Sarah

Sarah
7. JADILAH



"Apakah semua orang jadi gila?."_ Sarah


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Happy reading guys


.


.


"Kau tau harga jasku bisa mencapai gajih 1 tahun kau di restoran ini." Sarah melotot mendengarnya.


"Jangan bercanda Tuan ini tidak lucu." Saut Sarah datar.


"Apakah wajahku Sekarang sedang melucu." Balas Reyhan meremehkan.


"Terus mau Taun apa, saya tak punya uang sebanyak itu dan tuan tau sendiri aku baru saja di pecat." Tutur Sarah pelan dengan pikiran kemana-mana.


"Jadilah pembantuku." Tungkas Reyhan tegas.


"Tuan sudah minum obat?." Reyhan yang mendengar itu mendelik tajam.


"Kau kira aku gila." Seru Reyhan geram.


"Tuan sendiri yang bilang bukan saya." Saut Sarah santai.


"Terserah, ini kartu namaku. keputusan di tanganmu aku beri waktu 1 Minggu jika kau tidak bisa mengantinya. Ucapkan selamat datang pada jeruji besi." Seru Reyhan menyeringai.


Berlalu meninggalkan Sarah yang masih terdiam


"Aku rasa semua orang jadi gila!." Gumam Sarah dalam hati.


Sarah melangkahkan kakinya ke ruang ganti.


Mengemasi barangnya hendak pergi seusai berpamitan pada Pak Gunawan dan yang lain serta minta maaf atas kekacauan yang ia lakukan.


Hari sudah malam kala Sarah berjalan jontai menuju rumah sakit.


Tangannya mengusap-usap bahunya yang berbalut baju kemeja tipis hingga mudah teterpa angin malam yang dingin.


Dan tidak menyadari ada seseorang yang tengah mengikuti nya dari belakang.


"Dor.." Dari arah samping sebuah tangan mengagetkan meleburnya berjinjit.


"Yogi! Kau bikin aku jantungan." Seru Sarah kesal.


"Hehehe." Cengir Yogi tanpa dosa.


"Habis dari mana?." Tanya Yogi sok akrab.


"Dari tadi." Saut Sarah cuek sambil mempercepat langkahnya.


"Hei tunggu jalanmu cepat sekali." Ujar Yogi menarik tas gendongan Sarah.


"Mau apa sih." Gerutu Sarah menepis tangan Yogi dari tasnya.


"Wihh Macan Galak." Seru Yogi membuat Sarah melotot tajam.


"Sudahlah pergi sana dasar jalangkung." Usir Sarah mendorong Yogi.


"Eh,. Tunggu Sebentar aku belum selesai bicara." Seru Yogi menahan kepala Sarah yang lebih pendek darinya.


"Lepasin ****!." Sarah menggapai tangan Yogi berniat meepaskan namun sayang malah seperti anak kucing lucu.


"Jangan marah dulu. Aku mau ngajak makan Sate di depan." Ajak Yogi tersenyum manis.


"Gak mau." Saut Sarah cepat.


"Porsi jumbo." Rayu Yogi lagi.


"Tidak." Tungkas Sarah menarik tangan Yogi dan menggigitnya.


"Aww,. Kau boleh pesan Sepuasnya." Ringis Yogi melihat bekas gigitan Sarah yang cukup dalam.


"Ok tapi kau yang bayar." seru Sarah di setujui Oleh Yogi.


"Awas kau akan ku kuras dompetmu." Gumam Sarah dalam hati.


"Perasaanku tak enak." Gumam Yogi pelan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba teterpa angin.


"Ayo cepat jalan tadi semangat sekali." Seru Sarah remeh.


"Urusan makan saja cepat dasar monyet." Gumam Yogi mengikuti langkah Sarah dari belakang.


"Pak Sate ayam porsi jumbo 2 pake lontong 2 kasih kerupuk sama bumbunya banyakin. Hmm,. Oh iya gak usah pedes sama minumnya jus alpukat." Pesan Sarah kemudian menoleh ke Yogi.


"Makasih udah pesenin. Ternyata kau perhatian juga." Seru Yogi.


"Siapa yang mesenin, itu buat aku sendiri kok." Saut Sarah datar membuat Yogi melongo.


"Badan sekecil ini emang muat." Seru Yogi tak percaya.


"Bodo." Balas Sarah menuju tempat duduk yang kosong tak mempedulikan Yogi yang tengah memesan makanan.


"Sarah." Panggil Yogi membuyarkan Sarah yang tengah melamun.


"Apa?." Saut Sarah malas.


"Bagaimana sudah kau pertimbangkan soal kemaren." Tanya Yogi.


"Yang mana?." Tanya Sarah balik.


"Oh itu." Saut Sarah.


"Bagaimana?." Tanya Yogi lagi.


