Sarah

Sarah
Cinta Terlarang



Waktu istirahat tiba, semua murid meninggalkan kelas dan pergi ke kantin bersama dengan temannya, tapi berbeda dengan Nadia, Nadia pergi ke kantin seorang diri karena belum memiliki teman di sekolah itu dan ia pun tidak mau berteman dengan Delia karena menurutnya penampilan Delia berbeda dengannya.


Setiap menyusuri jalan menuju ke kantin, murid-murid lain menertawakannya.


“Kasian banget ya dia! masa masih kecil udah gila aja!” ejek salah satu siswi menertawakannya.


“Apa tadi lu bilang hah? siapa yang gila?” tanya Nadia kesal.


“Ya lu lah masa gw sih!” jawab siswi itu.


“Jaga ya ucapan lu! gw gak gila! lu kali yang gila! makanya ngaca dong lu! gak punya kaca ya di rumah? nih ngaca!” ucap Nadia memberikan kacanya.


Temannya pun mengambil kaca itu dan bercermin lalu mengarahkannya ke belakang Nadia.


“Hm gak ada yang salah sih sama muka gw! coba deh liat ke cermin!” pinta temannya.


Nadia pun menoleh ke arah cermin dan terkejut karena melihat ada kertas tertempel di punggungnya. Nadia segera mengambil kertas yang tertempel di bajunya itu dan membacanya.


“Saya orang gila” ucap Nadia pelan membaca tulisan di kertas itu.


“Guys kalian dengar gak sih tadi dia bilang apa? dia mengakui kalau dia gila! lu anak baru kan di sekolah ini? kok bisa sih orang gila kayak lu masuk ke sekolah ini?” tanya temannya.


“Gw kaya gak kayak lu miskin!” ucap Nadia mengibaskan rambutnya.


“Oh iya?” tanya temannya.


“Iya lah!” jawab Nadia.


“Kalau lu orang kaya, harusnya lu bisa dong bayar sekolah lama lu biar lu gak perlu pindah sekolah ke sini, lu pasti dikeluarin dari sekolah karena ada orang yang jauh lebih kaya dari lu kan?” tanya temannya.


“Jangan sok tahu deh lu! gw pindah ke sekolah ini ya karena gw bosan di sekolah lama gw, makanya gw beli bangku di sini” jawab Nadia dengan santainya.


“Wow beli bangku!” ucap temannya itu menepuk tangan di depan wajah Nadia.


“Kenapa emang hah?” tanya Nadia sinis.


“Bodoh ya makanya beli bangku?” tanya temannya itu menertawakan Nadia disusul dengan siswa lain yang menertawakannya.


“Gak apa-apa bodoh yang penting kaya!” jawab Nadia menyombongkan dirinya.


“Sekaya apa sih lu? kalau emang lu kaya, kenapa lu sampai bisa di logout dari sekolah?” tanya temannya mengangkat alisnya.


“Kan tadi udah gw bilang kalau gw bosan di sekolah yang lama, gw pengen cari suasana sekolahan yang baru makanya gw pindah ke sekolah ini, hubungannya apa ya sama anda? apa anda yang membiayai sekolah saya? tidak kan? lantas apa urusan anda ikut campur dalam urusan saya hah? anda tidak ada kontribusinya di dalam kehidupan saya! anda tidak penting bagi saya, jadi lebih baik anda diam! apa anda mengerti?” tanya Nadia menyeringai mengangkat alisnya.


“Berani ya lu sama gw?!”


“Ya berani lah! ya kali gw takut sama lu! emangnya lu siapa hah? anaknya kepala sekolah? bukan kan? terus kenapa gw harus takut sama lu?! orang-orang seperti lu tidak ada apa-apanya bagi gw! apa lu mengerti?”


“Ah!” ucap Nadia kesakitan dan berusaha menarik tangan temannya agar terlepas dari rambutnya.


“Lu itu anak baru di sini, kalau lu gak kenal sama gw, lebih baik lu diam! karena sekolah ini itu punya gw, lebih tepatnya punya bokap gw! yang lu katakan itu memang benar, tapi setengahnya salah, gw anak kepala sekolah di sekolah ini, jadi jika lu tidak mau dikeluarkan lagi dari sekolah, lu harus tunduk sama gw! apa lu mengerti?” tanya temannya itu.


“Chelsea! kamu ini apa-apaan sih? lepaskan dia!” perintah gurunya.


“Ibu berani sama saya hah? saya bisa adukan ibu sama papa saya biar ibu dikeluarkan dari sekolah ini, apa ibu mau dikeluarkan dari sekolah ini? jika tidak, lebih baik ibu diam! ibu tidak usah ikut campur dalam urusan saya dengan anak baru ini!” ucap Chelsea yang malah mengancam gurunya.


