Sarah

Sarah
Makam Belakang Rumah



''Shivanya bangun sekolah udah jam berapa ini masih tidur aja kali udah siang ini, jangan jadi orang yang pemalas deh, Shivanya" ucap ibunya menepuk pundaknya.


''Belum bangun tuh anak?" tanya ayahnya yang tiba-tiba masuk ke kamar Shivanya.


"Belum pah" ucap istrinya.


Ayahnya langsung keluar dari kamar Shivanya. Tak lama kemudian ayah Shivanya kembali membawa ember yang berisi air.


"Pah kok bawa ember? untuk apa?" tanya istrinya.


Suaminya hanya menatap istrinya dan langsung menyiram Shivanya dengan seember air.


''Akh'' ucap Shivanya tergagap tidak bisa bernapas ketika ayahnya menyiram wajahnya dengan seember air.


"Mandi sana, jangan ngerepotin jadi orang, masih kecil aja udah males gimana gedenya lu hah" ucap ayahnya menendangnya hingga kepala Shivanya membentur tembok.


''Aww'' ucap Shivanya memegangi kepalanya yang sakit.


''Mandi sana, ngapain masih diam disini? sana lu, susah banget dibangunin, berguna dikit dong lu jadi anak, lu tahu? lu anak yang nggak berguna" ucap ayah Shivanya menendang kakinya.


''Iya pah'' ucap Shivanya meninggalkan orangtuanya dan menahan air matanya.


''Mau ngapain lu hah?'' tanya ayahnya saat Shivanya memegang piring.


''Makan pah" ucap Shivanya menunduk ketakutan.


"Enak banget lu mau makan gratis, kerja dulu sana, jangan jadi benalu, numpang makan gratis, mau jadi apa lu? jadi sampah? masih kecil udah jadi pemalas lagi lu, udah sana lu pergi, enek gw liat muka lu'' ucap ayah Shivanya mendorongnya pergi.


"Iya pah" ucap Shivanya menunduk dan pergi dari sana tanpa sarapan dan uang saku.


"Mah, pah, sepulang sekolah nnti Shivanya ingin ikut sama bu guru ke kompetisi modeling di Senayan" ucap Shivanya.


Hm.


"Shivanya jalan ya mah, pah, assalamualaikum'' ucap Shivanya ingin mencium punggung tangan ayah dan ibunya tetapi didorong olehnya.


''Mengapa mamah dan papah sekarang begitu kasar?'' tanya Shivanya meneteskan air matanya.


"Eh ada si miskin" ucap Callista menghalangi jalan Shivanya.


"Callista, Sinta, Altezza ada apa ya?" tanya Shivanya.


"Jangan sok akrab deh lu, lu itu circle kita tahu?" tanya Altezza smirk memalingkan wajahnya.


"Tahu lo, sok banget akrab jadi orang, iyuhh" ucap Sinta.


''Shivanya'' panggil bu Kinara.


"Iya bu" ucap Shivanya.


"Callista, Altezza, Sinta, mau apa kalian disini? mau membully Shivanya lagi? iya?" tanya bu Kinara.


"Engg-enggak bu" ucap Callista terbata-bata.


"Iya enggak kok bu" ucap Sinta ketakutan.


"Masuk ke kelas sana" ucap bu Kinara.


"Iya bu" ucap Sinta, Callista dan Altezza kompak.


"Shivanya, nanti sore ikut ibu ke kompetisi modelling ya untuk baju sudah ibu siapkan" ucap bu Kinara.


"Iya bu" ucap Shivanya.


''Sudah bel istirahat, aku sangat lapar, aku belum makan dari pagi, aku ingin jajan tapi aku tidak punya uang" ucap Shivanya sambil memegangi perutnya yang keroncongan karena lapar.


''Shivanya'' panggil mbak Feby.


"Eh mbak Feby" ucap Shivanya tersenyum kecil.


''Kenapa sayang? mengapa kamu memegang perut kamu dari tadi, apa kamu lapar?'' tanya mbak Feby.


"Iya mbak, aku sangat lapar" ucap Shivanya memegang perutnya.


"Kamu belum sarapan pagi ini sayang?" tanya mbak Feby.


"Tidak mbak, gak boleh makan sama papah dan tidak dapat uang jajan juga" ucap Shivanya.


"Gak boleh makan? karena apa sayang?" tanya mbak Feby.


"Karena aku telat bangun tadi pagi mbak" ucap Shivanya.


"Oh gitu, kalau gitu ikut mbak yuk sayang, makan di rumah mbak aja yuk sayang" ucap mbak Feby tersenyum.


"Gak usah mbak, nanti ngerepotin lagi" ucap Shivanya.


"Tidak sayangku, ayo ikut sama mbak" ucap mbak Feby menarik tangan Shivanya.


"Iya mbak" ucap Shivanya tersenyum.


''Shiva, kamu tunggu di sini sebentar, biar mbak ambilkan makanannya dulu" ucap mbak Feby menyuruh Shivanya menunggu di meja makan.


''Ini makananya sayang, makan dulu ya sayang" ucap mbak Feby tersenyum.


''Iya mbak terima kasih" ucap Shivanya tersenyum.