"Pesanan Sate ayam nya kak." belum sempat menjawab makanan mereka sudah datang.


"Selamat menikmati." Ucap pelayan itu ramah.


Sarah makan dengan lahap. Kedua pipinya yang tirus terlihat mengembung dipenuhi makanan dan tak luput dari pandangan Yogi.


Mereka makan dalam diam ditemani bisingnya kendaraan yang berlalu lalang.


Tak butuh waktu lama bagi Sarah mengabiskan makanan itu. Kejadian hari ini cukup melelahkan bagi Sarah.


"Uhh,. Aku kenyang." Seru Sarah meregangkan otot-otot tubuh mungilnya.


"Bagaimana tidak kenyang, makan porsi hugh." Gumam Yogi menggeleng kepala.


"Tunggu disini aku Bayar dulu." Ucap Yogi menuju kasir.


"Hm,. Sepertinya aku terlalu jahat dia berniat baik tapi yasudah lah kan dia yang maksa." Gumam Sarah dalam hati melihat Yogi di meja kasir mengeluarkan uang lembaran merah yang menurut Sarah sangat banyak.


Tak sengaja mata mereka bertemu pandang saat Yogi menoleh ke arahnya.


Namun segera di alihkan Sarah pura-pura mengecek ponselnya.


"Ayo ku antar pulang." Sarah menoleh dan menendang Yogi yang terlihat enteng sekali padahal uangnya sudah ia kuras habis.


"Tidak usah aku bisa pulang sendiri." Tolak Sarah.


"Tidak baik Perempuan pulang malam. Lagi pula disini jarang ada angkutan yang lewat" Seru Yogi.


"Sudah aku tidak mau merepotkan orang lain." Tolak Sarah lagi berjalan keluar dari tempat makan itu.


"Aku bukan orang lain Sarah. Bukankah kita berteman?!." Ujar Yogi mengiringi Sarah.


"Sejak kapan aku berteman dengan orang pemaks seperti mu." Saut Sarah menaikan kedua alisnya.


"Sejak di KFC waktu itu." Seru Yogi tersenyum.


"Apa kau lupa!. Jawabanku tidak berarti Aku menolak." Saut Sarah berdecak pinggang.


"Apa susahnya menganggap kita berteman." Tutur Yogi melipat tangan di depan dada.


"Kau terlalu baik." Seru Sarah pelan namun masih bisa di dengar oleh Yogi.


"Jadi aku harus jadi jahat dulu baru bisa berteman denganmu." Tungkas Yogi menghentikan langkahnya.


"Orang sepertimu sangat baik dan mudah di manfaatkan orang lain Yogi dan aku barusan memanfaatkan mu apa kau tidak sadar kita baru 2 kali bertemu." Ucap Sarah kasar.


"Tidak Sarah kau tidak memanfaatkan aku. Aku yang memaksa mentraktir mu jangan berpikir terlalu jauh." Balas Yogi tenang.


"Jangan terlalu baik padaku Yogi. Aku tak pantas berteman denganmu." Gumam Sarah pelan.


"Hei,. Ayolah kau itu berbeda dari yang kau kira Sarah. Jangan merendahkan dirimu sendiri. Tatap mataku." Sarah mengikuti perintah Yogi.


"Aku serius ingin berteman denganmu Sarah." Imbuhnya memegang bahu kanan Sarah pelan.


Melepaskan jaket di tubuhnya dan menyampaikan di bahu mungil gadis itu.


"Sarah." Panggilan itu membuat Sarah dan Yogi menoleh.


Di dekat mereka berdiri seorang pemuda dengan menenteng kantong berlogokan supermarket.


"Sedang apa kau disini? Dan Yogi kau mengenal Sarah." Tanya orang itu meperhatikan mereka berdua bergantian.


"Sean kau mengenal dia." Tanya Sarah balik.


"Iya dia teman SMP ku dulu, benar kan Yogi!." Seru Sean di angguki oleh Yogi membuat Sarah ber-oh ria.


"Aku pulang dulu." Seru Sarah membuat mereka menawarkan tumpangan pulang


"Tidak usah repot-repot. Dan soal yang tadi Yogi aku akan mengabari secepatnya." Ujar Sarah meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa dengan kalian berdua." Tanya Sean penasaran.


"Sudahlah jalan di bahas dasar penganggu" Saut Yogi malas meninggalkan Sean sendirian.


"Salahku apa!." Gumam Sean pelan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Astaga Belanjaan mama." Seru Sean menuju kendaraan yang terparkir tak jauh disana.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


.


**Apa kabar manteman?


Akhirnya update lagi 😊


Gimana masih nungguin kan


Jangan lupa vote, like, and komen serta saran maupun pemberian inpirasi mupun koreksi kata yang salah atau kurang tepat ya.


See you next time 😚🤗**