Sarah

Sarah
Berisik



"Permisi" ucap tukang kunci.


"Iya pak" jawab mas Amir.


"Pintunya sudah selesai diperbaiki dan untuk kuncinya nanti saya antarkan kesini"


"Lama gak pak?"


"Enggak kok, nanti sebelum maghrib saya akan kesini"


"Oh oke baiklah, terima kasih pak"


"Sama-sama"


Mas Amir membuka ponselnya dan membuka social media miliknya, tapi Rissa menarik ponselnya.


"Kenapa sih dek?" tanya mas Amir.


"Akh aku mau lihat" ucap Rissa menarik ponsel mas Amir.


Mas Amir dengan terpaksa memberikan ponselnya pada Rissa.


Rissa membuka setiap aplikasi yang ada di ponsel mas Amir, hingga berakhir di kamera. Rissa melihat tayangan televisi ada di layar ponsel mas Amir.


"Kenapa gambar tv itu bisa ada di hp mas Amir" tanya Rissa menatap mas Amir.


"Iya kan yang kamu pencet kamera belakang dek, nih kalau kamera depan ada muka jelek kamu"


"Akh tidak! aku tidak jelek! mas Amir yang jelek"


"Yayaya!"


"Akhirnya kamu mengakuinya juga ya!"


"What ever!"


"Apa itu?"


"Entahlah"


"Kamu yang berbicara tapi kamu juga yang tidak mengerti, hm dasar aneh!"


"Hahaha!"


Aji mengambil alih ponsel yang Rissa pegang dan memotret dirinya sendiri.


"Ternyata ganteng juga ya aku" ucap Aji tersenyum menatap hasil fotonya.


"Kamu? itu salah ya! kamu sama sekali tidak tampan!"


"Benarkah?"


"Iya! kamu tidak tampan ya Aji!"


"Akh kamu berdusta!"


"Kamu yang berdusta!"


"Apaan sih kalian? kok ribut-ribut gitu" ucap mas Amir.


"Dia yang mulai!" ucap Aji dan Rissa saling menyalahkan.


"Udah akh sini hp gw! ganggu aja kalian!" ucap mas Amir mengambil ponselnya lalu pergi ke kamar Rissa mengunci pintunya.


"Akh itu kamar ku! mas Amir keluar akh! itu kamar ku tahu!" ucap Rissa mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


"Berisik!" ucap mas Amir dengan nada tinggi.


Mendengar perkataan mas Amir membuat Rissa menangis. Aji yang melihat Rissa menangis guling-gulingan pun menghampirinya. Suara tangisan Rissa terdengar hingga ke dalam kamar.


"Hm, ganggu aja deh!" gerutu mas Amir bangkit dari tempat tidurnya.


Mas Amir membuka pintu kamarnya untuk melihat ada apakah sebenarnya.


"Kenapa sih dek?" tanya mas Amir membuka pintu kamarnya.


Mas Amir yang melihat Rissa guling-gulingan di lantai menangis histeris pun menjadi panik.


"Dek" ucap mas Amir menepuk pundak mas Amir.


Rissa menatap mas Amir sekilas dan menambah kencang suara tangisannya.


"Dek udah ya, hei" ucap mas Amir menarik tangan Rissa dan membawa kepalanya ke dadanya.


Mas Amir mengelus pucuk kepala Rissa dan Rissa pun memeluknya. Rissa menghapus air yang keluar dari hidungnya dan mengelap ke baju mas Amir. Mas Amir yang melihat hanya bisa pasrah. Aji tertawa melihat wajah pasrah mas Amir ketika bajunya terkena ingus Rissa.


"Jangan ketawa Aji!" ucap mas Amir.


Rissa menoleh ke belakang dan kembali memeluknya.


Aji masih menahan tawanya melihat mas Amir. Mas Amir menggendong Rissa dan membawanya ke kamarnya.


"Udah kamu tidur aja disini ya" ucap mas Amir mengelus pucuk kepala Rissa.


"Mas mau mandi dulu, kan dari rumah sakit tadi mas belum mandi"


"Hm iya"


Mas Amir keluar dari kamar Rissa dan menutup pintunya.


"Ikh jorok!" ucap Aji tertawa kecil.


"Diem ku bocil!"


"HAHAHA kabur!"


"Sana lu!"


