
"Lisa, Eja, kalian dengar kan apa kata tante kalian?, mamah gak mau lagi ya liat kalian menyakiti Shivanya Nerissa" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.
"Ya sudah sekarang kita ke rumah sakit untuk melihat kondisi Shivanya" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.
"Mah, pah, aku sama Lisa dan Eja mau ke rumah sakit dulu ya, mamah sama papah mau ikut atau dirumah saja?" tanya Shivanya Ayuningtyas.
"Mamah sama papah ikut nak, mamah ingin melihat bagaimana wajah gadis kecil hasil reinkarnasi dari kakak mu Fredericka itu" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Ayok sayang" ucap Shivanya Ayuningtyas membantu anak-anaknya berdiri.
"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.
"Shivanya bangunlah Shivanya, ini aku Frederika Nerissa, bangunlah sayang" ucap Fredericka memegang Shivanya Nerissa yang tengah terbaring kaku dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
Setelah disentuh oleh Fredericka Nerissa tiga kali, jari-jarinya mulai ada pergerakan, dan perlahan matanya mulai terbuka.
"AKH!" ucap Shivanya memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Bagaimana keadaan mu Shivanya Nerissa?" tanya Fredericka.
"Aku ada dimana kak?, kakak siapa?, Shivanya Nerissa? apa namaku Shivanya Nerissa kak?" tanya Shivanya menatap Fredericka kebingungan dan masih memegangi kepalanya.
"Kamu ada di rumah sakit, karena beberapa hari yang lalu kamu tertabrak oleh mobil, dan nama kamu adalah Shivanya Nerissa, apakah kamu ingat?" tanya Fredericka.
Shivanya terdiam sejenak dan mengatakan "aku tidak ingat apapun kak, aku tidak ingat siapa namaku, bahkan aku juga tida ingat dengan kakak, apa kita pernah bertemu sebelumnya kak?" tanya Shivanya menatap Fredericka.
"Kamu adalah aku dan aku adalah kamu Shivanya Nerissa" ucap Fredericka tersenyum.
"Apa maksud kakak?, aku tidak mengerti apa maksud kakak" ucap Shivanya.
"Sudahlah, lupakan saja, ketika kamu dewasa kelak pasti kamu akan mengerti apa maksud dari perkataan ku, dan kamu pasti akan bisa menerima semuanya" ucap Fredericka tersenyum.
"Iya kak, nama kakak siapa?" tanya Shivanya.
"Nama kakak itu Fredericka Nerissa sayang" ucap Fredericka tersenyum.
"Aku... !, akh sudahlah aku tidak ingat siapa nama ku, apa aku boleh memanggil kakak dengan sebutan kak Ika?" tanya Shivanya.
"Iya sayang" ucap Fredericka tersenyum.
"Shivanya?, kamu udah sadar sayang?" tanya Shivanya Ayuningtyas membuka pintu kamar Shivanya Nerissa dan melihatnya tengah berbicara dengan seseorang.
"Kakak siapa?" tanya Shivanya Nerissa.
"Kakak ibu dari anak yang kamu tolong sayang, kakak ibu dari Callista dan Altezza, teman-teman sekolah mu sayang" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa yang tengah menatap kebingungan.
"Kak Ika, apa kak Ika mengenal mereka?" tanya Shivanya menoleh ke arah Fredericka yang tadi berada disampingnya namun menghilang seketika.
"Kak Ika?, kamu mengenalnya Shivanya?" tanya Shivanya Ayuningtyas.
"Aku tidak tahu, apakah sebelumnya aku mengenalnya atau tidak, nama ku sendiri saja aku tidak ingat, tetapi tadi dia mengatakan jika namanya itu Fredericka Nerissa" ucap Shivanya Nerissa.
Shivanya Ayuningtyas yang mendengarnya pun sontak terkejut dan menatap orangtuanya.
"Ternyata kak Ika benar-benar menepati janjinya untuk menyelamatkan nyawa Shivanya hasil dari reinkarnasinya" batin Shivanya Ayuningtyas.
"Kakak kenapa?" tanya Shivanya Nerissa saat melihat Shivanya Ayuningtyas terdiam.
"Gak apa-apa kok sayang, biar kakak panggilkan dokter dulu ya sayang untuk memeriksa kondisi kamu" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa.
"Iya kak" ucap Shivanya Nerissa.
