
"Lisa tunggu!" panggil Eza.
"Ada apa sih bang? abang mau menyalahkan aku juga dan membela Rissa hah? sana bang! bela saja terus Rissa! mengapa anak orang lain lebih penting di mata mama daripada aku bang? aku tidak percaya reinkarnasi itu benar adanya, jika reinkarnasi itu benar adanya mengapa aku harus bertemu dengannya? aku tidak ingin bertemu dengannya mas, aku tidak ingin bertemu dengannya jika dengan kehadirannya semua hal menjadi berbeda, mama sangat bangga mengatakan jika Rissa adalah tante Ika tapi apa buktinya jika Rissa adalah tante Ika? sampai detik ini saja tubuh tante Ika tidak kunjung ditemukan kan? mama pernah bercerita jika tubuh tante Ika tidak pernah ada yang bisa menemukannya semenjak ia pergi dengan kekasihnya itu, jika benar Rissa adalah tante Ika dan itu bukan berarti aku salah kan mas? jika aku tidak mempercayai Rissa adalah tante Ika itu bukan berarti aku salah! mengapa mereka menyalahkan ku mas?" tanya Rissa sesenggukan menunjuk ke sembarang arah.
"Dek, kamu yang sabar ya!" ucap Eza yang langsung memeluk Lisa yang nampak sangat tertekan atas perlakuan keluarganya.
"Aku capek mas!"
"Aku ngerti perasaan kamu.."
"Enggak! kamu gak ngerti perasaan aku! aku gak pernah bisa mengerti aku mas! sama seperti mama yang gak pernah bisa mengerti perasaan aku!"
"Dek, aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang dan tidak bisa melihat selamanya lagi, ya emang tante Ika itu tante kita, tapi kan kita gak merasakannya langsung, gimana rasanya kehilangan seseorang tanpa pernah bisa melihatnya lagi, bahkan makamnya pun tidak, kita hanya bisa melihat makam almarhum papa, tapi mama gak bisa melihat secara langsung makamnya tante Ika, jangankan makam, tubuhnya saja tidak pernah ditemukan dan menghilang begitu saja di tengah laut, pasti sangat sulit untuk menerima keadaan, memikirkan jika tante Ika telah meninggal dunia di tengah lautan walaupun tanpa adanya jasad yang ditemukan, aku mengerti perasaan kamu, pasti rasanya sangat menyakitkan ketika orang yang kita sayangi lebih memperdulikan orang lain daripada kita, tapi kita juga tidak tahu sedalam apa lukanya saat harus menerima kenyataan yang ada, apalagi disaat mama menemukan seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan kak Ika, pasti sulit untuk menerima semuanya, menerima keadaan dan kenyataan pahit memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, jadi kamu harus bisa mengerti keadaan yang ada walaupun menyakitkan bagi kamu, tapi itu juga pasti menyakitkan untuk mereka yang merasakannya secara langsung, berbeda dengan kita yang hanya mengenal nama dan ceritanya saja, tidak pernah merasakan kehadirannya, seseorang yang pernah merasakan kehadirannya pasti akan merasa sangat terluka ketika dia pergi dan menghilang begitu saja, aku juga tidak percaya reinkarnasi itu benar adanya, tapi apa salahnya jika Rissa memiliki kemiripan wajah dengan tante Ika? Rissa juga pasti gak kenal tante Ika juga kan sama kayak kita? Rissa juga pasti merasakan kebingungan yang sama seperti yang kita rasakan, kamu tenang ya, ada mas yang selalu ada buat kamu, kita hadapi takdir bersama-sama, mas janji akan menjadi papa untuk kamu, ya walaupun mas tidak tahu bagaimana papa, tapi sebagai anak laki-laki dan anak pertama, sudah sewajarnya jika mas menanggung semua tanggung jawab ini" ucap Eza tersenyum dengan tatapan mata sendu.
Lisa yang mendengar perkataan Eza sontak memeluknya.
