
Setelah mengetahui jika Sinta berselingkuh, Alderts pergi ke rumah Kinara untuk meminta maaf dan memohon agar Kinara berpisah dengan Rangga dan kembali lagi ke dalam pelukannya.
"Itu mas Alderts mau kemana deh rapih banget" batin Sinta dan berjalan mengikutinya secara diam-diam.
"Tokkk tokk!! assalamualaikum'' ucap Alderts mengetuk pintu rumah Kinara.
"Hah? mas Alderts ke rumah Kinara? ngapain lagi dia ke rumah Kinara" ucap Sinta yang mengintip dari kejauhan di dalam mobilnya.
"Alderts, mau apa kamu kesini? apakah Anda tidak merasa malu Alderts? kamu gagal menjadi manusia dan bahkan kamu gagal menjadi ayah yang baik untuk anaknya sendiri, apakah anda tidak memiliki hati nurani Alderts? dan masih berani kamu datang ke rumah ku menunjukkan wajah mu itu, pergi kamu, aku tidak ingin melihat wajah mu lagi" ucap Kinara.
Alderts hanya berdiri diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Sinta yang melihat suaminya terjatuh langsung berlari dan membantunya serta mendorong Kinara namun Rangga menahan tubuh Kinara agar tidak terjatuh.
Rangga yang tidak terima melihat istrinya disakiti, langsung mendorong Sinta namun Alderts menangkap tubuh Sinta. Alderts yang tersulut emosi langsung menghantam wajah Rangga hingga peraduan pun tak dapat terhindarkan.
Kinara mencoba memisahkan mereka. Namun, namun ia malah terpukul oleh suaminya.
"Akh!!" ucap Kinara kesakitan memegang pipinya.
Rangga yang mendengar rintihan kesakitan Kinara menjadi terkejut karena tidak sengaja memukul istrinya. Darah menetes dari sisi bibirnya.
''Sayang'' kata Kinara kesakitan sambil memegangi pipinya.
Rangga meraih pipi Kinara dan membawanya ke rumah sakit.
"Awas lo ya nanti!! urusan kita belum selesai!!" ucap Rangga menunjuk Alderts penuh emosi dan segera membawa istrinya ke dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rangga.
"Istri bapak baik-baik saja, lukanya tidak serius. Saya akan memberikan obat untuk istri bapak, ini resepnya, silakan bayar di kasir" ucap dokter terseyum.
"Terima kasih dokter" ucap Rangga tersenyum.
"Ya sama sama" ucap dokter terseyum dan pergi dari sana.
"Sayang, ayok kita tebus obatnya" ucap Rangga membantu Kinara bangun dari ranjang rumah sakit.
"Iya mas" ucap Kinara lirih.
Mereka pergi ke kasir untuk membayar obat.
"Sayang kamu tunggu disini aja ya biar aku aja yang ke kasir" ucap Rangga tersenyum mengelus pucuk kepala Kinara.
"Iya mas" ucap Kinara tersenyum dan mengangguk patuh.
Rangga pun membayar resep Kinara dan pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Kinara kembali mengingat kematian Sarah yang membuat hatinya terasa sangat sakit atas kematian putri sulungnya, Kinara pun menjadi putus asa dan tidak nafsu makan.
"Sayang, makan dulu, kamu belum makan dari kemarin" kata Rangga memberikan makanan kepada Kinara.
Rangga juga mengambil sesendok nasi dan lauk dan mengarahkannya ke mulut Kinara tapi Kinara tidak mau membuka mulutnya.
Sejak hari pemakaman Sarah, Kinara menjadi seseorang yang sering melamun, matanya kosong dan bahkan tidak pernah berbicara sepatah kata pun ditambah dengan kedatangan Alderts ke rumahnya. Rangga yang selalu mengurus bayi kembarnya dibantu oleh baby sitter karena Kondisi Kinara yang kembali memburuk bahkan bertambah parah sejak kehadiran Alderts dirumahnya. Kinara bahkan juga tidak meminum obat yang habis mereka lunasi hingga lukanya mengering dengan sendirinya.
2 tahun telah berlalu. Dimas dan Love, anak kembar mereka kini sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan darinya atau pun baby sitter dan sudah bisa berbicara. Sekarang, Kinara juga menjadi sangat kurus. Rambut di kepalanya menjadi banyak celah. Rambutnya selalu rontok dan dalam jumlah yang banyak. Rambutnya selalu rontok meski tidak disentuh sama sekali. Rangga yang khawatir membawa Kinara ke rumah sakit.
