
Keisengan Marcel dan Tomi memberi ruang untuk Ali dan Kimmy sepertinya didukung oleh Perusahaan listrik negara. Perempuan itu kini menggeliat merenggangkan otot-ototnya yang seakan kaku. Tidur di sofa membuatnya tak bisa bergerak bebas. Ia memandangi rahang Ali yang masih tertidur duduk dari bawah sambil tersenyum.
"Berapa lama lagi lu mau liatin gue? "
Tanya Ali yang ternyata sadar tengah diperhatikan.
"Ih lu udah bangun?"
Tanya Kimmy sambil memukul dada Ali.
"Hmm ya udah sana bangun, pegel nih. "
Minta Ali.
"Gak mau, ini nyaman. Gue mau tidur lagi."
Bantah Kimmy yang sedetik kemudian Ali bangkit berdiri membuat Kimmy terjatuh ke lantai.
"Aww, sakit. "
Kimmy mengelus kepalanya yang terbentur ujung meja. Ali pun dengan segera mengusap-usap kepala Kimmy sambil meminta maaf, namun yang ada justru wanita itu bangkit dan berlalu meninggalkan Ali ke dapur dengan wajah masam.
Ali berinisiatif untuk mengikuti Kimmy khawatir dirinya marah. Sesampainya di dapur, Ali membungkukkan badan mengikuti Kimmy yang berjongkok mencari sesuatu di dalam bufet kayu. Saat Kimmy berhasil menemukan barang yang dicarinya dan hendak berdiri, wajah mereka bertabrakan. Semua kekuatiran Ali hilang begitu saja, ia memperdalam wajahnya untuk semakin mendekat. Ciuman yang lembut penuh dengan kesesakan karena status keduanya seperti penghianat. Padahal jelas Dave telah menyerahkan Kimmy kepadanya, tapi ia tak sampai hati mengambil mutiara milik Dave. Begitu pun Kimmy, di dalam penantiannya ia selalu mengingat kalimat terakhir Dave tunggu aku sebagai seorang sahabat. Kalimat yang begitu menorehkan luka dihatinya. Sentuhan Ali seolah menjadi penyembuh sementara luka yang sedang menganga lebar. Entah hatinya memang menikmati keberadaan Ali atau Ali hanya sebatas bayang-bayang Dave saja? Ia belum bisa menjawab.
"Maaf Kim."
Ali menarik wajahnya menjauh.
"It's ok. Anggap aja balasan waktu di gerbang kampus."
Jawab Kimmy enteng, sesungguhnya ia menahan degup jantung yang tak beraturan. Juga jawaban yang membuat Ali tercekat, Kimmy tetap perempuan yang sama. Yang menganggapnya bukan siapa-siapa.
Ali segera membersihkan diri dan bersiap untuk menyambut kedatangan baby Miracle penghuni baru rumah ini. Selesai membuat spaghetti dengan saus bolognesse untuk sarapannya dan Ali, Kimmy pun mandi dan berangsur ke meja makan mengikuti Ali yang terlebih dahulu menghabiskan setengah piringnya.
"Laper bang?"
Tanya Kimmy terkekeh.
"Hmm"
Jawab Ali dengan mulut penuh.
Keduanya menutup rapat-rapat mulutnya, kecanggungan terjadi setelah insiden di dapur tadi. Suasana makan yang biasanya berisik mendadak menjadi tenang.
Ketukan pintu berhasil membuyarkan suasana yang tak mengenakkan itu, Miracle telah pulang bersama kedua orangtuanya berikut Tomi.
Kimmy berkali-kali menggoda Miracle yang berada dalam gendongan Gea. Hingga bayi cantik itu menangis tatkala tidurnya terganggu oleh ciuman-ciuman Kimmy di sekitar wajahnya.
"Ge, yuk istirahat. "
Marcel menggandeng Gea agar mengikutinya ke kamar.
"Pelit, aku kan mau sama baby Ekel."
Kimmy merajuk.
"Lu sama gue. Gue mau ngomong."
Tomi menarik tangan adiknya yang hendak mengikuti Marvel dan Gea ke kamar mereka. Tomi membawanya ke teras meninggalkan Ali sendiri mematung.
"Kenapa? "
Tanya Kimmy.
"Gimana hubungan lu sama Ali? "
Tomi balik bertanya.
"Gak gimana-gimana. Just friend."
Jawab Kimmy.
"Belajar buka hati lu untuk dia, Kim."
