
''Kenapa ada tulisan ''RUMAH INI DISITA PIHAK BANK'' sih? lalu dimana Shivanya tinggal saat ini?'' tanya Aji saat melewati rumah Shivanya.
''Aji'' ucap Shivanya dari belakang dan langsung memeluknya.
''Shivanya" ucap Aji yang melepaskan tangan Shivanya dan berbalik badan.
''Hei kenapa kamu menangis kenapa?'' tanya Aji menyeka air mata di pipi Shivanya.
''Kangen mas Aji'' ucap Shivanya sedih.
"Aku juga kangen sama kamu dek" ucap Aji memeluknya.
''Astagfirullahaladzim, ini anak kan masih kecil tapi sudah seperti orang dewasa saja yang di mabuk cinta'' ucap Lia menepuk dahinya.
''Shiv, kenapa ada tulisan ini di depan rumah kamu?'' tanya Aji melepaskan pelukannya.
"Iya, rumah aku disita mas" ucap Shivanya.
''Jadi dimana kamu tinggal sekarang?" tanya Aji.
''Ikut aku'' ucap Shivanya memegang tangan Aji dan mengajaknya untuk pergi.
''Mas, ini rumahku, ayo masuk" ucap Shivanya menarik tangan Aji.
"Iya" ucap Aji berjalan mengikutinya.
''Assalamualaikum'' ucap Shivanya dan Aji mencium punggung tangan orang tuanya saat mereka membuka pintu.
''Wa'alaikumsalam Aji, ayok masuk nak" ucap ibu Shivanya tersenyum.
''Iya tante terima kasih" ucap Aji tersenyum.
''Sebentar ya tante belikan minum dulu gak ada minum soalnya kita baru pindah rumah" ucap ibu Shivanya tersenyum.
''Iya tante gak apa-apa kok, maaf tante kalau boleh Aji tahu kenapa rumah lama tante disita pihak bank ya?" tanya Aji.
"Hm, perusahaan ayah Shivanya bangkrut Aji, ayah Shivanya memiliki pinjaman di bank untuk membayar gaji karyawan dan ayah Shivanya tidak dapat melunasi hutangnya, sehingga bank menyita perusahaan, rumah, dan perabotan lainnya termasuk mobil kami" ucap ibu Shivanya sedih.
''Maaf tante jika Aji lancang bertanya seperti itu" ucap Aji.
"Iya sayang tidak apa-apa kok" ucap ibu Shivanya tersenyum.
''Iya tante" ucap Aji tersenyum.
"Oh iya Aji kamu mau minum apa?" tanya ibu Shivanya.
''Apa aja deh tante" ucap Aji tersenyum.
''Tante minumannya sudah habis, Aji pamit karena Aji ada acara keluarga" ucap Aji.
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya" ucap ibu Shivanya tersenyum.
"Iya tante, assalamualaikum" ucap Aji mencium punggung tangan ibu Shivanya.
''Wa'alaikumsalam" ucap ibu Shivanya tersenyum.
"Shiv, gw balik ya assalamualaikum" ucap Aji tersenyum pada Shivanya.
"Iya mas wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan ya mas" ucap Shivanya.
"Iya" ucap Aji tersenyum.
Sinta, Callista, dan Altezza yang tidak sengaja melintas pun melihat Shivanya.
"Eh Ca liat deh, itu bukannya Shivanya ya?" tanya Sinta.
"Lah iya itu si Shivanya, ngapain dia ya disitu?" tanya Callista.
"Entahlah, gw juga gak tau dia ngapain disitu" ucap Sinta.
"Rumah barunya kali" timpal Altezza.
"Rumah baru? rumah baru seharusnya lebih mewah dari rumah sebelumnya iya gak sih?" tanya Callista.
"Nah iya tuh bener'' ucap Sinta.
"Rumah itu lebih gak banget dari rumah dia sebelumnya yang ya lumayan mewah sih gw akuin" ucap Callista.
"Apa jangan-jangan dia jatuh miskin?" tanya Sinta.
"Hm, bisa jadi sih" ucap Callista.
"Eh eh foto deh buat jadi bahan gosipan besok dikelas" ucap Sinta.
"Bener juga lu, tumben lu pinter" ucap Callista.
"Dih gw emang pinter, lu kali yang bloon" ucap Sinta.
"Kurang ajar lu ya" ucap Callista kesal menunjuk Sinta.
"Santai dong gak usah nunjuk-nunjuk begitu, keren banget emang lu hah? b aja juga sombong banget" ucap Sinta.
"Sini lu" ucap Callista menjambak rambut Sinta.
Sinta yang tak terima pun membalas perbuatan Callista.
"Udah udah kenapa jadi pada ribut sih" ucap Altezza.
Callista dan Sinta hanya menatap Altezza dengan perasaan kesalnya.
"Gara-gara dia" ucap Callista dan Sinta kompak menunjuk satu sama lain dengan perasaan kesal.
"Ca balik yuk udah sore nih nanti dicariin sama mamah lagi" ucap Altezza.
"Awas lu ya" ucap Callista menunjuk Sinta dengan mata melotot.
"Gw demen tuh mata copot" ucap Sinta smirk.
Callista yang tak terima dengan ucapan Sinta pun ingin membalasnya namun ditarik oleh Altezza.
"Ca udah akh gak usah diperpanjang lagi, balik aja yuk" ucap Altezza.
"Ya udah ayok balik" ucap Callista menatap Sinta dengan mata sinisnya.
Callista dan Altezza pun pulang ke rumahnya ternyata Callista dan Altezza adalah anak kembar dari pasangan Shivanya Ayuningtyas adik Fredericka Nerissa dan almarhum Azeer Alvarendra.