Mas Amir mengeluarkan baju dan handuknya.


"Kalau gw mandi pintunya gimana? kan gak ada kuncinya, nanti perabotan ada yang hilang lagi hm" ucap mas Amir melihat kursi disana dan menariknya untuk mengganjal pintu.


"Setidaknya ketutup" ucap mas Amir yang langsung pergi.


Mas Amir mengambil ponselnya dan pergi ke kamar mandi. Mas Amir menyalakan musik untuk menemani keheningan.


"Siapa yang menyalakan musik sekeras itu sih? akh ganggu orang tidur aja deh!" gerutu Rissa saat mendengar musik mas Amir.


"Woy berisik!" teriak Rissa.


Mas Amir yang menyalakan kran air tidak mendengar suara teriakan Rissa dari dalam kamarnya.


Rissa menutupi wajahnya dengan bantal untuk meredam bisingnya suara itu.


"Akh tetap saja kedengaran! siapa sih yang nyalain lagu kayak gitu? berasa lagi di hutan banget tuh orang!" gerutu Rissa.


"Mas Amir, mas Amir" panggil Rissa.


"Mas Amir kemana ya? kok aku panggil diem aja, apa dia gak dengar ya? atau dia lagi keluar? kok keluar gak bilang-bilang aku sih hm" gerutu Rissa.


Rissa terus berusaha untuk tidur dengan menutupi wajahnya dengan bantal. Beberapa jam kemudian lagu itu pun mati dan mas Amir keluar dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Akh akhirnya berhenti juga tuh lagu!" ucap Rissa membuka bantalnya.


Mas Amir membuka kamar Rissa untuk memastikan jika Rissa sudah tidur atau belum.


"Dek kok belum tidur sih? kenapa?" tanya mas Amir menghampirinya.


"Tadi ada orang menyalakan lagu sangat kencang ya, bagaimana bisa aku tertidur dengan suara musiknya yang keras itu hm" ucap Rissa.


Mas Amir tersenyum kecil menundukkan kepala dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Mas Amir kenapa?"


"Hehehe! kencang banget ya ternyata? kirain enggak" ucap mas Amir pelan.


"Jadi lagu itu tadi mas Amir yang menyalakannya?"


"Hehehe iya dek, maaf ya dek, di dalam kamar mandi lagunya sangat pelan tidak terdengar, makanya mas naikin volumenya biar kedengeran eh ternyata sampai keluar bunyinya" ucap mas Amir.


"Akh mas Amir! aku gak bisa tidur tahu gara-gara suara lagu mu itu hm!"


"Iya iya maaf, ya udah sekarang kamu tidur ya"


"Hm! tapi jangan nyalakan lagu itu lagi! itu sangat berisik ya! jika ingin bisa gunakan kabel saja, apa itu namanya yang dicolok di hp buat dengerin lagu?"


"Earphone maksud kamu?"


"Nah iya itu maksudnya, pakai itu saja ya, agar tidak menganggu orang lain!"


"Hm iya, ya udah kamu tidur aja ya"


"Iya mas"


Rissa pun membaringkan tubuhnya dan tertidur.


"Geseran dikit dong" pinta mas Amir.


"Hm kamu ganggu saja ya!"


"Terus aku dimana? kan cuma ada dua kamar disini, kamar kamu dan kamar orangtua kamu, tidak mungkin kan jika aku masuk ke kamar orangtua kamu, geser akh!"


"Tapi jangan berisik! berisik lagi nanti tak buang hp mu ke comberan ya!"


"Jangan dong! mahal ini!"


"Tidak jauh lebih mahal ya daripada gendang telinga ku yang pecah mendengar lagu mu yang sangat berisik itu!"


"Hm, gak berisik kok, bener deh gak berisik!" ucap mas Amir tersenyum menatap Rissa.


"Hm oke!" ucap Rissa menggeser tubuhnya.


Mas Amir pun berbaring di samping Rissa dan memutar video YouTube dengan menggunakan earphone agar Rissa tidak lagi mengamuk karena berisik. Mas Amir menoleh ke Rissa karena mendengar suara dengkurannya.


"Bener-bener pe lor deh ini anak! nempel molor hm!" ucap mas Amir menoleh ke arah Rissa melepaskan satu earphone nya dan kembali memakainya.