
Keesokan harinya, Alderts yang menemani Sarah ke sekolah, langsung mendatangi kepala sekolah untuk meminta surat kelulusannya.
"Permisi" ucap Alderts di pintu.
"Iya pak, masuk" ucap kepala sekolah.
"Oke" ucap Alderts.
"Silakan duduk pak" ucap kepala sekolah.
"Iya" ucap Alderts.
"Ada apa pak?" tanya kepala sekolah.
"Saya orang tua dari Saartje Kim Jacob ingin meminta surat kelulusan untuk putri saya" ucap Alderts.
"Sebentar pak, saya cari dulu" ucap kepala sekolah.
"Oke" ucap Alderts.
"Maaf pak, tidak ada surat kelulusan atas nama Saartje Kim Jacob, untuk nama Saartje Kim Jacob baru kelas tujuh pak, jadi belum ada surat kelulusannya" ucap kepala sekolah.
"Iya saya tahu, saya ingin putri saya segera lulus, untuk menghindari bullying yang dilakukan siswi di sekolah ini" ucap Alderts.
"Maaf pak, boleh saya tahu siapa siswi yang membully putri bapak itu?" tanya kepala sekolah.
"Sasha dan temannya" ucap Alderts.
"Sasha dan Nadia?" tanya kepala sekolah.
"Saya tidak tahu siapa nama temannya itu tapi yang pasti dia wanita, kemarin saya melihat mereka berdua membully putri saya, oleh karena itu, saya ingin putri saya segera lulus" ucap Alderts.
"Tapi pak... !" ucap kepala sekolah.
Alderts mengeluarkan koper penuh uang dolar dan meletakkannya di atas meja.
"Oke biar saya yang urus" ucap kepala sekolah.
"Saya mau secepatnya" ucap Alderts.
"Siap pak" ucap kepala sekolah.
"Dan satu hal lagi, saya ingin Sasha dan temannya itu dikeluarkan dari sekolah ini" ucap Alderts.
"Dan semua uang ini untuk ku?" tanya kepala sekolah.
"Ambil dan lakukan seperti yang saya perintahkan" ucap Alderts.
"Siap pak" ucap kepala sekolah.
Sarah pun diminta untuk mengikuti ujian nasional dengan kakak kelasnya karena Alderts telah membayar agar Sarah bisa cepat lulus dari sekolah itu.
Setelah Sarah melaksanakan ujian, kepala sekolah mencari keberadaan Sasha dan Nadia.
"Sasha, Nadia, ikut saya ke ruangan sekarang" pinta kepala sekolah.
"Baik pak" jawab Sasha dan Nadia kompak.
"Duduk" pinta kepala sekolah.
"Berikan surat ini kepada orangtua kalian, dan bilang pada orang kalian jika pihak sekolah mengeluarkan kalian dari sekolah ini"
"Dikeluarkan? tapi saya salah apa pak?" tanya Sasha terkejut.
"Iya pak, saya salah apa?" sahut Nadia.
"Orangtua Sarah tadi datang kesini, dan mengatakan jika kalian telah mem-bully Sarah, jadi pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah ini, agar nama baik sekolah tidak tercemar karena ulah kalian"
"Tapi pak...!" ucap Sasha.
"Tidak ada tapi-tapian Sasha, sekarang kalian boleh pergi dari ruangan saya"
"Baik pak" ucap Sasha dan Nadia kompak menundukkan kepala.
Sasha dan Nadia kembali ke kelas dan mengambil tasnya lalu kembali ke rumah masing-masing dengan ekspresi wajah sedih memegang surat dari kepala sekolah.
"Ini semua gara-gara lu ya Sha!" tunjuk Nadia kesal.
"Lah kok gw deh?"
"Iya lah gara-gara lu, kan lu duluan yang nge-bully Sarah!"
"Tapi kan lu juga ikut-ikutan nge-bully dia, berarti buka salah gw doang dong?"
"Siapa yang memulai dialah adalah yang bersalah"
"Tidak seperti itu, tidak penting siapa yang memulai, yang terpenting adalah lu juga ikut nge-bully dia, jadi lu gak usah nyalahin gw dong!"
"Iya lu pikir emang ngomong sama lu gak bikin gw kesal hah? ya kesal lah! bukannya instrospeksi kesalahan malah nyalahin orang! ngomong sama lu gak ada gunanya Nad!"
"Ngomong sama lu lebih gak ada gunanya Sha! bye!"
"Nadia, kamu mau kemana?" tanya Sarah.
Nadia hanya menatap tajam Sarah tanpa menghentikan langkahnya.