"Iya Shivanya, aku minta maaf ya sama kamu" ucap Callista memegang tangan Shivanya.
"Iya, walaupun aku tidak ingat kejahatan apa yang kalian lakukan padaku, tapi aku sudah memaafkan kalian" ucap Shivanya.
"Dokter, kenapa Shivanya jadi lupa akan segala hal ya?, dia bahkan lupa dengan namanya sendiri" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Benturan di kepalanya sangat keras, itulah yang membuat ingatannya menghilang, dia begitu kuat, karena dia masih sangat kecil tapi mampu berjuang melawan mautnya, orang dewasa saja tidak mungkin kuat jika mengalami benturan sekeras dia, lihatlah, beberapa tulang kepalanya bergeser" ucap dokter memperlihatkan hasil ronsen kepala Shivanya.
"Terima kasih kak Ika, karena kamu telah menyelamatkan nyawa Shivanya Nerissa" batin Shivanya Ayuni dan ia pun tersenyum.
Shivanya Nerissa yang melihat Shivanya Ayuningtyas tersenyum pun sontak menatap kebingungan.
"Jangan terlalu dipaksakan, karena usianya masih sangat muda, biarkan ingatannya pulih dengan sendirinya" ucap dokter.
"Baik dokter" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum.
"Saya permisi, jika ada apa-apa dengan pasien, cepat panggil saya, agar pasien bisa secepatnya mendapatkan penanganan" ucap dokter.
"Baik dokter" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum.
"Kakak aku haus" ucap Shivanya Nerissa.
"Iya sayang, sebentar ya, kakak belikan kamu air minum dulu" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa.
"Iya kak" ucap Shivanya Nerissa.
Shivanya Ayuningtyas pun berlari untuk segera membawakan minuman untuk Shivanya Nerissa.
Shivanya Nerissa menatap sekelilingnya kebingungan mencari keberadaan Fredericka yang menghilang begitu cepat dari sisinya.
"Kamu cari apa nak?" tanya ibu Shivanya Ayuningtyas.
"Cari kak Ika tante" ucap Shivanya Nerissa.
Mendengar perkataan Shivanya Nerissa, sepertinya ia tidak mengetahui, jika Fredericka Nerissa hanyalah arwah dan bukanlah manusia lagi, karena ia telah lama meninggal dunia.
"Fredericka ada hanya untuk menjaga kamu Shivanya" ucap ibu Shivanya Ayuningtyas mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa.
"Maksudnya apa tante?, aku gak paham" ucap Shivanya Nerissa menatap dengan wajah polosnya.
"Belum saatnya kamu mengetahui akan hal ini Shivanya, beristirahatlah sembari menunggu air minum itu datang" ucap ibu Shivanya Ayuningtyas tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa.
"Iya tante" ucap Shivanya Nerissa.
"Shivanya, ini minumnya sayang" ucap Shivanya Ayuningtyas yang datang dan langsung membantu Shivanya Nerissa untuk minum air yang ia bawa.
Shivanya Nerissa menarik tangan Shivanya Ayuningtyas yang menandakan bahwa minumnya sudah cukup.
"Kamu lapar gak sayang?, ini kakak bawain kamu makanan, makan dulu ya sayang, habis itu kamu bobo, istirahat, biar cepat sembuh, buka mulutnya sayang, aaaa...." ucap Shivanya Ayuningtyas menyuap sesendok makanan ke depan mulut Shivanya Nerissa.
Setelah menghabiskan seluruh makanannya Shivanya Nerissa langsung menguap.
"Kamu ngantuk sayang?" tanya Shivanya Ayuningtyas tertawa kecil.
"Iya, habis makan itu, mengapa aku jadi mengantuk?" tanya Shivanya Nerissa dengan wajah polosnya.
"Ya udah kamu tidur aja, harus banyak istirahat, biar cepat sembuh" ucap Shivanya Ayuningtyas mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa.
"Iya kak" ucap Shivanya Nerissa tersenyum memegangi tangan Shivanya Ayuningtyas.
Keduanya tampak sangat akrab seperti sudah mengenal lama padahal baru hari itu mereka bertemu, definisi hasil reinkarnasi akan langsung dekat dengan keluarganya.
Shivanya Ayuningtyas tersenyum dan sebelah tangannya mengelus pucuk kepala Shivanya Nerissa yang tengah tertidur sembari mengisap dan menggigiti jarinya sendiri.