Mr.Snowman

Mr.Snowman
Pagi yang manis



Selesai membuat laporan, Daren ditahan atas tuduhan percobaan pemerkos*an.


"Jadi, kalian ini saling kenal?-- Kenalin dong Dave. Ini cewe galak yang tadi gue bilang."


Ucap Wardhana.


"Iya. Kenalin ini Kimmy, Kim ini Wardhana."


Ucap Dave dingin.


"Kimberly. Trimakasih yang Mas Wardhana udah dua kali nolong saya."


Kimmy mengulurkan tangan dengan sopan.


Wardhana mendadak menampilkan ekspresi terkejutnya. Ia tak menyangka perempuan ini mengingatnya. Tapi juga tak dapat percaya bahwa wanita inilah yang dicintai sahabatnya selama bertahun-tahun.


"Pantesan Dave gak move on. Tapi kalau udah gak mau sama Dave. Abang Dhana mau kok sama dek Kimmy."


Wardhana membalas uluran tangan Kimmy. Namun tangannya justru diremas kencang oleh perempuan bertubuh mungil tersebut.


"Iya iya ampun."


Wardhana memohon, Dave hanya tertawa melihatnya.


Sesampainya di rumah, Kimmy hanya berdiri mematung di depan pintu. Ia masih trauma dengan kejadian tiga jam yang lalu.


"Temenin sana. Kalau gak peka, gue duluan nih yang maju. Lumayan kan nanti dia taruh kepalanya dipundak gue"


Wardhana mendorong Dave untuk mendekati Kimmy.


Jleb


Dave meninju pundak Wardhana. Dan berlalu mendatangi Kimmy yang masih mematung.


"Aku temenin sampai kamu tidur. Setelah itu, aku pulang."


Ujar Dave mengejutkan Kimmy yang masih termenung.


Dave mengambil kunci ditangan Kimmy dan membukakan pintu. Mempersilahkan Kimmy masuk terlebih dahulu.


Kimmy duduk di lantai, enggan menduduki sofa yang tadi menjadi saksi kebrutalan Daren.


"Aku buatin teh ya."


Dave mencari dapur Kimmy dan membuatkan dua cangkir minuman hangat.


Kimmy meminumnya perlahan. Menyesapi aroma yang keluar. Membuatnya sedikit tenang.


"Kamu kenapa ada disini?"


Tanya Kimmy.


"Aku juga awalnya bingung kenapa ditugasin di kota ini. Tapi sekarang aku ngerti. Untuk ketemu sama kamu."


Jawab Dave.


Kimmy tersenyum menatap Dave.


"Kenapa?"


Tanya Dave


"Gak nyangka aja pertemuan kita seburuk tadi."


Jawab Kimmy.


"Itu tepat. Kalau sudah terlambat baru bisa dibilang buruk."


Ucap Dave merinding mengingat jika sampai ia tak tepat waktu. Jika sampai Wardhana mengikutinya masuk dan tak mendengar teriakan Kimmy.


Kimmy beberapa kali menguap, kejadian hari ini cukup menguras tenaganya. Benar perkataan Wardhana, Kimmy akan tertidur di bahu pelindungnya.


Dasar buaya. Tau aja kemungkinan yang bakal terjadi.


Batin Dave. Tersenyum mengingat prediksi sahabatnya.


Dave mengangkat tubuh Kimmy ke dalam kamar yang dibuat bernuansa putih, bersih dan tertata rapi. Aroma parfum Kimmy menyeruak dari dalam kamar. Ia meletakkan Kimmy perlahan keatas ranjang. Saat hendak berdiri dan kembali ke kediaman Wardhana, Kimmy menyentuh tangan Dave.


"Disini aja. Jangan kemana-mana. Aku masih takut.'


Ucap Kimmy setengah sadar.


Dave mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia duduk disamping Kimmy. Memperhatikan wanita yang dicintainya dengan seksama. Wajahnya tak berubah, tapi tubuhnya mengalami banyak perubahan. Dadanya lebih berisi, pinggulnya membentuk sempurna. Ia menjelma menjadi Kimmy yang dewasa. Pantas banyak yang menggodanya. Pikir Dave.


