
Keempatnya bersiap berangkat sesuai instruksi Tomi dengan tujuan yang berbeda agar sama-sama mendinginkan kepala.
Kimmy mencium pipi Tomi, begitu juga Wanda ia hampir melakukan hal yang sama.
"No!No!No! Lu gak boleh cium Kak Tomi!"
Larangan Kimmy membuat Tomi cukup lega.
Cup
Wanda mencium pipi Ali. Kesal dengan banyak larangan yang Kimmy buat.
"Dasar gila!"
Gerutu Kimmy sambil mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan menyeka pipi Ali agar terbebas dari Kuman penyakit yang mungkin ditularkan Wanda. Jantung Ali berdebar tak karuan wajah mereka cukup dekat tatkala Kimmy menjinjit menyamai tingginya.
"Dia gak bermaksud apa-apa Bro. Calm Please."
Tomi berbisik menasehati Dave yang wajahnya sudah terlihat merah karena marah.
"Tadi mau nyosor cowok lu, gue di smackdown. Mau cium Kakak lu yang jelas-jelas pacar gue juga gak boleh. Ini Ali loh, lu posesifin juga?"
Tanya Wanda kesal.
"Karena Ali itu suci."
Jawab Kimmy sambil terus membersihkan pipi Ali hingga dirasa sudah steril.
"Ali aja gak keberatan. Iya kan Al?"
Tanya Wanda masih mengibarkan bendera perang.
"Apapun yang Kimmy gak suka, gue gak akan lakukan."
Jawaban yang membuat wanita manapun berbunga-bunga kecuali Kimmy, ia tak merasakan getaran apapun.
"ouh ouh ouh, jadi fans adik iparku ini banyak?"
Goda Wanda.
Percakapan yang hampir dijawabi oleh Dave tersebut dipotong oleh kehadiran Marcel.
"Dave, lu pake mobil gue aja. Gue mau bawa Gea cari angin biar dingin kepalanya. Kasian bumil jadi stres gara-gara dua orang ini."
Ucap Marcel sembari menukar kunci kendaraan mereka.
"Gak ah. Kak Marcel pake motor Kak Tomi aja."
Rengek Kimmy.
"Gak lah, Tomi pasti mau liat Dayana walaupun dari jauh."
Goda Marcel kelepasan. Ia lupa tengah ada Wanda diantara mereka.
"Apa sih nih Kak Marcel mulutnya gak bisa ditahan!"
Protes Kimmy setelah melihat reaksi Wanda yang mendadak murung.
"Maaf gak maksud."
Jawab Marcel tak enak hati melihat situasi yang mendadak tegang kembali.
"Kalo gitu, Ali juga gak usah bawa motor. Kalian gabung sama kami."
Kimmy merebut kunci motor Ali dan dimasukkan kedalam tasnya.
Semua mata saling melirik mengartikan ketakutan yang akan terjadi di tengah perjalanan nanti.
"Gak . Nanti kalian ribut lagi."
Dave menolak keras.
"Gak akan selama dia gak mencari masalah."
Jawab Kimmy sinis namun ada rasa kasihan pada Wanda.
Kimmy duduk dibelakang bersama Wanda. Sedangkan Ali disamping kursi kemudi menemani Dave. Semua jelas atas permintaan Kimmy.
Sesekali Dave melirik dari spion sambil mengusap kasar wajahnya. Ali tau betul gerakan spontan Dave tersebut menandakan dirinya mengalami kecemasan yang berlebih.
"Lu fokus nyetir aja. Kalo sampe ada apa-apa sama mereka gue bisa langsung lompat ke belakang."
Ucap Ali menenangkan tentu dengan gayanya yang sok cuek.
"Mau nangis? nangis aja."
Kimmy memecah keheningan tanpa menoleh sedikitpun ke arah lawan bicaranya. Matanya masih menatap jalan.
Dave dan Ali tampak gusar memikirkan pertengkaran macam apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Gue gak secengeng itu!"
Jawab Wanda ketus.
"Emm kita mau kemana?"
Dave berharap pertanyaannya mengubah suasana.
"Sasana milikmu."
Jawab Kimmy.
Wajah Ali dan Dave pucat pasi membayangkan dua gadis ini melanjutkan pergulatan mereka tadi di rumah.
"Yang bener Kim? Jangan bercanda."
"Kita ke wahana bermain aja. Lepas ketegangan."
Usul Dave.
"Gak! Aku mau ke sasana tempat kalian latihan."
Tolak Kimmy.
"GAK BISA!"
Bentak Dave.
"Oke, aku akan cium Ali."
Ancam Kimmy.
Dave Segera membanting setir ke kanan memutar arah kembali ke sasana milik ayahnya.