"Kenapa mbak enggak makan?" tanya Shivanya.


"Mbak sudah kenyang, tadi hbis makan soalnya" ucap mbak Feby tersenyum.


"Oh gitu, aku makan dulu ya mbak" ucap Shivanya tersenyum sambil menyendok sesuap nasi dan lauk.


"Iya sayang" ucap mbak Feby tersenyum.


"Jam berapa sekarang mbak?" tanya Shivanya.


"Sebentar, lagi jam 10" ucap mbak Feby.


Shivanya yang terkejut pun segera mencuci tangannya.


"Udah jam 10 kurang 5 menit tuh, kita balik ke sekolah yuk sayang" ucap mbak Feby.


"Iya mbak" ucap mbak Feby tersenyum.


"Mbak, terima kasih telah mengantarkan Shivanya ke sekolah dan terima kasih telah memberi Shivanya makanan tadi" ucap Shivanya tersenyum.


"Iya sayang sama-sama, udah sana masuk, nanti kamu terlambat lagi" ucap mbak Feby mengelus puncak kepala Shivanya.


"Iya mbak" jawabnya tersenyum.


"Mbak, pulang dulu ya sayang, assalamualaikum" ucap mbak Feby tersenyum.


"Iya, Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan ya mbak" ucap Shivanya mencium punggung tangan mbak Feby tersenyum.


"Iya sayang" ucap mbak Feby tersenyum.


''Shivanya'' panggil bu Kinara


"Iya bu" ucap Shivanya.


"Apa kamu sudah mendapat izin dari orang tuamu?" tanya bu Kinara.


"Udah kok bu" ucap Shivanya tersenyum.


Iya udah, sekarang kita ke rumah ibu dulu ya sayang, ganti baju dirumah ibu, makan, mandi sama istirahat dulu dirumah ibu" ucap bu Kinara tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.


"Iya bu" ucap Shivanya tersenyum.


"Assalamualaikum" ucap bu Kinara mengetuk pintu rumahnya.


'Wa'alaikumsalam, silakan masuk nyonya'' ucap asisten rumah tangganya membukakan pintu rumahnya.


''Iy bi makasih" ucap bu Kinara tersenyum pada asisten rumah tangganya.


"Sama-sama nyonya" ucap asisten rumah tangganya tersenyum.


"Ayok sayang kita masuk'' ucap bu Kinara mempersilahkan Shivanya masuk ke dalam rumahnya.


"Iya bu" ucap Shivanya tersenyum.


"Kita ke kamar ibu aja ya sayang, biar kamu bisa langsung istirahat" ucap bu Kinara tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.


''Nah ini kamar ibu, ayok sayang kita masuk ke dalam" ucap bu Kinara tersenyum.


"Kamu mandi dulu ya sayang habis itu makan" ucap bu Kinara tersenyum.


"Iya bu, maaf bu kamar mandinya ada dimana ya?" tanya Shivanya.


"Itu disana" tunjuk bu Kinara ke salah satu pintu yang berada di dalam kamarnya.


''Setelah selesai mandi, ibu, tunggu di bawah ya sayang, ibu tinggal dulu" ucap bu Kinara tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.


"Iya bu" ucap Shivanya tersenyum.


''Kok ada anak kecil ya?, kayaknya tadi nggak kedengeran suara pintu dibuka deh, dia masuk lewat mana? mengapa dia menangis? hm, baiklah, mungkin aku yang tuli jadi aku tidak mendengar suara dia membuka pintu itu tadi'' pikir Shivanya sambil berjalan keluar dari pintu kamar mandi dan menghampiri seorang gadis kecil yang duduk di tempat tidur gurunya.


'Hei kamu siapa?, kenapa kamu menangis?'' tanya Shivanya pada gadis kecil yang sedang duduk di ranjang gurunya dengan berlinang air mata.


''Kenapa kamu menangis?, apa kamu sakit? siapa yang menyakiti kamu? kamu sakit apa? hm, kenapa kamu diam saja?'' tanya Shivanya menggaruk kepalanya bingung.


Gadis kecil itu hanya menatapnya tanpa berbicara sepatah kata pun.


''Kenapa kamu menarik-narik tangan ku? kemana kita akan pergi?'' tanya Shivanya saat gadis kecil itu menarik tangannya.


''Kenapa ada kuburan di belakang rumah bu Kinara? kuburan siapa itu? apa kamu tahu kuburan siapa ini?'' tanya Shivanya pada gadis kecil yang menarik tangannya.


''Kenapa dia menghilang begitu cepat?, kapan dia perginya? kenapa aku tidak melihatnya?, itu berarti tadi aku sedang berbicara dengan diriku sendiri'' ucap Shivanya ketika menyadari gadis kecil di sampingnya telah menghilang.


''Eh itu ada bingkai foto di atas makamnya, kenapa aku tidak melihatnya tadi ya?, kenapa foto di atas makam itu terlihat seperti gadis kecil yang menarik tanganku dan membawa ku ke kuburan ini ya? apakah dia sudah meninggal? tapi bagaimana bisa dia menarik tanganku?'' tanya Shivanya menggaruk kepalanya kebingungan.