Lamunannya membawa Dave dalam tidur yang lelap. Posisinya perlahan turun tak lagi duduk. Lambat laun ia rebah di sebelah Kimmy.


Suhu pendingin ruangan yang Dave setel maksimal membuat keduanya beringsut mencari kehangatan. Saling berpelukan tanpa sadar. Entah pertemuan yang indah atau bukan hanya mereka yang tau.


Alarm berbunyi tepat pukul empat dini hari. Kimmy menggunakan satu tangannya untuk menghentikan kicauan pengingat tersebut. Lalu kembali memiringkan tubuhnya ke arah Dave. Dan memperhatikan pria yang masih tertidur pulas tersebut.


"Kenapa natap terus?"


Tanya Dave yang hanya membuka sebelah matanya.


"Ih kok kamu tau? Kamu ngintip ya dari tadi? "


Kimmy terkejut.


"Kamu yang curi-curi intip aku daritadi Kimberly."


Jawab Dave ikut memiringkan tubuhnya menghadap Kimmy.


"Aku mau buat sarapan."


Ucap Kimberly salah tingkah . Ia tak kuat dengan pesona Dave selepas bangun tidur.


Namun saat hendak beranjak dari ranjang, Dave menarik tangan Kimmy cepat. Sehingga wanita itu tertidur kembali disampingnya.


"Mau ninggalin aku lagi?"


Tanya Dave.


Kimmy menggeleng pelan dan menjauhkan wajahnya.


"Kamu selama ini disini? Kenapa hindarin aku?"


Tanya Dave lagi. Dari semalam ia menahan banyak pertanyaan dan kerinduan untuk perempuan di sebelahnya ini.


"Maaf Dave. Aku aku gak ada disaat kamu down."


Ucap Kimmy menyesal.


"Aku mau benci, tapi gak bisa. Cintaku lebih besar."


Ucap Dave seraya mengangkat wajah Kimmy yang tertunduk.


Ia mendekatkan wajahnya, menyatukan mereka lebih dalam. Sebuah ciuman pagi yang hangat dan kerinduan yang teramat. Keduanya saling membalas. Tak ada kata lain selain cinta. Dari perpisahan ini mereka tetap bertahan dengan perasaan masing-masing. Berharap hubungan mereka lebih kokoh daripada sebelumnya. Setelah melewati banyak waktu, jarak dan ujian. Mereka lulus. Kimmy tak bisa lagi memungkiri perasaannya. Ia pun ingin terus bersama pria ini meskipun artinya mengingkari janjinya pada mendiang Anne.


"Kim, kim, aku gak bisa napas."


Ucap Dave yang tak diberi kesempatan oleh Kimmy, karena sedikit banyak wanita ini mendominasi.


"Kamu lolos dari Daren, tapi nanti gak bisa lolos dari aku kalo gini."


Kimmy menjauh, pipinya memerah. Ia buru-buru berdiri dan membetulkan pakaiannya.


"Aku buat sarapan dulu."


Kimmy berlari. Ia malu sendiri dengan tindakannya. Sedangkan Dave tersenyum puas melihat ekspresi Kimmy.


Dave bergegas mandi, ia akan berangkat satu jam lagi. Ia menumpang mandi di rumah Kimmy.


Selesai mandi, ia menemui Kimmy yang sibuk membuat sarapan di dapur. Rambutnya diikat tinggi keatas. Jantung Dave berdegup tak beraturan melihat anak rambut menutupi leher jenjang Kimmy.


Dengan penuh kesadaran, ia mendekati Kimmy dari belakang dan menciumi tengkuk perempuan tersebut.


"Lepasin aku, Dave.".


Kimmy menggeliat geli.


" Hmm. Aku pulang dulu."


Ucap Dave sambil melepas pelukannya.


"Aku udah buat sarapan untuk kamu."


Kimmy kecewa.


"Astaga, rumah kita tinggal nyebrang. Aku mau ganti pakaian dinas. Sekalian aku ajak Wardhana sarapan disini ya."


