Sarah

Sarah
Hancurnya Hati Shivanya Ayuningtyas



"AKH!" ucap Callista saat terjatuh.


"Dek ayok bangun cepetan!" ucap Altezza menarik tangan Callista.


"Gak bisa mas, sakit tahu!" ucap Callista.


"Ayok bangun akh cepetan!" ucap Altezza menarik tangan Callista.


"Aaarrgh!, sakiit maas!" ucap Callista memegangi kakinya.


Altezza memapah adiknya dan pergi dari sana.


"Assalamualaikum mah" ucap Altezza ketika sampai di depan rumahnya.


"Wa'alaikumsalam" ucap ibunya membukakan pintu.


"Kamu kenapa Callista?" tanya ibunya.


"Ayok kita masuk dulu" ucap ibunya yang langsung membantunya.


Shivanya Ayuningtyas menuntun Callista ke dalam kamarnya.


"Sebentar ya sayang, mamah ambilkan minum dulu sama minyak urut untuk kaki kamu, pasti kamu habis jatuh kan?, makanya terkilir begitu" ucap ibunya.


"Iya mah" ucap Callista memegangi kakinya.


Shivanya pergi meninggalkan Callista dan Altezza.


"Ini sayang diminum dulu, Eja ini kamu juga minum dulu sayang, pasti kamu cape kan?" tanya ibunya.


"Iya mah" ucap Altezza mengambil segelas air yang Shivanya bawa.


"Kakinya diluruskan sayang, sini mamah urut perlahan, biar kaki kamu balik lagi" ucap Shivanya menarik perlahan kaki Callista.


"Iya mah" ucap Callista.


"Tahan ya sayang" ucap Shivanya mengelus pucuk kepala Callista.


"Iya mah" ucap Callista.


"Aaarrgh mah, sakiit mah" rintih Callista kesakitan.


"Tahan sayang" ucap ibunya.


"Aaarrgh sakiit!" rintih Callista.


"Coba kamu berdiri terus buat jalan pelan-pelan kakinya" ucap ibunya.


"Iya mah" ucap Callista.


Shivanya menuntun perlahan Callista.


"Gimana sayang?" tanya ibunya.


"Udah enakan sih mah" ucap Callista.


"Ya udah kamu istirahat ya, Eja kamu juga istirahat aja dulu di kasur Callista kan masih muat tuh, biar mamah ambilkan makanan untuk kalian" ucap ibunya menepuk pundak Callista dan Altezza bergantian.


"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.


"Mas, itu siapa?, kok kayak muka papah di foto yang pernah mamah tunjukkan ke kita ya?" tanya Callista berbisik pada Altezza.


"Iya dek, kok kayak muka papah di foto ya?, tapi kata mamah kan, papah udah meninggal dunia, mamah juga sering ajak kita ke makamnya, masa itu papah sih dek?" tanya Altezza berbisik pada Callista.


"Tapi mirip papah mas" ucap Callista.


"Iya sih dek" ucap Altezza.


"Coba panggil mas, tanyain, dia papah atau bukan" ucap Callista.


"Kamu yakin dek?" tanya Altezza.


"Iya mas, aku yakin, atau aku aja yang tanya ke papah?" tanya Callista.


"AKH! mas cemen akh, masa gitu aja takut sih? payah!" ucap Callista.


"HEHE!, ya udah tanyain coba dek, keburu pergi nanti orangnya" ucap Altezza.


"Iya mas" ucap Callista.


"Papah?, bapak papah kita kan?, papah Azeer?" tanya Callista menatap seorang pria yang berdiri di depan pintunya.


Pria itu mendekati Callista dan Altezza.


"Dek, kok dia malah deketin kita sih?, itu papah apa bukan sih dek?" tanya Altezza ketakutan.


"Mana aku tahu mas, dia aku tanyain aja gak dijawab mas" ucap Callista.


"Jangan takut nak!, aku ini ayah kalian" ucap Azeer dengan tatapan mata sendu.


"Tapi papah kan udah gak ada, papah udah meninggal dunia, kenapa papah ada disini?" tanya Callista ketakutan.


Azeer mengelus pucuk kepala Callista dan Altezza dan mencium keningnya secara bergantian, nampak sekali ekspresi wajah Callista dan Altezza yang ketakutan namun mereka tidak bisa menghindar.


