
"HUFT!, alhamdulilah ya mah, dia udah gak ngejar kita lagi" ucap suaminya.
"Iya pah" ucap istrinya melihat ke arah belakang.
"Cari siapa?" tanya wanita berwajah pucat yang berada di belakang mobil mereka tadi tiba-tiba berdiri di depannya.
"AKHH!" teriak Davika dan Gavin kompak.
Davika mencoba untuk membuka pintu kamarnya namun tidak bisa terbuka.
"Pah, pintunya gak bisa kebuka, gimana ini pah?" tanya istrinya panik ketakutan.
"Iya mah, pintunya keras banget" ucap suaminya berusaha membuka pintunya.
Wanita berwajah pucat itu semakin lama semakin mendekat ke arah Gavin dan Davika yang masih kesulitan membuka pintu kamarnya.
"Pah, dia mendekat, mamah takut pah, dobrak aja pah pintunya" ucap istrinya gemetar ketakutan.
"Tapi mah, masa di dobrak sih, ini kan bukan kamar kita mah" ucap suaminya.
"Pah cepat pah!" ucap istrinya meneteskan air mata karena saking ketakutannya.
"Iya mah" ucap Gavin berusaha mendobrak pintu.
Wanita berwajah pucat itu langsung menarik Gavin dan melemparkannya ke dinding hingga kepalanya terbentur.
"AKH!" ucap Gavin kesakitan memegang kepalanya.
"Papah" teriak Davika berlari menghampiri suaminya.
"Apa yang kamu inginkan dari kita?" teriak istrinya dengan suara serak berlinang air mata.
"Aku mau kalian keluar dari kamar aku, ini kamar ku!" teriak wanita berwajah pucat itu.
"Kamar kamu?" tanya Davika.
"Iya" ucap wanita berwajah pucat itu serak.
"Pah, jadi kamar ini juga ada hantunya, gimana ini pah" ucap istrinya ketakutan.
"Aku mohon, buka pintu itu, kami akan pergi dari kamar kamu ini, aku mohon, lepaskan kami, kami tidak tahu, jika kamar ini adalah kamar kamu" ucap Gavin.
Wanita berwajah pucat itu terdiam dengan ekspresi wajah sedih berteriak "AKH!" teriakan melengking wanita berwajah pucat itu.
"Kamu kenapa? ada apa? apa kita menyakiti hati kamu?" tanya Gavin.
Davika yang mendengar hanya menatap suaminya dengan kebingungan.
Wanita berwajah pucat itu menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang berada tepat di sebelah Gavin.
"Kamar mandi? ada apa dengan kamar mandi?" tanya Gavin menunjuk kamar mandi dengan ekspresi kebingungan.
"Dia jahat!, dia mengurung ku disana, membiarkan ku kehausan, kelaparan dan kedinginan berada di dalam sana, berhari-hari aku berada di dalam sana, aku mendengar suara tawa wanita lain yang berada di dalam kamar ini, dia mencampakkan ku setelah dia berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi semua wanita, dia mencari wanita lain, yang bisa dia perlakukan layaknya binatang, dia menyiksa ku, dan lihatlah ini" ucap wanita berwajah pucat itu sedih memperlihatkan tangannya yang terluka.
"Kenapa tangan mu?" tanya Gavin.
"Dia menyundut tangan ku dengan rokok, meletakkan setrika panas ke tangan ku, hanya karena sebuah kesalahan kecil yang aku lakukan, kesalahan kecil yang aku lakukan berakhir dengan kekerasan yang harus aku terima dan bukan hanya itu saja, ikut dengan ku" ucap wanita berwajah pucat itu menuju kamar mandi.
Gavin dan Davika pun berjalan mengikuti kepergian wanita itu. Wanita itu menunjuk lantai kamar mandi.
"Ada apa di bawah sana?" tanya Gavin.
"Ada tubuh ku di dalam sana" ucap wanita berwajah pucat itu.
"Apa? tubuh mu?" tanya Gavin kebingungan menatap wanita berwajah pucat itu lalu menatap Davika.
