Sarah

Sarah
Mengantarkan Hadiah



"Kan udah aku bilang jangan sekarang kasih tau ke Sarah, kan Sarah jadi pergi, kamu ini ya, gak pernah mau nurut kalau di bilangin sama suami tuh nurut, jangan ngelawan terus, maunya di ngertiin aja tapi gak pernah mau ngertiin orang!" ucap Alderts.


"Kok mas jadi nyalahin aku sih?" tanya Sinta kesal.


"Ya kan emang kamu yang salah, kenapa? gak mau di salahin? mending kita pisah aja deh daripada kamu kayak gini terus, cape tau gak aku kalau kayak gini terus" ucap Alderts meninggalkan Sinta.


Alderts pun memasuki kamarnya dan mengunci Sinta di luar.


"Mas bukain pintunya dong" ucap Sinta mengetuk pintu kamar.


"Kamu tidur aja di luar atau dimana gitu" ucap Alderts.


"Tapi mas... !" ucap Sinta.


"HUST! gak ada tapi-tapian" ucap Alderts.


Sinta pun pergi ke kamar tamu dan tertidur.


Keesokan harinya, Alderts bergegas pergi ke rumah Kinara namun Sinta berusaha menghentikannya.


"Mas mau kemana?" tanya Sinta.


"Ke rumah Kinara" ucap Alderts.


"Mas ngapain lagi sih ke rumah Kinara? Kinara kan udah nikah lagi dan mas juga udah punya aku, buat apalagi mas pergi kesana?, apa aku dan anak kita itu masih cukup dimata kamu mas?, sampai-sampai kamu harus pergi ke rumah Kinara lagi untuk menemuinya, mas ingat!, mas sama Kinara itu udah lama berpisah!, sadar mas sadar!" ucap Sinta.


"Diam kamu!" ucap Alderts.


Alderts pun langsung pergi meninggalkan Sinta dan pergi ke rumah Kinara karena yakin putrinya akan datang ke rumah Kinara.


"Tok...tok...tok. assalamualaikum" ucap Alderts mengetuk pintu rumah Kinara.


Kinara, Sarah, dan Rangga yang sedang sarapan, mendengar ketukan di pintu dan Kinara bergegas membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam" ucap Kinara sambil membukakan pintu rumahnya.


"Kinara, Sarah ada di rumah mu kan?" tanya Alderts.


"Iya, Sarah ada di dalam, kenapa kamu ke sini lagi? kenapa kamu masih berani datang kesini hah? setelah apa yang kamu lakukan pada Sarah kemarin, kamu masih berani menginjakkan kamu ke rumah aku?, untuk apalagi kamu ingin menemui Sarah?, untuk mematahkan hatinya lagi iya?, ayah macam apa kamu ini Alderts?, jangankan disebut sebagai ayah, diakui sebagai manusia saja sepertinya tidak pantas untuk orang seperti kamu itu, kamu manusia atau binatang Alderts?, kamu bukan hanya mengkhianati aku, membunuh nyawa orang yang tidak bersalah hanya demi harta kekayaan, dan kamu juga ingin merenggut kebahagiaan putri kamu sendiri?, manusia macam apa kamu Alderts hm" ucap Kinara sinis memalingkan wajahnya dari Alderts.


"Aku hanya ingin Sarah tahu hubungan ku dengan Sinta, dan kamu juga mengkhianati ku Kinara, jangan bersikap seolah-olah hanya aku yang berkhianat tetapi kamu tidak, karena aku dan kamu tidak jauh berbeda Kinara" ucap Alderts.