"Come on Dave, lu bisa selemah itu cuma karena ancaman sereceh itu?"
Tanya Ali tak percaya.
Kalian kelemahan gue. SIAL! Karena kemarin gue ngomong gitu, sekarang dia berani mengancam gue dengan cara kotor seperti itu. Awas Kamu Kimberly!
Batin Dave.
"Jadi lu akan biarin dua manusia ini berantem daripada biarin Kim cium gue? Ayolah Dave itu udah jadi hal yang biasa dia nyosor-nyosor pipi gue."
Ali melanjutkan protesnya karena kesal tak digubris Dave.
"Mau hari ini atau besok sama aja. Mereka akan tetap melanjutkan pertarungan mereka."
Jawab Dave datar.
Ali sungguh tak percaya, Dave yang dulu dikaguminya tak punya rasa takut akan apapun akhirnya memiliki kelemahan yang nyaris tak berbahaya. Ya, Kimberly Douglas. Wanita ini berhasil mengendarai pikiran Dave dengan baik.
Kedua pria itu semakin khawatir tatkala mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir. Belum lagi, Kimmy menarik kasar tangan Wanda agar turun dengannya.
Kimmy melemparkan sarung tangan kearah Wanda. Wanda dengan tenang menggunakannya, menambah pacu jantung kedua pria yang memperhatikan mereka.
"Anggap aja ini Kak Tomi. Pukul sesuka lu!"
Kimmy mengarahkan Wanda kearah samsak yang tergantung.
Wanda memukuli samsak tersebut dan mengerahkan semua tenaganya.
"Hufht"
Dave dan Ali menghembuskan nafas lega bersamaan.
"Luapin semua kesedihan dan kemarahan lu!"
Teriak Kimmy memberi dukungan.
Wanda semakin menggila, pukulannya semakin tak karuan bersamaan dengan air matanya yang berhamburan, hingga ia kelelahan dan tersungkur. Kimmy mendekap erat Wanda hingga air mata wanita itu kini membasahi pakaiannya.
Gimana gue bisa bunuh perasaan dan harapan ini, sedang lu terus buat gue jatuh cinta sama semua tingkah lu.
Batin Ali.
"Ehm makasih udah ambil Jemima. Kalo enggak, gue mungkin gak sama dia sekarang."
Sindir Dave yang melihat tatapan cinta Ali pada Kimmy.
Ali membuang wajah menghindari Kimmy dan Dave.
"Kenapa lu siksa diri sendiri kalo lu tau hati kak Tomi berada dimana?"
Pertanyaan Kimmy membuat guncangan hebat di dada Wanda.
"Tomi cerita?"
Tanya Wanda terkejut.
"Kata Kak Tomi gue adalah paru-paru kirinya dan Kak Marcel adalah paru-paru kanannya. Tat letak gue paling dekat dengan jantungnya. Apapun yang mengalir dipikiran dan hati Kak Tomi gue pasti tau."
Jawab Kimmy.
"Tadi mood lu berubah mendadak waktu Kak Marcel gak sengaja nyebut nama itu. Artinya lu tau sesuatu tentang masa lalu Kak Tomi. Tapi lu berusaha menyakiti diri lu sendiri dengan mencoba masuk pintu yang telah dikunci. Percayalah itu sangat menyakitkan seluruh kesatuan tubuh lu."
Ucap Kimmy melanjutkan. Wanda semakin terisak.
"Gue gak tau bisa sejatuh hati itu sama Kakak lu bahkan dia cium gue sambil menyebut nama itu. Anehnya gue gak bisa marah."
Ungkap Wanda.
"Tinggalin Kak Tomi. Lu berhak bahagia. Hati Kak Tomi cuma untuk Kak Dayana."
Kimmy melepaskan pelukannya.
Sementara Dave berjalan mendekati keduanya .
"Kim, gak ada yang bisa mengatur perasaan orang lain. Gak ada yang tau juga masa depan seperti apa. Hari itu aku bersungut-sungut sama Tuhan bahwa kamu adalah salah satu musibah yang menimpaku. Lihat sekarang satu jengkalpun aku gak mau menjauh darimu."
Dave memberi pengertian pada kekasihnya.
"Ini kasus yang berbeda, Dave. Jemima jelas mempunyai kesalahan yang membuatmu kehilangan kepercayaan. Tapi Kak Dayana? Dia terjebak dalam situasi yang tak diinginkan dan Kak Tomi selalu merasa itu adalah kesalahannya. Sampai kapanpun Kak Tomi akan berusaha menebus kesalahannya."
Ucap Kimmy mengakhiri.
Diusap gambar jempolnya, dijamah kolom komentarnya. 💕