Sarah

Sarah
Menolak Tawaran



Shivanya, kamu tunggu di sini sebentar, ibu mau mendaftarkan kamu dulu dan ambil nomornya untuk tampil nanti” ucap bu Kinara di depan area pendaftaran.


"Iya bu" ucap Shivanya mengangguk patuh.


''Duster apa yang kamu lakukan di sini hah?'' tanya Sinta membentaknya.


''Aku disini diajak bu Kinara untuk mengikuti kompetisi ini" ucap Shivanya.


''Apa? apa aku tidak salah dengar hah? kamu tidak pantas mengikuti kompetisi ini, lihat dirimu, ngaca dulu dong, tubuh kamu itu gemuk jangan sok kepedean mau jadi model, haha'' ucap Sinta tertawa menghinanya.


''Lihat nih, ngaca...!" ucap Callista memberikan cermin yang dia bawa ke Shivanya.


''Sebaiknya kamu pulang karena kamu tidak pantas untuk mengikuti kompetisi ini'' ucap Callista mendorongnya.


"Ikut aku" ucap Sinta menariknya.


''Mau kemana Sinta? lepaskan aku, sakit banget tahu tangan aku'' ucap Shivanya menahan rasa sakit di tangannya karena cengkeraman Sinta yang terlalu kuat.


''Callista, Sinta lepaskan Shivanya, apa yang kalian lakukan? tidak di sekolah, tidak di luar sekolah, sangat suka menghinanya, ada apa denganmu Shivanya? jika kalian masih membully Shivanya lagi, ibu akan melaporkan kalian ke kepala sekolah, sekarang kamu segera minta maaf kepada Shivanya'' ucap bu Kinara yang tiba-tiba datang.


'Iya bu" ucap Sinta dan Callista kompak.


"Gw minta maaf" ucap Sinta dengan nada tidak sukanya.


''Gw juga minta maaf sama lo'' ucap Callista.


"Oke, Shivanya sekarang kita masuk ke dalam" ucap bu Kinara memegang pundak Shivanya.


"Iya bu" ucap Shivanya mengikuti langkah kaki bu Kinara.


''Peserta dengan nomor urut 45 silahkan naik ke atas panggung'' ucap MC acara.


Beberapa jam berlalu dan Shivanya memenangkan perlombaan.


''Bu Kinara'' panggil salah satu temannya.


''Hai pak, apa kabar pak?" tanya bu Kinara tersenyum.


''Alhamdulillah baik" ucap temannya.


''Saya sedang mencari pemain pengganti untuk menggantikan tokoh utama saya yang tiba-tiba mengundurkan diri, siapa ini bu?" tanya Pak Haris menunjuk Shivanya.


''Oh ini anak murid saya pak, namanya Shivanya Nerissa" ucap bu Kinara tersenyum memegang pundak Shivanya.


''Nama yang sangat cantik seperti orangnya, sepertinya dia cocok untuk bermain di proyek film saya, wajahnya sangat cantik cocok untuk memerankan karakter sebagai putri saudagar China, oh ya, tadi siapa namamu?'' tanya pak Haris pada Shivanya.


''Shivanya pak" ucap Shivanya.


"Jadi apakah kamu bersedia untuk bermain di proyek film saya sebagai karakter utama? saya akan memberi kamu bayaran sebesar 10.000.000,00 per hari jika kamu bersedia" ucap pak Haris.


"Maaf pak, aku tidak tahu soal itu, Shivanya harus bertanya kepada orangtua Shivanya terlebih dahulu" ucap Shivanya.


''Oke kalau begitu, saya akan mengantarkan mu, agar saya tahu di mana rumah kamu" ucap pak Haris mengelus pucuk kepala Shivanya tersenyum.


"Iya pak" ucap Shivanya tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Bu Kinara ikut saja saya kami" ucap pak Haris.


"Tapi saya bawa mobil sendiri pak" ucap bu Kinara.


"Mobil bu Kinara nanti dibawa oleh asisten pribadi saya, bu Kinara ikut kami saja naik mobil saya, bagaimana?" tanya pak Haris.


"Oke pak" ucap bu Kinara.


"Pak itu rumah Shivanya" ucap bu Kinara menunjuk rumah lama Shivanya.


"Itu bukan rumah Shivanya lagi bu, rumah itu udah disita sama pihak bank" ucap Shivanya.


"Disita? kapan sayang? karena apa? kok bisa disita?" tanya bu Kinara.


