
"Sayang" ucap seorang pria memanggil suster Inez yang tengah melintas.
"Sayang kamu ngapain ke rumah sakit? kamu sakit? sakit apa sayang?" tanya Inez panik memegang kening kekasihnya.
"Tapi badan kamu gak panas sayang" ucap Inez.
"Aku gak sakit sayang" ucap kekasihnya.
"Terus kamu ngapain ke rumah sakit sayang? kalau gak sakit mending di rumah daripada ke rumah sakit, nanti kamu jadi sakit lagi" ucap Inez.
"Aku kesini mau nemenin teman aku sayang, kasihan dia juga kan anak rantau, makanya aku nganterin dia ke rumah sakit, oh iya, kalian belum kenalan ya? sayang kenalin ini teman aku namanya Dani, Dani kenalin ini Inez pacar gw" ucap kekasih Inez.
"Hai gw Inez, salam kenal" ucap Inez tersenyum.
"Iya, salam kenal juga gw Dani" ucap Dani membalas senyuman Inez.
"Gila, ceweknya si Dika cantik banget ternyata, suster pula, tikung kali ya?, lumayan juga kan jadi ban serep gw" batin Dani menatap Inez dari ujung rambut hingga ujung kaki menyeringai.
"Lu kenapa Dan?" tanya Dika kekasih Inez.
"Gak apa-apa kok, udah yuk masuk, kita kan belum daftar" ucap Dani.
"Oh iya" ucap Dika menepuk keningnya.
"Sayang, aku masuk dulu ya ke dalam" ucap Dani tersenyum mengelus pucuk kepala kekasihnya.
"Bareng aja sayang ke dalamnya, aku juga mau ngasih makanannya si Anisa nih, tadi dia nitip makanan ke aku" ucap Inez tersenyum.
"Ya udah yuk, kita ke dalam" ucap Dani merangkul kekasihnya.
"Iya sayang" ucap Inez tersenyum memegang pinggang kekasihnya.
Dani sengaja berjalan lambat agar bisa memandangi tubuh Inez dari belakang.
"Dari belakang mantep juga body-nya" ucap Dani sembari menyeringai menatap Inez yang berjalan bersama Dika sahabatnya.
"Eh, liat deh cowok itu, kayaknya dia suka deh sama pacar sahabatnya" bisik salah satu pasien yang melintas pada temannya.
"Udah sih biarin aja, emang lu kenal sama mereka?" tanya temannya.
"Enggak sih, tapi kesel aja gw ketemu buaya darat di rumah sakit pula" ucap temannya.
"Udah sih, kita pulang aja ayok" ucap temannya menarik tangannya.
"Apa sih Cit tarik-tarik lagi" ucap temannya melepaskan pegangan temannya itu.
"Lagian kepo banget sama kehidupan orang lain, jangan kepo akh, gak baik" ucap temannya.
"Tapi Citra... !" ucap temannya.
"Tapi apa Rossa?" tanya Citra.
"Akh nyebelin lu Cit" ucap Rossa.
Rossa pergi meninggalkan Citra dengan perasaan kesalnya.
Beralih ke suster Anisa yang tengah memeriksa Alderts yang dikejutkan dengan bergeraknya jari-jari tangan Alderts.
"Oke pemeriksaan ke kamar Melati udah, kamar Kamboja udah, kamar Anggrek juga udah berarti sekarang tinggal ke kamar UGD meriksa Alderts Jacob yang kemarin koma" ucap suster Anisa dalam hatinya.
"Dokter.. dokter.. tangan pasien atas nama Alderts Jacob bergerak" ucap suster Anisa.
Setelah jari-jari tangannya bergerak, perlahan matanya pun mulai terbuka.
"Oke biar saya periksa dulu, hm detak jantungnya stabil, suster cepat hubungi keluarganya beritahukan bahwa pasien sudah sadar" ucap dokter.
"Baik dok" ucap suster Anisa.
"Sus, apa biaya rumah sakit saya sudah di lunasi oleh keluarga saya?" tanya Alderts.
"Sudah ditanggung semua pak beserta kamar VIP nya" ucap suster Anisa.
"Oh oke sus makasih" ucap Alderts tersenyum.
"Iya pak sama-sama, saya tinggal sebentar ya pak, biar saya hubungi keluarga bapak dulu untuk memberitahukan kalau bapak sudah sadar dari masa kritisnya" ucap suster Anisa tersenyum.
"Iya sus terima kasih" ucap Alderts tersenyum.
"Iya pak sama-sama" ucap suster Anisa tersenyum.
"Nisa, ini makanan lu" ucap suster Inez menghampirinya.
"Pegang dulu, gw mau nelepon keluarga pak Alderts Jacob" ucap Anisa.
"Yang kritis itu? dia udah sadar?" tanya suster Inez.
"Iya, alhamdulilah dia udah sadar" ucap Anisa.
"Hai Nis" sapa Dika.
"Eh Dika, ngapain lu kesini?" tanya Anisa.
"Nganterin teman gw nih" ucap Dika menunjuk Dani.
"Oh gitu, ya udah ya gw duluan, Nez, gw nitip dulu sebentar" ucap Anisa berlari meninggalkannya.
"Oke" ucap Inez.
