lagi, kamu hanya istri hitam diatas putih, kamu hanya istri diatas kertas semata Aleta, status mu sebagai istri mas Hasan hanya ada di pengadilan semata, tapi kalian sudah bukan lagi menjadi sepasang suami istri"


"Lu sekali kamu berbicara tentang agama, apa kamu tahu hukumnya telah merusak rumah tangga seseorang? hukum menganggu dan merusak rumah tangga seseorang adalah haram dan akan mendapatkan siksa neraka bagi wanita, jadi janganlah berbicara tentang agama jika kamu tidak tahu apa hukumnya merusak rumah tangga seseorang" kata Aleta menyeringai mengangkat alisnya.


"Udah yuk mas kita pergi dari sini, hari ini juga aku mau kita nikah ya mas" kata Icha tersenyum memeluk Hasan dan meledek Aleta.


"Iya sayang" kata Hasan tersenyum.


Icha pun mengajak Hasan pergi dari sana.


"Silakan saja kalian berdua bersenang-senang di dunia, biar akhirat nanti yang akan membalaskan semua pengkhianatan yang telah kalian berdua lakukan kepada ku, setiap perbuatan buruk pasti akan mendapatkan karmanya" teriak Aleta yang langsung terjatuh dan menangis tersedu-sedu.


Melihat kepergian Hasan membuat kepalanya terasa sangat sakit, Aleta perlahan berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Aleta masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Aleta melempar semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya, melempar foto pernikahannya dengan Hasan dan merobek fotonya. Aleta berteriak dan mengacak-acak rambutnya. Aleta duduk di lantai dan kepalanya bersandar di pinggir kasur yang seprainya sudah berantakan di lantai.


Di kontrakan Icha kini Hasan tengah melakukan pernikahannya yang hanya dihadiri oleh beberapa orang saja sebagai saksi. Hasan dan Icha terlihat sangat bahagia namun tidak dengan Aleta yang menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya.