
Kimmy memeluk Magdalena dengan perasaan rindu.
"Tante Lena, Kimmy nginep disini ya."
Kimmy meminta izin.
"Boleh dong. Tapi ada syaratnya."
Ucap Lena .
"Apa syaratnya Tan?
Kimmy dan Ali saling bertatapan.
"Panggil saya Mama."
Jawab Lena.
"Serius Tan? Aku seneng banget."
Lena mengangguk sehingga Kimmy memeluknya lagi.
"Serius dong. cepat atau lambat kita akan jadi Mama dan anak."
Lena mengedipkan matanya pada Ali.
"Apaan sih Ma?"
Ali menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu tidur di kamar Ali. Ali biarin aja di sofa."
Ucap Lena pada Kimmy.
"Yah jangan dong, Tan eh Ma."
Kimmy melepaskan pelukannya.
"Terus kamu mau tidur berdua?"
Tanya Lena menggoda.
"Ya gak gitu. Kim di sofa aja, Ali di kamarnya."
Minta Kimmy.
"Enggak bisa. Laki-laki harus ngalah. Mama udah biasa ajarin itu ke Ali."
Lena tak lagi mau dibantah.
Ketiganya bercengkrama lama sambil meminum teh hangat yang disuguhkan Lena dan beberapa kue buatannya.
Sementara Kimmy melupakan kemarahannya sesaat pada Dave.
Setelah perbincangan yang hangat tersebut. Ali mengantar Kimmy ke kamarnya. Kamar yang banyak melukis kenangan Ali dan sahabat terbaiknya, Dave. Terdapat foto metamorfosa keduanya terpampang jelas dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah yang pasti sebelum keduanya terlibat konflik. Kimmy memperhatikan satu pigura dengan serius. Foto sepuluh tahun yang lalu saat keduanya berusia sepuluh tahun.
"Anak kecil yang kurus itu gue, yang gemuk Dave. Tapi liat lama kelamaan Dave menyusut karena dia memang aktif anaknya."
Ali tersenyum bangga menjelaskan tentang sahabatnya.
Dave mirip .. ah gue terlalu mikirin dia. Inget Kimberly Douglas, lu gak berarti apa-apa untuk dia. Lupakan!
Batin Kimmy.
"Al, gue tidur di sofa aja."
Ucap Kimmy.
"Lu mau gue di panggang sama Mami?"
Tanya Ali.
"Gue gak bisa tidur ngeliat foto-foto ini."
Kimmy menunjuk foto Dave.
"Sementara kita turunin dulu gak apa."
Ali mencoba mengerti Kimmy. Ia berjalan menurunkan satu persatu foto dikamarnya.
"Al, gue minta maaf soal kejadian tadi di kampus."
Kimmy mengambil tisu basah di tasnya.
"Eh mau apa?"
Jantung Ali berdebar ketika Kimmy berjinjit dan meraih bibirnya.
"Bersihin bibir lu yang gue nodai, Al."
Jawab Kimmy menyeringai.
"Haha gak usah. Udah kehapus sama teh panas Mami tadi."
Ucap Ali terkekeh menutupi kegelisahannya.
"Maaf ya Al, emosi gue terlalu meledak-ledak tadi. Sampai-sampai buat lu kebawa dalam masalah gue."
Kimmy menunduk menyesali perbuatannya.
"It's Ok. Lupain, Kim. Tapi jangan gitu lagi lain kali. Gue gak bisa bayangin tadi orang yang disamping lu bukan gue. Tapi penjaga kampus atau tukang bakso depan kampus lu. Seneng banget mereka dapat ciuman mematikan dari lu."
Celetuk Ali.
"Mematikan?-- Ih gak gitu Al. Yakali gue nyium orang sembarangan."
Kimmy memukul lengan Ali.
Ya mematikan Kim, gue sampe mau mati di tempat. Jadi gue bukan orang sembarangan buat lu. Ah andai laki-laki yang buat lu mencium gue bukan Dave, gue pasti minta tanggungjawab atas kejadian tadi.
Batin Ali.
"Kim, gue ke dapur dulu ambil minum."
Mendadak raut muka Ali berubah dingin. Ia menyembunyikan perasaan cintanya yang dalam pada Kimmy.
"Al, lu marah ya?"
Kimmy tersentak melihat Ali yang berlalu. Tanpa menjawab pertanyaannya.
Kimmy merebahkan dirinya diranjang Ali. Berbalut sprei berwarna biru tua persis warna kesukaan Ali.
Ia meraih ponselnya dan melihat-lihat gambar dirinya dengan Dave di berbagai kesempatan.
Aku takut kamu lebih milih Ali seperti Jemima.
Iya, Ali memang berarti untuk aku. Bahkan jika dia memintamu langsung dariku, aku akan mundur. Maka itu ku pastikan kamu yang dapat mencegah itu semua.
Perkataan Dave terngiang di benak Kimmy.
"Labil!"
Kimmy mengumpat Dave.
Ali yang berada diambang pintu membawa dua botol minuman dingin.
"Hemm maunya enggak, tapi gak bisa."
