Sarah

Sarah
Pemilihan Peserta Modelling



Shivanya Nerissa tumbuh menjadi gadis indigo yang sering dibully oleh teman-temannya karena selalu terlihat berbicara sendiri. Dia yakin bahwa dia tidak berbicara sendirian tetapi seseorang sedang berbicara dengannya. Tapi teman-temannya tidak bisa melihat lawan bicaranya.


Sejak kecil dia selalu dibully oleh teman-teman sekolahnya, bukan hanya karena dia selalu terlihat berbicara sendiri, tapi juga karena bentuk tubuhnya.


Shivanya jauh lebih berisi daripada teman sekolahnya. Dia memiliki rambut pendek keriting yang tumbuh ketika dia tidak diikat. Kulitnya sangat putih, bersih, dan halus. Dia sangat cantik tapi entah kenapa hanya karena sesuatu yang kecil dia selalu dibully. Kakak-kakaknya memanggilnya "Korea, Jepang, dan Cina" karena wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih, hidung mancung, dan matanya yang kecil. Ketika dia tertawa, dia terlihat seperti orang yang sedang tidur karena mata dia yang sangat kecil, matanya sangat tajam setajam elang, dia memiliki lesung pipit yang membuatnya terlihat semakin imut.


Ia memiliki seorang teman laki-laki bernama "Aji Farzan" dan seorang teman perempuan di sekolah yang sudah seperti saudara perempuannya sendiri, bernama "Feby Adsila", karena parasnya yang sangat cantik, Shivanya Nerissa sering mengikuti kompetisi modeling di sekolahnya.


Dia adalah anak pertama sekaligus anak satu-satunya, dia tidak memiliki saudara laki-laki atau perempuan. Dia sangat ingin memiliki seorang kakak laki-laki tapi bagaimana bisa dia mempunyai kakak laki-laki sedangkan ia saja adalah anak pertama.


Dalam perjalanan ke sekolah, dia bertemu Callista dan Altezza. Callista sengaja menyuruh sopir pribadinya mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sehingga genangan air membasahi baju Shivanya saat dia berjalan.


''Akh'' kata Shivanya saat genangan air mengenai matanya.


Shivanya membersihkan matanya dengan botol air di tasnya.


Sambil membersihkan matanya, Callista datang menarik rambut Shivanya ke belakang dan menyiram wajahnya dengan sisa botol air yang dibawanya. Shivanya yang diperlakukan seperti itu membuatnya tidak bisa bernapas. Dadanya terasa sangat sesak.


Setelah air dalam botol habis, dia menghentikannya dan mendorong Shivanya hingga terjatuh. Callista dan Altezza berlari ke mobil mereka serta meninggalkan Shivanya yang terjatuh.


Ketika Lia ingin membantu Saartje, mencari keberadaan Pieter dan Fredericka, dia bertemu dengan seorang gadis yang dibully oleh teman-temannya, dia sangat mirip dengan Fredericka ketika Fredericka masih kecil.


Lia yang masih ingin bertemu Fredericka mengikuti gadis kecil itu. Dia sengaja tidak memberi tahu Saartje tentang hal itu sebelumnya karena takut prediksinya salah dan Saartje akan lebih sedih.


Shivanya melihat jam di tangannya. 5 menit lagi kelas dimulai, dia berlari ke sekolahnya yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Sesampainya di sekolah, dia dipanggil oleh salah satu guru bernama Kinara.


''Shivanya'' kata bu Kinara, seorang guru di sekolahnya.


''Ya, bu Kinara, ada apa?'' tanya Shivanya.


''Apa? Kinara? Kinara ibu kandung Saartje? kenapa wajah guru itu sama seperti ibu kandung Saartje tante Kinara? Shivanya? apa dia Fredericka? kenapa dia jadi kecil lagi? dan mengapa mereka sangat mirip dengan orang yang pernah saya kenal? saya pernah mendengar cerita tentang reinkarnasi di mana "seseorang yang telah meninggal dapat hidup kembali dalam tubuh orang yang berbeda". Apakah mereka reinkarnasi dari orang-orang yang pernah ada dalam hidup saya?'' ucap Lia yang mendengar nama Kinara dan Shivanya serta melihat kemiripan wajah Shivanya dengan sahabatnya yang telah lama hilang serta gurunya yang mirip dengan Kinara Kim ibu kandung Saartje pun di ikat bertanya-tanya.


Lia semakin penasaran dengan kisah kehidupan Kinara dan Shivanya.


"Ikut saya ke ruang guru'' kata Bu Kinara.


''Tapi ada apa bu? apakah saya membuat kesalahan dengan dipanggil ke ruang guru?" tanya Shivanya.


''Kau ikut saja denganku, nanti aku jelaskan di ruang guru" ucap ibu Kinara.


"Baik bu" ucap Shivanya berjalan mengikuti bu Kinara ke ruang guru


''Duduk Shiva" ucap bu Kinara.


''Oke bu" ucap Shivanya duduk di bangkunya.


''Shivanya" ucap bu Kinara.


''Ya bu" ucap Shivanya.