"Assalamualaikum mah Callista sama Altezza pulang" ucap Callista.
"Wa'alaikumsalam, kamu kenapa Ca? kok kayak lagi kesel gitu sih mukanya" ucap ibunya.
"Gak apa-apa kok mah" ucap Callista tersenyum kecil.
"Rese banget lu ya" ucap Callista kesal menjambak rambut Altezza.
"Callista jangan kayak gitu sama Altezza, ingat Altezza itu kakak kamu" ucap ibunya.
"Kakak beda menit aja juga" ucap Callista pelan.
"Callista" ucap ibunya bernada tinggi.
Callista yang kesal langsung pergi dari sana meninggalkan Altezza dan ibunya.
"Callista mau kemana kamu? mamah belum selesai ngomong" ucap ibunya.
Callista hanya menengok sesaat lalu kembali berjalan.
"Udah mah biarin aja mungkin Callista lagi cape aja" ucap Altezza.
"Hm iya" ucap ibunya.
Altezza pun tersenyum diikuti oleh ibunya.
"Sekarang kamu mandi ya ganti baju habis itu makan, ajak adik kamu Callista makan sekalian" ucap ibunya tersenyum mengelus pucuk kepala Altezza.
"Iya mah" ucap Altezza tersenyum meninggalkan ibunya.
"Mas, andai kamu tahu jika Callista anak kedua kita tumbuh seperti kamu yang menyebalkan itu, walaupun kamu dan Callista sama menyebalkannya tapi aku tetap mencintai kalian, aku kangen banget mas sama kamu, seandainya aja, aku bisa melihat mu satu menit saja untuk meredakan sesaat rasa rinduku padamu" ucap Shivanya sedih merindukan almarhum suaminya Azeer menatap ke langit.
"Habis makan aku mau ke pemakaman kamu mas sama anak-anak kita" ucap Shivanya tersenyum dengan tatapan mata sendu.
"Mamah kenapa?" tanya Altezza yang tiba-tiba datang menghampiri Shivanya.
"Gak apa-apa kok sayang" ucap Shivanya tersenyum.
"Beneran gak apa-apa mah?" tanya Altezza.
"Iya sayang" ucap Shivanya tersenyum mengelus pucuk kepala Altezza.
Altezza hanya tersenyum dengan tatapan mata bingung sat menatap ibunya.
"Sekarang kita makan yuk sayang" ucap Shivanya.
"Iya mah" ucap Altezza tersenyum.
''Adik kamu kemana sayang?'' tanya Shivanya.
"Masih di kamarnya kali mah" ucap Altezza.
Callista sedang menangis didalam kamarnya karena dimarahi oleh ibunya tadi dan belum mandi.
"Ayok kita ke kamarnya" ucap Shivanya.
"Iya mah" ucap Altezza.
Shivanya mengetuk pintu kamar Callista dan memanggilnya namun tidak ada jawaban dari Callista.
"Callista buka pintunya nak" ucap Shivanya.
"Masuk aja kali mah" ucap Altezza.
Shivanya pun membuka pintu kamar Callista.
Shivanya yang melihat putrinya menangis pun segera berlari menghampirinya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya ibunya.
Callista hanya terdiam mematung menatap ibunya dengan air mata yang terus mengalir. Shivanya menghapus air mata putrinya dan memeluknya.
"Sayang maafin mamah" ucap Shivanya memeluknya mengelus pucuk kepala anaknya.
"Iya mah" ucap Callista.
"Sekarang kita makan ya sayang" ucap Shivanya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Callista.
"Tapi aku belum mandi mah" ucap Callista.
"Mandinya nanti saja, sekarang kita makan dulu, ayok" ucap Shivanya membantu Callista
bangun dari tempat tidurnya.
"Iya mah" ucap Callista.
Di tengah makan siang mereka Shivanya membuka pembicaraan.
"Sayang habis makan kita ke makam papah yuk" ucap Shivanya.
"Iya mah" ucap Altezza dan Callista kompak.
"Mah aku mandi dulu atau mandinya nanti aja pulang dari makam papah?" tanya Callista.
"Kita ke makam papah aja dulu ya sayang, kamu ganti baju aja" ucap Shivanya tersenyum.
"Iya mah" ucap Callista.
Shivanya dan anak-anaknya pergi ke pemakaman Azeer.
"Assalamualaikum pah, ku datang bersama anak-anak kita, Altezza dan Callista" ucap Shivanya mengelus batu nisan suaminya.
"Papah" ucap Altezza dan Callista kompak memeluk makam Azeer.
Mereka pun membacakan doa-doa untuk almarhum Azeer. Setelah membaca surat Yasin dan doa lain mereka berpamitan pada almarhum Azeer untuk pulang ke mereka.
"Mas, aku, Callista dan Altezza pulang dulu ya, assalamualaikum, semoga mas bahagia diatas sana" ucap Shivanya tersenyum menatap langit menahan tangisnya.
"Aamiin" ucap Altezza dan Callista kompak.
"Ayok sayang kita pulang pamitan dulu sama papah" ucap Shivanya pada kedua anaknya.
"Iya mah" ucap Callista.
"Papah, Callista pulang ya assalamualaikum " ucap Callista memeluk makam ayahnya dan mengelus batu nisan ayahnya.
"Wa'alaikumsalam" ucap Shivanya menjawab salam Callista.
"Pah, Altezza pulang ya assalamualaikum" ucap Altezza.
"Wa'alaikumsalam" ucap Shivanya.
Azeer yang berdiri disampingnya melihat dan tersenyum tetapi dengan raut wajah sedih yang tidak bisa ia tutupi. Azeer melambaikan tangan kepada istri dan anak-anaknya namun istri dan anak-anaknya tidak bisa melihat keberadaan Azeer disana.