Jawab Kimmy.
"Kasih Dave waktu, mungkin dia butuh ruang untuk berpikir."
Ali menyodorkan satu botol softdrink pada Kimmy.
"Haha, setelah kejadian tadi? Nope!"
Kimmy menjunjung harga dirinya.
"Kim, be wise seperti biasa. Lu perempuan yang gak pernah marah karena kebijaksanaan lu menilai segala sesuatu."
Bujuk Ali. Ali berencana membujuk Dave membuka mulut atas apa yang terjadi.
"Itu tadi kejam Al. Gue akan lupain kejadian tadi beserta kenangan tentang dia. Tapi itu butuh waktu."
Kimmy menenggak minumannya.
"Terserahlah. Menurut gue, kalian berdua sama-sama bodoh."
Ucap Ali sambil berlalu membiarkan Kimmy berpikir lebih jernih.
Kimmy termenung dalam lamunannya, ia tak mendapat satupun alasan untuk berbaik hati pada Dave walaupun hanya menganggapnya sebagai manusia penghuni kelas yang sama dengannya.
Bener kata Renata, lu itu manusia sadis dan kejam, Dave.
Kimmy.
**
Selama dua hari ini, Kimmy berangkat dari rumah Ali. Ia sangat menikmati hari-harinya bersama Lena. Lena mengajarkannya cara membuat kue. Hal tersebut membuat Kimmy sedikit melupakan kekesalan dan kesedihannya
"Bye Al. Nanti gak usah jemput gue balik telat dan langsung ke rumah. Kak Marcel dan Kak Gea pulang hari ini."
Kimmy berpamitan dengan Ali.
Kimmy memasuki kelas yang hanya terdapat Dave di dalamnya, dua hari kemarin tidak ada tegur sapa antara keduanya. Kimmy memalingkan muka menghindari bertatapan dengan Dave.
Ini terlalu menyiksa.
Batin Dave.
"Kim, Boleh kita bicara nanti?"
Dave tak kuasa menahan. Kimmy hanya diam tak menjawab satu patah katapun.
"Kim, kamu tuli?"
Dave kesal.
"Gue gak tuli waktu lu bilang jangan dekat-dekat lu lagi."
Jawab Kimmy membentak. Saat ingin berdiri menyeret Kimmy keluar ruangan, satu persatu mahasiswa lain berdatangan. Dave mengurungkan niatnya.
Renata pun mendatangi meja Kimmy.
"Kim, udah lu cariin gaun untuk gue?"
Tanya Renata yang bersiap untuk acara wisuda kekasihnya, Kenny.
"Nih lu pilih aja yang mana. Gue minta dikirimin foto sama Om Rindra temen Kak Marcel."
Kimmy menyerahkan ponselnya pada Renata.
Renata menggulirkan layar ponsel Kimmy mencari gaun yang sesuai seleranya.
"Whaaattt??"
Renata setengah berteriak.
"Yang mana jadinya?"
Tanya Kimmy.
"No, no, no. Ini bukan soal dress. Jelaskan soal lu dan laki-laki ini."
Renata membalikkan layar ponselnya ke arah Kimmy. Dave yang duduk dibelakang Kimmy pun dapat melihat dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Gambar yang diambil oleh Wanda saat Kimmy tertidur miring memeluk Ali.
"Darimana itu?"
Kimmy merebut ponselnya.
"Ya dari hp lu lah. Ini Ali kan?"
Tanya Renata. Dave membelalakkan kedua matanya saat Kimmy mengangguk.
Dave seketika bangkit dari duduknya dan melakukan hal yang semenjak tadi ingin ia lakukan yaitu menyeret Kimmy keluar kelas.
"Lu secepat itu lupain gue, Kim? Apa kenangan kita gak ada harganya sedikitpun untuk lu?"
Tanya Dave ketika sudah berada di bawah tangga kampus.
"Oh sekarang berani bahas kenangan. Lu gak ingat bahkan baru beberapa jam putusin gue, lu udah beralih ke Jemima."
Jawab Kimmy.
"Tapi itu karena.."
Jawaban Dave terpotong.
"Karena apa hah? mau buat alasan apalagi? Lu kaya bunglon bisa berubah-ubah cepat. Gue gak butuh penjelasan apapun. Lagian juga lu udah nyerahin gue ke Ali. Terserah gue mau tidur sama Ali, mau mesra-mesraan sama Ali atau mau nikah sama Ali. Bukan urusan lu."
Jawab Kimmy.
Cup
Dave ******* bibir Kimmy setelah kalimat menyakitkan yang ia lontarkan pada Dave.
Kimmy mendorong tubuh Dave namun pria itu menekan tubuh Kimmy dengan kuat sehingga ciuman mereka tak terlepas untuk beberapa saat.
"Lu gak akan pernah lupain gue."
Ucap Dave.
"Gue akan lupain lu, mau berapa kali pun lu cium gue, gue akan minta Ali menghapusnya."
Jawab Kimmy sambil berlalu meninggalkan Dave.
Deg!
Yuk like dan comment mr. Snowman 💕
Jangan dilewatin ya jempolnya