Ucap Tomi.
"Ih lu apa-apaan sih Kak? Kan lu dukung gue sama Dave."
Protes Kimmy.
"Dulu. Sekarang lu berhak bahagia. Lu akan lebih bahagia kalau sama Ali."
Jelas Tomi.
"Lu bisa pertanggungjawabin omongan lu? Lu sendiri aja gak bisa move on dari Kak Dayana."
Kimmy makin memprotes.
Jawab Tomi.
"Sejak kapan? "
Tanya Kimmy melemah.
"Sejak pesta pernikahan Marcel."
Jawabnya tanpa banyak penjelasan.
...#...
Ingatannya kembali pada kejadian lima bulan lalu saat terbebas dari jeratan hukum bersama Dayana dan Ali.
Lupain aku, Tom. Selama di dekat aku, Kimmy akan makin menderita. Kita gak bisa korbanin dia.
Minta Dayana lirih. Tomi hanya terdiam, sudut matanya hampir mengeluarkan cairan bening namun di tahannya. Bagaimanapun Dayana adalah mimpi bersarnya. Namun Kimmy adalah harta berharganya yang tak akan ia biarkan terluka apalagi karena keegoisannya.
Oke Day, selamat tinggal.
Ucapnya tak kalah lirih, ia membukakan pintu taksi untuk Dayana. Dan menutupnya kembali membiarkan Dayana untuk pulang sendiri.
Gue akan lakuin apapun untuk Kimberly sekalipun artinya mengorbankan kebahagiaan gue sendiri.
Ucap Tomi, menjawab tatapan Ali yang penuh tanda tanya.
Keesokan hari setelah dirinya dan Wanda telah sampai di pelabuhan tempat kapalnya akan berlabuh,
"Bayaran apa yang lu mau sebagai ganti sandiwara kemarin?"
Tanya Tomi pada Wanda.
"Belajar mencintai gue. Gimana? "
Bisik Wanda.
"Oke. Deal."
Jawab Tomi spontan. Wanda begitu terkejut, biasanya Tomi akan pura-pura tak mendengar atau mengalihkan pembicaraan.
"Deal."
Wanda menjabat tangan Tomi dengan wajah sumringah.
Sejak hari itu, Tomi begitu mencoba mengerti dan menghargai keberadaan Wanda. Walaupun hatinya belum benar-benar bisa mengusir Dayana seutuhnya tapi setidaknya ia sedang membuka pintu masuk bagi Wanda. Ia tak pernah lagi mengeluh jika Wanda mengusik tidurnya di kala pagi, tak ada lagi kebiasaan buruk memandangi foto Dayana sampai tak tidur.
...#...
"Kita gak akan pernah tau sebelum kita mencoba, Dek."
Jawab Tomi sambil berdiri menjemput kehadiran Wanda ditengah percakapannya dengan Kimmy.
Kimmy membulatkan matanya tak percaya akan apa yang sedang ia lihat.
"Maaf aku gak jemput. Macet?"
Tanya Tomi sambil mengusap kepala Wanda.
"Gak apa."
Jawab Wanda tersenyum. Kemudian ia duduk disebelah Kimmy yang masih tercengang.
"Kurcaci.... "
Wanda berangsur memeluk Kimmy.
"Kepiting.. "
Kimmy membalas pelukannya.
Kak Tomi yang mencintai Dayana bertahun-tahun aja akhirnya bisa saling melupakan. Gue baru setahun, gak ada apa-apanya di banding kisah Kak Tomi dan Kak Dayana. Bisakah gue seperti dia?
Batin Kimmy.
Ketiganya masuk dan mendapati Ali sedang tertidur di sofa.
"Begadang dia? Jam segini udah tidur lagi."
Tanya Tomi. Kimmy hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahu, ia betul-betul tidak tahu apakah semalaman Ali tertidur atau tidak. Dipandanginya wajah Ali lekat-lekat. Seseorang yang dulu dibencinya karena memukuli Dave tanpa ampun di atas ring. Iya, orang yang memiliki perasaan yang hangat jauh berbeda dengan Dave. Tanpa sadar, ia mengambil selimut di dalam kamarnya dan menyelimuti laki-laki tersebut dari ujung kaki hingga leher.
Tomi dan Wanda saling menyikut melihat pemandangan itu. Sepertinya Kimmy sedang tak ingat jika ada dua orang yang sedang memperhatikan tingkahnya.
Like dan Commentnya jangan lupa ya. makasih💕