"Sayang, rambut kamu kenapa rontok terus?" tanya Rangga memegang rambut Kinara yang rontok di atas bantal yang ia pakai.
"Gak tahu mas, kita ke rumah sakit sekarang ya sayang" ucap Rangga membantu Kinara.
"Iya mas" jawabnya mengangguk patuh.
Sesampainya di rumah sakit, Kinara langsung dilakukan berbagai macam tes untuk mengetahui pasti apa penyakit yang ia derita.
"Dokter, ada apa sebenarnya dengan istri saya?" tanya Rangga.
"Istri anda menderita kanker otak stadium akhir" ucap dokter.
"Iya, sabar ya pak" ucap dokter menepuk bahu Rangga.
"Iya dokter, terima kasih" jawab Rangga lirih.
Rangga pun masuk ke dalam kamar perawatan kinarra dengan menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Kinara.
"Sayang, kamu kenapa? kayak orang mau nangis gitu deh, kenapa sih?" tanya Kinara.
Rangga tidak menjawab pertanyaan Kinara dan langsung memeluknya sambil meneteskan air mata di bahu Kinara.
Kinara yang menyadari suaminya menangis, langsung melepaskan pelukannya.
"Papah kenapa? kenapa kamu menangis?" tanya Kinara menyeka air mata Rangga.
Rangga pun memberikan surat hasil pemeriksaan Kinara.
Kinara mengambil surat itu dan membukanya. Dia terkejut membaca isi surat itu dan langsung jatuh pingsan.
Rangga yang panik langsung berteriak memanggil dokter dan suster.
"Dokter, suster, tolong istri saya" teriak Rangga meminta pertolongan.
Suster yang lewat langsung berlari menghampiri Rangga.
"Ada apa, pak?" tanya perawat rumah sakit.
"Suster tolong istri saya" ucap Rangga.
Suster pun segera memanggil dokter untuk menangani Kinara. Dokter pun memeriksa kondisi Kinara. Jantungnya melemah. Dokter segera memerintahkan perawat untuk membawa pasien ke ruang ICU.
Sesampainya di dalam. Rangga ingin masuk melihat langsung kondisi Kinara tetapi dicegah oleh perawat.
"Tapi suster, dia istri saya, saya ingin menemaninya di dalam sana" ucap Rangga menunjuk ruang ICU.
"Maaf pak, ini sudah menjadi peraturan rumah sakit, penunggu pasien tidak boleh masuk saat pasien sedang ditangani, saya harap bapak mengerti, sehingga kami dapat memberikan perawatan yang maksimal kepada istri bapak" ucap perawat.
"Oke suster" ucap Rangga.
Perawat itu kembali ke ruangan dan membantu dokter memasukkan semua alat ke dalam tubuh Kinara. Alat yang berfungsi untuk melihat detak jantung Kinara juga menunjukkan bahwa lama kelamaan menjadi garis lurus yang menandakan bahwa Kinara telah meninggal dunia.
Rangga yang melihat dari jendela meneteskan air mata. Kakinya lemas dan jatuh ke tanah.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat keluar dari ruangan.
"Maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain, istri bapak sudah meninggal dunia" ucap dokter.
Rangga hanya diam, tidak mengatakan apa-apa, kakinya terasa sangat lemas hingga ia pun jatuh tersungkur dan meneteskan air matanya.
Dokter kembali ke kamar Kinara, melepas semua alat bantu pernapasan Kinara dan membawa jenazah Kinara ke dalam kamar mayat.
Rangga yang melihat Kinara sudah terbaring lemah, tidak bernyawa pun menangis tersedu-sedu dan memeluk Kinara.
"Dokter, biar saya saja yang membawa pulang istri saya" ucap Rangga.
"Tidak pakai ambulance saja pak?" tanya dokter.
"Tidak perlu dokter, tadi saya membawa mobil sendiri" ucap Rangga lirih.
"Membawa mobil sendiri? tidak dengan supir?" tanya dokter.
"Iya dokter, kenapa?" tanya Rangga.
"Sebaiknya menggunakan ambulance saja pak, tidak baik mengemudi dengan keadaan bapak yang sedang berduka seperti ini" ucap dokter.
"Tidak apa dokter, tidak usah mengkhawatirkan saya" ucap Rangga.
Rangga menggendong tubuh Kinara dan membawanya pulang dengan mobil mereka.