"Mamah!" teriak Callista dan Altezza kompak.


"Ada apa sayang?, kok kalian kayak orang ketakutan gitu sih?" tanya ibunya.


"Mamah!" ucap Callista dan Altezza kompak berlari ketakutan memeluk ibunya.


"Kalian kenapa sayang?" tanya Shivanya.


"Ayok kita ke kasur kamu lagi" ucap Shivanya.


Callista dan Altezza berjalan disamping ibunya dengan memegangi baju ibunya menatap sekitar ketakutan.


"Kalian kenapa nak?" tanya ibunya.


"Mah, tadi ada papah" ucap Callista menatap sekitar ketakutan.


"Papah?, kamu kangen ya sama papah kamu?, ya udah nanti habis kalian makan, kita ke makam papah" ucap Shivanya tersenyum menatap bergantian Callista dan alternatif serta mengelus pucuk kepala mereka.


"Bukan gitu mah maksud Callista, tadi beneran ada papah di kamar ini mah" ucap Callista ketakutan menatap sekelilingnya.


"Ada-ada saja kamu ini, tidak mungkin papah kalian ada di dalam kamar ini, papah kalian kan sudah lama meninggal dunia sayang" ucap Callista.


"Mah Callista gak bohong, tadi itu beneran ada papah mah, kalau gak percaya tanya aja sama bang Eja" ucap Callista.


"Apa benar kata adikmu?" tanya Shivanya menatap Altezza.


"Iya mah, tadi papah peluk kita, mengusap kepala kita, mencium kening kita, tapi tatapan matanya sedih gitu mah, kayak orang mau nangis gitu" ucap Altezza.


Shivanya yang mendengar pun seketika berubah. Shivanya langsung menunduk dengan ekspresi wajah sedih berlinang air mata. Shivanya teringat akan masa lalunya bersama almarhum suaminya Azeer. Azeer adalah sosok suami yang sangat manja, kekanak-kanakan baginya, namun kepergiannya berhasil membuat kebahagiaannya kini sirna, hingga ia memutuskan untuk tidak menikah lagi karena saking ia mencintai almarhum suaminya itu. Di sepanjang hidupnya kini hanya ada air mata karena merindukan almarhum suaminya dan juga almarhumah Fredericka Nerissa yang hingga detik ini tubuhnya masih belum ditemukan setelah terjatuhnya ia ke dalam laut kala itu.


"Mah" ucap Altezza dan Callista kompak memegang tangan ibunya.


Shivanya menatap bergantian Callista dan Altezza dengan air mata yang mengalir karena tidak dapat lagi ia bendung.


"Ini kalian makan dulu ya" ucap Shivanya memberikan Callista dan Altezza makanan sembari menghapus air matanya.


"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak menatap ibunya dengan tatapan mata sedih karena melihat ibunya menangis merindukan almarhum ayah mereka.


"Oh iya, tadi kamu jatuh kenapa Kal?" tanya ibunya menatap Callista.


"Tadi kita ketemu tante Fredericka mah di sekolah, kita lari biar tante gak kejar kita, tapi aku malah jatuh" ucap Callista.


"Tante Fredericka?, Fredericka Nerissa?, yang pernah mamah tunjukkan ke kalian waktu itu?" tanya Shivanya.


"Iya mah" ucap Callista.


Shivanya yang mendengar pun sontak berdiri dan bersandar di dinding. Shivanya berteriak dan meneteskan air matanya.


"Kenapa hanya Callista dan Altezza yang bisa lihat kamu mas Azeer, kak Ika, aku salah apa sama kalian?, sampai-sampai kalian tidak ingin bertemu dengan ku, aku sangat merindukan kalian, aku mohon, sekali saja, sekali saja kalian mengizinkan ku untuk bertemu dengan kalian, aku sangat merindukan kalian, aku butuh kalian kak Ika, mas Azeer, aku mohon, aku benar-benar hancur tanpa kehadiran kalian, aku butuh kalian, aku tidak sekuat apa yang kalian pikirkan, aku mohon, sekali saja izinkan aku untuk bisa melihat kalian" ucap Shivanya menangis sesenggukan menatap sekelilingnya.


Callista dan Altezza berlari memeluk ibunya yang nampak sangat terpukul.