"Kring... Kringgg... Kringgg" telepon rumah Fredericka berbunyi.
"Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?" tanya asisten rumah tangga Fredericka mengangkat telepon.
"Wa'alaikumsalam, saya suster Anisa, ingin memberitahukan bahwa pasien atas nama Alderts Jacob sudah tersadar dari masa kritisnya " ucap suster Anisa.
"Alhamdulillah, baik nanti saya sampaikan ke non Fredericka ya sus, non Fredericka juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit" ucap bi Minah.
"Sama-sama bu" ucap bi Minah.
"Assalamualaikum non Fredericka, bibi mau ngasih tahu kalau tadi salah satu perawat menelepon, memberitahukan bahwa tuan Alderts udah sadar non" ucap bi Minah via telepon.
"Wa'alaikumsalam non, makasih ya bi infonya" ucap Fredericka tersenyum.
"Sama-sama non" ucap bi Minah.
"Siapa mbak?" tanya Shivanya.
"Bi Minah, dia ngasih tahu kalau tadi perawat nelepon katanya om Alderts udah sadar" ucap Fredericka.
"Alhamdulillah" ucap Shivanya tersenyum.
"Beneran kak?" tanya Sarah.
"Iya sayang" ucap Fredericka tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
"Ayok kak kita ke papah kak" ucap Sarah.
"Iya sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" ucap Fredericka.
Sesampainya di rumah sakit, Sarah langsung berlari ke ruangan tempat Alderts dirawat.
"Sayang jangan lari-larian gitu, nanti kamu jatuh" ucap Kinara.
"Ayok mah, cepat" ucap Sarah.
"Papah" ucap Sarah yang langsung memeluknya.
"Iya nak" ucap Alderts memeluknya.
"Sarah seneng deh papah udah sadar" ucap Sarah.
"Iya nak" ucap Alderts.
"Sarah" ucap Kinara memasuki ruang perawatan Alderts.
"Kinara" ucap Alderts terbelalak melihat kedatangan Kinara.
Ketika Rangga masuk nampak sekali wajah Alderts berubah seketika menjadi sedih.
"Maaf mbak, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap dulu, karena ada pasien lain yang membutuhkan ruangan UGD di luar sana" ucap suster Anisa.
"Sarah, udah dulu yaa peluk papah nya, kakak suster mau pindahin papah ke kamar rawat inap" ucap Fredericka.
"Iya kak" ucap Sarah melepaskan pelukannya.
"Kita sudah sampai di kamar rawat inapnya, permisi saya tinggal sebentar ya mbak, saya ingin memeriksa kondisi pasien lain" ucap suster Anisa tersenyum.
"Oh iya sus silakan, terima kasih ya sus" ucap Fredericka tersenyum.
"Iya mbak sama-sama" ucap suster Anisa tersenyum.
"Sarah, papah haus nak" ucap Alderts.
"Papah haus tapi gak ada air minum, kakak beli air minum dimana? Sarah mau beliin papah air minum" ucap Sarah menatap Fredericka.
"Biar kakak aja yang beliin air minumnya, kamu tunggu aja disini ya, jagain papah kamu, om, tante, Fredericka permisi sebentar" ucap Fredericka tersenyum menatap Alderts, Rangga, dan Kinara secara bergantian.
"Iya Fre" ucap Kinara tersenyum.
"Iya kak" ucap Sarah.
"Permisi om, tante, ini minumannya, Sarah kamu bantuin papah ya" ucap Fredericka.
"Iya kak, papah ayok minum, pelan-pelan ya pah" ucap Sarah membantu ayahnya.
"Udah nak cukup makasih ya nak, Fredericka makasih ya, dan Kinara, Rangga makasih juga, kalian udah mau datang kesini jenguk saya" ucap Alderts tersenyum.
"Iya pak sama-sama" ucap Fredericka tersenyum.
"Iya mas sama-sama" ucap Kinara tersenyum.
"Sarah pulang yuk udah jam 10 malam" ucap Fredericka.
"Sarah mau disini kakak sama papah" ucap Sarah.
"Kamu pulang sama mamah aja ya sayang" ucap Kinara tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
"Nak, pulang ya sayang sama mamah kamu" ucap Alderts mengelus pucuk kepala Sarah.
"Tapi pah aku gak mau pulang sama mamah, aku mau sama papah aja disini, aku kangen sama papah" ucap Sarah.
"Nak, bobo dirumah sama mamah kamu kan lebih enak, lebih nyaman, daripada disini nanti kamu sakit nak, dengerin papah ya sayang" ucap Alderts mengelus pucuk kepala Sarah.
"Hm iya deh pah, tapi papah gpp kan aku sama mamah tinggal sendirian disini?" tanya Sarah.
"Iya nak gpp kok, lagian kan disini juga ada suster yang bakal jagain papah, udah ya kamu gak usah takut, papah gpp kok, kamu pulang ya sama mamah" ucap Sarah.
"Iya pah" ucap Sarah.
Kinara, jaga Sarah ya" ucap Alderts.
"Pasti, kan dia juga anak ku" ucap Kinara.
"Kalian hati-hati dijalan ya" ucap Alderts.
"Iya pah" ucap Sarah.
"Assalamualaikum pah" ucap Sarah.
"Wa'alaikumsalam" ucap Alderts.