Sarah

Sarah
Berbincang-bincang



Shivanya Ayuningtyas yang tidak tahu jika Rissa telah pulang ke rumah beberapa jam yang lalu pun menjenguknya ke rumah sakit.


"Lho! Rissa kok gak ada?" tanya Shivanya menunjuk kamar perawatan Rissa yang telah kosong.


Shivanya berlari memeriksa kamar mandi namun tidak menemukannya.


"Di kamar mandi juga gak ada, kemana lagi tuh anak? coba aku tanya suster aja deh, kali aja ada yang lihat" ucap Shivanya keluar kamar.


"Suster lihat pasien yang dirawat di kamar itu gak?" tanya Shivanya menunjuk kamar perawatan Rissa.


"Pasien itu baru saja pulang beberapa jam yang lalu" jawab suster.


"Pulang? oh ya udah makasih ya suster" ucap Shivanya yang langsung pergi.


"Iya" ucap suster itu yang kembali melanjutkan langkahnya memeriksa kondisi kesehatan pasien lain.


Shivanya keluar dari rumah sakit dan menuju ke kediaman Rissa.


"Assalamualaikum, Rissa" ucap Shivanya mengetuk pintu rumah Rissa.


Rissa yang tengah tertidur dan mas Amir yang tengah menggunakan earphone memutar lagu dengan volume full pun tidak mendengar suara ketukan pintu.


"Assalamualaikum" ucap Shivanya mengetuk pintu rumah Rissa.


"Haduh kebelet lagi" ucap mas Amir melepaskan earphone yang ia pakai dan menggeser Rissa perlahan.


"Assalamualaikum, Rissa" ucap Shivanya yang kembali mengetuk pintu rumah Rissa.


"Haduh siapa lagi? kebelet banget gw, bukain dulu lah gak enak sama tamu" ucap mas Amir berlari membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam, eh tante, ayok masuk tante" ucap mas Amir.


"Iya" ucap Shivanya masuk ke dalam rumah Rissa.


"Duduk tante" pinta mas Amir.


"Iya makasih Amir, hm Rissa kemana?"


"Rissa tidur tante, pe lor banget dia, nempel langsung molor"


"Ya sudah biarkan dia istirahat saja kan dia juga baru pulang dari rumah sakit, pasti dia kangen kasurnya sendiri deh, ya kan senyaman-nyamannya kasur rumah sakit jauh lebih nyaman kasur sendiri, iya kan?" tanya Shivanya tersenyum.


"Iya sih tante" jawab mas Amir tersipu malu menundukkan kepala dan menggaruk kepalanya.


Shivanya melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan orangtua Rissa.


"Oh iya, orangtuanya Rissa belum pulang juga?"


"Belum tante, tadi Amir dobrak pintunya biar kita bisa masuk ke dalam, tapi udah dibenerin kok pintunya sama tukang, emang orangtua Rissa kemana tante? tante tahu kemana perginya orangtua Rissa?"


"Dobrak?"


"Iya tante" jawab mas Amir tersipu malu menundukkan kepalanya.


"Kuat juga ya kamu bisa dobrak pintu"


"Hehehe iya tante, oh iya, apa tante tahu atau udah dapat kabar gitu dari tetangga sini mengenai keluarganya Rissa?"


"Enggak tahu Amir, tetangga sekitar sih cuma bilang kalau semenjak Rissa di rawat di rumah sakit, orangtua Rissa pergi tapi gak bilang apapun, perginya juga katanya diam-diam gitu, tante juga gak tahu orangtua Rissa kemana"


"Hm kemana ya tante? aku tanya ibuku di kampung juga katanya orangtua Rissa gak ada di kampung, terus mereka kemana dong? kasian Rissa sendirian, ya gak sendirian juga sih, kan ada aku sama Aji lah kalau dia mau datang kesini"


"Iya Amir, tante juga kasian sama Rissa, Rissa kan masih kecil, masa ditinggal gitu aja sih sama orangtuanya"


"Iya tante"


"Iya tante"


"Untuk sekolah Rissa, saya sudah daftarkan dia secara online, kamu gak usah daftarkan dia lagi, nanti saya kabarin lagi ke kamu, dia keterima di sekolah mana, tapi untuk sekolahnya biar saya bantu kamu, biar kamu juga gak terlalu repot gitu, kamu kan juga sudah menjaga Rissa, jadi biar sekolah Rissa itu tanggung jawab saya sampai orangtuanya Rissa kembali, hm kamu gak sekolah Amir?"