"Aku tahu, jika rasa sakit ku itu tidak sebanding dengan rasa sakit mu, tapi kamu jangan pergi ya"
"Enggak akan, kan kita kembar, kita akan tumbuh besar bersama, melewati semuanya berdua, ya udah sekarang kita masuk yuk!" ajak Eza tersenyum mengelus pucuk kepala Lisa.
"Iya mas" ucap Lisa tersenyum menganggukkan kepala.
"Mas, kita pulang yuk, aku tidak mau tinggal disini, ayok mas!" ajak Rissa menarik tangan mas Amir.
"Tapi kenapa dek?"
"Aku tidak mau membuat keluarga ini bertengkar mas, dengan adanya aku di rumah ini, pasti akan membuat mereka terus ribut kayak tadi, aku tidak mau membuat dia bersedih karena keluarganya membela ku, aku tidak tahu mengapa aku seperti ini, aku juga tidak mau berada di posisi ini mas, apa benar jika aku adalah reinkarnasi dari wanita itu? kalau emang benar, mengapa Keluarga tidak bisa menerima ku? aku tidak ingin tinggal disini lagi mas, ayok kita pulang" ajak Rissa menarik tangan mas Amir.
"Tapi dek..." ucap mas Amir yang mengikuti langkah Rissa.
"Kalian mau kemana hm?" tanya tante Shivanya yang tiba-tiba datang.
"Hm, kita..." ucap Rissa menghentikan perkataannya dan menundukkan kepala.
"Saya mendengar perkataan mu tadi, kalian tidak boleh pergi dari rumah ini!"
"Tapi kenapa tante? kenapa kita gak boleh pergi dari rumah tante? ini kan bukan tempat tinggal kita tante, kasian anak tadi, dia jadi menangis karena kehadiran aku dan mas Amir di rumah tante, aku sama mas Amir mau pulang aja"
"Tante tidak melarang kamu pergi dari rumah tante, tapi setidaknya kalian harus tinggal disini sampai orangtua kamu kembali"
"Apa tante tahu kapan orangtua aku kembali? bagaimana jika orangtua ku pergi dalam waktu yang lama tante? aku tidak ingin membuat anak tadi bersedih terus-menerus karena kehadiran ku disini, aku mau pulang saja tante"
"Tante bilang tidak ya tidak Rissa! sekarang kamu kembali ke dalam kamar kamu!"
"Tidak! aku tidak mau di kamar itu"
"Apa kamu ingin pindah kamar?"
"Iya, aku mau sama mas Amir saja, aku tidak mau di kamar itu, aku merasa aneh ada di dalam kamar itu, aku merasa seperti sebelumnya aku pernah tidur di dalam kamar itu, padahal aku baru saja tiba dan belum tidur di kamar itu, tapi rasanya seperti aku sudah lama ada di dalam kamar itu, aku tidak tahu mengapa aku merasakan hal itu, aku mau sama mas Amir saja ya tante, setidaknya aku tidak perlu merasakan hal yang aneh-aneh lagi, kamar itu membuat ku nyaman tapi tidak nyaman, aku juga bingung kenapa aku merasakan hal itu, di satu sisi aku merasakan kenyamanan berada di dalam kamar itu, tapi di sisi lain aku merasa tidak nyaman karena merasakan kenyamanan yang bahkan belum aku rasakan sebelumnya, tante mengerti kan maksud dari perkataan aku? aku ingin bersama dengan mas Amir saja jika memang kita tidak di izinkan untuk pergi"
"Ya sudah kalau kamu mau tidur di kamar Amir, yang penting kamu tinggal disini sampai orangtua kamu datang"
"Iya tante, ayok mas" ajak Rissa menarik tangan mas Amir.
"Kita permisi ya tante" ucap mas Amir tersenyum kecil menganggukkan kepala.
"Iya Amir" jawab tante Shivanya tersenyum kecil menganggukkan kepala.