Mr.Snowman

Mr.Snowman
Menentukan waktu yang tepat



"Mohon maaf, saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini."


Ucap Dave kepada Kakek Wanda.


"Dave!"


Bentak Anne tak terima dengan keputusan sang anak.


"Mi, Dave udah ikutin kemauan Mami untuk ninggalin orang yang Dave cinta. Tapi please jangan paksa Dave menikah dengan orang yang tidak Dave cinta."


Ucap Dave lembut.


PLAK!!!!


Sebuah tamparan keras dari Anne mendarat di pipi Dave.


"Stop Tante. Bukan hanya Dave yang menentang. Saya juga! Saya punya seseorang yang sangat saya cintai. Tolong batalkan perjodohan ini."


Wanda berdiri mengeluarkan isi hatinya.


Anne menatap kakek Wanda. Ia berharap lelaki tua ini dapat mengambil tindakan tegas. Karena pria itu dan ayahnya lah yang dapat mencabut maupun meneruskan perjodohan ini.


"Hufht, Krisna sudah berjanji anak Anne akan menjaga cucu kesayangan kakek. Terlebih Krisna sudah berpulang lebih dulu. Mana mungkin Kakek batalkan sepihak."


Jawab Kakek dengan penuh kenangan. Anne terseyum mendengarnya. Karena baginya, Dave lebih baik bersama Wanda agar cepat melupakan Kimmy.


"Saya minta maaf Kek. Saya tidak bisa. Apa Kakek tega membiarkan Wanda tidak bahagia bersama saya? "


Tanya Dave penuh penekanan.


Sedangkan James hanya mengurut-urut kepalanya yang berdenyut mendengar kemauan istri dan anaknya yang sama-sama keras.


Suara tamparan di pipi Dave dan teriakan Wanda ketika menentang perjodohan dapat terdengar hingga ruang tamu tempat Kimmy dan keluarganya menunggu giliran.


"Suasananya jadi panas gini. Kita datang lain waktu ajalah ya."


Marcel memecah keheningan karena semua orang di depannya sedang menguping pembicaraan.


"Ssstt"


Jawab Tomi, Kimmy, Ali, dan Gea bersamaan.


Marcel menggeleng tak percaya keempat orang ini begitu antusias mendengar pertengkaran. Sehingga ia ikut melanjutkan mendengarkan percakapan yang penuh emosi di ruangan lain.


"Dave, apa kamu benar-benar mencintai wanitamu itu?"


Tanya Kakek Wanda.


Dave mengangguk pelan. Apa pantas aku berucap mencintai wanita yang kini menjadi kekasih sahabatku?


"Bisa kamu menjaga dia sekuat jiwamu? Buatlah Krisna tetap menuntaskan janjinya, walaupun bukan dengan cucu ku."


Ucap Kakek parau.


Bagaimana bisa aku menjaganya? Aku sama sekali tak mempunyai hak untuk itu, bahkan sudah kehilangan cintanya yang berharga.


Dave merenung dan terdiam. Pertanyaan kakek Wanda bagai sembilu yang menyayat tajam hati dan ingatannya.


"Kenapa diam? Kalau kau tak bisa memegang janjimu. Lanjutkan saja perjodohan ini. Toh sama saja kau akan menyakiti wanita manapun yang kau cintai."


Ucap Kakek bagai petir yang menyambar jati dirinya sebagai seorang pria.


Dave masih tetap terdiam bagaimana ia bisa berjanji namun sulit tuk ditepati. Seperti simalakama. Apapun jawabannya keduanya menyakitkan. Jika ia melanjutkan perjodohan ini, sama saja menyiksa Wanda. Terlebih lagi Tomi. Namun kalau dirinya menyetujui syarat yang dibebankan kepadanya, ia dan Ali akan bersaing kembali. Dan menyakiti Kimmy.


"Iya, saya akan menjaganya sekuat jiwa saya, sampai tidak satupun manusia dapat menyakitinya."


Dave melirik sinis Anne.


"Saya pikir perjodohan ini selesai. Krisna tidak ingkar."


Kakek Wanda menepuk pundak Dave. Ia begitu bangga dengan keteguhan hati Dave.


Keluarga Dave berpamitan dan ketika hendak keluar mereka berpapasan dengan keluarga Kimmy.


Anne segera membuang muka dan berlalu meninggalkan mereka.


Kimmy yang senang dengan kehadiran James memeluk pria itu dengan hangat. Begitupun James, ia sangat merindukan Kimmy.


"Ahh Dave so sweet banget. Kalau Jemima denger pasti dia langsung terbang."


Kimmy melepaskan pelukannya dengan James dan menggoda Dave yang memerah pipinya.


"Jemima? "


Gumam Dave pelan. Rupanya Kimmy salah mengartikan, ia berpikir orang yang Dave cintai adalah Jemima bukan dirinya.


Tomi berjalan paling belakang. Ia menepuk bahu Dave.


"thank bro untuk kesekian kalinya banyak bantu gue."


