Sarah

Sarah
3. TERLALU BANYAK LUKA



"Jika boleh jujur aku sudah lelah sangat lelah tapi batinku selalu berontak menyemangati aku agar tetap kuat."_Sarah


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi hari yang cerah angin berhembus pelan menggoyangkan dahan pohon sekitarnya daun yang telah menguning gugur berjatuhan meninggalkan pohonya dengan sedikit awan menutupi indahnya langit biru.


Sarah tengah duduk menghadap jendela sekolahnya.


Hari ini pembagian hasil ujian semester.


"Selamat pagi anak-anak." ujar Bu Leta wali kelas Sarah.


"Pagi Bu." Balas mereka sekelas termasuk Sarah.


"Hari ini saya akan Membagikan hasil ujian kalian 2 Minggu lalu. Sebelum membagikan rapot ibu akan mengumumkan peringkat kelas semester ini yang namanya di panggil harap maju ke depan." terang bu Leta membuat kelas menjadi hening mendengarkan.


"Peringkat ke tiga Joshua Christian." Joshua bertos ria dengan Bian teman sebangkunya sekaligus sahabatnya kemudian maju ke depan disertai tepuk tangan.


"Peringkat ke dua Sarah Angelina." Sarah yang di panggil maju ke depan dengan wajah datar pandangan tertuju pada Sarah.


Sebagian murid mulai berbisik membicarakannya bagaimana tidak siswi yang biasanya menyabet peringkat pertama dari dua tahun berturut-turut kali ini mendapatkan kedua, sungguh topik hangat yang sayang dilewatkan.


"Dan peringkat pertama semester ini adalah Sean Marselinus." Sean maju ke depan dengan tatapan datar sama seperti Sarah.


Sean adalah saingan sarah di sekolah namun siapa sangka mereka adalah teman baik.


Soal pelajaran mereka akan berkerja sama sekaligus bertanding. Pertemanan yang anti mainstream.


"Beri tepuk tangan untuk ketiga juara kelas kita semester ini. Ibu harap semoga nilai kalian lebih di tingkatkan lagi terutama kalian sudah kelas 12 Sebentar lagi ujian kelulusan jadi kurangi waktu bermainnya Mengerti anak-anak." ujar Bu Leta.


"Sarah ikut ibu ke ruangan sebentar." ujar Bu Leta meninggalkan kelas.


Sarah mengikuti dari belakang tanpa dia sadari sedari tadi Mata Sean tengah memandangnya dengan tatapan khawatir.


Pembagian hasil ujian semester telah selesai seluruh siswa dan siswi sudah di perbolehkan pulang.


Sarah telah kembali ke kelasnya berniat pulang.


"Sarah bisakah kita berbicara sebentar." ujar Sean


Sarah yang tengah membereskan buku pun menoleh dan mengangguk.


"Ada apa Sean?." tanya Sarah setelah Selesai membereskan peralatan sekolahnya.


"Kau sedang ada masalah?." ujar Sean tidak menjawab malah balik bertanya pada Sarah.


"Tidak ada, kenapa kau bertanya seperti itu." ucap sarah datar.


"Bagaimana Nilaimu bisa menurun, aku sudah curiga sejak setengah sebulan yang lalu sikapmu sungguh aneh apa ada sesuatu yang terjadi?." ujar Sean menatap mata sarah mencari jawaban.


"Tidak, Tidak ada masalah sama sekali kau tak perlu khawatir." Bohong sarah sebenarnya dia memang sedang ada masalah namun dia tidak mau merepotkan Sean terus menerus.


Setidaknya Ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia tidak mau terlalu bergantung pada orang lain.


"Baiklah kalau begitu jika kau ada masalah ceritalah padaku, bukankah kita teman." ujar Sean tersenyum sambil mengacak-acak rambut Sarah.


"Iya.. Iya.. aku tau, tapi jangn acak-acak rambutku kau membuat rambutku berantakan Sean ." ujar Sarah cemberut membuat Sean terkekeh pelan.


"Tidak apa-apa Sarah rambutmu memang lebih Bagus jika berantakan, jadi menggemaskan pengen cubit." ucap Sean menarik pipi Sarah namun tangannya langsung di tepis oleh Sarah dan menatap Sean dengan tatapan sengit.


"Sudah ku bilang beli squishy saja jangan pipiku terus yang jadi korban dasar cowok kurang belaian." kata Sarah menjulurkan lidahnya mengejek.


"Abang kurang belaian sayang elusin dong." ujar Sean membuat Sarah bergidik ngeri.


"Sudah.. Sudah.. Traktir aku hari ini kau kan peringkat pertama." ucap Sarah mengalikan topik.