"Iya, ketika aku benar-benar lemas, karena luka di tangan ku yang tidak diobati olehnya, menahan lapar dan haus, dia menarik ku, dan mendorong ku ke dalam sebuah lubang yang sepertinya sudah ia siapkan sedari awal, dia menimpa ku dengan tanah, dan dia juga menimpa ku dengan semen dan keramik" ucap wanita berwajah pucat itu sedih.
"Astagfirullahaladzim" ucap Gavin dan Davika berlinang air mata mendengar cerita wanita itu.
"Aku akan membantu, mengeluarkan mu dari dalam sana, agar kamu bisa pergi dengan tenang" ucap Gavin.
"Benarkah?" tanya wanita berwajah pucat itu.
"Promise" ucap Gavin.
Mendengar hal itu, wanita misterius itu melayang di udara meninggalkan Gavin dan Davika, wanita misterius itu tersenyum sembari membukakan pintu kamar.
"Terima kasih banyak" ucap wanita berwajah pucat itu tersenyum.
"Your welcome" ucap Gavin tersenyum.
"Excuse me sis, may I meet the owner of this hotel one more time" ucap Gavin pada resepsionis.
"Is there another problem sir with the new room?" tanya resepsionis.
"Just call the owner of this hotel, later you will also find out for yourself, what I mean by looking for it" ucap Gavin.
"Okay sir" ucap resepsionis hotel.
"Excuse me sir, there is a visitor who wants to see you again" ucap resepsionis via telepon.
"Ok, I'm there now" ucap pemilik hotel.
"I have called the owner of this hotel, sir, he said, he wants to come here, please help" ucap resepsionis hotel.
"Ok" ucap Gavin.
"Excuse me" ucap pemilik hotel.
Gavin dan Davika menatap seorang pria yang berdiri di depannya.
"It was you who met me yesterday right?" tanya pemilik hotel.
"Yes, that's right" ucap Gavin.
"Is there another problem with the room sir?" tanya pemilik hotel.
"Yes, come with me" ucap Gavin.
"Okay sir" ucap pemilik hotel.
Gavin berjalan menuntun mereka ke kamarnya, setelah sampai di kamar, Gavin membuka pintu kamar mandinya.
"Dismantle that floor" ucap Gavin menunjuk lantai kamar mandinya.
"What is it sir? why did it have to be dismantled?" tanya pemilik hotel kebingungan.
"I was terrorized by a female ghost, and she said if her body was in that hole under the floor, I want you as the owner of the hotel to be responsible for removing the girl's body from there and burying her properly" ucap Gavin.
"But sir..." ucap pemilik hotel.
"Of course you don't want it, if I leak this to the police because you have been so careless that you don't know about this" ucap Gavin.
"Ok sir, we will demolish this floor and get the girl's body out if it's really in there" ucap pemilik hotel.
"Okay" ucap Gavin.
Pemilik hotel menelepon tukang bangunan untuk melakukan pembongkaran pada lantai itu. Setelah dibongkar, mereka dikejutkan oleh penemuan tulang-tulang manusia.
"Astagfirullahaladzim" ucap mereka terkejut melihat tulang-tulang manusia.
"Am I right? bury her properly" ucap Gavin.
"Okay sir, thank you for telling us this, we will also call the police to bring this murder case thoroughly" ucap pemilik hotel.
"Okay" ucap Gavin.
"Pah, kita pindah ke hotel lain aja yuk, terlalu banyak kejadian janggal di dalam hotel ini pah" ucap istrinya ketakutan.
"Tapi kita mau pindah kemana mah?" tanya suaminya.
"Kemana aja pah, asal jangan disini, mamah takut, mamah udah gak mau lagi, kalau kita menginap di hotel ini, atau kita ke bandara saja, pesan tiket pesawat yang terbang di hari ini juga, ayok pah kita ke bandara" ucap Davika menarik Gavin ketakutan.
"Iya mah, ayok kita kemas barang-barang kita" ucap Gavin.
"Iya pah" ucap Davika.
Setelah mengemas seluruh pakaiannya, mereka pun pergi ke bandara dan memesan tiket pesawat yang lepas landas malam itu juga.
"Tenang ya mah, jangan takut lagi, sebentar lagi kita pulang ke Indonesia" ucap suaminya memegang tangan istrinya yang gemetaran.
"Iya pah" ucap Davika menatap ke luar jendela pesawat.