Ucap Dave sembari mengecup kening Kimmy. Perempuan itu hanya mengangguk setuju. Sibuk dengan mencicipi rasa masakan buatannya.


...***...


Dave mendapati Wardhana yang sedang menyisir rambutnya.


"Aduh aduh sumringah sekali bapak Dave hari ini. Sudah mandi pula. Habis ngapain emang?"


Goda Wardhana.


"Emangnya gue laki-laki baj*ngan macem lu? Gue gak akan mencuri itu dari perempuan yang gue cinta."


Ucap Dave.


"Huh gini amat ya nasib gue Dave. Sekalinya mau serius, eh tu cewe punya temen gue."


Keluh Wardhana.


"Karma namanya Dhan. Lu minta maaf sana sama cewe-cewe yang lu campakkin."


Dave memberi saran. Kemudian berjalan keluar rumah lagi setelah siap.


"Mau kemana?"


Tanya Wardhana.


"Ayo ikut. Sarapan dirumah calon bini gue."


Dave berkata penuh penekanan.


Wardhana dengan semangat menyusul selain untuk menikmati makanan gratis, ia juga masih penasaran dengan sosok Kimberly yang dicintai Dave.


Ketiganya duduk di meja makan. Siap untuk menikmati hidangan yang Kimmy sajikan. Kimmy membuat nasi uduk lengkap dengan topingnya.


"Wah.. "


Wardhana sudah tak tahan dengan makanan di depan matanya. Ia menyuap satu sendok ke dalam mulutnya.


Dave memejamkan matanya, menunggu temannya mengutarakan rasa masakan Kimmy.


Wardhana melotot, Dave hendak menertawakannya. Namun


"Gila sih enak banget."


Ucap Wardhana.


Hemmm, masih usaha ya ambil simpati Kimmy.


Batin Dave.


Kimmy hanya tersenyum, ia tahu Dave takut memakan makanannya yang selalu gagal.


"Dave aku buatin roti aja ya."


Ucap Kimmy.


"Enggak usah. Ini aku mau makan."


Perlahan Dave menyendokkan nasi ke mulutnya.


"Bener lu Dhan, ini enak."


Ucap Dave keceplosan.


Wardhana melirik heran tak mengerti ucapan Dave sedangkan Kimmy makin tersenyum lebar.


"Haha dari tadi kamu liatin doang, karena takut gak enak kan?"


Tanya Kimmy lembut sambil sesekali tertawa. Pesonanya membuat dua pasang mata terus memperhatikannya.


"Aku makin cinta sama kamu. Kamu tambah anggun, eh bukan maksud aku, kamu jago masak."


Dave tergagap, matanya tak berhenti menatap.


Bukan Kimmy yang bertingkah seperti anak kecil beberapa tahun lalu. Ini Kimberly yang berbeda. Tawanya, cara duduknya, tutur katanya. Membuktikan Kimmy benar-benar mencapai tujuannya menjadi pribadi yang dewasa.


"Tiap weekend aku ikut kursus masak. Karena gak ada kegiatan selain kerja senin sampai jumat."


Ucap Kimmy menjelaskan kemampuan memasaknya.


Selesai kedua pria itu makan, Kimmy pun telah bersiap untuk bekerja. Ia keluar dari kamarnya mengenakan kemeja hijau. Dan menjinjing tas berwarna kuning .



Wardhana dan Dave menjatuhkan pandangan mereka pada Kimmy dalam beberapa saat. Kimmy menjadi tak nyaman dan salah tingkah.


"Kenapa? nabrak ya warnanya?"


Tanya Kimmy.


"Enggak. Kamu cantik banget."


Jawab Wardhana.


"Ehem, hem, Dhan mata lu masih mau disitu kan ya tempatnya?"


Ancam Dave.


Wardhana terkejut dan menundukkan pandangannya.


"Gue anter Kim kerja dulu ya. Lu berangkat sendiri."


Ucap Dave yang diiringi cibiran dari Wardhana.