"Aku lagi libur tante, ya mungkin nanti aku pindah sekolah ke Jakarta aja, biar bisa sekalian nungguin Rissa"


"Kamu umur berapa Amir?"


"Tiga belas tante"


"Hah? tiga belas? tapi badan kamu sangat tinggi, tante kira kamu udah umur tujuh belas ke atas, gak tahunya masih tiga belas tahun?"


"Hehe iya tante"


"Kamu makan apa Amir? sampai bisa setinggi orang dewasa begitu"


"Makan nasi tante" jawab mas Amir tersenyum kecil menganggukkan kepala.


"Untung dokternya gak tahu kalau kamu juga masih anak dibawah umur"


"Iya tante, dokternya gak nanya apa-apa sih tadi"


"Ya mungkin dokternya juga mikir kamu udah tujuh belas ke atas, makanya ga ditanya apapun, kalau ditanya mungkin Rissa gak bisa pulang kali ya? biasanya kan yang ngurus harus orang dewasa bukan anak dibawah umur"


"Iya tante, alhamdulilah sih, dokternya gak tahu kalau aku masih tiga belas tahun" ucap mas Amir tersipu malu.


"Kamu ke Jakarta sendirian Amir?"


"Iya tante, soalnya ayah ku sibuk kerja, ibu ku juga nungguin adik-adik ku, aku juga punya adik cowok seumuran Rissa, sama adik cewek masih bayi" ucap mas Amir tersenyum.


"Oh gitu, tapi orangtua kamu gak marah kalau ke Jakarta sendirian Amir?"


"Enggak kok tante, karena mungkin mereka mikirin Rissa kali takut sendirian di Jakarta, dan ya tahunya beneran, Rissa emang sendirian di Jakarta"


"Kamu berani juga ya Amir, masih kecil tapi udah pergi-pergian jauh kayak gitu, emang gak takut sama penjahat? sekarang rawan lho kejahatan, apalagi kan kamu juga masih kecil"


"Enggak tante, ngapain takut, kan sama-sama manusia, lagipula takdir kita kan sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wata'ala, aku yakin kok, niat baik pasti akan dipermudah, ya niat ku ke Jakarta kan buat jenguk Rissa, ya aku yakin kalau Allah pasti akan selalu melindungi aku, jadi untuk apa takut sama penjahat? takdir kan udah ditentukan" jawab mas Amir tersenyum.


"Kamu benar-benar sangat dewasa Amir, pemikiran kamu seperti orang dewasa, pemikiran kamu itu jauh lebih dewasa daripada umur kamu" ucap Shivanya tersenyum.


"Makasih tante" ucap mas Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Sama-sama Amir, ya sudah saya pamit pulang ya Amir, nanti kalau Rissa udah bangun titip salam ya, bilangin tadi tante kesini" ucap Shivanya tersenyum menganggukkan kepala.


"Siap tante" jawab mas Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Assalamualaikum" ucap Shivanya tersenyum dan berjalan pergi.


"Wa'alaikumsalam" ucap mas Amir tersenyum.


Mas Amir langsung menutup pintunya dan berlari ke kamar mandi karena sudah lama menahan kebelet.


"Akh lega" ucap mas Amir keluar dari dalam kamar mandi dan kembali ke dalam kamar.


Nampak Rissa yang tidur seperti ular melingkar di atas pohon.


"Hm ini anak tidur melingkar gitu, kebiasaan deh, yah hp gw" ucap mas Amir menarik handphone dan earphone miliknya yang tertindih tangan Rissa.


Mas Amir membawa handphone dan earphone miliknya ke depan dan tidur di bangku ruang tamu karena kasur dipenuhi oleh Rissa yang tidur melingkar. Mas Amir memutar musik dan tertidur.