"Apa? tidak jauh berbeda kamu bilang?, Rangga lebih memiliki hati nurani dan menyayangi Sarah walaupun Sarah bukan anak kandungnya, tetapi kamu, apa yang kamu berikan ke Sarah hah?, luka?, tepat di hari ulang tahun Sarah juga mas? iya? begitu yang kamu mau hah?, kebahagiaan apa yang kamu maksud?, jika di hari ulangtahun anak mu saja kamu berani mematahkan hatinya, banyak waktu luang kenapa kamu hancurkan hati Sarah tepat di pesta ulangtahun Sarah, dan kamu mengatakan jika kita sama?, setidaknya aku membahagiakan Sarah, mengobati lukanya setelah aku mematahkannya, tetapi kamu?, apa yang kamu lakukan mas?, kamu menyebut dirimu itu seorang ayah? iya?, ayah macam apa yang kamu maksud Alderts?" tanya Kinara sinis.


Alderts hanya diam mematung, tidak mengatakan sepatah kata pun.


"Kamu dan aku tidak jauh berbeda, paham!" ucap Alderts mendorong Kinara.


"Aku memilih Rangga karena suatu alasan, bersama Rangga, putriku Sarah bisa merasakan seperti apa dunia luar, dia bisa sekolah, punya teman juga, dan karena kamu, karena keegoisanmu itu, putriku mendapat banyak hinaan karena perbedaan usia yang jauh dibandingkan dengan siswa lainnya, aku memilih Rangga karena dengan dia, putriku bisa merasakan kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa dia dapatkan lagi darimu, jika tahu seperti ini akhirnya, aku tidak akan pernah mau pindah ke Jakarta mas, aku akan tetap memilih supaya kita tetap tinggal di Amsterdam dan hidup bahagia disana, jika tahu pekerjaan mu di Jakarta adalah pekerjaan yang kotor" ucap Kinara meneteskan air matanya.


Alderts yang mendengarnya hanya berdiri diam dan tidak mengatakan apa-apa.


"Lebih baik sekarang kamu pergi!, aku bilang pergi dari sini!, kamu sudah banyak menyakiti hati Sarah" ucap Kinara dengan berlinang air mata.


"Oke saya akan pergi dari sini, saya hanya ingin memberikan hadiah ulang tahun Sarah kemarin, semoga anda mau menerimanya, maaf, assalamualaikum" ucap Alderts memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menurunkan seluruh hadiah di mobilnya ke dalam rumah Kinara.


"Wa'alaikumsalam" ucap Kinara.


Alderts pergi dengan meneteskan air matanya, menyesali semua apa yang dilakukannya kemarin.


"Sayang, siapa yang datang bertamu barusan?, mengapa ada banyak hadiah?" tanya Rangga.


"Alderts, dia ingin bertemu Sarah, tapi aku mengusirnya, karena aku tidak ingin Sarah bertemu dengannya lagi, dan dia mengantarkan semua hadiah ulangtahun Sarah" ucap Kinara.


"Ya sudah, mamah masuk aja, biar hadiah-hadiah ini papah yang bawa masuk" ucap Rangga.


"Iya pah" ucap Kinara pergi meninggalkan Rangga.


Rangga membawa masuk semua hadiah yang Sarah dapatkan dari tamu undangannya.


"Mah, siapa yang datang tadi?" tanya Sarah.


"Orang yang mau menawarkan produk panci sayang" ucap Kinara.


"Mamah bohong sama Sarah, tidak mungkin tadi itu orang yang menawarkan produk panci, terus hadiah itu orang itu yang kasih? itu gak mungkin mah, pasti tadi yang datang itu papah kan mah?" tanya Sarah.


"Iya Sarah, tadi papah mu yang datang, tapi mamah mengusirnya" ucap Kinara.


"Bagus deh mah, aku gak mau ketemu papah Alderts lagi" ucap Sarah.


"Sarah jangan gitu nak, biar bagaimanapun juga kan dia papah kandung kamu" ucap Rangga menghampirinya.


"Iya pah" ucap Sarah.


"Mah, pah, Sarah pergi ke sekolah dulu ya, assalamualaikum" ucap Sarah sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya.


"Iya sayang, wa'alaikumsalam, hati-hati ya sayang" ucap Kinara tersenyum.


"Iya mah" kata Sarah sambil tersenyum.