"Baiklah kita ke cafe biasa saja hari ini aku yang traktir sekalian kita ajak Dimas Dan Boby mereka sudah ada di sana." ujar sean.


"Oke.. Let go.." ujar sarah menggandeng lengan Sean dengan riang.


Melupakan penat walaupun hanya sementara.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sarah membuka pintu itu perlahan.


Berjalan memasuki kamar dengan bau obat yang cukup menyengat.


Di ranjang berukuran sedang terbaring lemah dengan alat-alat penopang kehidupan menempel di tubuhnya yang kini mulai semakin kurus.


Sosok laki-laki yang dulu sering tersenyum menguatkannya kini tampak menyerah akan kejamnya dunia.


Lelah dengan semua luka serta tekanan yang selama ini dia pendam.


Membersihkan tubuh itu dengan handuk basah, kegiatan yang sering ia lakukan setiap pulang sekolah.


Mengajak sang ayah berbicara menceritakan hal-hal yang ia alami dan melakukan lelucon yang sangat garing karna Sarah tak pandai bercanda.


Sudah 10 hari ayahnya terbaring di rumah sakit ini tanpa ada niatan sedikitpun untuk bangun.


Dokter mengatakan kalau ginjal ayahnya mengalami pembengkakan dan butuh dondor secepatnya dengan biaya yang cukup fantastis.


Untung pengobatan selama ini di tanggung perusahaan ayahnya tapi tidak dengan biaya oprasinya.


"Pa besok Sarah akan melakukan interview di restoran ayam, gajihnya cukup untuk kebutuhan serta pengobatan Papa. Sarah minta doanya pa semoga Sarah di terima walaupun aku tau kalau ayah tak menyukai Sarah bekerja." Sarah menatap ayahnya yang masih diam tak merespon.


Deringan ponsel memecahkan keheningan di ruangan itu Nama Safa tertera disana.


Safa adalah teman Sarah kelas sepuluh sekaligus adik kandung Kevin.


"Hallo Sarah.. Kau ada waktu Hari ini?." Tanya Safa.


"Ada, sore.. Kenapa?." Jawab Sarah sedikit penasaran tumben sekali Safa mencarinya.


Semenjak tidak satu kelas mereka memang masih sering bertemu.


Tapi karna jadwal Les Sarah yang jatuh di hari Minggu membuat mereka jarang main bersama terutama sejak Kevin pergi ke Amerika.


"Bagaimana apa dia bisa." Suara di seberang sana terdengar.


Itu suara Melia teman Sarah juga kenalan Dari Safa dan mereka dulu sering bertiga dan dua laki-laki penganggu yaitu Sean dan Kevin.


Melia orangnya Asik selalu nyambung saat di ajak bicara dan yang paling dewasa di antara mereka berlima.


Penengah yang baik setiap ada masalah yang datang dan selisih paham yang terjadi karena yang masih lain masih punya sifat labil saat itu.


"Melia juga ikut?." Merasa pegal Sarah mengalihkan ponselnya ke telinga sebelah kanannya.


"Iya sudah lama kita tidak main bersama." Kata Safa terdiam sejenak.


Membuat Sarah mengingat-ingat kapan mereka terakhir main bersama sekitar sebulan yang lalu.


"Pukul 16:00 nanti di KFC dekat taman." Suara Safa kembali terdengar.


"Baiklah." Balas Sarah Kemudian


Panggilan pun terputus.


"Pa.. Sarah pergi dulu ya besok Sarah datang lagi kok." Ucap Sarah mencium kening dan memeluk ayahnya pelan.


Meninggalkan ruangan itu tanpa berniat pulang kerumah Menganti seragamnya.


Uangnya udah mulai sedikit ia tidak mau boros ongkos.


Makan pun hanya sehari sekali agar hemat.


Miris memang tapi inilah yang di namakan hidup.


Kejam.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


***Hallo apa kabar manteman?


Udah pada move on dari mantan belum?! 😁


Bagi yang masih berjuang semangat ya..


move on itu memang berat tapi lebih berat itu belum pacaran udah di tingal duluan kek bunga layu sebelum mekar guys πŸ˜‚


Miris ueyy..


Dah kembali ke laptop.


Siapa yang masih nunggu cerita Sarah tunjuk tangan.!!


Dan siapa yang baca diamΒ² tapi gak kasih ayo ngaku tunjuk kaki.!! Angkat kakimu segi πŸ˜‚


Tau gak guys komen dan klik tombol jempol kalian itu bagai obat bius buat para author..


Tapi yang ikhlas ya kalo gak tar gak berkah.


dukungan kalian penyemangatku 😁***


See you cinta..