"Papah punya hutang sama pihak bank bu katanya untuk membayar gaji karyawan tapi papah gak bisa melunasi hutang-hutangnya sampai jatuh tempo akhirnya rumah beserta isinya dan mobil papah disita juga sama pihak bank karena papah menjaminkannya ad pihak bank" ucap Shivanya.


''Pak itu rumah Shivanya" ucap Shivanya menunjuk rumah barunya.


''Assalamualaikum mamah, papah, Shivanya pulang" ucap Shivanya mengetuk pintu rumahnya.


"Iya mah" ucap Shivanya.


''Siapa dia Shivanya?" tanya ibunya.


''Perkenalkan saya Haris Pratama salah satu sutradara Indonesia, ini kartu nama saya" ucap pak Haris memberikan kartu namanya.


''Ada apa ya pak?'' tanya ayah Shivanya.


"Saya di sini untuk menawarkan Shivanya pak, bu untuk bermain di proyek film terbaru saya sebagai karakter utama karena aktor sebelumnya tidak bisa bermain, bagaimana dengan pak, bu? Jika kalian bersedia, silakan menandatangani kontrak kerja ini" ucap pak Haris.


''Permisi pak, saya dan istri saya mau ke belakang sebentar" ucap ayah Shivanya.


''Oh ya silahkan" ucap pak Haris tersenyum mengulurkan tangannya.


''Pah 10 juta per hari'' ucap ibu Shivanya menepuk pundak suaminya.


''Tapi jika kita menerimanya, bagaimana dengan sekolah Shivanya? kasian dia jika harus membagi waktunya untuk bermain film dan sekolah" ucap suaminya.


''Jadi gimana nih pah? masa kita tolak sih, kesempatan emas lho itu pah, kita bisa langsung kaya raya" ucap istrinya.


"Kita tolak saja" ucap suaminya.


''Ya sudah, kalau itu pilihan papah, mamah ikut saja" ucap istrinya pasrah.


"Ya udah kita keluar yuk mah, gak enak sama bapak tadi sama bu Kinara juga" ucap suaminya.


"Iya pah" ucap istrinya.


"Maaf pak Haris, saya dan istri saya telah sepakat untuk tidak menerima permintaan anda karena anak saya masih sekolah dan kami takut sekolahnya akan terganggu, jadi kami hanya ingin dia fokus pada sekolahnya dulu sampai dia lulus" ucap ayah Shivanya.


''Oke baiklah, jika itu keputusan kalian, saya permisi assalamualaikum" ucap pak Haris beranjak pergi.


''Iya wa'alaikumsalam" ucap ayah Shivanya.


"Wa'alaikumsalam" ucap ibu Shivanya.


"Pak, bu, Shivanya, saya juga pamit pulang ya assalamualaikum" ucap bu Kinara tersenyum.


"Wa'alaikumsalam bu" ucap Shivanya dan keluarganya kompak.


"Eh Sinta liat deh itu di depan rumahnya si duster bukannya pak Haris ya?" tanya Callista.


"Pak Haris siapa sih?" tanya Sinta.


"Itu lho sutradara terkenal Indonesia, jangan bilang lu gak tahu?" tanya Callista.


"Hehe enggak" ucap Sinta tersipu malu.


"Akh udik lu" ucap Callista.


Sinta hanya menatap Callista.


"Ngapain ya pak Haris ke rumahnya si duster?" tanya Callista.


"Entahlah, samperin aja coba" ucap Sinta.


"Bapak maaf, bapak itu pak Haris bukan? sutradara terkenal di Indonesia" ucap Callista.


"Iya benar saya Haris, ada apa ya?" tanya pak Haris.


"Maaf pak sebelumnya saya mau tanya, bapak habis ngapain ya dirumah teman saya?" tanya Callista.


"Oh jadi Shivanya Nerissa itu teman kamu" ucap pak Haris.


"Iya pak, dia teman sekelas saya" ucap Callista.


"Tadinya saya menawarkan Shivanya Nerissa untuk menjadi pemeran utama di film saya tapi keluarganya menolaknya jadi ya sudah" ucap pak Haris kecewa.


"Oh gitu ya pak" ucap Callista.


"Iya, saya permisi, assalamualaikum" ucap pak Haris tersenyum dan beranjak pergi ke mobilnya.


"Wa'alaikumsalam pak" ucap Callista tersenyum.