“Apa yang kamu lakukan itu salah Chelsea!” bentak gurunya.


Chelsea yang kesal melepaskan tarikannya dengan kencang hingga Nadia terjatuh.


“Ibu berani sama saya?” tanya Chelsea.


“Kamu menyalahgunakan wewenang orangtua kamu untuk menindas siswa siswi lain Chelsea! kamu sudah terlalu kelewat batas Chelsea!” bentak gurunya.


“Apa? kelewat batas ibu bilang? ibu yang kelewat batas, kalau ibu tidak suka menjadi salah satu guru di sini, ya lebih baik ibu keluar dari sekolah ini, toh masih banyak guru lain yang jauh lebih berpengalaman dan pastinya tidak pernah ikut campur dalam urusan saya!” jawab Chelsea.


“Saya tidak akan pernah keluar dari sekolah ini sebelum kamu merubah sikap mu itu Chelsea!” bentak gurunya.


“Bukan saya yang harus berubah, tapi ibu yang harus berubah! apa pernah saya ikut campur dalam urusan ibu? enggak pernah kan? lantas untuk apa ibu ikut campur dalam urusan saya? ibu tidak ada urusan lainkah? sampai-sampai ikut campur dalam urusan orang lain hm?”


Gurunya hanya terdiam menatap tingkah laku Chelsea yang semakin kelewat batas.


“Ada apa bu? kok diam sih? apa mulut ibu sudah tidak berfungsi lagi sekarang?” tanya Chelsea mengelus bibir gurunya.


“Chelsea! apa-apaan kamu ini? dia itu guru mu, bersikaplah sopan pada guru mu Chelsea!” bentak ayahnya yang merupakan kepala sekolah di sekolah itu.


“Dia? terus saja papa membelanya! papa membelanya karena papa mencintainya bukan?” tanya Chelsea tersenyum sinis menoleh ke ayahnya.


“Dia itu lebih tua dari kamu, kamu seharusnya bisa menghargai dia, apalagi dia kan ibu sambung kamu nak!” ucap ayahnya.


Siswa siswi yang mendengar perkataan kepala sekolah pun terkejut, sontak Chelsea terkejut dan panik menatap teman-temannya.


“Chelsea tidak mau punya ibu seperti dia! ibu Chelsea cuma satu! kenapa papa tega melakukan hal ini dengan wanita itu? apa papa udah gak sayang sama mama lagi?” tanya Chelsea meneteskan air matanya.


Kepala sekolah pun menghampiri Chelsea dan berlutut serta memegang kedua pundak Chelsea.


“Chelsea dengar nak, mama kamu sudah lama tiada nak, kita harus melanjutkan kehidupan kita demi kebahagiaan mama kamu, apa kamu gak pengen lihat mama kamu bahagia di atas sana?” tanya ayahnya menatap ke atas.


“Apa dengan papa menikah lagi itu bisa membuat mama bahagia di atas sana? enggak pah! sampai kapanpun Chelsea gak mau terima dia sebagai ibu Chelsea! papa saja menikahinya tanpa sepengetahuan Chelsea, papa datang ke rumah langsung memperkenalkan dia sebagai ibu sambung Chelsea, tapi Chelsea gak ada pas papa sama dia nikah, kenapa pah? kenapa papa menikahinya tanpa sepengetahuan Chelsea? papa udah gak sayang lagi kan sama Chelsea? kalau papa udah gak sayang lagi sama Chelsea terus buat apa papa balik lagi dengan kabar yang papa bilang membahagiakan itu? apa papa tahu? kabar yang papa berikan itu adalah kabar yang paling tidak bisa Chelsea terima! papa sengaja kan memasukkan dia ke sekolah ini agar papa bisa terus bersamanya?” tanya Chelsea.


Mendengar pertanyaan Chelsea sontak membuat ayahnya terdiam karena apa yang Chelsea tanyakan itu adalah satu kebenaran, dan ya, ayah Chelsea sengaja memasukkan istri barunya sebagai guru agar mereka selalu bersama karena istrinya kini tengah hamil buah cinta mereka berdua. Ayah Chelsea menikahi wanita itu ketika ia sedang hamil setelah beberapa bulan berkencan. Alasan ayah Chelsea tidak memberitahukan pada Chelsea karena ia tidak mau putrinya mencontoh dirinya yang tega menghamili seorang wanita sebelum akad nikah berlangsung.


Chelsea meneteskan air matanya dan mendorong ayahnya lalu pergi meninggalkannya. Ayahnya jatuh terduduk lemas karena tidak tahu harus berbuat apa.