''Sesuai dengan keputusan para guru di sekolah ini, kamu yang mewakili sekolah ini untuk kompetisi model antar sekolah'' ucap bu Kinara.


''Apakah ibu yakin menunjuk saya untuk mewakili sekolah?" tanya Shivanya.


''Ya, ini adalah keputusan bersama kita para guru dan kepala sekolah" ucap bu Kinara.


''Oke bu, baik" ucap Shivanya.


''Untuk pakaian dan make-up kamu, biarkan kami yang mengurusnya, tugas kamu hanya mengikuti kompetisi saja" ucap bu Kinara.


''Oke bu" ucap Shiva.


''Oke, kamu bisa keluar dari ruangan saya" ucap bu Kinara.


''Iya bu, permisi bu" ucap Shiva.


''Ya silahkan" ucap bu Kinara.


''Mau kemana kamu? sombong sekali kamu, berani kamu melewati ku begitu saja" kata Callista dengan tatapan mata tidak suka.


''Saya ingin pergi ke kelas'' ucap Shiva menunduk.


''Berani sekali kamu, kamu sudah mengabaikan ku, langsung pergi begitu saja" kata Callista.


"Kalau ngomong sama orang tatap mata dong matanya, jangan nunduk begitu, gak diajarkan sopan santun kah kamu?" tanya Sinta mengangkat alisnya.


"Iya, maafkan aku Sinta" ucap Shivanya menatap mata Sinta dengan tubuh yang gemetar.


''Oke" ucap Sinta.


''Apa? Sinta? ibu tiri Saartje?' tanya Lia heran dan terus mengikutinya.


''Baiklah anak-anak, saya akan mengumumkan siswa mana yang terpilih untuk mewakili sekolah untuk kompetisi model tahun ini'' kata bu Kinara.


''Siapa yang terpilih? aku yakin jika aku yang akan terpilih secara kan aku yang paling cantik di sekolah ini" kata Callista sambil mengibaskan rambutnya.


"Ya pasti gw lah bukan lu" timpal Sinta mengibaskan rambutnya.


“Bukan kamu, Sinta, dan juga bukan kamu Callista, tapi Shivanya yang terpilih" kata ibu guru.


'Apa bu? Shivanya yang terpilih, apakah saya tidak salah dengar bu?' tanya Callista tidak percaya.


"Iya bu, ibu pasti salah kan?" tanya Sinta tidak terima dengan keputusan Kinara.


''Tidak Sinta, Shivanya yang terpilih'' kata bu Kinara.


''Tapi bu, Shivanya sering berbicara sendiri, dan dia akan mempermalukan sekolah lagi, lebih baik saya saja bu, ya bu, please!!'' kata Sinta, membujuk bu Kinara.


''Maaf, Sinta tidak bisa, ini keputusan para guru, lagipula apa hubungannya modeling dengan berbicara sendiri? sama sekali tidak ada hubungannya Sinta'' kata bu Kinara.


Siswa lain yang mendengar ucapan bu Kinara tiba-tiba menertawakan Sinta.


"Sinta, Sinta, untung kamu cantik" kata Rizal.


''Diam'' kata Sinta sambil memarahi Rizal.


"Galak banget sih jadi cewek, tapi aku suka yang kayak gini" kata Rizal sambil menggigit bibir bawahnya.


''Sinta minta maaf ke Rizal, dan kamu Rizal minta maaf ke Sinta sekarang'' kata bu Kinara.


"Tapi bu, itu bukan salah saya, Rizal yang salah'' kata Sinta sambil menunjuk Rizal.


“Kalian berdua salah, cepat minta maaf, kalau tidak mau minta maaf satu sama lain, lebih baik kalian keluar saja dari kelas saya" kata bu Kinara.


''Tapi bu'' kata Sinta yang tak mau disalahkan.


''Tidak ada tapi-tapian Sinta, cepat minta maaf" kata bu Kinara.


''Oke bu" ucap Sinta.


Sinta pun menghampiri Rizal dan meminta maaf padanya, namun teman-temannya malah menjodohkan mereka.


''Sorry" ucap Sinta jutek.


''Cie cie" ucap siswa dan siswi kompak meledek Sinta dan Rizal.


Sinta yang semakin kesal akhirnya meninggalkan kelas begitu saja.


Kringgg... Kringgg... Kringgggg


''Sudah waktunya pulang, sekarang kalian rapihkan buku kalian dan pulang' kata bu Kinara.


"Baik bu" ucap semua murid.


Shivanya merapihkan seluruh bukunya ke dalam tas dan pulang dengan berjalan kaki karena rumahnya yang tak jauh dari sekolah.


"Assalamualaikum bu, Shivanya sudah pulang" kata Shivanya kepada ibunya.


''Iya wa'alaikumsalam, apakah kamu terkena hujan?'' ibunya bertanya.


''Ya, aku lupa membawa payung bu " ucap Shiva.


''Ya ampun, ayo masuk, kamu mandi, ganti baju, lalu makan" ucap ibunya.


''Ya bu" ucap Shivanya.