"Pergi sana lu! bikin kesal aja jadi orang!"
Sasha yang kesal dengan Nadia akhirnya pergi meninggalkan ruang kelasnya.
Sarah kini berpapasan dengan Sasha yang nampak sedang kesal.
"Aneh deh, kok Sasha sama Nadia bawa tas ya? emang ada acara apa? apa hari ini pulang cepat?" tanya Sarah menatap kepergian Sasha.
"Gak pulang cepat kok Sar" kata Aji yang mendengar perkataan Sarah.
"Tapi kok Sasha dan Nadia bawa tas sih? kayaknya mereka juga lagi kesel banget deh mukanya, ada apa ya?"
"Karena Sasha dan Nadia dikeluarkan dari sekolah"
"Hah? dikeluarkan dari sekolah? kenapa emangnya?"
"Karena laporan ayah kamu tentang kejadian kemarin waktu Sasha dan Nadia bully kamu, makanya pihak sekolah mengeluarkan Sasha dan Nadia dari sekolah ini selamanya"
"Jadi itu semua karena aku? pantas saja Sasha dan Nadia menatap aku sinis"
"Itu bukan salah kamu kok, tapi salah mereka sendiri, tidak ada namanya korban pembullyan yang bersalah, jelas-jelas yang bersalah adalah seseorang yang mem-bully dia, yang salah Sasha dan Nadia bukan kamu, udah ya gak usah dipikirkan lagi, sekarang mending kita masuk ke kelas yuk" ajak Aji merangkul pundak Sarah yang masih terpaku.
Setibanya di rumah, Sasha langsung menaruh surat dari sekolah diatas meja tanpa berkata apapun.
"Sasha kalau masuk rumah dibiasakan salam ya!" kata ayahnya.
"Assalamualaikum" kata Sasha dengan nada sinis.
"Wa'alaikumsalam, kenapa kamu udah pulang Sha? ada acara apa emang di sekolah?" tanya ayah Sasha.
"Apa itu Sha?" tanya ayahnya.
"Ayah baca aja sendiri! aku capek! mau tidur!" kata Sasha yang langsung meninggalkan ayahnya.
Ayah Sasha menatap bingung Sasha dan mengambil surat yang Sasha letakkan di meja depan TV.
"What? Sasha dikeluarkan dari sekolah? buat masalah apalagi dia? setelah dia membuat ku kehilangan pekerjaan, sekarang dia melakukan hal apalagi? sampai-sampai ia harus dikeluarkan dari sekolah" kata ayah Sasha setelah membaca isi surat.
"Sasha buka pintunya!" kata ayah Sasha mengetuk pintu kamar Sasha.
"Ada apa sih pah?" tanya Sasha membuka pintu kamarnya.
"Ada apa kamu bilang? apa maksud surat ini hah?"
"Papa udah baca kan? kenapa pakai nanya lagi ke Sasha?"
"Jelas papa bertanya sama kamu, apalagi yang kamu lakukan disekolah sampai-sampai kamu dikeluarkan dari sekolah seperti ini Sasha, jawab papa!"
"Sasha yakin kalau itu semua karena Sarah atau ayahnya yang menyebalkan itu!"
"Pak Alderts?" tanya ayah Sasha dengan nada pelan.
"Pak Alderts? siapa dia pah?"
"Dia ayahnya Sarah"
"Oh di laki-laki menyebalkan itu!"
"Sasha jaga ucapan kamu ya! setelah kamu membuat papa dikeluarkan dari pekerjaan, sekarang kamu juga masih tidak menyadari kesalahan kamu sendiri?"
"Apa salah Sasha pah?"
"Kamu masih belum menyadari apa kesalahan kamu?"
Sasha hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan ayahnya.
"Papa akan masukkan kamu ke pesantren, biar kamu bisa belajar ilmu agama disana"
"Tapi pah..."
"Gak ada tapi-tapian Sasha, sekarang kemas barang-barang kamu, nanti sore kita berangkat langsung ke pondok pesantren itu"
Sasha meninggalkan ayahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Sasha mengemas pakaiannya sembari terus menggerutu.
"Padahal kan aku gak salah ya? kenapa aku disalah-salahkan terus! padahal kan yang salah itu si Sarah! bukan aku! kenapa aku jadi yang disalahkan sama papa? sekarang aku harus ke pesantren, mana betah aku disana! tapi kalau aku di Jakarta, mau taruh dimana muka aku? pasti nanti jadi bahan omongan tetangga deh! hm menyebalkan!" gerutu Sasha sembari memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.