Ucap Tomi.


"Ini buat gue, bukan buat siapa-siapa."


Jawab Dave dingin.


"Andai ibu lu bukan orang seperti itu, Kimmy akan gue serahin cuma sama lu."


Tomi berlalu meninggalkan Dave yang juga pergi meninggalkan kediaman Wanda.


...***...


Di ruang tengah semua orang duduk tegang menunggu kakek kesayangan Wanda meminum obatnya.


"Jadi kapan rencananya? Harus secepatnya ya! "


Ucap Kakek Wanda mengawali obrolan.


Tomi dan Wanda saling melirik, bagaimana bisa kakek mengetahui rencana mereka padahal belum sempat berbicara apapun. Namun di samping kakek, sang ibu tersenyum penuh arti. Menjawab pertanyaan di benak keduanya.


"Sebentar Kek, saya mau bicara dulu dengan adik dan kakak saya."


Jawab Tomi tergagap.


Marcel dan Kimmy tak mengerti. Tadi pria ini yang terburu-buru tanpa mau dibantah. Sekarang mengapa menjadi meragu. Batin keduanya.


Kakek mengizinkan mereka memakai ruangan lain untuk berbicara bertiga. Oh tidak, tepatnya berempat dengan Ali. Ya Ali! Ia juga tak tahu mengapa dirinya yang diajak bukan Gea.


"Sebelum gue dan Wanda menentukan hari, gue minta lu berdua jujur apa yang udah terjadi? Sejauh apa?"


Tanya Tomi dengan menekan emosinya.


Ketiganya terkejut dengan pertanyaan Tomi.


"Kita cuma ciuman, Kak."


Jawab Kimmy polos.


Ali menepuk dahinya tak menyangka jawaban Kimmy sejujur itu. Marcel dan Tomi menatap tajam kearah Ali, meminta jawaban juga darinya. Tapi Ali masih terdiam, ia tahu kemana sang kakak akan berbicara. Keduanya pasti tetap meminta penjelasan mengenai ancaman Kimmy tadi.


"Gini maksud gue, kalau lu berdua udah heeemm, kalian nikah duluan. Gue dan Wanda setelah kalian."


Timpal Tomi tak puas dengan jawaban keduanya.


"Gak ada Kak. Seperti yang di bilang Kimmy kita hanya sebatas itu. Gak lebih."


Ali menutup matanya menguatkan dirinya menjawab hal privasi untuknya.


"Terus Kimmy bilang telanjang telanjang itu apa? "


Marcel ikut tak sabar.


"Kalau Ali masih cemburu sama aku dan Dave... "


Kimmy berhenti menjelaskan ketika Ali memotongnya.


"Kimmy emang spontan Kak. Bukan dalam arti yang sebenarnya. Dia mau pake bikini dan gue paling menentang itu makanya dia ancam kaya gitu untuk hal yang buat gue berhenti mencurigainya."


Ali memutar otak untuk menjelaskannya.


"Oh iya dia emang gitu, waktu Tomi bilang jangan pake baju seksi. Pas ngambek sama Tomi, dia malah pake."


Marcel mengingat tabiat adiknya.


"Gak ada ya lu coba-coba pakai bikini! "


Ancam Tomi dan Marcel bersamaan seklaigus berjalan keluar meninggalkan Ali dan Kimmy.


Ali menghembus napas lega jawabannya dipercaya.


"Lain kali jangan serendah itu lagi ya."


Ali menasehati Kimmy.


"Kenapa? Kamu juga calon suamiku."


Kimmy merajuk.


"Cuma pria pecundang yang merusak perempuannya, Kim. Semua ada waktunya. Dan itu akan terjadi kalau kita sudah menikah nanti."


Jawab Ali.


"Kamu gak merusak kalau kita tetap sama-sama."


Kimmy masih membantah.


"Kamu pikir sehebat apa bisa nebak jalan Tuhan? Kalau aku pergi sebelum kita menikah gimana? Apa ada harganya kamu di mata laki-laki yang akan jadi suamimu nanti? "


Ali makin jengkel.


"Jadi kamu mau pergi ninggalin aku? "


Kimmy meneteskan airmata.


"Gak akan. Tapi kalau tiba-tiba Tuhan manggil aku, kamu mau gimana? Mau nyalahin Tuhan? Ayolah dewasa Kimmy."


Ali memeluk wanita itu yang semakin menangis mendengar jawaban Ali.


"Maafin aku, Al. Awalnya aku cuma bercanda, tapi ngeliat ekspresi kamu waktu itu. Aku ngerasa itu ancaman yang buat kamu gak berkutik. Dan alasan-alasanku tadi, cuma menguji seberapa jauh pikiranmu. Tapi jawabanmu tentang pergi malah buat aku takut."


Ucap Kimmy.


Ya, aku pernah kehilangan. Dan sekarang aku sangat takut kehilangan kamu, Al.


Jangan lupa Like, Vote dan Commentnya ya Readers 💕